KAMPANYE INTERNASIONAL EMBARGO MILITER ISRAEL

(Foto: Dok. MINA)
(Foto: Dok. MINA)

Oleh: Rana Setiawan, Redaktur Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Puluhan ribu Rakyat  Palestina sebagian besar pemuda telah berpartisipasi sejak awal pertengahan September dalam aksi protes melawan gencarnya penindasan Israel, pemindahan paksa penduduk, terutama di Al-Quds, Lembah Yordania dan Naqab (Negev), serta upaya berkelanjutan untuk menjajah Masjid Al-Aqsha, terutama Kota Al-Quds.

Alat-alat represi, termasuk pesawat tanpa awak (drone), kendaraan, sistem pengawasan, gas air mata, sistem IT, peluru, “air skunk” (senjata’ berupa cairan berbau busuk untuk mengusir pengunjuk rasa) atau senjata lainnya yang diproduksi atau diimpor dari negara lain oleh kompleks industri militer Israel yang luas berada di jantung Israel, rezim pendudukan, pemukim-kolonialisme dan Apartheid.

Fungsi dari sistem tersebut tergantung pada kemauan pemerintah dan perusahaan di seluruh dunia untuk bekerjasama dengan militer, industri senjata dan lembaga penelitian militer Israel.

Kampanye bertujuan mengakhiri semua hubungan militer dengan Israel sangat penting untuk mengakhiri kekerasan dan merupakan komponen kunci dari gerakan internasional, yang dipimpin Palestina, Boikot, Pemutusan Saham dan Sanksi (The Boycott, Divestment and Sanctions/BDS).

Sebuah embargo militer Israel, mirip dengan yang diberlakukan pada Apartheid Afrika Selatan, bukan hanya bentuk penting dari solidaritas dengan gerakan perlawanan rakyat Palestina. Namun hal itu adalah kewajiban hukum. Semua negara dan PBB diwajibkan untuk mendesak Israel bertanggung jawab dengan mengadopsi langkah-langkah yang akan membawa berakhirnya pelanggaran serius hukum internasional dan dengan menangkal efek dari berbagai pelanggaran tersebut.

Dalam sebuah laporan dari Komite BDS, kampanye embargo militer secara bertahap mulai dilakukan. Mengakibatkan perusahaan-perusahaan militer Israel baru-baru ini mengeluhkan penurunan angka ekspor di tengah apa yang salah satu pihak dalam industri yang disebut “kurang keinginan untuk produk buatan Israel”.

Perdagangan Militer Jantung Sistem Penindasan Israel

Perusahaan militer, fasilitas penelitian militer Israel dan perusahaan internasional yang terlibat, seperti G4S dan HP, adalah kunci keberadaan dan penerima manfaat dari militerisme, kekerasan dan penindasan Israel terhadap rakyat Palestina.

Kebijakan Israel “Kekuatan Yang Tidak Proporsional”

Pasukan militer Israel secara resmi mengadopsi doktrin kekuatan yang tidak proporsional, atau dikenal sebagai “Doktrin Dahiya,” yang menyerukan untuk penargetan sengaja warga sipil dan infrastruktur sipil sebagai cara paling “efektif” menghalangi gerakan perlawanan.

Organisasi PBB dan hak asasi manusia mendokumentasikan bagaimana Israel melakukan kejahatan perang, termasuk selama agresi militer di Gaza 2014 lalu, yang dikutuk sebagai “pembantaian” oleh Presiden Brasil dan Menteri Luar negeri Perancis.

Lebih dari 2.168 warga Palestina, termasuk lebih dari 500 anak-anak, meninggal dunia; Seluruh keluarga dimusnahkan dari rumah mereka, dan semua apa yang tersisa dari reruntuhan rumah mereka adalah catatan resmi mendokumentasikan bahwa mereka pernah ada.

Militer Israel telah dituduh organisasi hak asasi manusia terkemuka menggunakan kekuatan “berlebihan” dan “sewenang-wenang” untuk menekan perlawanan dan massa demonstrasi populer. Israel baru-baru ini telah mengadopsi “aturan keterlibatan” baru yang memungkinkan pasukan pendudukan “menembak untuk membunuh” anak dan pemuda Palestina  yang ikut aksi protes.

