Karpet Merah Kehancuran Israel Sudah Digelar?

Oleh: Rendy Setiawan, Jurnalis MINA

Rencana aneksasi Tepi Barat, Palestina, akan menjadi kejahatan termutakhir Israel. Negeri ‘give away’ itu berulang kali menginjak-injak harga diri lembaga-lembaga internasional, sama sekali tidak mengindahkan ‘warning’ dari masyarakat dunia. Benar kata Allah Ta’ala dalam firman-Nya, “Mereka tuli, buta, dan bisu”, untuk bisa diajak berkomunikasi.

Israel adalah sebuah ‘duri’ yang ditancapkan persis pada urat nadi dunia Islam. Kecil namun sangat menyusahkan. Kisah berdirinya yang ilegal itu pun cukup terkenal dan ikonik. Mereka mendirikan sebuah negara dengan mengusir ratusan ribu warga Arab-Palestina. Kisah itu kemudian tercatat sebagai ‘Hari Nakbah’ yang terjadi pada 1948 silam.

Menurut Simon Sebag Montefiore dalam ‘Jerusalem: The Biography’, negara pertama yang mengakui secara de facto keberadaan Israel adalah Amerika Serikat (AS). Si pemenang perang dunia kedua ini mengakuinya melalui pernyataan Presiden Harry S. Truman. Pernyataan itu dilontarkan hanya sebelas menit setelah Ben Gurion mengumumkan secara sepihak berdirinya negeri Israel.

Meski mendapat penolakan keras dari Menteri Luar Negeri George Marshal, yang juga mantan kepala staf masa perang dan senior di Pemerintah Amerika, Presiden Truman tetap gigih pada pendiriannya untuk tetap mengakui berdirinya Israel. Ia bahkan diam-diam menemui Chaim Weizmann, seorang Kepala Organisasi Zionis Dunia di New York.

Saat itu tepat pada 14 Mei 1948, Weizmann yang hampir buta, menunggu di kamarnya di Waldorf Astoria New York, bergembira atas kemerdekaan itu. Namun ia juga merasa ditinggalkan dan dilupakan. Pada akhirnya, Weizmann sendiri menjadi presiden pertama Israel setelah mendapat dukungan penuh dari Ben Gurion dan koleganya.

Seorang komandan Inggris di Liga Arab, Jenderal Sir John Glubb mengenang, saat awal-awal Israel berdiri. Orang-orang Arab sangat percaya diri dengan jumlah dan kekuatan mereka dan memandang negeri Yahudi yang baru seumur jagung itu tak ubahnya seperti sebuah penjaga toko. Orang-orang Mesir, Suriah, dan Irak berasumsi mereka seharusnya tak kesulitan mengalahkan Yahudi.

Berjalannya waktu, Israel yang mereka anggap sebagai penjaga toko itu tak ubahnya serigala berbulu domba. Ia adalah serigala di tengah kerumunan domba-domba. Sebanyak apa pun domba, jika bertemu seekor serigala, mereka tidak akan berdaya. Satu hal yang tidak mereka sadari saat itu, di belakang Israel ada negara-negara besar, termasuk Amerika dan Inggris.

Menjadi sebuah catatan sejarah yang memalukan ketika negeri-negeri Arab harus menelan kekalahan terus menerus melawan Israel. Dalam Perang Arab-Israel Pertama, menyusul pendirian negara Israel 14 Mei 1948 di bawah pimpinan David Ben Gurion, aliansi negara Arab takluk di hadapan Isrel.

Dalam perang yang berlangsung selama hampir 10 bulan itu, pasukan Yordania, Mesir, Suriah, Irak, Lebanon, dan Arab Saudi bergerak ke Palestina untuk menduduki daerah-daerah yang diklaim sebagai wilayah ‘negara Israel’. Ada sekitar 45 ribu tentara yang dikerahkan oleh negara-negara Arab tersebut pada waktu itu.

