Kazakhstan Tuan Rumah KTT Kemitraan Keamanan dan Pembangunan di Asia Keenam

Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev mengadakan pertemuan dengan para kepala delegasi yang berpartisipasi dalam pertemuan Menteri Luar Negeri CICA.(Foto: www.akorda.kz)

Nur-Sultan, MINA – Ibu kota Kazakhstan, Nur-Sultan menjadi tuan rumah pertemuan keenam tingkat Menteri Luar Negeri Konferensi Interaksi dan Keyakinan Asia (Conference on Interaction and Confidence-Building Measures in Asia/CICA) yang digelar pada pekan lalu, Senin-Selasa, 11-12 Oktober 2021.

Acara tersebut mengundang para menteri dan wakil menteri luar negeri dari negara-negara anggota bersama dengan pengamat dari negara-negara termasuk Bahrain, Belarus, India, Qatar, Kirgistan, Mongolia, Rusia, Uzbekistan, dan Turkmenistan, serta kepala organisasi internasional dan misi diplomatik.

Pertemuan meninjau banyak dokumen untuk diadopsi bertema “Kemitraan untuk Keamanan dan Pembangunan di Asia”, termasuk Katalog CICA yang diperbarui tentang Tindakan Membangun Keyakinan dan rancangan amandemen Aturan Prosedur CICA.

Gagasan untuk mengadakan CICA diusulkan oleh Presiden Pertama Kazakhstan Nursultan Nazarbayev pada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-47 pada 1992 lalu.

Sejak KTT CICA ke-1 pada 2002, organisasi ini menjadi forum antar pemerintah, multi-nasional untuk dialog, konsultasi dan adopsi keputusan dan tindakan berdasarkan konsensus tentang masalah keamanan di Asia.

Jumlah anggotanya telah mencapai 27 negara Asia, 5 organisasi mitra beserta 9 negara dan 5 organisasi internasional dengan status terpantau termasuk Malaysia dan Indonesia.

CICA bertujuan menciptakan kondisi yang menguntungkan guna membahas tantangan mendesak di bidang keamanan antara negara-negara Asia melalui dialog yang terbuka dan konstruktif berdasarkan prinsip-prinsip hukum internasional serta tidak dapat diterimanya politik kekuasaan, perbedaan dalam pembangunan ekonomi, afiliasi ras, etnis dan agama.

CICA bertujuan untuk meningkatkan kerjasama dalam mempromosikan perdamaian, keamanan dan stabilitas di kawasan berdasarkan prinsip-prinsip keterbukaan dan ketidakberpihakan sesuai dengan standar dan norma hukum internasional.

Pada kesempatan pekan kemarin, Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev mengadakan pertemuan dengan kepala delegasi yang berpartisipasi dalam pertemuan Menteri Luar Negeri CICA dan membahas prioritas ambisius yang didukung tujuan strategis untuk mengubah CICA menjadi organisasi internasional yang lengkap.

Tokayev mencatat CICA memiliki landasan penting dari sebuah organisasi internasional, termasuk dokumen dasar, pengambilan keputusan dan badan kerja, anggaran operasional dan sekretariat permanen, dan transformasi CICA akan menyoroti peran baru Asia dalam urusan global, menegaskan komitmen negara-negara anggota CICA untuk menciptakan arsitektur keamanan yang benar-benar umum, tak terpisahkan, dan komprehensif di benua terbesar itu.

Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyampaikan sambutan melalui tautan video yang berfokus pada perlunya bergandengan tangan dalam menjaga keamanan dan stabilitas, untuk secara aktif mempromosikan pemulihan ekonomi dan secara tegas mempraktikkan multilateralisme.

Menteri Luar Negeri India Jayshankar memuji kepemimpinan dan kontribusi Kazakhstan sebagai kekuatan yang kuat untuk memajukan tujuan CICA dan memuji kolaborasi peserta CICA, menegaskan kembali komitmen anggota CICA kepada Presiden Kazakhstan dalam meningkatkan perdamaian, keamanan, dan stabilitas di Asia.

Dalam sambutan pembukaannya pada acara tersebut, Pj Menteri Luar Negeri Kazakhstan Akan Rakhmetullin membacakan pernyataan dari Presiden Pertama Kazakhstan dan pendiri CICA pada tahun 1992, yakni Nursultan Nazarbayev.

Nazarbayev mengatakan dalam pernyataannya bahwa “Mencari solusi untuk masalah paling akut di benua ini membutuhkan pendekatan dan kerja sama multilateral.”

