Kemdikbud: UU Sistem Perbukuan Belum Tersosialisasi dengan Baik

Jakarta, MINA – Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Awaluddin Tjalla mengatakan, Undang-Undang (UU) Nomor 3 tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan kelihatannya belum tersosialisasi dengan baik.

“Saya kira yang paling dipentingkan adalah sinergitas antar kementerian untuk meningkatkan kemampuan literasi,” kata Awaluddin kepada wartawan di sela-sela acara Islamic Book Fair tahun 2020 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Rabu (26/2).

“Saya menyampaikan dalam hal ini adalah bagaimana kita perlu membangun ekosistem perbukuan, karena ini yang belum tersosialisasi dengan baik. Padahal UU tersebut bertujuan memberikan pencerahan yang baik pada masyarakat secara umum, dan dalam dunia perbukuan itu memberikan pengaruh serta peranan yang sangat kuat,” tambahnya.

Ia mencontohkan, terdapat regulasi yang penting dalam buku-buku yang konteksnya agama, maka hal itu tanggung jawabnya ada di Kementerian Agama. Komunikasi harus intens karena digunakan juga dalam persatuan sekolah Kemdikbud.

“Sehingga menjadi acuan hal yang sangat penting sekali, saya pikir hal yang sangat penting sekali, saya kira Kemdikbud atau juga Kementrian Agama sangat berterimakasih, karena ini (IBF) adalah sebagai sebuah strategi meningkatkan literasi kemampuan anak didik kita,” katanya.

Seperti diketahui, Indonesia berada di ranking bawah dalam literasi, hal itu menurutnya, bukan hanya karena minatnya yang kurang, tetapi bukunya yang kurang. Oleh karena itu, jika ingin mengembangkan literasi anak-anak, maka baiknya di sekolah disediakan tempat untuk belajar di mana tersedia berbagai macam buku.

“Program yang diselenggarakan oleh IKAPI di beberapa daerah seperti: Sumatra Barat dan Jawa Barat saya kira properti yang baik, artinya buku digilirkan dikeluarga karenakan di Kementrian Desa (Kemendes) itu juga ada dana desa yang bisa digunakan persiapan buku-buku di daerah-daerah atau di desa-desa,” katanya.

Awaluddin juga menegaskan, masyarakat memiliki tanggung jawab dalam membangun perkembangan literasi di Indonesia.

“Saya mengatakan, yang paling penting adalah menguatkan akhlakul karimah, itu saya kira sebuah hal yang penting, ketika nanti kita tiba dideretan negara maju, pada kemajuan seperti itu, saya kira sangat penting sekali adalah nilai-nilai moral religius terutama pada kelas-kelas awal,” pungkasnya.

IBF ke-19 tahun 2020 akan berlangsung selama lima hari, 26 Februari hingga 1 Maret 2020 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta. Selain pameran buku Islam, stand-stand IBF juga diisi penerbit buku, travel, perbankan, lembaga filantropi, instansi pemerintah, media massa, UMKM, busana Muslim, properti syariah, mainan anak, kuliner, dan lain sebagainya. (L/SSH/R6/RS3)

Mi’raj News Agency (MINA)