Kelompok ‘Urainah Dilockdown di Luar Madinah Kemudian Berkhianat

Renungan Zanjabil #66/70

Oleh: Prof. Madya Dr. Abdurrahman HaqqiFakultas Syariah dan Hukum Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA) Brunei Darussalam

 

“BINTIK-BINTIK di tubuh saudara kami semakin hari semakin banyak, ya Rasulullah. Nampaknya mereka terkena penyakit cacar. Tapi saya pastikan mereka tidak terkena kudis,” demikian juru bicara kelompok ‘Urainah itu berkisah kepada Rasulullah SAW.

Demikianlah pada suatu awal pagi ketika salah seorang anggota kelompok dari ‘Urainah menghadap Rasulullah SAW. Dia menceritakan kondisi beberapa saudara dalam kelompoknya yang kesulitan menyesuaikan diri dengan cuaca Madinah. Rasulullah SAW menyimak dengan saksama aduan mereka.

Kemudian Rasulullah memerintahkan agar mereka dilockdown dahulu di luar Madinah agar mereka sehat semula dan kembali ke Madinah untuk mempelajari Islam semula.

Siapa kelompok ‘Urainah? Anas ibn Malik berkisah bahawa serombongan dari suku ‘Ukail dan ‘Urainah mengunjungi Madinah untuk bertemu Nabi SAW untuk menyatakan keislamannya. Mereka berkata; “Wahai Nabiyullah, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang pandai memerah susu (beternak) dan bukan pandai bercocok tanam.” Ternyata mereka tidak sesuai tinggal di Madinah kerena suhu udaranya (hingga menyebabkan sakit).” (HR al-Bukhari)

Mereka memeluk agama Islam sehingga membuat baginda Rasulullah sangat gembira. Sebagai mualaf, mereka dibimbing oleh para sahabat untuk melakukan pelbagai amalan ibadah, termasuk cara bersuci dan melakukan salat fardu. Mereka diajari pelajaran yang dasar-dasar sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lebih mendalam soal Islam.

Didasari sikap lemah lembut dan kasih sayang yang demikian luas kepada umatnya, Rasulullah memerintahkan salah seorang penggembala dari kalangan sahabat untuk segera membawa anggota kelompok ‘Urainah yang sakit cacar itu ke luar kota Madinah. Mereka sementara diungsikan dulu agar kondisinya membaik. Mereka kena lockdown di luar Madinah.

Hari itu juga, unta-unta pilihan disiapkan. Keesokan harinya, mereka berangkat ke daerah yang cuacanya mirip dengan kondisi di Urainah, di kawasan Harrat.

Perjalanan ‘ekspedisi cacar’ dimulai. Unta-unta bergerak membawa orang-orang yang sakit cacar.

Para pesakit berangsur pulih dan sembuh di tempat itu dan cacar pun hilang. Malangnya, perselisihan di antara utusan Rasulullah dan kelompok ‘Urainah tidak dapat dielakkan.

Penggembala unta yang diberi tugas menjadi pendamping ekspedisi itu mengajak pulang kerena Rasulullah SAW beramanat, setelah sembuh rombongan harus segera diajak kembali. Namun, ajakan itu ditolak oleh kelompok ‘Urainah. Mereka berhujah khuatir akan terkena cacar lagi jika mesti kembali ke kota Madinah. “Sebaiknya kita tinggal di sini saja. Kita akan terhindar dari penyakit bedebah dan menjijikkan itu,” demikian seorang anggota berhujah.

Tak disangka, keesokan harinya salah seorang kelompok ‘Urainah berani membunuh penggembala unta. Mayatnya dibuang dan unta-unta itu dibawa lari oleh mereka.

Kabar pembunuhan dan pencurian unta akhirnya sampai ke telinga Rasulullah SAW. Kecewa dan marah atas perilaku kelompok mualaf dari ‘Urainah itu, baginda SAW memerintahkan beberapa sahabat untuk mengejar dan menangkap mereka. Rasulullah dikhianati.

Utusan Rasulullah berhasil menangkap pengkhianat ‘Urainah dan menghukum mereka dengan hukuman setimpal seperti diarahkan oleh baginda SAW.

Wallahu a’lam. Semoga bermanfa’at.

Bandar Seri Begawan, 24/05/2020. (A/AH/RS2)

 

Mi’raj News Agency (MINA)