Kaitan Isra Mi’raj dan Al-Aqsa Haqquna

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Duta Al-Quds, Redaktur Senior MINA

Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai mukjizat Allah, diabadikan Allah dalam Surat Al-Isra ayat 1:

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

Artinya: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Al-Isra/17 : 1).

Perjalanan malam Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW pada periode akhir kenabian di Mekkah sebelum hijrah ke Madinah (tahun 621 M.) 14 abad yang lalu selalu berurai hikmah, pelajaran, dan pembelajaran bagi umat manusia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya.

Isra’ Mi’raj terjadi ketika Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya yang setia berada dalam situasi konspirasi eksternal tekanan dan hinaan yang menjadi-jadi dari Musyrikin Makkah dan sekutu-sekutunya.

Sementara kondisi internal Nabi Muhammad SAW sendiri dalam kondisi duka cita teramat dalam karena ditinggal wafat isterinya Khadijah Al-Kubra, pendamping sejati, pembela dan pendukung utama perjuangan dakwahnya. Pada saat beriringan, Nabi juga ditinggal wafat pamannya Abu Thalib yang selama ini turut menjadi tameng pembelanya.

Pada tahun penuh duka cita (amul hazn) itulah Allah menghibur Nabi Muhammad SAW dengan perjalanan mukjizat penuh peristiwa bersejarah Isra dan Mi’raj. Isra sebuah perjalanan malam membentangkan benang merah Masjidil Haram di Mekkah dengan Masjidil Aqsa di Baitul Maqdis Palestina negeri para nabi.

Masjid Al-Haram, nama yang diberikan oleh Allah di dalam Al-Quran, disebut juga dengan Baitullah terletak di Mekkah, negeri yang diberkahi dan menjadi petunjuk semua manusia. Mekkah disebut juga dengan “Ummul Qura” (induknya kota).

Allah menyebutkan di dalam Al-Quran:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

Artinya: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS Ali Imran/3: 96).

Berkaitan dengan ayat ini, di dalam Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah,dijelaskan, bahwa Ka’bah adalah tempat ibadah yang pertama kali dibangun yang menjadikan itu adalah tempat paling mulia daripada yang lain.

Pada ayat lain disebutkan:

وَهَٰذَا كِتَٰبٌ أَنزَلْنَٰهُ مُبَارَكٌ مُّصَدِّقُ ٱلَّذِى بَيْنَ يَدَيْهِ وَلِتُنذِرَ أُمَّ ٱلْقُرَىٰ وَمَنْ حَوْلَهَا ۚ وَٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْءَاخِرَةِ يُؤْمِنُونَ بِهِۦ ۖ وَهُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ

Artinya: ”Dan ini (Al-Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Quran) dan mereka selalu memelihara sembahyangnya.” (QS Al-An’am/6 : 92).

Berkaitan dengan ayat ini, di dalam Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah,dijelaskan, Ummul Qura yakni kota Makkah yang merupakan kota yang paling agung, ialah bangunan pertama yang didirikan untuk manusia sebagai tempat ibadah, dan ia merupakan kiblat dan tempat berhaji bagi umat ini. Maka peringatan bagi penduduk kota Makkah akan serta merta diikuti oleh peringatan bagi seganap penduduk bumi.

Adapun Masjid Al-Aqsha adalah nama yang diberikan oleh Allah, disebut juga dengan Baitul Maqdis, terletak di Palestina. Dua masjid ini merupakan dua bangunan tempat ibadah yang mula-mula Allah dirikan di muka bumi ini.

Pada peristiwa Mi’raj, Nabi Muhammad SAW dinaikkan Allah SWT dari Qubah Ash-Shakhrah (kawasan Masjid Al-Aqsa) ke langit sampai ke Sidaratul Muntaha  yang merupakan tempat tertinggi. Di sini beliau mendapat perintah langsung dari Allah SWT berupa kewajiban shalat lima waktu, yang kita laksanakan sehari semalam tiap harinya.

Bagi umat Islam, peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang amat berharga, karena tidak ada Nabi lain yang mendapat perjalanan sampai ke Sidaratul Muntaha  seperti ini.

Itu semua merupakan sebagian tanda-tanda kebesaran Allah, seperti disebutkan di dalam Surat An-Najm/53 ayat 1-18.

