Kebangkitan Komunisme & PKI, Mungkinkah? (Oleh: M. Anshorullah) – Bagian Akhir

Oleh: M. Anshorullah, Ketua Presidium Aqsa Working Group (AWG)

Tentang Singgungan Komunisme dan Islam

Sebetulnya hubungan komunisme dengan agama, Islam khususnya, sangat panjang. Di Indonesia tokoh-tokoh yang boleh kita sebut misalnya Soekarno dengan Nasakom-nya, H. Misbach atau bahkan Tan Malaka. Tiga sosok ini gigih berusaha mengkombinasikan semangat revolusioner komunisme dengan spiritualitas Islam dalam kontkes pembebasan. Di India ada Asghar Ali Engineer dengan Teologi Pembebasannya dan di Afrika Selatan ada Farid Esack dengan Hermeneutika Pembebasan Al-Qur’an.

Tetapi secara sederhana, hubungan Komunisme dengan Islam dapat digambarkan dari pendapat Prof. Dawam Raharjo; Islam dan Marxisme merupakan dua hal berbeda, bahkan bertentangan. Islam adalah agama yang ajaranya dapat diterima dan ditolak berdasarkan iman atau kepercayaan, sedangkan Marxisme sebagai suatu teori ilmiah yang diterima atau ditolak berdasarkan penalaran rasional dan obyektif. Kebenaran agama bersifat absolut, sedangkan kebenaran teori ilmiah bersifat relatif yang bersifat hipotesis.

Islam dan komunisme dalam pertemuannya bukan perkara ideologi, tetapi semangat perlawanan dalam menghadapi penindasan kolonial. “Mereka bertemu di jalan dan bubar di jalan, karena bukan persatuan organik antara agama dan ideologi.”

Bagaimana dengan Kapitalisme Liberalistik?

Sebagai antitesis dari komunisme, sesungguhnya kapitalisme ini juga harus diwaspadai. Kapitalisme saat ini manjadi pihak yang paling diuntungkan saat komunisme sudah runtuh. Mereka sudah memenangi Perang Dingin. Setelah berhasil mengalahkan komunisme, saat ini musuh utama kapitalisme adalah Islam.

Samuel Huntington dalam Clash of Civilization meyakini bahwa Islam adalah lawan sesungguhnya dari kapitalisme (Barat), sedangkan komunisme adalah lawan yang bersifat sementara (dan sudah selesai). Sedangkan Naquib Alattas mengatakan bahwa konflik kapitalis (barat) dengan Islam adalah permanen.

Hal itu kita saksikan bagaimana Barat (Amerika) betul-betul mengacak-acak dunia Islam setelah runtuhnya Soviet pada 1991. Sebut saja misalnya invasi Amerika ke Irak, Operasi Enduring Justice dan Pre-Emptive Strike yang dilancarkan Amerika pasca peristiwa 911, mendalangi Arab Spring mulai dari Tunisia.

‘Menciptakan’ boneka Isis yang memicu glombang Islamofobia, dan tentu saja mengacak-acak Palestina; mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan yang tebaru memfasilitasi normalisasi UEA-Bahrain dengan  Israel. Jadi, akankah kita larut dan menghabiskan energi kita untuk melawan ‘hantu’ komunis-PKI sepanjang tahun? Sementara kapitalisme di depan mata kita digunakan sebagai kendaraan Zionisme internasional untuk mencabik-cabik Palestina dan umat Islam pada umumnya.

Selain itu, tanpa sebagian dari kita sadari, liberalisasi di Indonesia khususnya juga semakin menguat. Generasi Z, saat ini semakin jauh dari Al-Qur’an. Semakin liberal. Ekonomi Politik nasional juga semakin mengarah ke liberalisme, RUU Sapujagat Cilaka (Cipta Lapangan Kerja) misalnya. Dan lain sebagainya.

Bagaimana Sikap Kita?

Bagaimanapun kebangkitan komunisme dan PKI saat ini menjadi bagian dari dinamika politik. Di satu pihak wacana ini menjadi alat untuk menyerang, sedangkan di pihak lain isu ini dipakai untuk memprovokasi masyarakat yang traumatis terhadap PKI (umat Islam) untuk bereaksi. Seolah-oleh mempermainkan emosi umat Islam hanya demi kepentingan politiknya; membangun stigma umat Islam yang reaksioner dan halu.

Karena itu, sebaiknya sikap kita para pemuda muslim adalah beberapa hal berikut:

  1. Tetap tenang dan tidak berlebihan dalam merespon isu-isu yang dianggap berhubungan dengan kebangkitan komunis-PKI. Jangan sampai kita terprovokasi dan terjebak pada pertentangan dengan saudara-saudara kita yang lain.
  2. Tidak mudah mengkait-kaitkan suatu peristiwa dengan kebangkitan PKI. Sebagai contoh, pada penolakan RUU HIP, sikap Muhammadiyah dan NU sangat pas. Mereka menolak pembahasan apalagi penetapan RUU HIP karena tidak penting. Dua ormas terbesar ini sama sekali tidak mengaitkannya dengan kebangkitan komunisme-PKI, apalagi menuding pihak tertentu sedang berusaha membangkitkan PKI.
  3. Tetap peka dan mempelajari sejarah kelam komunisme-PKI, tanpa perlu menuduh orang atau kelompok lain atau pemerintah secara sembrono dan tanpa basis data yang kuat.
  4. Selalu mengembalikan semua fenomena kepada Al-Qur’an dan Sunnah dan menjunjung tinggi ukhuwah Islamiyah.

(AK/Anshor/R1)

Mi’raj News Agency (MINA)