“Sementara, di pihak Israel sendiri awalnya hanya diperkuat oleh 30 ribu prajurit, namun pada Maret 1949 meningkat jumlahnya menjadi 117 ribu tentara,” ungkap Yoav Gelber dalam buku Palestine 1948: War, Escape and the Emergence of the Palestinian Refugee Problem.

Perang Arab-Israel Pertama berakhir dengan kekalahan di pihak negara-negara Arab. Menurut catatan, jumlah tentara Arab yang gugur mencapai 7.000 orang. Perang itu juga menewaskan 13 ribu warga Palestina. Di samping itu, berdasarkan hasil penghitungan resmi PBB, ada 711 ribu orang Arab-Palestina yang menjadi pengungsi selama pertempuran berlangsung.

Sebagai dampak mengerikan dari kemenangan Israel tersebut, setiap orang Arab-Palestina yang mengungsi selama perang, tidak diizinkan untuk pulang ke kampung halaman mereka yang kini sudah diklaim Zionis sebagai wilayah negara Israel. Peristiwa inilah yang kemudian kita kenal ‘Hari Nakbah’. Tahun-tahun berikutnya, hubungan Israel dengan Arab tidak pernah sepenuhnya normal.

Di masa lalu, ada banyak upaya untuk menuntut akuntabilitas kejahatan perang Israel. Yang paling berkesan adalah kasus Perdana Menteri Israel, Ariel Sharon, yang dikenal sebagai ‘Tukang Jagal’ dalam peristiwa tragis Sabra Shatila. Korbannya berusaha mengadilinya di Pengadilan Pidana Internasional pada tahun 2002. Ending kisahnya sama sekali tak menyenangkan, sebab ada indikasi campur tangan AS.

Aneksasi Tepi Barat

Israel sama sekali tak menghiraukan sejarah mereka. Kini mereka memutuskan aneksasi Tepi Barat pada 1 Juli mendatang, yang artinya kurang dari sepekan lagi. Keputusan itu sendiri diyakini berawal dari proposal apa yang disebut sebagai ‘Kesepatan Abad Ini’ atas inisiasi Presiden AS Donald Trump. Palestina sendiri secara tegas menolak proposal tersebut dan menyebutnya telah menghalangi upaya pembentukan negara Palestina.

Pada tanggal 20 Desember, Kepala Kejaksaan Pengadilan Internasional (ICC), Fatou Bensouda, mengungkapkan, ia memiliki cukup bukti untuk menyelidiki dugaan kejahatan perang yang dilakukan Israel di Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Jalur Gaza. Dia menyimpulkan bahwa “tidak ada alasan substansial untuk percaya bahwa investigasi tidak dapat melayani kepentingan keadilan”.

Segera setelah Bensouda membuat keputusan tersebut, AS dengan cepat bergerak memblokir upaya ICC untuk memojokkan Israel. Pada tanggal 11 Juni, Presiden Trump menandatangani perintah eksekutif yang menjatuhkan sanksi terhadap anggota badan peradilan global itu yang juga melakukan penyelidikan kejahatan perang AS di Afghanistan dan kejahatan perang Israel di Palestina.

Selain dari Administrasi Trump, negara-negara Barat lainnya, seperti Jerman dan Australia, sedang melobi  ICC untuk membatalkan penyelidikan sama sekali. Setidaknya ada delapan negara yang secara terbuka menentang penyelidikan atas situasi Palestina. Jerman adalah satunya. Akankah mereka berhasil?

Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas, seperti dilaporkan Middle East Monitor (MEMO), sudah memperingatkan Netanyahu ketika keduanya bertemu di Tel Aviv awal Juni ini, meskipun Jerman tidak mendukung upaya penyelidikan, namun sejumlah besar negara-negara mendesak Uni Eropa untuk mengusut upaya Israel atas rencananya terkait aneksasi Tepi Barat.

