Kashmir, Palestina dan Islamofobia (Oleh: M.Zahid Rifat, Jurnalis Pakistan)

Oleh: Muhammad Zahid Rifat, Jurnalis Lepas (free lance) berbasis di Lahore, Kolumnis Radio Pakistan

Masalah-masalah yang belum terselesaikan di Kashmir dan Palestina, dan tidak ada pelaksanaan Resolusi Dewan Keamanan PBB dan meningkatnya ancaman terhadap kemanusiaan secara umum, khususnya bagi Muslim, dalam bentuk Islamofobia, adalah masalah utama yang dihadapi umat Muslim.

Ini seperti disoroti oleh Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan saat berpidato di sesi Majelis Umum PBB untuk kedua kalinya dalam dua tahun.

Pidato perdananya tahun 2019 disampaikan secara langsung di New York. Pidato keduanya beberapa hari lalu secara virtual karena pandemi virus corona.

Khan menyampaikan, tidak akan ada perdamaian dan stabilitas yang tahan lama di Asia Selatan sampai sengketa Jammu dan Kashmir diselesaikan. Ia juga mendesak untuk mencegah konflik yang menghancurkan dan mengamankan pelaksanaan resolusi. Dewan Keamanan telah mencatat tiga kali situasi di Jammu dan Kashmir dalam satu tahun terakhir, setelah selang waktu yang lama sekitar 55 tahun.

Khan mendesak Dewan untuk mengambil tindakan penegakan hukum yang tepat dan yang terpenting juga harus mengambil langkah-langkah positif yang memadai untuk melindungi orang Kashmir dari genosida oleh rezim fasis India.

Selama lebih dari 72 tahun India secara ilegal menduduki Jammu dan Kashmir yang bertentangan dengan keinginan orang-orang Kashmir karena pelanggaran terang-terangan terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB.

Misi yang sama harus ditegakkan oleh Dewan terhadap warga Palestina.

PM Imran Khan, yang menyebut dirinya sebagai Duta Besar Kashmir, telah menggugah dan mengangkat masalah Kashmir dan kegiatan penindasan yang dilakukan kepada orang-orang Kashmir dalam segala bentuk.

Ia menyebut,  orang-orang Kashmir yang berani tidak akan pernah tunduk pada pendudukan dan penindasan India, perjuangan mereka adalah untuk tujuan yang adil dan menyerahkan nyawa mereka dari generasi ke generasi untuk menyingkirkan pendudukan India.

Dia mengatakan kepada komunitas internasional selalu menyerukan solusi damai dari masalah Kashmir yang belum terselesaikan. Untuk tujuan ini India harus membatalkan tindakan yang telah diambil sejak 5 Agustus 2019, mengakhiri pengepungan militernya dan hak asasi manusia berat lainnya. Semua pihak harus menyelesaikan sengketa Jammu dan Kashmir sesuai dengan resolusi Dewan Keamanan PBB yang relevan dan tentu saja keinginan masyarakat Kashmir.

Luka Palestina

Mengenai Palestina, ia telah menjadi luka yang membusuk, dan penyelesaian yang adil dan langgeng sangat diperlukan untuk Timur Tengah dan bahkan dunia pada umumnya. Sementara aneksasi wilayah Palestina secara ilegal, pembangunan pemukiman ilegal dan pemberlakuan kondisi kehidupan yang tidak manusiawi di Palestina, terutama di Gaza, tidak dapat membawa perdamaian ke wilayah yang bermasalah.

Solusi dua negara harus terus diupayakan sejalan dengan resolusi Majelis Umum dan Dewan Keamanan PBB dalam parameter yang disepakati secara internasional, yaitu restorasi perbatasan pra-1967, dan Al-Quds Sharif (Terusalem Timur) sebagai ibu kota negara Palestina yang bersatu dan merdeka.

Namun hingga kini Dewan Keamanan PBB dan Majelis Umum PBB ternyata tidak mampu melaksanakan resolusi puluhan tahun mereka untuk menyelesaikan perselisihan Kashmir dan Palestina yang berlarut-larut dan membara.

Ini bias jadi karena masalah Kashmir berkaitan dengan negara besar, India, yang secara mencolok melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB.

Sedangkan Palestina berkaitan dengan Israel yang merupakan anak tidak sah Amerika Serikat, yang dalam beberapa bulan terakhir memberikan semua tekanan pada negara-negara Arab untuk menandatangani perjanjian normalisasi dengan negara Zionis itu.

Sementara, resolusi untuk mendukung Timor Leste dilaksanakan dalam beberapa bulan, karena melibatkan negara Muslim, Indonesia.

Corona Yang Menyatukan

Sehubungan dengan meningkatnya ancaman Islamofopbia, PM Pakistan Imran Khan menyatakan bahwa pandemi virus Corona adalah kesempatan untuk menyatukan umat manusia. Namun sayangnya, justru telah mendorong meningkatnya ketegangan global serta memunculkan kebencian dan kekerasan rasial dan agama terhadap minoritas yang rentan di beberapa tempat.

Tren Islamofobia, dan Muslim terus menjadi sasaran impunitas di banyak negara. Salah satu negara di dunia saat ini di mana negaranya mensponsori Islamofobia adalah India, alasan di balik ini adalah karena ideologi PM Modi dan partaiya menguasai India saat ini.

Karena itu, perlu dideklarasikan “Hari Internasional untuk Memerangi Islamofobia” dan untuk membangun koalisi melawan stigma yang memecah belah umat manusia.

Kita semua perlu terus mendesak masyarakat internasional melalui semua cara dan sumber daya yang memungkinkan untuk solusi sengketa Kashmir dan Palestina sesuai dengan resolusi Dewan Keamanan PBB dan keinginan orang-orang yang diduduki Jammu dan Kashmir dan Palestina.

Kita semua juga mendesak mereka untuk mengambil langkah-langkah ketat yang memadai untuk mencegah dan mengekang ancaman Islamofobia yang cenderung meningkat. (T/RS2/P1)

Sumber : Pakistan Today

Mi’raj News Agency (MINA)