Kemenag Ingin Tingkatkan Kapasitas Produksi UPQ

Jakarta, MINA – Kapasitas Unit Percetakan Al-Quran (UPQ) untuk memenuhi kebutuhan pengadaan Al-Quran bagi seluruh pemeluk agama Islam di Indonesia dinilai belum mencukupi.

Hal tersebut mendorong Kementerian Agama untuk meningkatkan kapasitas produksi dalam beberapa tahun mendatang.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kementerian Agama Kamaruddin Amin mengungkapkan, sejauh ini UPQ milik Kementerian Agama tersebut hanya mampu memproduksi antara 300 ribu hingga 400 ribu eksemplar per tahun.

Jumlah tersebut masih jauh dari kebutuhan yang mencapai puluhan juta eksemplar.

“Jika anggaran yang diturunkan maksimal, kemampuan cetak kami hanya mampu mencapai jumlah 300 ribu sampai 400 ribu eksemplar per tahun. Sementara pada tahun 2020 kami hanya mampu mencetak 120 ribu eksemplar,” jelas Kamaruddin dalam acara Penyerahan Bantuan Mushaf Al-Quran di Masjid Baiturrahman Komplek DPR/MPR RI, Jakarta, Senin (8/3).

Penyerahan bantuan tersebut berupa 400 unit Mushaf Al-Quran, 200 unit Juz Amma dan 200 unit Surat Yasin.

Penyerahan bantuan ini diwakili oleh Direktur Jenderal Bimas Islam Kamaruddin Amin dan diterima oleh Ketua Komisi VIII DPR RI Yandri Yusanto.

Dalam penyerahan yang dihadiri sejumlah Pimpinan Komisi VIII DPR RI itu, Kamaruddin menerangkan, Kementerian Agama berencana meningkatkan kapasitas produksi Mushaf Al-Quran dengan cara melakukan Revitalisasi UPQ sebagai representasi dari jumlah populasi muslim terbanyak di dunia.

“Jika dibandingkan dengan percetakan Mushaf Al-Quran di Iran, Arab Saudi, Turki dan negara-negara muslim lainnya yang memiliki jumlah penduduk di bawah Indonesia, kemampuan produksi percetakan milik Indonesia terbilang masih sangatlah sedikit,” urainya.

Pada acara penyerahan bantuan Mushaf Al-Quran itu, Kamaruddin mengajak DPR RI, khususnya Komisi VIII DPR RI untuk bersama-sama meninggalkan warisan terbaik. Menurutnya, Indonesia memiliki semua alasan untuk menjadi pusat peradaban Islam yang sesungguhnya.

“Dengan capital social yang dimiliki Indonesia, seharusnya itu menjadi modal untuk membangun percetakan terbaik dunia. Kalau menunggu anggaran agama yang ada, kita harus menunggu ratusan tahun untuk bisa menjadi yang terbaik. Oleh karena itu, harus ada gerakan out of the box,” demikian Kamaruddin Amin mengakhiri sambutannya.(L/R2/R1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)