Beberapa teknologi militer sebagai berikut berperan sangat penting atas tindakan represi berkelanjutan terhadap aksi protes massa Palestina saat ini digunakan polisi dan militer Israel:

Senapan sniper: Sejak pertengahan September 2015, Israel telah memperkenalkan kembali metode dan senapan penembak jitu ke beberapa korban terlukai atau terbunuh pada demonstran pemuda Palestina, termasuk di Al-Quds Timur.

Gas air mata: digunakan untuk menyerang dan membubarkan protes dan juga dapat mematikan. Pada 21 Oktober, Hashem Al-Azzah meninggal setelah menghirup gas air mata Israel.

Pesawat tanpa awak (drone): digunakan melalui kota Al-Quds dan lingkungan Palestina lainnya dari Al-Quds Timur untuk memantau setiap aspek kehidupan Rakyat Palestina.

Infrastruktur Apartheid

Israel menggunakan berbagai infrastruktur fisik dan teknologi militer untuk mempertahankan sistem pendudukan dan apartheidnya. Hal ini termasuk:

Dinding, menara pengawas dan pos-pos pemeriksaan untuk memberlakukan pemisahan rasial dan menolak akses masuk Rakyat Palestina yang berada di wilayah Pendudukan Israel menuju tanah paling subur dan sumber daya air untuk kepentingan Israel dan permukiman ilegal serta sebagai bagian dari kebijakan pembersihan etnis.

Contohnya termasuk dinding ilegal Israel di Tepi yang Barat diduduki, dinding “perbatasan”yang memaksa blokade ilegal di Gaza, pos-pos pemeriksaan baru-baru ini dibuat sekitar Al-Quds, dan dinding sementara baru-baru ini yang didirikan di Jabal Al-Mukaber, lingkungan Al-Quds. Dinding dan pos pemeriksaan itu menggunakan sensor berteknologi tinggi, teknologi kamera dan sistem perangkat lunak khusus.

Sebuah database penduduk terpusat dan sistem kartu identitas yang kompleks memaksa segregasi rasial antara pemukim ilegal Yahudi-Israel dan warga Palestina dari wilayah jajahan Israel, serta antara pemukim ilegal Israel dan penduduk Palestina di Wilayah Pendudukan Israel tersebut. Sistem pemisahan ini, yang menyerupai  hukum “pass” yang berlaku pada sistem apartheid Afrika Selatan, bertujuan memecah-belah masyarakat Palestina dan memungkinkan alokasi hak yang berbeda untuk berbagai kategori orang, diidentifikasi oleh ras, agama dan tempat tinggal.

Teknologi pengawasan di sepanjang rute dari dinding ilegal Israel, di dalam dan sekitar permukiman ilegal, dan di Kota Tua Al-Quds Timur.

Penjara penahanan massal berteknologi tinggi di mana ribuan warga Palestina ditahan, seringkali tanpa pengadilan, dan sering mengalami penyiksaan, seperti diakui bahkan oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS).

Sejak bangkitnya gerakan perlawanan massal Rakyat Palestina Intifadhah Ketiga yang juga disebut “Intifadhah Al-Quds”, 14 September lalu, sejak tulisan ini dimuat sudah 1.734 warga Palestina telah ditangkap di Wilayah Pendudukan Israel, kebanyakan warga yang hanya untuk mengambil bagian dalam demonstrasi menentang pendudukan.

Teknologi pengumpulan intelijen siber digunakan untuk memantau komunikasi dengan Rakyat Palestina.

Perusahaan-perusahaan Militer Israel Pemain Kunci

Perusahaan-perusahaan militer terbesar Israel adalah pemain kunci dalam pemeliharaan infrastruktur rezim Israel atas penindasan terhadap rakyat Palestina.

1. Elbit Systems

Menyediakan dan mememlihara sistem pengawasan untuk dinding dan permukiman illegal Israel.

Sementara Drone Elbit telah banyak digunakan dan diuji di lapangan pada setiap tiga agresi militer Israel baru-baru ini di Gaza.

Menghasilkan fosfor putih untuk amunisi mortir. Penggunaansecara ilegal Israel dari bahan mematikan ini di daerah-daerah padat penduduk sipil di Gaza dikutuk oleh Amnesty International sebagai kejahatan perang.

Memiliki kontrak selama 20 tahun untuk menyediakan helikopter kepada Kepolisian Israel.

Menyediakan dan memelihara sistem komputer untuk sistem kontrol perbatasan Israel.

