“Kembali ke Dayah Darussalam” jadi Tema Haul Syeikh Muda Waly Al Khalidy

Banda Aceh, MINA – “Marilah kembali belajar di Dayah Darussalam Al Waliyah” menjadi tema besar dari peringatan haul ke-59 tokoh ulama kharismatik Abuya Syeikh Muda Wali Al-Khalidy yang digelar, Selasa (16/6), di Labuhan Haji Barat, Aceh Selatan.

Acara haul kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dalam suasana pandemic Covid-19, kegiatan diikuti keluarga besar dan sejumlah alumni Pesantren tersebut.

Salah satu alumni Dayah Darussalam, Tgk H. Umar Rafsanjani, Lc, MA yang juga pimpinan Dayah Mini, Banda Aceh, yang hadir dalam acara haul itu mengapresiasi sikap Dayah yang menghargai keputusan Pemerintah dalam penanganan Covid-19 sesuai dengan protokol medis.

“Ini sudah menjadi tradisi keaswajaan untuk patuh kepada ulil amri semenjak dari berdiriya Republik Indonesia yang tidak setuju dengan kelompok yang mengusik persatuan NKRI,” katanya.

Tgk Umar Rafsanjani juga mengatakan, haul ini wajar diperingati karena Dayah Darussalam saat in telah diteruskan oleh anak-anak Almarhum Syeikh Muda Wali yang juga tokoh penting dalam berdirinya Republik Indonesia dan terpilihya Ir Soekarno sebagai presiden “adharuri bisyaukah” atau sosok yang memiliki kemampuan kepemimpinan.

Sekretaris Dayah Darussalam, Abi Hidayat  M Wali mengatakan, kegiatan tersebut sebagai salah satu upaya menjaga tradisi yang setiap tahun diadakan pada hari kedua belas bulan syawal.  “Namun karena masih keadaan Covid-19 kita undur dan tidak membuat acara besar-besar sebagaimana tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya.

Syeikh Muda Waly Al Khalidy adalah ulama kharismatik dari Aceh, pemimpin tariqat Naksabandi di Aceh Ini lahir dengan Muhammad Waly, tetapi setelah menjadi alim besar, masyarakat Aceh lebih mengenalnya dengan panggilan Abuya atau Syekh Haji Muda Waly.

Kehadiran Syekh Muda Waly dalam perkembangan keilmuan Islam di Aceh memiliki arti yang penting, karena hampir seluruh ulama Aceh pada era sesudahnya berada pada jejaring murid, atau murid dari murid Abuya.

Pengembaraan intelektual Syeikh Muda Waly bermula saat ia belajar pada beberapa orang ulama kharismatik, di antaranya: Angku Haji Salim bin Malin Palito yang merupakan ayah Abuya, kemudian melanjutkan kepada Teungku Ali Lampisang atau dikenal dengan Abu Lampisang, ulama yang berasal dari lampisang Aceh Besar.

Setelah empat tahun belajar di Madrasah al Khairiah yang dipimpin oleh Abu Lampisang, Syekh Muda Waly melanjutkan pengembaraannya ke Abdya tepatnya di Blangpidie. Abuya belajar langsung dengan ulama yang berasal dari Lamlhom yaitu Syekh Teuku Mahmud atau dikenal dengan sebutan Abu Syekh Mud Blangpidie.

Moment haul ke-59 menjadi ujung tombak bangkitnnya Dayah Darussalam sebagai pesantren induk yang ada di Aceh saat ini.(L/AR/R1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)