Jihad Media (PART-2), Oleh: Nurhabibi

Oleh: Nurhabibi, Wartawan MINA Biro Sumatera, Aceh

 

Media Informasi Alat Penting Bagi Zionis

Bagi Zionis, media informasi merupakan alat penting bagi pencapaian visi dan misi mereka terhadap Palestina dan dunia. Oleh karenanya Zionis Yahudi aktif menguasai sebagian besar media infomasi dunia misal koran, televisi, perusahaan penerbitan buku, film, internet, aplikasi unggah viedo, media sosial dan media lain.

Dr. Thariq As-Suwaidan dalam bukunya yang berjudul “Ensiklopedi Yahudi Bergambar” menyebutkan bahwa pada tahun 1776, profesor teologi Adam Waishhaupt, mendirikan organisasi rahasia Yahudi bernama “Illuminati”. Di antara misi organisasi ini adalah menguasai koran dan media informasi secara umum.

Pada tahun 1869 M, Rabbi Raichhorn, menyatakan dengan tegas “Bilamana emas adalah kekuatan utama kita untuk menguasai dunia, maka koran seyogyanya menjadi kekuatan kedua kita.”

Dr. Thariq As-Suwaidan juga menyatakan Yahudi di Amerika memberikan perhatian besar pada koran-koran yang area penyebarannya lebih luas dan pengaruhnya lebih kuat. Mereka menaruh kepentingan mereka baik untuk menguasai, membeli atau memaksa koran tersebut berada di pihak mereka.

Beberapa penelitian mengasumsikan jumlah koran Amerika yang tidak berada di bawah pengaruh Yahudi hanya sekitar 25% saja. Penting untuk diketahui, dominasi ini tidak hanya dengan cara membeli koran atau terlibat jauh ke dalam penulisan-penulisan beritanya. Namun juga melalui cara-cara lain untuk mempengaruhi, seperti :

  • Seruan memboikot koran dengan tidak membeli atau menjalin partnership. Seperti yang terjadi pada salah satu koran di Los Angeles, ketika sebanyak 1.000 partner dari komunitas Yahudi membatalkan kerja sama hanya agar koran ini menutupi kejadian yang tidak selaras dengan persepsi Yahudi.
  • Yahudi menguasai dua pusat propaganda dan iklan terbesar di Amerika. Dengan demikian mereka bisa mengarahkan iklan ke koran-koran Yahudi atau yang bersahabat dengan Yahudi, dan melarang iklan di koran-koran yang tidak netral atau melawan persepsi mereka. Sehingga koran-koran menjadi tawanan pemerasan ini. Padahal sama-sama diketahui, jalannya sebuah perusahaan koran secara prinsip bergantung pada iklan, kemudian kerja sama dengan pihak lain.

Di Eropa, secara umum lobi Yahudi memiliki pengaruh kuat di negara-negara Eropa, meskipun pengaruh ini di sebagian negara tersebut lebih kuat karena faktor-faktor tertentu. Akan tetapi, kesimpulan yang tidak diingkari orang yang obyektif menyatakan bahwa pengaruh media mereka menimbulkan tanda tanya hingga level memunculkan keraguan seputar sejauh mana kebebasan pers ketika permasalahan berkaitan dengan Yahudi.

Hal tersebut seperti diungkapkan seorang jurnalis Yahudi, Israel Syamir, di depan dewan Lord pada bulan April 2005, di mana ia mengatakan “Koran-koran Inggris itu milik Zionis”. Namun tema seperti ini cepat meredup atau mendapatkan perlawanan dengan anti Semit.

Dr. Thariq As-Suwaidan juga menyatakan, ada mata rantai yang terpadu dan sangat efektif bagi masing-masing media informasi, termasuk di dalamnya buku, majalah dan yang semacamnya. Ia melihat sangat relevan menyebutkan peran Yahudi dan pengaruh kuat mereka di perusahaan-perusahaan penerbitan besar di Amerika.

Selain koran dan buku, media televisi juga memegang peran besar dalam mempermainkan istilah-istilah politik dan sosial yang berekses merubah persepsi seperti menyebut gerakan perlawanan legal terhadap penjajah dengan “teroris”, mengganti istilah hak kembali para pengungsi dengan “problem para pengungsi” agar hak kembali mereka terlupakan, menyebut aksi syahid dengan ”aksi bunuh diri” serta istilah-istilah lain yang seyogyanya tidak hilang dari ingatan warga Arab dan Muslim.

Melengkapi upaya Yahudi mengukuhkan cengkraman pada media-media informasi yang beragam dan berpengaruh dalam mengarahkan opini publik Barat, maka Yahudi telah sukses memiliki sejumlah televisi di berbagai negara Barat yang memberi mereka pengaruh luas di tingkat rakyat dan pejabat.

Pada industri  perfilman, kaitan Yahudi dan industri film layar lebar dimulai sejak awal-awal kemunculannya. Tepatnya ketika seorang Yahudi bernama George Miller memfilmkan “Skandal Dreyfus” dan di dalamnya ia berbicara tentang penindasan terhadap Yahudi oleh Barat. Setelah itu bermunculanlah film-film Yahudi. Sekarang Yahudi menduduki singgasana industri bioskop di Amerika yang menjadi produsen film terbesar di dunia, utamanya dunia Arab yang diinvansi oleh bioskop-bioskop Amerika.

Pada tahun 1996 M, Jonathan Goldberg menulis dalam sebuah penelitiannya “Bila anda memperhatikan sektor-sektor pokok, terutama bagian manajerial studio-studio penerbitan film di Barat pasti anda mendapati jumlah orang Yahudi mendominasi hingga ungkapan bahwa tempat-tempat tersebut dikuasai Yahudi hanya sekedar catatan statistik saja, tidak lebih.”

Dominasi Yahudi menguasai industri film layar lebar (bioskop) di dunia juga bertujuan menyiarkan kehinaan dan kerusakan yang mereka inginkan, mereka juga berusaha menghancurkan semua agama, budi pekerti dan norma-norma, sehingga dapat menguasai emosi rakyat dunia dengan gelontoran kedustaan dan kebatilan yang mereka inginkan. (bersambung).

(A/B07/B03-P1)

Mi’raj News Agency (MINA).