Jurnalis dan Aktivis Kampanye Dukung Jurnalis Foto yang Terluka

Ramallah, MINA – Sejumlah aktivis dan jurnalis Palestina meluncurkan kampanye online pada Ahad (17/11) dengan tagar #We_are_Moath untuk mendukung jurnalis foto Moath Amarneh, yang terluka parah pada Jumat (15/11) ketika meliput protes di selatan Tepi Barat.

Amarneh kehilangan mata kirinya akibat terluka parah oleh peluru logam yang ditembakkan oleh tentara Israel di wilayah Surif di Hebron, ketika ia meliput protes menentang perampasan tanah, demikian WAFA melaporkan.

Kampanye ini bertujuan untuk menjelaskan pelanggaran Israel terhadap wartawan, seperti dalam menciptakan hambatan bagi mereka saat meliput berita yang berkaitan dengan eskalasi Israel terhadap Palestina.

Para jurnalis dan aktivis memposting foto-foto mereka yang menutupi mata kiri. Mereka mengatakan, cerita Amarneh harus disebarkan dalam beberapa bahasa untuk mengekspos kebijakan dan langkah-langkah Israel, terutama terhadap wartawan dan media Palestina.

Sindikat Jurnalis Palestina (PJS) juga mengutuk serangan terhadap Amarneh. PJS menggambarkannya sebagai “Penargetan yang disengaja oleh tentara Israel terhadap seorang rekan kerja yang mengenakan rompi tahan peluru yang ditandatangani Pers.”

Mohammad Lahham, Kepala Komite Kebebasan di PJS mengatakan, pasukan Israel sengaja menargetkan wartawan.

Ia mencatat bahwa telah ada 606 serangan terhadap wartawan yang dilaporkan sampai Oktober lalu.

PJS juga menyerukan lembaga internasional agar bertindak cepat untuk menghentikan kekerasan terhadap pers di Palestina.

Sementara Anthony Bellanger, Sekretaris Jenderal Federasi Jurnalis Internasional (IFJ) juga mengecam penembakan itu.

“Sekali lagi, IFJ menyesalkan serangan terhadap jurnalis Palestina oleh militer Israel. IFJ mengingatkan, hukum internasional berlaku di mana-mana dan tidak ada pemerintahan di atasnya,” katanya.

Ia menambahkan, sekarang saatnya Majelis Umum PBB mengadopsi Konvensi untuk Perlindungan dan Keselamatan Jurnalis, sehingga impunitas yang dinikmati oleh predator kebebasan pers dan demokrasi dapat berakhir di Israel. (T/Ais/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)