Bahkan, lebih dari 1.000 anggota parlemen dari 25 negara Eropa telah menandatangani sebuah pernyataan yang menolak aneksasi Israel atas wilayah Tepi Barat. Mereka mendukung sikap Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell bahwa aneksasi harus ditentang.

Di antara para penandatangan berasal dari Austria, Belgia, Republik Ceko, Denmark, Finlandia, Prancis, Jerman, Yunani, Hongaria, Irlandia, Italia, Luksemburg, Malta, Belanda, Polandia, Portugal, Rumania, Slovakia, Slovenia, Spanyol, dan Swedia . Selain itu, beberapa anggota parlemen dari negara di luar Uni Eropa antara lain para legislator dari Inggris, Norwegia, Islandia dan Swiss.

Para penandatangan itu termasuk Perdana Menteri Irlandia Utara Micheal Martin, Menteri Luar Negeri Bayangan Inggris Lisa Nandy, serta 13 pemimpin partai dan dua pembicara utama parlemen.

Mayoritas anggota parlemen negara-negara Eropa itu mengungkapkan “keprihatinan serius” tentang rencana perdamaian administrasi Trump untuk Israel dan Palestina dan rencana pencaplokan Israel atas wilayah Tepi Barat. AS sendiri sepenuhnya telah menyerahkan keputusan aneksasi diteruskan atau tidak kepada Israel setelah sejumlah orang-orang dekat Trump menggelar rapat tertutup.

Karpet merah kehacuran Israel

Rencana aneksasi Tepi Barat yang segera dilakukan Israel ini mengingatkan penulis dengan sejumlah kisah yang menunjukkan kerakusan sebuah kelompok di masa lalu. Sejak ribuan tahun lamanya, kelompok atau negara mana pun yang rakus, mereka hanya berakhir pada kehancuran dan tidak akan bertahan lama.

Sebagai contoh bangsa Mongol ketika menyerang Baghdad, kota yang dikenal indah dan kokoh. Kurang kuat apalagi bangsa Mongol ketika itu? Bahkan mereka mampu mempermalukan khalifah umat Islam, Al Mutashim Billah di istananya sendiri, di hadapan umat Islam. Namun, kisah Bangsa Mongol yang kuat lagi rakus itu tak sampai seabad. Mereka hancur lebur tanpa sisa.

Lalu, pasukan Romawi, terkenal dengan strategi perang dan kekuatan fisiknya. Belum lagi benteng alam yang begitu kokoh dalam kota ‘Konstantinopel’, kota yang disebut-sebut memiliki pertahanan darat dan laut paling kuat saat itu, harus rela tunduk dan tak mampu meneruskan kisahnya setelah takluk dari tangan pemuda berusia 25 tahun hanya kurang dari 2 bulan saja.

Seperti yang diungkapkan Duta Besar Palestina untuk Indonesia Zuhair Al Shun dalam konferensi menolak aneksasi yang diinisiasi Aqsa Working Group (AWG). Al Shun mengatakan bahwa Israel pasti hancur, dan itu sesuatu yang akan terjadi. Hanya saja, kapan itu terjadi, tidak ada yang tahu. Yang jelas, Israel pasti hancur. Begitu kira-kira Al Shun mengatakannya dengan cukup semangat.

Bisa jadi, aneksasi Tepi Barat itu merupakan karpet merah yang sedang Israel gelar untuk berjalan menuju kehancurannya sendiri.

Apakah hancurnya Israel berarti tanda Hari Akhir? Belum tentu. Kalau diingat-ingat lagi, Israel bukanlah satu-satunya kasus yang berkaitan antara Islam – Kristen – Yahudi – Palestina. Jauh sebelum Israel ada, sudah sering upaya dilakukan untuk merebut Palestina dari pangkuan umat Islam. Bisa saja setelah Israel hancur –semoga saja dalam waktu dekat– masih ada babak lanjutan dari konflik ini. Dan ketika babak itu terjadi, semoga saja umat Islam di atas angin. (A/R2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)