Jusuf Kalla: Pemerintah Serius Atasi Penurunan dan Pencegahan Stunting

Jakarta, MINA – Pemerintah Indonesia serius dalam mengatasi penurunan dan pencegahan stunting atau tubuh kerdil untuk sumber daya manusia yang berdaya saing.

Hal itu disampaikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla saat menghadiri acara Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) ke XI tahun 2018 di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Selasa (3/7).

Ia menegaskan, penurunan stunting menjadi fokus utama yang diperhatikan oleh pemerintah.

Berdasarkan data Bank Dunia, Indonesia menempati urutan keempat tertinggi di dunia sebagai negara dengan jumlah anak stunting.

“Indonesia hanya mengalahkan India, 37 persen bayi kita kerdil, artinya 9 juta anak cenderung kerdil. Jadi generasi prodiktivitas harus menurunkan angka stunting, ini masalah keluarga, masalah pribadi, masalah negara, masalah bersama dan maslah masa depan bangsa. Kita gak hanya berbicara hari ini, tapi 20-30 masa mendatang,” katanya.

Acara WNPG XI merupakan forum multi stakeholder antara akademis, pemerintah, industri dan masyarakat luas untuk memberikan rekomendasi arah perubahan kebijakan pangan dan gizi di Indonesia.

Tahun ini mengangkat tema “Percepatan Penurunan Stunting Melalui Revalitasi Ketahanan Pangan dan Gizi dalam Mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.”

“Stunting menjadi problem yang begitu berat karena tidak lagi hanya merupakan masalah kesehatan saja, tetapi permasalahan multidimensi yang juga terkait akses air bersih, akses pangan dan pola asuh. Inilah kenapa permasalahan stunting membutuhkan kerjasama kementerian, lembaga, industri dan universitas agar bersama-sama mensinergikan pencegahan stunting,” kata Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Laksana Tri Handoko.

Sementara itu, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir menjelaskan, permasalahan stunting juga terkait pada masalah kebersihan lingkungan dan polusi.

“Banyaknya limbah yang dibuang di sungai Citarum khususnya sampah plastik sangat buruk untuk lingkungan, karena ikan yang hidup di Citarum akan makan mikroplastik dan nantinya ikan tersebut akan dikonsumsi oleh anak-anak. Situasi inilah yang sangat rentan menyebabkan stunting pada anak-anak karena ikan yang dikonsumsi tidak layak gizinya,” ujarnya.

Sementara Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani  memaparkan, 30 persen bayi di Indonesia mengalami stunting.

Menurutnya, apabila angka stunting tinggi, daya saing ekonomi global akan sulit.

“Kasus malnutrisi Indonesia harus segera diatasi. Dalam Millenium Development Goals (MDGs) kasus malnutrisi ini yang masih belum bisa dicapai,” ungkapnya.

Puan berharap, WNPG XI mampu membangun kesadaran publik secara luas agar memahami pentingnya pencegahan stunting pada anak sejak 1000 hari pertamanya. Hasil WNPG XI ini diharapkan menjadi rumusan kebijakan, program dan kebijakan yang efektif dari masalah stunting. (L/R10/RI-1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)