Kajian QS. Al-Anfal:60, Kekuatan itu Untuk Menghadapi Musuh, bukan Merebut Kekuasaan

Oleh : Mustofa Kamal, Mahasiswa STISQABM Lampung

Allah Subhanahu Wata’ala telah berfirman dan merupakan anjuran kepada kaum Muslimin agar memiliki kekuatan, namun kekuatan bukan untuk menguasai atau merebut sebuah kekuasaan, tetapi sebagai penjagaan, defensif aktif atau dalam lafadz Arab yakni ribath atau rabithu.

Sabda Rasulullah,“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan,” (HR. Muslim). Artinya kecintaan Allah kepada makhluknya berbeda-beda, seperti kecintaan-Nya kepada mukmin yang kuat lebih besar daripada kecintaan-Nya kepada mukmin yang lemah.

Dalam hal ini ditopang dengan firman Allah :

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ (60)

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian menggentarkan musuh Allah, musuh kalian, dan orang-orang selain mereka yang kalian tidak mengetahuinya; sedangkan Allah mengetahuinya. Apa saja yang kalian nafkahkan pada jalan Allah, niscaya akan dibalasi dengan cukup kepada kalian dan kalian tidak akan dianiaya.” (QS. Al-Anfal:60).

Allah telah menganjurkan melalui lafadz,

(وَأَعِدُّوا) فعل أمر مبني على حذف النون، والواو فاعل. WA A’IDDU adalah fiil amar (perintah) mabni ala hafzil huruf Nun nya dan Wawunya menjadi tanda fail.

Dan siapkanlah olehmu (wahai kaum Muslimin), maka kaum Muslimin atau orang-orang yang beriman disini adalah sebagai failnya atau pelakunya dengan alamat failnya adalah huruf wawu. walau dalam ayat ini tidak disebutkan Kaum Muslimin atau orang-orang yang beriman, tapi hakikatnya Allah memerintahkan kepada kaum muslimin atau orang-orang yang beriman hendaknya memiliki kekuatan.

اسْتَطَعْتُمْ) فعل ماض والتاء فاعل والجملة صلة الموصول)

ISTATHO’TUM adalah fi’il madhi yang ditujukan kepada kaum muslimin agar dengan berdaya upaya dengan segala kesanggupan. Sebagaimana halnya Allah memerintahkan agar orang-orang yang beriman hendaknya bertaqwa kepada Allah dengan Mastatho’ (semaksimal kemampuan).

Firman Allah Ta’ala :

فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ وَٱسْمَعُوا۟ وَأَطِيعُوا۟ وَأَنفِقُوا۟ خَيْرًۭا لِّأَنفُسِكُمْ ۗ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِۦ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. At-Taghabun: 16).

Lalu kekuatan apakah yang harus dimiliki oleh kaum Muslimin? Diantaranya:

1. Kaum Muslimin harus mempunyai kekuatan Aqidah Islamiyah.

Kekuatan aqidah Muslim adalah bersandar kepada pengamalan Al-Qur’an dan Sunnah secara utuh. Dalam Al-Qur’an ditegaskan dengan kalimat Kaffah (keseluruhan). Lihat QS. Al-Baqarah:208.

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةًۭ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَـٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّۭ مُّبِينٌۭ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

Lafaz kaffah menurut Ibnu Abbas, Mujahid, Abul Aliyah, Ikrimah, Ar-Rabi’ ibnu Anas, As-Saddi, dan Muqatil ibnu Hayyan, Qatadah dan Ad-Dahhak artinya seluruhnya. Mujahid mengatakan makna ayat ialah berkaryalah kalian dengan semua amal dan semua segi kebajikan. (tafsir Ibnu katsir).

Utuh artinya tidak ada perubahan di dalamnya. Apa yang Allah perintah, apa yang Rasulullah laksanakan maka Muslim pun hendaknya melaksanakan. Seperti dalam paguyuban masyarakat Islam, atau yang lebih terkenal dengan sebutan kesatuan umat, yakni persatuan dan kesatuan yang didasari dengan rasa persaudaran.

Kesatuan umat adalah perintah Allah Subhanahu wata’ala yang tertera dalam Al-Qur’an seperti dalam (QS.Ali-Imran: 103)

وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًۭا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ……….

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai….”

Kesatuan umat juga telah dilaksanakan oleh Nabi-Nabi terdahulu dan juga Nabi terakhir, Muhammad Shalalahu ‘Alaihi Wasallaim. (Lihat QS. Asy-Syura: 13) dan dilaksanakan juga oleh para sahabat,

Firman Allah Ta’ala Surat Asy-Syura (42) Ayat 13 :

۞ شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحًۭا وَٱلَّذِىٓ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِۦٓ إِبْرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓ ۖ أَنْ أَقِيمُوا۟ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا۟ فِيهِ ۚ……….

Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.”

Maka kita harus kembali kepada kekuatan aqidah islamiyah, artinya Bersama. Sebagai muslim harus bersatu padu yang tidak bisa dipecah belah apalagi diadudomba. Persatuan dan kesatuan muslimin (Berjamaah) merupakan kekuatan muslimin yang paling utama, sejarah telah membuktikan, dengan persatuan dan kesatuan akan mendapat kemenangan dan kejayaan namun bila sebaliknya pasti lemah dan akan mendapatkan kekalahan.

2. Kaum Muslimin harus mempunyai kekuatan dalam informasi.

Ada ungkapan “Information is power” artinya siapa yang menguasai informasi maka akan mendapat kekuasaan. Kekuasaan dalam arti mempunyai kapasitas dalam memperngaruhi orang lain untuk bertindak atau tidak bertindak.

Sistem informasi Muslimin adalah (check and recheck/periksa dan teliti). check and recheck adalah tentu khusus mengenai suatu berita, suatu informasi. Dalam bahasa Arab kita mengenal sebutan tabayyun atau tastabbut.

Jadi secara implementatif, check and recheck berarti mencari kejelasan kebenaran dari suatu informasi dengan cara menverifikasi kebenaran informasi tersebut, hingga jelas dan benar keadaan yang sesungguhnya.

Dalam pergaulan sosial, fungsi check and recheck sangat penting dalam rangka menjaga keharmonisan, menghindari adanya yang terzalimi dan tersakiti. Dalam sejarah kemanusiaan, tak sedikit informasi yang ditelan mentah tanpa verifikasi sehingga menciptakan konflik sosial bahkan membawa korban jiwa.

Dalam perkara ini Muslimin hendaknya teliti dan tidak lengah, tidak tergesa-gesa, tidak menerima dan menyebarkan kepalsuan dan kebohongan (hoaks) yang akan mengakibatkan dampak negatif. Allah Subhanahu wata’ala telah memberikan informasi melalui firman-Nya:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍۢ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَـٰلَةٍۢ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَـٰدِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”(QS. Al-Hujurat: 6).

Bahkan dalam keadaan berperangpun kaum muslimin hendaknya Tabayyun, teliti, sebagaimana Allah telah berfirman :

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا ضَرَبْتُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَتَبَيَّنُوا۟ وَلَا تَقُولُوا۟ لِمَنْ أَلْقَىٰٓ إِلَيْكُمُ ٱلسَّلَـٰمَ لَسْتَ مُؤْمِنًۭا تَبْتَغُونَ عَرَضَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا فَعِندَ ٱللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌۭ ۚ كَذَٰلِكَ كُنتُم مِّن قَبْلُ فَمَنَّ ٱللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًۭا

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu: “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa: 94).

Pola Tabayun, teliti terhadap kekuatan musuh dan pasukan kaum Muslimin sendiri adalah sangat penting dalam kancah peperangan.

Ada hikayat yang terjadi dibalik ayat di atas, seperti dikatakan oleh Imam Bukhari, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Amr ibnu Dinar, dari Ata, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan ayat ini, yaitu firman-Nya: janganlah kalian mengatakan kepada orang yang mengucapkan ‘salam’ kepada kalian, “Kamu bukan seorang mukmin.” (An-Nisa: 94) Ibnu Abbas mengatakan bahwa dahulu pernah ada seorang lelaki sedang sibuk mengurus ghanimah miliknya, lalu ia dikejar oleh orang-orang muslim, dan ia mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum” kepada mereka, tetapi mereka membunuhnya dan merampas ghanimahnya. Maka turunlah ayat ini.

Ibnu Abbas mengatakan yang dimaksud harta benda duniawi adalah ghanimah itu, dan Ibnu Abbas membacakan firman-Nya, “As-salama.”

Sa’id ibnu Mansur mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mansur, dari Amr ibnu Dinar, dari Ata ibnu Yasar, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa pasukan kaum muslim mengejar seorang lelaki yang sedang mengurus ghanimahnya, lalu lelaki itu mengucapkan salam kepada mereka. Tetapi mereka membunuhnya dan merampas ghanimahnya. Maka turunlah ayat ini, dan Selebihnya hikayat dibalik ayat tersebut bisa dilihat dalam beberapa tafsir Al-Qur’an seperti ibnu katsir,  Al-Qurtubi, At-Thabary dan lainnya.