Dia menambahkan, di tengah meningkatnya dominasi global dan narasi perang dingin, CICA tetap menjadi pusat politik global penting yang mempromosikan prinsip-prinsip “kemitraan, kesetaraan, dan solidaritas timbal balik.”

Dalam sambutan pembukaannya, Akan Rakhmetullin mencatat pentingnya kawasan dalam hal potensi ekonomi dan manusia. “Apa yang tetap tidak berubah adalah bahwa Asia adalah rumah kita bersama, dan merupakan tanggung jawab kita untuk mengatasi masalah-masalah akut. Masih ada zona ketidakstabilan, risiko non-proliferasi nuklir, risiko terorisme dan ekstremisme,” katanya.

Setelah acara tersebut, para Menteri mengadopsi dokumen-dokumen besar dan penting seperti Pernyataan Ketua CICA.

Dokumen tersebut mencatat pentingnya memperkuat kerja sama antara negara-negara CICA untuk memastikan keamanan dan perdamaian di Asia, menghadapi tantangan dan ancaman baru, termasuk di bidang keamanan epidemiologis, perlindungan lingkungan dan adaptasi terhadap perubahan iklim, pembangunan ekonomi berkelanjutan, mempromosikan ekonomi digital, interkoneksi di bidang transportasi dan logistik, dialog budaya, dan lain-lain. Perhatian khusus diberikan pada situasi di Afghanistan. Transformasi Forum Think Tank CICA menjadi platform permanen yang disambut baik.

Mereka juga memperbarui Katalog CICA tentang Tindakan Membangun Keyakinan. Katalog yang disesuaikan dengan realitas modern mencakup bidang-bidang kerja sama prioritas baru seperti keselamatan epidemiologis, kesehatan masyarakat dan farmasi, teknologi informasi dan komunikasi, dan perang melawan terorisme.

Pertemuan tingkat menteri menyepakati Peraturan tentang Dewan Orang Terkemuka CICA. Dewan Orang Terkemuka seharusnya menjadi badan konsultatif dan penasehat CICA pada berbagai isu interaksi dan pengembangan CICA, termasuk isu-isu penguatan perdamaian dan keamanan, pelaksanaan langkah-langkah membangun kepercayaan, serta prioritas lebih lanjut dalam CICA.

Seiring dengan Amandemen Aturan Prosedur CICA mengenai status pengamat.

Dalam pernyataan kepemimpinannya, Kazakhstan mengumumkan bahwa para Menteri menekankan kembali bahwa kerja sama di kawasan CICA akan didasarkan pada penghormatan terhadap prinsip-prinsip kesetaraan kedaulatan, integritas teritorial, kemerdekaan politik, non-intervensi dalam urusan internal, ko-eksistensi damai, saling menguntungkan dan menahan diri dari ancaman atau penggunaan kekuatan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik negara manapun, atau dengan cara lain yang tidak sesuai dengan prinsip dan tujuan Piagam PBB.

Para Menteri juga menegaskan komitmen mereka terhadap prinsip-prinsip Piagam PBB dan hukum internasional, termasuk dalam penyelesaian sengketa secara damai.

Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya pemajuan dan perlindungan hak asasi manusia dan kebebasan dasar, karena proses pemajuan dan perlindungan hak asasi manusia harus dilakukan sesuai dengan tujuan dan prinsip Piagam PBB, Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia dan hukum internasional.

Para menteri juga menunjukkan dukungan terhadap usulan Chairman-in-Office CICA untuk mengadakan diskusi terstruktur tentang transformasi CICA menjadi organisasi internasional untuk keamanan dan kerjasama regional di Asia dan akan mempelajari konsep transformasi tersebut.

Semua peserta sepakat untuk melanjutkan kerja sama aktif dalam kerangka CICA dan menyambut baik proposal Kazakhstan untuk menjadi tuan rumah KTT CICA ke-6 pada 2022, karena Kazakhstan memimpin Pertemuan pada 2020-2022.

Selain itu, para peserta mengikuti peresmian kantor baru Sekretariat CICA di Nur-Sultan.

Direktur Eksekutif CICA Duta Besar Kairat Sarybay menyambut para peserta dan mengatakan hal ini sangat simbolis bahwa peresmian kantor baru CICA berlangsung pada malam HUT ke-30 dan di bawah Kepemimpinan Republik Kazakhstan – negara tuan rumah Sekretariat.

Dia menambahkan, tempat baru memungkinkan untuk meningkatkan kapasitas staf internasional Sekretariat untuk memastikan perwakilan yang adil dan seimbang dari semua wilayah CICA di kantor pusat CICA, menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kazakhstan.(R/R1/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)