Keluarga Nawarah Mengejar Keadilan di Pengadilan Israel

Orang tua Nadeem Nawarah mendengar persidangan terhadap polisi Israel Ben Deri, Selasa, 9 Januari 2018. (Foto: Ylenia Gostoli/Aljazeera)

 

Hampir empat tahun setelah Nadeem Nawarah yang berusia 17 tahun dibunuh oleh tembakan polisi Israel, keluarganya masih terus-menerus mengejar keadilan.

Pada sidang pengadilan hari Selasa, 9 Januari 2018, jaksa menuntut hukuman 20 sampai 27 bulan penjara bagi petugas polisi pembunuh tersebut.

Polisi bernama Ben Deri berusia 21 tahun itu telah mengaku bersalah atas tuduhan membunuh karena lalai. Hukuman baginya akan diputuskan pada 26 April 2018.

“Pengadilan terdengar seperti drama. Tentu saja tidak ada keadilan,” kata Siam Nawarah, ayah Nadeem, kepada wartawan Al Jazeera.

Dikelilingi oleh potret-potret anaknya di rumahnya di Ramallah, Siam menceritakan bagaimana harapannya terhadap keadilan semakin menghilang.

“Pengadilan selalu ditunda tanpa alasan yang benar, jika Nadeem dibunuh Ben Deri, apa yang akan terjadi? Saya pikir pengadilan akan mengambil keputusan setelah dua atau tiga pekan dan memasukkannya ke dalam penjara,” katanya.

Pada suatu waktu Ben Deri di bawah tahanan rumah, tapi sekarang ia berjalan bebas.

Di laptopnya, Siam Nawarah menyimpan data dari setiap video, artikel, unggahan blog, dan segmen berita TV yang pernah dipublikasikan atau disiarkan tentang pembunuhan terhadap anaknya.

Siam menjual tiga salon tata rambutnya untuk mengikuti kasus anaknya. Bahkan dia pergi ke Amerika Serikat untuk melobi Kongres karena “Nadeem dibunuh oleh senjata buatan Amerika.”

Dia kemudian mendirikan sebuah asosiasi yang menawarkan dukungan psikologis dan hukum kepada keluarga lain yang mengalami pengalaman menyiksa yang sama.

 

Ditembak Langsung

Pada tanggal 15 Mei 2014, Nadeem ditembak dan dibunuh pada sebuah demonstrasi di dekat penjara militer Ofer di Tepi Barat pada Hari Nakba.

Hari Nakba adalah hari ketika orang-orang Palestina memperingati pemindahan ratusan ribu warga Palestina pada tahun 1948.

Seorang remaja lainnya, Mohammad Abu Daher (16), ditembak pula di belakangnya dan terbunuh di tempat yang sama satu jam kemudian.

Demonstrasi tersebut berevolusi menjadi bentrokan antara pemuda Palestina dan pasukan Israel. Namun, kamera CCTV yang dikonfirmasi oleh kesaksian saksi menunjukkan, kedua anak laki-laki itu hanya berjalan di tempat kejadian. Mereka tidak terlihat melakukan lemparan batu yang terjadi pada saat penembakan tersebut.

Pihak berwenang Israel pada awalnya membantah bahwa tembakan langsung telah dilakukan, meskipun ada laporan medis bertentangan merujuk pada jenis luka yang diderita Nadeem.

Analisis video forensik yang menggabungkan rekaman CCTV dan media, serta hasil otopsi yang diajukan oleh keluarga Nawara terhadap jenazah Nadeem, akhirnya menyebabkan Deri didakwa dengan tuduhan melakukan pembunuhan. Deri dapat dijerat hukuman penjara maksimal 20 tahun. Tentara Israel itu dituduh secara sengaja menembakkan amunisi hidup dengan maksud menyebabkan luka serius dan bisa memungkinkan menyebabkan kematian.

Pada persidangan Januari 2017, Ben Deri mengaku telah melepaskan sebuah tembakan langsung, tapi ia juga mengatakan bahwa dia tidak sadar bahwa hal itu mematikan. Tuduhan pembunuhan dijatuhkan, tapi oleh jaksa hanya kategori pembunuhan lalim yang kurang serius.

Keluarga Nawarah merasa dikhianati oleh jaksa penuntut dan menolak tawaran pembelaan tersebut. Mereka membawa kasus ini ke Mahkamah Agung Israel, tapi ditolak.

“Ketika Israel menuduh Ben Deri, semua wartawan di dunia mengatakan bahwa Israel adalah negara hukum,” kata Siam. “Tapi setelah sebulan mereka memasukkannya ke dalam tahanan rumah, sekarang dia bebas.”

Kasus tersebut adalah yang terakhir bahwa seorang perwira tentara atau petugas polisi perbatasan Israel didakwa atas pembunuhan terhadap anak di bawah umur dalam sebuah demonstrasi.

Sedikitnya 29 anak telah terbunuh dalam demonstrasi di Tepi Barat, Gaza, dan Yerusalem Timur sejak tahun 2014.

Pasukan keamanan Israel secara hukum diizinkan menggunakan amunisi langsung hanya dalam situasi yang mengancam jiwa. Namun, kelompok hak asasi manusia Israel B’Tselem mengatakan bahwa pasukan di lapangan sering diberi perintah yang bertentangan dengan arahan resmi.

Untuk mengontrol kerumunan massa, senjata seperti peluru baja berlapis karet dan tabung gas air mata juga terbukti mematikan.

Menurut Pengadilan Tinggi untuk Pemuda Internasional Palestina (DCIP), lebih dari 2.000 anak-anak Palestina terbunuh sejak permulaan Intifadah Kedua pada tahun 2000, termasuk dalam operasi militer.

 

Budaya Impunitas

Menurut angka B’Tselem, dari 99 warga Palestina yang ditembak dan dibunuh oleh pasukan keamanan Israel di Tepi Barat pada tahun 2015, hanya 21 penyelidikan yang dibuka.

Sejak sebuah perubahan kebijakan pada bulan April 2011, tentara Israel diminta untuk membuka sebuah kasus secara otomatis untuk setiap kematian yang terjadi di luar situasi tempur.

“Kami tidak tahu apakah mereka melakukan penyelidikan atau tidak,” kata Direktur Akuntabilitas DCIP Ayed Abu Eqtaish kepada Al Jazeera. “Apa yang kita yakini adalah bahwa ada budaya impunitas. Di tahun ini dan dalam beberapa tahun terakhir, tidak ada pembunuhan yang menyebabkan sebuah dakwaan.”

Kasus Mohammad Abu Daher, remaja yang dibunuh pada hari yang sama dengan Nadeem, hanyalah satu contoh.

“Kami semua tahu dia terbunuh, tapi sepertinya dia tidak ada,” kata Firas Asali, pengacara keluarga Nawarah. “Tidak ada yang mengajukan keluhan tentang dia, tidak ada otopsi, dan kami tidak memiliki bukti substansial.”

Pada tahun 2014, B’Tselem berhenti mengajukan keluhan kepada militer Israel atas nama orang Palestina tentang pembunuhan dan jenis pelanggaran lainnya di Tepi Barat.

Menurut Direktur Penelitian B’Tselem, mereka menyadari bahwa sistem ini tidak dirancang untuk mengambil tindakan terhadap orang-orang yang bertanggung jawab atas pelanggaran terhadap orang-orang Palestina. Namun, itu adalah mekanisme kapur yang menciptakan kepura-puraan sistem yang sah. (AT/RI-1/P1)

Sumber: tulisan Ylenia Gostoli di Al Jazeera.

Mi’raj News Agency (MINA)