2. Industri Dirgantara Israel (IAI)

Menyediakan teknologi pengawasan untuk dinding ilegal Israel.

Menghasilkan tameng besi untuk buldoser Caterpillar D9, sebagian besar digunakan untuk menghancurkan rumah-rumah dan peternakan milik penduduk Palestina.

Menghasilkan teknologi untuk jet tempur dan Heron TP, pesawat tak berawak terbesar Israel yang mencakup kapasitas menyerang dan digunakan berulang kali dalam serangan di Gaza.

3. Industri Militer Israel (Israeli Military Industries/IMI)

Sebuah perusahaan milik negara yang merupakan pemasok utama senjata angkatan darat, udara, dan laut serta sistem tempur untuk pasukan militer Israel dan militer lainnya di seluruh dunia.

Pemasok senjata kecil terkemuka untuk tentara pendudukan Israel dan penghasil amunisi bom cluster.

4. Rafael

Perusahaan senjata Israel milik negara lainnya yang menyediakan berbagai senjata untuk militer Israel dan untuk diekspor. Manufaktur dan ekspor sistem rudal Spike, di antara banyak senjata dan teknologi lainnya.

Sistem Keamanan dan Pertahanan Internasional (International Security and Defense Systems/ISDS)

Baru-baru ini menjalin kontrak dengan Komite Penyelenggara Olimpiade untuk Olimpiade 2016 dalam menampilkan teknologi dan menutupi citranya.

Secara luas dituduh melatih regu mematikan di Guatemala, El-Salvador, Honduras dan Nikaragua serta diduga terlibat dalam kudeta dan upaya kudeta di Honduras dan Venezuela.

Didirikan oleh mantan agen Mossad dan sangat berhubungan dengan kepentingan internasional Departemen Pertahanan Israel dan operasi-operasi militer tidak resmi.

Memberikan pelatihan bagi pasukan militer dan polisi dari seluruh dunia yang mencakup “menembak di wajah” dan “di belakang leher”, secara terbuka menganjurkan untuk pembunuhan di luar hukum, khususnya di favela (pada dasarnya berarti kota kumuh) Brasil.

Beberapa perusahaan terbesar di dunia bertindak sebagai sub-kontraktor untuk sistem Israel dari penindasan, menuai keuntungan besar dengan menyediakan ” uji coba lapangan” teknologi yang penting untuk penolakan berkelanjutan hak-hak Rakyat Palestina.

5. G4S

Menyediakan dan memelihara kamera, sistem kontrol akses dan kontrol ruangan untuk penjara-penjara Israel di mana tahanan politik Palestina ditahan, sering tanpa pengadilan, serta mengalami penyiksaan dan perlakuan buruk.

Menyediakan alat pemindai dan peralatan keamanan lainnya serta jasa pemeliharaan untuk pos-pos pemeriksaan Israel, pemukiman ilegal dan pos pemeriksaan Erez di Gaza.

Menyediakan berbagai peralatan dan layanan kepada militer dan polisi, termasuk konstruksi, operasi dan pemeliharaan pusat pelatihan baru bagi polisi Israel yang berada di jantung penindasan Israel terhadap warga Palestina dari wilayah jajahan Israel dan di wilayah pendudukan Al-Quds.

6. Hewlett Packard (HP)

Menyediakan dan memelihara sistem kontrol akses biometrik yang dipasang di banyak pos pemeriksaan militer Israel di Wilayah Pendudukan Israel dan menghasilkan kartu identitas yang membentuk bagian dari database penduduk terpusat Israel dan sistem kartu identitas kompleks yang menolak kebebasan bergerak bagi penduduk Palestina dan memaksa pemisahan rasial antara mereka dan pemukim ilegal Israel.

Beroperasi pada berbagai bagian dari infrastruktur IT militer Israel dan mengelola infrastruktur IT Angkatan Laut Israel, yang memberlakukan blokade ilegal Gaza.

Menyediakan dan memelihara perangkat lunak dan perangkat keras untuk penjara Israel di mana tahanan politik Palestina yang ditahan tanpa pengadilan dan mengalami penyiksaan.

Menyediakan peralatan komputer dan jasa untuk permukiman ilegal Israel di Wilayah Pendudukan Israel tersebut.

Dukungan Internasional untuk Sistem Militer Israel

Perdagangan dan penelitian bersama dengan pembentukan militer Israel, termasuk industri militer yang luas dan penelitian militer di lembaga akademis, memberikan Israel dukungan material dan politik bagi pelanggaran atas hukum internasional.