Al-Aqsa Haqquna

Firman Allah di dalam surat Al-Isra ayat pertama memberikan amanat kepada umat Islam di manapun dan kapanpun untuk menjaga rumah-Nya yang suci Masjid Al-Aqsa. Allah memberikan amanah tanggung jawab, pemeliharaan, dan penjagaan dari setiap penodaan dan perubahan kepada kaum muslimin.

Masjid Al-Aqsa kiblat pertama umat Islam adalah wakaf dan hak kaum muslimin seluruh dunia tanpa membedakan asal, suku, ras, golongan, warna kulit, kekayaan dan jabatan.

Pendahulu kita Khalifah Umar bin Khattab telah melakukan perjalanan ke Palestina, ketika penduduk negeri itu mensyaratkan bahwa yang berhak menerima penyerahan Palestina harus Khalifah Umar sendiri.

Di dalam risalah Filistin Dirasat Manhajiah fi Al-Qodhiyah Al-Filistiniyah karya DR. Muhsin Muhammad Shalih disebutkan, Khalifah mengadakan perjanjian tertulis “Al-Alahdah Al-Umariyah”, bahwa warga Nasrani Palestina memberikan mandat kepada Khalifah Umar : diri mereka, harta mereka, orang yang sembuhnya, dan semua kepecayaan di sana, untuk dijaga dan dipelihara oleh Islam.

Semangat pembebasan Al-Aqsa, inspirasi Isra Mi’raj, itu pula yang kemudian  dikumandangkan Komandan Perang Salahuddin Al-Ayyubi yang bersumpah kepada dirinya, untuk tidak akan tersenyum selama hidupnya sebelum membebaskan Bait Al-Muqaddas (Al-Aqsa).

Ia membuktikan diri tatkala tanggal 27 Rajab 573 H. / 2 Oktober 1187, bertepatan dengan peringatan Isra Mi’raj, dapat membebaskan kembali Masjid Al-Aqsa dari penindasan yang telah berlangsung selama 88 tahun.

Generasi berikutnya, Sulthan Abdul Hamid II (tahun 1876-1911) dari Bani Utsmaniyah, juga telah membuktikan solidaritas berupa pembelaan untuk setia sampai mati mempertahankan Masjid Al-Aqsa sebagai hak umat Islam, dengan tidak memberikan sejengkalpun tanah Palestina untuk Yahudi yang hendak merebutnya.

Kini, sejak tahun 1967 sampai sekarang, ribuan kali terjadi insiden berdarah seperti termuat di dalam pameran foto-foto dan dokumen kebrutalan Zionis Israel yang melecehkan dan merusak masjid Al-Aqsa serta menodai nilai-nilai kemanusiaan warga Palestina.

Untuk itu, sebagai bentuk rasa cinta umat Islam terhadap rumah Allah, masjid mulia, tempat penuh berkah, negeri para anbiya, seluruh umat Islam wajib merapat shaf secara berjamaah untuk membebaskan Al-Aqsa. Karena Al-Aqsa adalah hak milik kita umat Islam, Al-Aqsa Haqquna.

Tentu sosialisasi Al-Aqsa Haqquna harus terus digulirkan secara massif melalui berbagai cara dan media, ke seluruh dunia di berbagai momentum secara kontinyu, sistematis dan integral.

Demikian halnya, lembaga-lembaga kemanusiaan yang berkaitan dengan Al-Aqsa atau Palestina harus menjalin koordinasi, sinergi dan kolaborasi yang kokoh dan kompak. Kegiatan-kegiatan sejenis pelatihan (daurah), penerbitan-penerbitan, pameran foto dan pemutaran film, diskusi-diskusi, webinar, pembelajaran di kelas-kelas, hingga ziarah dan pengiriman mahasiswa ke kawasan Al-Quds, harus diprogramkan dengan sistematis, terencana dan terukur.

Upaya-upaya pressure melalui jalur hukum, diplomasi, media massa dan media online, aksi-aksi lapangan, dan sebagainya juga perlu terus diprogramkan dengan terus-menerus. Hingga Al-Aqsa kembali ke pangkuan kaum Muslimin, sebagai pemilik sah. Al-Aqsa Haqquna. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)