KEMENANGAN PALESTINA MAKIN TAMPAK

Rakyat Palestina Gegap Gempita Sambut Kemenangan. (Foto: Statis)
Rakyat Palestina Gegap Gempita Sambut Kemenangan. (Foto: Statis)

Oleh: Rendy Setiawan, Wartawan Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Kejahatan Israel terhadap warga Palestina, khususnya masyarakat yang berada di Jalur Gaza memang sudah sampai pada level di luar perikemanusiaan.

Pemerintah Israel tidak lagi memakai cara kerja otak mereka dengan baik dalam mengambil keputusan. Hal ini terlihat dari berbagai keputusan-keputusan yang diambil oleh pemerintahannya selama hampir satu abad sejak peristiwa Nakbah pada 1948 silam.

Namun, peristiwa itu tidak menghapus kenyataan bahwa Palestina justru sedang berada di jalur kemenangannya. Betapa tidak? Berbagai mujahid lahir di tanah Palestina yang dilengkapi dengan berbagai peralatan tempur modern yang diperoleh dari bahan-bahan sangat minim. Itu hanya segelintir kemenangan Palestina dilihat dari regionalnya saja.

Sedangkan dalam cakupan yang lebih luas, yaitu pada area internasional di antaranya adalah dukungan dunia terhadap Palestina, serta desakan terhadap Israel di berbagai negara yang semakin luas. Hal ini ditandai dengan berbagai ragam jenis aksi, mulai dari aksi gerak jalan cinta Al-Aqsha hingga aksi boikot terhadap Israel yang banyak ragamnya. Tentu, kenyataan ini menjadi sebuah hal yang sangat perlu untuk kita ketahui bersama bahwa Palestina sedang berada di jalur kemenangan.

Gerak Jalan Cinta Al-Aqsha

Diawali dari kampanye Gerak Jalan Cinta Al-Aqsha (GJCA) bersama organisasi pemerhati Masjid Al-Aqsha dan Palestina, Aqsa Working Group (AWG). Aksi itu untuk mengingatkan kembali umat Islam di sekitar Bandung, Jawa Barat tentang kondisi Masjid Al-Aqsha, pada Sabtu (1/2/14) pagi.

GJCA menempuh jarak sepanjang 36 kilometer dari Masjid At-Taqwa Rancakole ke Masjid Agung Al-Fathu Soreang, Kabupaten Bandung.

GJCA merupakan estafet dari beberapa kegiatan serupa sejak didengungkan oleh Imaamul Muslimin Muhyiddin Hamidy pada 2006 di Bogor dan Jakarta.

Beberapa kota di Indonesia yang pernah mengadakan GJCA di antaranya Bandar Lampung, Semarang, Surabaya, Wonogiri, Kuningan, Bekasi, Tasikmalaya, Jambi, Medan, hingga Pontianak. Masyarakat internasional juga mengadakan gerak jalan ini dalam Global March to Jerussalem (GMJ) yang diikuti oleh aktivis dari beberapa negara.

“Allah menjaga Masjid Al-Aqsha dan kitalah burung-burung penjaga itu, seperti Allah juga telah menjaga Ka’bah dari serangan Raja Abrahah dengan menurunkan burung-burung Ababil,” ungkap Ketua Aqsa Working Group regional Jawa Barat, Munif Nasir.

“Gerak jalan ini menjadi bagian amal sholih kita untuk ikut serta menyuarakan dan membebaskan Al-Aqsha,” tambah Munif.

Tujuan dari gerak jalan ini untuk mengingatkan kembali umat Islam akan keberadaan Masjid Al-Aqsha di Palestina yang masih berada dalam cengkeraman Israel.

Saat ini, Zionis terus berupaya melakukan Yahudisasi terhadap kota Al-Quds (Yerusalem), tempat masjid suci ketiga bagi umat Islam tersebut berada. Sementara itu Israel masih terus menggempur Palestina, khususnya ke wilayah Jalur Gaza.

Dilihat dari segi emosionalnya, tentu aksi GJCA adalah sebuah aksi persatuan umat Islam dan kesadaran akan pentingnya Masjid Al-Aqsha di hati kaum Muslimin. Dari aksi itu juga memberikan kesan kepada kita, kemenangan Palestina telah dekat, hanya tinggal menunggu waktu.