Selama periode 2009-2018, AS mengatur untuk memberikan bantuan militer kepada Israel senilai $ 30 miliar. Pada tahun 2011, rata-rata pembayar pajak AS memberi dana bantuan militer kepada Israel senilai $ 21. Bantuan militer itu kemudian digunakan untuk membeli peralatan militer terutama dari perusahaan-perusahaan AS. Sejak tahun 2000, AS memiliki lisensi ekspor hampir 825 juta senjata senilai hampir $ 105 miliar.

Entitas Zionis Israel merupakan penerima bantuan militer terbesar dari AS yang mengambil anggaran dari pajak warga negara itu setiap tahunnya.

Menurut surat kabar Israel Haaretz, jumlah total bantuan yang diberikan kepada Israel oleh AS sejak tahun 1962 telah mencapai sekitar $ 100 miliar; dan $ 3,1 miliar selama satu tahun terakhir.

Surat kabar itu mengutip sumber-sumber informasi yang mengatakan bahwa selama pembaharuan perjanjian bantuan militer untuk tahun yang akan datang, akan ada peningkatan anggaran bantuan militer, yang akan mencapai lebih dari $ 4 miliar per tahun mulai dari 2019.

Ekspor internasional senjata dan jasa keamanan militer untuk Israel

Ekspor senjata dan peralatan militer ke Israel digunakan untuk meningkatkan penindasan atas Rakyat Palestina serta memungkinkan untuk melaksanakan kejahatan perang dan pelanggaran hukum internasional lainnya.

Negara-negara Uni Eropa memberikan izin untuk militer sebesar € 983 juta untuk periode 2012-13. Di selatan global, perusahaan Afrika Selatan Cape Gate memberikan pagar yang digunakan pada dinding dan permukiman ilegal Israel, terutama di dan sekitar Al-Quds Timur.

Perusahaan-perusahaan internasional lainnya seperti HP dan G4S bertindak sebagai kontraktor swasta, mengambil peran pendukung kunci dalam membantu Israel untuk mempertahankan infrastruktur militerisme dan penindasan rasial.

Ekspor Israel dari “Uji Coba Lapangan” Teknologi

Ekspor militer terus merosot sejak mencapai $ 7,5 miliar pada tahun 2012. Penjualan pada tahun 2014 mengalami penurunan menjadi $ 5,5 miliar dan bisa jatuh hingga ke level $ 4 miliar pada tahun ini.

Israel adalah delapan eksportir senjata terbesar pada tahun 2014. Lebih dari 85% dari produksi industri militer Israel diekspor, khususnya ke India, Inggris, Korea Selatan, Brasil dan Kolombia.

Pembelian senjata dan teknologi militer Israel membantu mendanai kompleks industri militer Israel dan memberikan aliran pendapatan yang penting bagi entitas Zionis itu, mengimbangi biaya penindasan sistematis dan serangan militer reguler Israel terhadap Rakyat Palestina.

Setiap serangan militer Israel terhadap warga Palestina dipandang sebagai kesempatan untuk menguji teknologi baru dan untuk beriklan. Selama pembantaian Gaza 2014 lalu, keputusan operasional dibuat atas dasar yang memungkinkan persenjataan baru diujicobakan, demikian menurut kesaksian diberikan pada Russell Tribunal 2014.

Perusahaan militer Israel memasarkan produk mereka saat “uji coba lapangan ” dan “uji coba pertempuran,” di mana mereka menguji senjata baru mereka pada setiap tubuh Rakyat Palestina. Perusahaan senjata Israel telah secara terbuka menyatakan tentang efektivitas teknologi baru yang dicoba untuk pertama kalinya selama pembantaian di Gaza 2014 lalu.

Selain itu, pasukan militer Israel secara resmi mengadopsi doktrin kekuatan yang tidak proporsional, atau dikenal sebagai “Doktrin Dahiya,” yang menyerukan untuk penargetan sengaja warga sipil dan infrastruktur sipil sebagai cara paling “efektif” menghalangi gerakan perlawanan.

Berbagai serangan dan agresi militer Israel sejatinya untuk menguji dan memasarkan ekspor militer yang menciptakan insentif keuangan yang kuat untuk terus melakukan penindasan dan kekerasan. Satu dari sepuluh keluarga Israel secara finansial tergantung pada industri militer Israel.

