Tidak Kurban Sapi di India

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita MINA

Kurban merupakan ibadah yang utama pada bulan Dzulhijjah. Binatang kurban dapat berupa kambing atau sapi.

Kurban kambing atau sapi di manapun sudah biasa dan tidak jadi soal. Namun kalau kurban sapi itu dilaksanakan di India akan menjadi masalah besar.

Sebab berdasarkan ajara Veda yang sudah mentradisi begitu lama, sapi dianggap sebagai binatang yang sangat disakralkan. Sapi dipandang sebagai lambang ibu pertiwi yang memberikan kesejahteraan. Karena itu umat Hindu di sana dan manusia diajarkan untuk tidak menyembelih dan memakan daging sapi.

Sudah ratusan bahkan ribuan tahun ajaran itu telah mengakar di negeri Hindustan. Sehingga sapi dimanjakan layaknya binatang piaraan rumah pada umumnya. Mereka mengangap sapi telah berjasa kepada manusia  dengan memberikan susu sapi.

Sapi juga telah banyak membantu para petani untuk membajak, dan kotoran sapi pun digunakan untuk pupuk tanaman. Bahkan setelah matinya pun, kulit sapi masih bisa bermanfaat untuk dibuat jaket, tas dan aneka kerajinan tangan.

Dalam sastra lama disebutkan, Sri Krisna muncul ke dunia material ini antara lain dengan memberikan contoh kepada manusia untuk menghormati sapi.

Di Vrndavan, tradisi menghormati sapi-sapi masih berlangsung sampai sekarang. Hingga di beberapa tempat di daerah pedalaman di Vrajabumi, ketika warga memasak roti, roti pertama akan diberikan kepada sapi, karena mereka mengangap bahwa Krsna hanya akan menerima persembahan kalau mereka memuaskan sapi-sapi.

Harapan Warga

Beberapa pekan lalu, Kementerian Dalam Negeri India mengeluarkan pernyataan yang mengimbau masyarakat untuk mengikuti norma-norma dan untuk tidak menyakiti perasaan religius sesama warga.

Mendagri Mohammed Mahmood Ali, meminta umat Islam untuk menghindari kurban sapi demi menghormati pemeluk agama lain.

Beberapa ulama memang bereaksi atas masalah ini, yang merasa bahwa Menteri Dalam Negeri justru harus memfasilitasi kelancaran pelaksanaan perayaan Idul Adha bagi warganya yang beragama Islam.

Beberapa kelompok sayap kanan menekankan kemungkinan penyembelihan kurban sapi di dekat Pos Polisi Telangana, untuk mengantisipasi potensi masalah dari kelompok main hakim sendiri.

Para Ulama justru merasa bahwa melalui distribusi saluran yang tepat ke masyarakat, tetap akan membantu menjaga keharmonisan masyarakat pada perayaan Idul Adha.

“Meminta orang untuk menghindari kurban binatang terlarang tanpa adanya pengaturan alternatif yang tepat, hanya menciptakan kesalahpahaman di antara masyarakat,” kata Moulana Syed Taraq Quadri, Sekretaris Jenderal, Akademi Soofi.

Ia mengusulkan, penjualan sapi melalui agen yang disponsori pemerintah pada kesempatan Idul Adha setidaknya bisa menghasilkan keuntungan tinggi bagi pemerintah.

Adanya koordinasi penjualan oleh pemerintah justru akan membantu pemerintah negara bagian untuk menyelesaikan kontroversi yang timbul,” kata Syed Hamid Hussain Shuttary, Presiden Dewan Ulama Sunny.

Hindari Konfrontasi

Sejak beberapa tahun terakhir, beberapa organisasi Muslim menerbitkan iklan di sejumlah surat kabar Urdu seperti Sahafat, Inquilab, dan Urdu Sahara.

Iklan tahun lalu berisi ajakan kepada anggota masyarakat untuk menghindari konfrontasi mengenai kurban hewan, yakni sebuah ritual yang merupakan bagian integral ajaran agama Islam pada Hari Raya Idul Adha.

Jamiat-Ulema-e-Hind, sebuah organisasi Muslim terbesar di India, mengimbau umat Islam untuk tidak berkurban “hewan putih” alias sapi. Tapi bisa dengan kambing, untuk lebih meminimalisir konfrontrasi sesama warga India.

Dengan demikian, umat muslim di India sebagian besar memilih kambing sebagai hewan kurban.

Menurut catatan Wiki, negara dengan ibu kota New Delhi dengan penduduk lebih dari 1,3 miliar, kini memiliki sekitar 14,2 persen Muslim atau sekitar 172 juta jiwa. (A/RS2/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)