Jurnalis Turkiye Kehilangan Kakinya dalam Serangan Israel di Gaza

Jurnalis saluran TRT Arabi yang terluka dibawa ke rumah sakit untuk perawatan medis setelah serangan Israel di kamp pengungsi Nuseirat, Gaza. (Foto: Anadolu)

Gaza, MINA – Tiga jurnalis terluka akibat serangan Israel di kamp pengungsi Nuseirat di Gaza, Palestina. Salah satu di antaranya mengalami luka parah hingga kehilangan kakinya.

Sami Shehadeh, seorang jurnalis Turkiye TRT, kakinya diamputasi setelah terluka dalam serangan pada Jumat (12/4), menurut saluran tersebut. Koresponden TRT Arabi, Sami Berhum juga terluka.

Terbaring di lantai Rumah Sakit al-Aqsa di Kota Gaza Deir el-Balah, Shehadeh mengatakan kepada wartawan AFP bahwa dia berada “jauh dari zona bahaya. Saya bahkan dikelilingi oleh orang-orang dan jurnalis,” saat penyerangan terjadi.

“Kami terkena tembakan ketika ada serangan yang menargetkan kami, saya tidak tahu apakah itu rudal atau tank. Saya melihat kaki saya diamputasi,” ujar Shehadeh, mengutip Al Jazeera. 

“Saya mengenakan rompi pers dan helm dan bahkan bagi orang buta pun jelas bahwa saya adalah seorang jurnalis,” tambahnya.

Baca Juga:  Netanyahu Akan Terus Serang Gaza Meski ICC Terbitkan Surat Perintah Penangkapan

Direktur Jenderal TRT, Zahid Sobaci menyebut serangan itu sebagai “kebrutalan Israel” dan mengatakan bahwa serangan tersebut telah melampaui semua “batas moral, hukum atau kemanusiaan.”

“Kendaraan tim dari TRT Arabi [saluran berbahasa Arab TRT] yang bersiap untuk menyiarkan dari kamp Nuseirat… menjadi sasaran serangan tentara Israel,” laporan TRT.

Kantor media Gaza mengutuk serangan Israel terhadap kendaraan yang membawa ketiga jurnalis tersebut.

“Kami mengutuk keras penargetan jurnalis dan awak media yang dilakukan pasukan pendudukan Israel,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Pasukan Israel “dengan sengaja membunuh dan melukai jurnalis dalam upaya untuk menakut-nakuti, mengancam, dan mencegah jurnalis menjalankan tugas mereka, serta untuk membungkam kebenaran,” tambahnya.

Baca Juga:  Di Tengah Konflik, Muslim Rohingya Diusir, Rumah pun Dibakar

Jonathan Dagher, kepala Reporters Without Borders (RSF) Timur Tengah, mengatakan laporan tentang jurnalis yang diserang, dilukai, dan dibunuh di Gaza oleh Israel telah menjadi “hal yang lumrah”.

“Kami harus melaporkannya hampir setiap hari selama enam bulan terakhir. Ini hanyalah serangan terbaru, ini mengerikan… tidak bisa diterima,” katanya.

Dagher menggambarkan serangan itu “tidak beralasan”, dan mengatakan ada cukup bukti untuk membuktikan bahwa kendaraan tersebut menjadi sasaran.

Dia mengatakan, sudah lebih dari 100 jurnalis dibunuh oleh Israel di Gaza selama enam bulan terakhir.

“Pembantaian ini harus dihentikan,” tambahnya. Dagher menyerukan komunitas internasional untuk “meningkatkan tekanan” terhadap Israel.

Kantor media Gaza dan Reporters Without Borders mengatakan ada bukti yang menunjukkan bahwa serangan tersebut merupakan serangan yang ditargetkan.

Baca Juga:  Iran Selidiki Kecelakaan Helikopter yang Tewaskan Presiden Raisi

Berbicara kepada wartawan di Ankara, direktur komunikasi kantor kepresidenan Turki Fahrettin Altun mengatakan bahwa “Israel menargetkan, dengan sengaja dan rela melakukan pembantaian ini.”

Altun melaporkan bahwa Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas telah membahas serangan itu melalui panggilan telepon.

Setidaknya 70 orang yang terluka dalam serangan Israel di kamp Nuseirat di Gaza tengah telah dibawa ke Rumah Sakit al-Awda di kamp tersebut sejak Jumat pagi, menurut sumber lokal.

Serangan Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 33.600 orang sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2024. (T/Ai)

 

Mi’raj News Agency (MINA)

Wartawan: Arina Islami

Editor: Rudi Hendrik