Drone Mematikan Israel

Israel telah memasok 60,7 persen dari pesawat tak berawak di dunia (UAV), atau dikenal sebagai drone, sejak tahun 1985. Israel secara teratur menggunakan drone bersenjata dalam serangan terhadap warga Palestina di Gaza dan telah sengaja digunakan untuk menyerang warga sipil. Menurut Al-Mezan Center, sebuah organisasi hak asasi manusia yang berbasis di Gaza, lebih dari 1.000 warga Palestina di Gaza tewas oleh drone bersenjata pada periode 2000-2010.

Israel juga semakin gencar menggunakan drone untuk pengawasan di Tepi Barat, termasuk Al-Quds. Drone telah terlihat semakin sering mengudara selama gelombang saat perlawanan rakyat Intifadhad Al-Quds, menurut saksi mata Palestina.

Negara-negara yang yang telah membeli UAV dari Elbit Systems termasuk Australia, Kanada, Kroasia, Perancis, Georgia, Meksiko, Singapura, Swedia, Swiss, Inggris, Brazil, Rusia dan Amerika Serikat.

Kolaborasi Penelitian dengan Israel

Perusahaan senjata Israel berpartisipasi dalam penelitian bersama dengan perusahaan dan lembaga di seluruh dunia, menyediakan sumber yang berharga pada pendapatan dan memungkinkan mereka untuk memasarkan dan mengembangkan teknologi yang digunakan untuk menindas Rakyat Palestina. Sebagai contoh:

Pada periode 2007-2014, Elbit Systems dan Israel Aerospace Industries (IAI) berpartisipasi dalam proyek-proyek penelitian yang didanai Uni Eropa senilai € 244 juta.

Brasil membiayai kerjasama penelitian militer bersama dengan perusahaan Israel. 30 persen dari seluruh penelitian dan pengembangan di Israel memiliki fokus militer, yang melibatkan semua universitas besar Israel.

Bagaimana Israel Mengglobalisasi Represi Militer

Israel tidak hanya menindas Rakyat Palestina; entitas Zionis itu juga mengekspor model kejam dari sekuritisasi dan represi militer kepada dunia. Sebagai contoh:

Israel sangat terlibat dalam pelatihan dan mempersenjatai pasukan mematikan di Amerika Latin.

Kepolisian dan perusahaan keamanan Israel telah melatih kepolisian di Fergusson (AS) yang melakukan eksekusi di luar hukum, dan pasukan polisi di seluruh dunia, termasuk Los Angeles.

Perusahaan keamanan dan militer Israel menjual keahlian militer untuk kediktatoran di Asia dan Afrika, mengakibatkan negara-negara di kedua benua itu sering terlibat perang saudara.

Lembaga manajemen perbatasan Uni Eropa telah melakukan diskusi dengan IAI dan Elbit Systems tentang menggunakan pesawat tanpa awak (drone) Israel untuk meningkatkan keamanan perbatasan Eropa.

Elbit Systems mengekspor teknologi yang awalnya dikembangkan dalam penggunaan pada dinding apartheid Israel kepada dinding AS yang mematikan bagi para migran Meksiko.

Bahkan meski tidak ada hubungan diplomatik dengan Israel, Indonesia juga diam-diam pernah mengirimkan para perwira TNI AU untuk berlatih di Israel dalam paket pembelian 32 pesawat A-4 Skyhawk dari Israel dengan sandi Operasi Alpha yang merupakan operasi klandestin terbesar TNI AU pada 1980-an.

Kampanye Internasional Embargo Militer Israel

Komite Nasional Palestina untuk BDS telah mengeluarkan seruan embargo militer yang komprehensif terhadap Israel sejak tahun 2011.

Seruan yang mendesak itu adalah mengakhiri bantuan militer dan ekspor senjata ke Israel; mengakhiri transfer senjata dan teknologi militer ke dan dari Israel; dan mengakhiri semua bentuk bantuan militer dan kerjasama penelitian.

Seruan itu dikuatkan dengan adanya petisi yang kuat hingga 60.000 tandatangan dalam mendesak embargo militer Israel. Seruan itu didukung Uskup Agung Emeritus Desmond Tutu dan lima peraih Nobel lainnya, musisi Pink Floyd Roger Waters dan musisi AS Boots Riley, serta berbagai partai politik dan gerakan anti-perang di seluruh dunia.