3. Kaum Muslimin harus mempunyai kekuatan fisik

Fisik (physical) artinya adalah jasmani. Maka kekuatan fisik adalah kekuatan jasmani. Tanpa mengenyampingkan persiapan akidah, informasi, ekonomi, dan yang lain. Kekuatan fisik merupakan bagian dari upaya kaum muslimin untuk menggetarkan musuh-musuh Allah.

Menyiapkan kekuatan fisik bukan berarti kita berharap akan berhadap-hadapan secara fisik dengan musuh. Islam agama yang damai, bahkan dalam QS. Al-Baqarah:216 diterangkan bahwa hakikatnya kita membenci peperangan. Namun umat Islam juga bukan orang yang diam saja saat kehormatan agamanya diinjak-injak. Kita tidak akan pernah menyerang terlebih dahulu kalau kita tidak diserang.

Karenanya, jangan meremehkan persiapan fisik. Boleh jadi justru dengan persiapan itu kemudian musuh gentar dan mengurungkan niatnya untuk menyerang kita umat Islam. Mengenai persiapan fisik, ada beberapa olahraga yang disunnahkan diantaranya, Jalan cepat,  lari, berkuda, berenang, memanah.

Dengan berolah raga maka akan mendapatkan kekuatan fisik juga kesehatan.  Rasulullah telah bersabda :“Dua kenikmatan yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia adalah kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari: 6412, at-Tirmidzi: 2304, Ibnu Majah: 4170).

Rasulullah biasa berjalan cepat sehinggá ada suatu riwayat :

“Abu Hurairrah RA berkata, “Aku belum pernah melihat orang yang lebih baik dan lebih tampan daripada Rasulullah SAW. Roman mukanya cemerlang seperti matahari, juga tidak pernah melihat orang yang secepat beliau. Seolah-olah bumi ini digulung oleh langkah-langkah beliau ketika sedang berjalan walaupun kami berusaha mengimbangi jalan beliau. Padahal, beliau tampaknya seperti berjalan santai saja.” (HR Muslim).

Rasulullah juga biasa berlari, biasa berlari-lari dengan Aisyah dan bahkan bertanding lari dengan Aisyah. “Rasulullah Shalalahu Alaihi Wasallam bertanding denganku dan aku menang. Kemudian aku berhenti, sehingga ketika badanku menjadi agak gemuk, Rasulullah SAW bertanding lagi denganku dan ia menang.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Kemudian olahraga berkuda dan berenang juga memanah. Rasulullah Shalalahu Alaihi Wasallam bersabda,”Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau, dan permainan. Kecuali empat perkara, yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan berenang.” (HR. An-Nasa’i).

Dan terutama sekali adalah olah raga memanah yang dalam hal ini ada perhatian khusus sebagaimana yang tertera dalam sebuah Riwayat Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Harun ibnu Ma’ruf telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepada kami Amr ibnul Haris, dari Abu Ali Sumamah ibnu Syafi (saudara lelaki Uqbah ibnu Amir). Ia pernah mendengar Uqbah ibnu Amir mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda di atas mimbarnya: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi.” Ingatlah, sesungguhnya kekuatan itu terletak pada pasukan pemanah. Ingatlah, sesungguhnya kekuatan itu terletak pada pasukan pemanah.

4. Kaum Muslimin harus memiliki kekuatan ekonomi

Yang tidak kalah penting dan merupakan masalah vital yaitu ketahanan ekonomi yang cukup. Utamanya kesediaan pangan. Betapa kuatnya persatuan,  kuatnya fisik atau raga, dan kelihaian  kepiwaian (skill)  yang dimiliki Muslim tanpa dibarengi dengan persediaan ketahanan pangan, maka tidak akan berjaya sebuah perjuangan. Maka setiap perjuangan didahului dengan lafadz Amwal, harta benda.

Dengan bentuk empat kekuatan yang tertera diatas maka insyaa Allah kaum Muslimin akan memiliki kekuatan yang sesungguhnya dan tidak diremehkan oleh musuh (orang-orang kafir)  yang berniat melemahkan kaum Muslimin.

Sekali lagi, persiapan untuk menggetarkan musuh-musuh Allah bukan diartikan kita (umat Islam) ‘doyan’ perang. Justru secara fitrah, umat manusia tidak pernah mengharapkan peperangan. Namun pengamalan QS. Al-Anfal: 60 dengan mempersiapkan kekuatan akidah, informasi, fisik, dan ekonomi merupakan perintah yang harus dilaksanakan.

Dengan persiapan itu boleh jadi musuh gentar dan mengurungkan niatnya untuk menyerang kaum muslimin dan kita terhindar dari peperangan itu sendiri. (A/mtf/B03/P2).

Mi’raj News Agency (MINA).