Kampanye Boikot, Divestasi dan Sanksi (BDS) kembali kepermukaan setelah mahasiswa dan staf di School of Oriental and African Studies (SOAS)  di London, menyetujui boikot akademik terhadap Israel sebagai hasil pemungutan suara. (Foto: Press Tv)
Kampanye Boikot, Divestasi dan Sanksi (BDS) kembali kepermukaan setelah mahasiswa dan staf di School of Oriental and African Studies (SOAS) di London, menyetujui boikot akademik terhadap Israel sebagai hasil pemungutan suara. (Foto: Press Tv)

Seruan Boikot

Sementara dilihat dari sisi lain, aksi boikot menjadi sesuatu yang lain dari tanda kemenangan Palestina. Hal ini tentu memberikan warna yang berbeda dari kemenangan nyata di pihak Palestina.

Terbukti, Kampanye Boikot, Divestasi dan Sanksi (BDS) kembali ke permukaan setelah mahasiswa dan staf di School of Oriental and African Studies (SOAS)  di London, menyetujui boikot akademik terhadap Israel.

Seluruh mahasiswa, akademisi, dan manajemen, mengadakan pemungutan suara, dengan hasil 73% suara menyerukan boikot terhadap akademik Israel, sementara 27% suara menolak.

Mayoritas para pemilih setuju, SOAS bergabung dengan seruan kampanye BDS untuk memaksakan boikot terhadap akademik Israel sesuai imbauan Lembaga Kampanye Palestina untuk Akademik dan Boikot Budaya Israel (PACBI).

BDS adalah sebuah kampanye global yang menggunakan tekanan pada ekonomi dan politik di Israel untuk mematuhi tujuan kampanye itu. Yakni mengakhiri pendudukan Israel dan kolonisasi di tanah Palestina, memperjuangkan kesetaraan penuh antara warga Arab-Palestina dan warga Israel, serta menghormati hak pulang pengungsi Palestina.

Sebelumnya, pada Mei 2013, Profesor Stephen Hawking (71) menyatakan untuk memberikan dukungan boikot akademisi terhadap Israel dengan menarik diri dari konferensi yang diselenggarakan oleh Presiden Israel Shimon Peres di Al-Quds. Ia melakukan aksi ini sebagai protes atas perlakuan Israel terhadap Palestina.

Kita lihat dari keputusan Hawking itu menandai kemenangan lain bagi Palestina dan menegaskan kekalahan Israel dalam kampanye BDS yang menargetkan institusi akademik Israel.

Lainnya, Asosiasi Pengajar Irlandia menjadi asosiasi di Eropa pertama untuk menyerukan boikot akademis terhadap Israel. Langkah ini kemudian diikuti oleh Association for Asian American Studies.

Padahal sebelumnya, Hawking telah mengunjungi Israel empat kali pada masa lalu. Terakhir pada tahun 2006, ia menyampaikan kuliah umum di universitas-universitas Israel dan Palestina sebagai tamu dari Kedutaan Besar Inggris di Tel Aviv.

Israel Mengaku Kalah

Tentara Zionis Israel tewas. (Foto: elshaab)
Tentara Zionis Israel tewas. (Foto: elshaab)

Akhirnya, setelah 65 tahun sejak didirikan secara ilegal, Israel mengakui dirinya sebagai pihak yang melakukan pelanggaran HAM. Menurut Mazen Hammad, Kolumnis Harian Al-Wathan, Qatar, hal itu dipicu setelah 43 komandan dan pasukan dari unit intelijen militer yang paling rahasia di Israel yang dikenal dengan unit 8200 menandatangani piagam pengakuan resmi yang mereka ajukan kepada Netanyahu dan Ya’alon.

Mereka menyatakan resmi menolak menjalankan tugasnya di wilayah Palestina terjajah karena aktivitas spionase amoral terhadap warga Palestina.

Ada 24 personel militer di tahun 2002 yang menyatakan menolak bergabung dalam operasi pembunuhan terencana di Jalur Gaza. Hal itu telah membuka kedok sikap dan prilaku sistematis penindasan secara politis Israel terhadap warga Palestina. Itu terjadi setelah terbunuhnya dan terlukanya 100 warga Palestina dalam operasi serangan udara ke rumah tokoh Hamas Shalah Shahadah.