“Saya mendukung seruan untuk embargo senjata [Israel] ini karena kami menginginkan perdamaian dan keadilan bagi Palestina dan Israel melalui cara-cara non-kekerasan,” kata Uskup Agung Desmond Tutu.

Penulis Naomi Klein telah menelaskan embargo militer terhadap Israel “lebih pantas dilakukan… langkah penting untuk mengakhiri impunitas Israel”.

Keberhasilan kampanye embargo militer Israel sejauh ini termasuk:

Empat perusahaan militer terbesar Israel mengakui sedang terjadi ‘krisis besar’ dari penurunan penjualan, dipicu sebagian besar oleh “kurangmya keinginan pada produk [militer] Israel”.

Kampanye menargetkan dana Uni Eropa untuk perusahaan militer, militer dan perusahaan keamanan Israel seperti Elbit Systems dan ISDS (International Security and Defense Systems), serta perusahaan-perusahaan internasional, seperti G4S dan HP, yang menyediakan peralatan dan jasa untuk pos-pos pemeriksaan ilegal dan penjara Israel yang membentuk “infrastruktur penindasan Israel “, sejauh ini telah berhasil.

Lebih dari puluhan bank telah melakukan penghentian saham dari Elbit Systems atas perannya dalam kekerasan militer Israel. Pabrik Elbit di seluruh dunia telah berulang kali diblokade oleh juru kampanye BDS.

Pada April lalu, bank terkenal di Inggris Barclays menyatakan melakukan penghentian saham dari perusahaan senjata Israel Elbit Systems menyusul kampanye profil tinggi yang melihat aksi protes langsung di cabang-cabang di seluruh lebih dari 15 kota.

Pada tahun 2014, pemerintah daerah Rio Grande do Sul mengakhiri proyek kerjasama penelitian skala besar dengan Elbit Systems.

G4S telah kehilangan jutaan dolar dalam kontrak dan menghadapi penghentian saham oleh Bill Gates Foundation, United Methodist Church dan investor kunci lainnya sebagai hasil dari kampanye global melawan itu.

Partisipasi Israel dalam pameran senjata menuai aksi protes, penawaran militer dengan Israel menjadi target boikot di seluruh dunia, dan pemerintah di seluruh dunia telah menahan untuk sementara waktu penawaran penjualan senjata Israel itu karena tekanan publik.

Inggris, Perancis dan negara-negara Eropa lainnya telah menolak untuk mengambil bagian dalam pameran militer di Tel Aviv pada tahun 2015

Pemerintah Norwegia dan Turki telah mengumumkan bentuk embargo militer terhadap Israel.

Aksi Kampanye

Berbagai aksi dilakukan dengan bergabung dan berbagi panggilan BDS untuk aksi dengan tren #SolidarityWaveBDS.

Menekan pemerintah di seluruh dunia melalui kampanye untuk mengakhiri kerjasama militer dengan Israel. Membangun tekanan pada pemerintah guna mengecualikan perusahaan militer Israel dari kontrak.

Menuntut embargo militer Israel dengan meningkatkan kesadaran tentang penindasan Israel menuntut embargo militer langsung.

Menyelidiki bank dan dana pensiun untuk mengetahui apakah mereka memiliki kerjasama dengan perusahaan militer Israel atau perusahaan terlibat seperti G4S dan HP.

Mencari tahu apakah universitas lokal di seluruh dunia melakukan penelitian militer bersama dengan Israel atau dengan perusahaan senjata yang memasok militer Israel.

Menargetkan pabrik senjata yang dimiliki oleh perusahaan Israel atau senjata ekspor ke Israel dan pameran senjata di mana Israel memasarkan teknologi militernya.

Mengatur perdebatan dan membawa masalah ini ke media: mengangkat militer dan kerjasama keamanan umumnya dari radar debat publik.

Menyakinkan kampanye pemerintah daerah di seluruh dunia berkomitmen untuk tidak bekerjasama dengan atau berinvestasi di perusahaan militer Israel atau perusahaan-perusahaan internasional seperti G4S atau HP dan untuk menekan pemerintah pusat.

Bekerja dengan gerakan, serikat pekerja dan mitra lain yang dapat menekan dana investasi, perusahaan atau pemerintah untuk menghentikan hubungan militer dengan Israel.(R05/R02)

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0