Kedermawanan Pada Bulan Ramadhan

 

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Sungguh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam merupakan figur makhluk termulia, manusia paling dermawan, paling pemaaf, murah senyum, dan penuh kasih sayang terhadap umatnya.

Telapak tangannya nan suci dipenuhi curahan kebaikan. Air kedermawanan mengalir dari puncak bukit keshalihannya. Beliau suka memberi dan tak harap kembali, sosok insan yang gemar bershadaqah tanpa pernah takut akan kefakiran dan kemiskinan menimpa dirinya.

Apalagi, ketika bulan suci Ramadhan tiba. Kecepatan beliau dalam bershadaqah melebihi kecepatan hembusan angin. Begitu cepatnya, segera, dan begitu seketika tanpa perhitungan lagi, tanpa ditunda-tunda lagi.

Bagaimana ditunda? Begitu banyak berlipat ganda pahala yang Allah sediakan pada bulan Ramadhan ini.

Begitu ada yang minta, dikasih. Begitu ada yang memerlukan, beliau beri. Dan, begitu ada yang perlu pertolongan, beliau bantu.

Bahkan, sebelum orang meminta pun beliau begitu perhatian dan penuh kepedulian. Hingga, sahabat Anas bin Malik memberikan kesaksiannya, “Rasul belum pernah menolak permintaan seseorang demi tegaknya Islam.” (HR Muslim).

Sahabat Jabir bin Abdullah pun berujar, “Sekali saja tidak pernah Rasulullah mengatakan tidak untuk menolak permintaan orang.” (HR Bukhari Muslim).

Begitulah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah pemimpin rumah tangga yang senantiasa menyediakan hidangan di rumahnya untuk kaum dhuafa, tetangga, dan tetamu.

Beliau pulalah yang mengajari kita memperbanyak kuah sayur untuk berbagi dengan sesama tetangga. Agar tidak terjerat dosa, manakala seseorang kekenyangan, sementara tetangganya kelaparan. Manakala di negerinya berlimpahan, sementara ada tetangganya, para pengungsi, para kaum terjajah, kesulitan memperoleh sekedar sesuap makanan.

Pantaslah kalau beliau mengingatkan kita dalam sabdanya, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata baik atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia muliakan tetangganya dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia memuliakan tamunya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Pada hadis lainnya, beliau mengatakan, “Sesungguhnya Allah Maha Pemurah, Dia mencintai sifat pemurah, Dia mencintai akhlak yang tinggi dan membenci akhlak yang rendah. ” (HR Baihaqi).

Kita saja yang kadang atau malah sering kali terlalu sayang memegang uang, sehingga lupa berbagi kepada yang meminta atau memerlukan. Kita berangapan harta itu milik kita pribadi. Padahal, hakikatnya itu titipan Allah yang dipercayakan kepada kita.

Semoga kehadiran Ramadhan penuh berkah dan limmpahan ganjaran ini, kita tergerak untuk memaksimalkan potensi diri dalam bershadaqah kepada sesama, berbagi bahagia, dan meratakan kesejahteraan bersama. Ramadhan kariem, ya Allah. Aamiin. (RS2/P1)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)