Ada keluhan sikap keberatan bersejarah saat ini yang dimulai format (pengaduannya) beberapa bulan sebelum agresi ke Jalur Gaza. Salah satu yang dikeluhkan oleh penandatangan surat piagam itu adalah sebagian besar dari tugas mereka tidak terkait dengan keamanan Israel dan pembelaan diri.

Namun tugas mereka adalah memperpanjang penjajahan dengan cara menguasai semua sendi-sendi kehidupan warga Palestina di Tepi Barat. Para komandan dan pasukan Israel itu menegaskan dengan pernyataan yang pasti menolak mereka diperalat untuk memperdalam kekuasaan militer di tanah terjajah.

Para penandatangan piagam di atas menyimpulkan bahwa intelijen Israel berusaha menciptakan perpecahan di dalam masyarakat Palestina. Bahkan sebagian kalangan militer Israel yang membelot itu mengungkap sebagian detail mengerikan terkait aktivitas unit 8200 yang mereka ungkapkan dalam pengakuannya kepada media Inggris.

Salah satu detail itu terkait semua informasi tentang kekhususan dan sifat personal warga Palestina. Termasuk kehidupan keluarga dan seksualnya, masalah keuangan dan sakit yang mereka derita. Semua itu dilakukan dengan tujuan untuk diperas dan dipaksa untuk bekerjasama dengan Israel sebagai mata-mata.

Mereka yang menolak untuk menjalankan tugas itu mengakui bahwa pemerintah Israel menganut cara otoriter, represif dan jauh dari demokratis seperti yang mereka klaim. Terutama, Israel memperlakukan setiap warga Palestina sebagai target tindakan teroris Israel.

PM Israel Benjamin Netanyahu pun akhirnya harus mengakui kekalahannya, sebagaimana tercermin dari pernyataannya pada 6 Agustus 2014. Ia mengaku bahwa tentara Israel sebenarnya sudah berupaya dalam perang di Jalur Gaza, namun, memang tidak 100 persen berhasil dengan baik.

“Tidak ada jaminan seratus persen berhasil di medan pertempuran, sebuah pertempuran yang sangat sulit,” ujar Netanyahu pascaserangan waktu itu.

Sementara itu, Juru Bicara Hamas, Sami Abu Zuhri menyatakan, pasukan Zionis Israel telah gagal mencapai tujuan perangnya di Jalur Gaza, hingga kini Hamas masih tetap berjaya dan memiliki kekuatan untuk melawan Israel.

“Netanyahu telah gagal total di Jalur Gaza, Hamas masih berkuasa dan masih memiliki banyak kekuatan untuk melawan Israel,” kata Abu Zuhri.

Padahal, Hamas baru menggunakan 10% kekuatan militernya. Seperti diungkapkan seorang komandan sayap militer Brigade Izzuddin Al-Qassam, Abu Laiht, bahwa pihaknya baru menggunakan 10% dari kekuatan  mereka menghadapi serangan penjajah Zionis Israel pada perang 2014 ini.

“Kami memiliki cadangan yang cukup, dan jumlah ini lebih besar dari yang dibayangkan oleh musuh, kami baru menggunakan 10 persen dari apa yang  kami miliki,” katanya.

Ratusan orang tentara Zionis Israel yang mati konyol  pada perang kali ini, berbanding dengan ribuan warga sipil Gaza yang gugur sebagai syuhada. Jelas menunjukkan kekalahan itu. Zionis yang tewas adalah dari satuan militer yang tugasnya bertempur, sementara korban warga Gaza adalah dari kalangan warga sipil tak berdosa, yang tidak ikut dan tidak mempunyai kemampuan untuk bertempur.

Akibat kekalahan demi kelahan itu, Zionis Israel kebingungan dan kesulitan mencari pasukan pejuang Hamas,  sehingga agresor Israel  pun dengan dalih menyerang pejuang dan persenjataan, secara membabi buta membombardir perumahan penduduk, gedung-gedung sekolah yang juga dijadikan tempat pemngungsian (termasuk milik PBB sekalipun), pasar, bank, kantor media, hingga tempat ibadah masjid.

Demikianlah beberapa peristiwa yang membuat kita seakan tidak percaya, bagaimana bisa, Palestina menang perang lawan Isarel. Namun itulah yang terjadi, dan satu hal yang tidak dimiliki Israel,tapi dimiliki oleh Palestina adalah keyakinan akan janji kemenangan yang diberikan Allah Ta’ala. Allahu Akbar. (P011/P4).

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0