Jika Allah Menolong, Tak Ada Yang Bisa Mengalahkan

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Da’i Pesantren Al-Fatah Bogor, Redaktur Senior MINA

Apapun yang terjadi di permukaan bumi ini adalah atas kehendak Allah. Tidak ada apapun dan sesuatupun yang terjadi, keluar dari kehendak Allah. Apa-apa yang Allah kehendaki terjadi, pasti terjadi. Sebaliknya, apa-apa yang Allah tidak kehendaki, tidak akan terjadi.

 Maka segala apapun yang terjadi di alam semesta ini, manusia, binatang, tanaman, bahkan malaikat dan jin, semuanya berjalan atas kehendak Allah, ketentuan Allah dan takdir Allah. 

Maka, jika Allah menolong seseorang, tak ada satupun yang dapat mengalahkannya.

Itulah prinsip aqidah seorang Mukmin. Ia selalu menyandarkan segala sesuatunya hanya kepada Allah. Menyandarkan kepada makhluk, rapuh adanya. Meminta-minta sampai menghina-dina kepada manusia bisa kecewa, berharap berlebihan kepada seseorang bisa stress.

Lisan boleh saja meminta tolong secara manusiawi, sebagai makhluk sosial, dengan sesama. Namun hati tetap harus terhubung kepada Allah.

Sebab, yang kita minta tolong juga makhluk Allah yang tak punya apa-apa kecuali atas pemberian Allah. Manusia-manusia itu pada dasarnya jahil lagi zalim. Hanya karena keagungan Allah sajalah mereka diberi sedikit kelebihan.

Maka, jika kita sudah berusaha maksimal, bekerja sungguh-sungguh, all out sampai detik terakhir, sampai injury time. Maka, di sinilah letak kepasrahan dan ketawakkalan seorang hamba tak berdaya. Segala sesuatu yang di luar jangkauan manusia, maka tiada lain hanya kepada Allah jualah kita bermunajat mohon pertolongan-Nya, kekuasaan-Nya, mukjizat-Nya, kasih sayang-Nya,  kebijaksanaan-Nya.

Allah pun telah mengatakan di dalam firman-Nya:

إِن يَنصُرۡكُمُ ٱللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمۡ‌ۖ وَإِن يَخۡذُلۡكُمۡ فَمَن ذَا ٱلَّذِى يَنصُرُكُم مِّنۢ بَعۡدِهِۦ‌ۗ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ 

Artinya: “Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu, dan jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mu’min bertawakkal.” (QS Ali Imran [3]:160).

Maka, walaupun seluruh kekuatan dikerahkan, sumber daya dan sumber dana, logistik dan jaringan. Namun, jika Allah masih berkenan menolong hamba-Nya, seseorang, atau suatu kaum, maka tak ada yang dapat melawan-Nya. Semuanya akan takluk di bawah kemahakuasaan-Nya. 

Sebagaimana juga disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘Alaihi Wasallam dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu Anhu:

وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَوا عَلَى أَنْ  يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفِ

Artinya: “Ketahuilah sesungguhnya jika seluruh umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikitpun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu, dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu, niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali kecelakaan yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.”(HR Ahmad dan At-Tirmidzi).

Dan kehendak Allah yang terjadi itu, tidak mungkin menzalimi makhluk-Nya. Walaupun bisa saja mungkin membuat kita atau suatu masyarakat kecewa. Karena itu memandangnya dari sudut manusia yang lemah, tak berdaya, dan tak tahu apa-apa tentang masa depan. Bukan dari sudut kehendak Allah.

Maka, Abu Ja’far Atho-Thohawy sampai menyimpulkan, “Allah berbuat apa yang Allah kehendaki, dan selama-lamanya Allah tidak dzalim. Allah memberi dan menolak, merendahkan dan mengangkat, memuliakan dan menghinakan, memberi hidayah dan menyesatkan, menghidupkan dan mematikan.”

Semuanya itu berjalan benar-benar sesuai kebijaksanaan Allah, maka hanya milik Allah hikmah dalam semua urusan. Kita hanya dapat bermunajat dalam kerendahan, “Laa haula walaa quwwata illaa bilaahil ‘aliyyil ‘adzim”. (Tiada daya dan kekuata kecuali dari Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung).

Tercatat di Lauhul Mahfidz

Dalam ayat lain, disebutkan, semuanya sudah tercatat di Lauhul Mahfudz. Dan ini hanya Allah yang Maha Tahu. Karena ini domain Allah. Domain kita akan mengetahui setelah terjadi.

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَيَعْلَمُهَآ إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَافِي الْبَرِّوَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ يَعْلَمُهَا وَلاَحَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ اْلأَرْضِ وَلاَرَطْبٍ وَلاَيَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مًّبِينٍ

Artinya: “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”” (QS. Al An’am [6]: 59).

Ini akan membuat kita tunduk, patuh dan merendahkan diri serendah-rendahnya di hadapan Sang Maha Pencipta. Dengan cara ruku dan sujud, berdzikir dan bertaubat, bertasbih, bertahmid, bertakbir, dan bertahlil, karena Allah.

Kemenangan itu sekali lagi bukan karena kekuatan kita, usaha kita, harta kita, orang-orang kita. Sekali lagi, semua karena Allah. 

Doa Mohon Pertolongan

Tinggal kita perkuat dengan doa:

حَسۡبُنَا ٱللَّهُ وَنِعۡمَ ٱلۡوَڪِيلُ

Artinya: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS Ali Imran [3]: 173).

نِعۡمَ ٱلۡمَوۡلَىٰ وَنِعۡمَ ٱلنَّصِيرُ

Artinya: “Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS Al-Anfal [8]: 40).

Atau pada ayat lain disebutkan:

حَسۡبِىَ ٱللَّهُ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ‌ۖ عَلَيۡهِ تَوَڪَّلۡتُ‌ۖ وَهُوَ رَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡعَظِيمِ

Artinya: “Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ’Arsy yang agung”. (QS At-Taubah [9]: 129).

Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin. (A/RS2/P2)

 

Mi’raj News Agency (MINA)