Kemenkes: Indonesia Negara Ke-3 Terbanyak Terkena TBC di Dunia

Jakarta, MINA – Kasubdit TBC Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr. Imran Pambudi, MPMH mengatakan, Indonesia adalah negara ketiga di dunia dengan beban penyakit TBC terbanyak setelah India dan Cina yaitu 845 ribu penduduk.

“Berdasarkan data TBC Indonesia tahun 2017, mortalitas akibat TBC adalah 107 ribu orang atau rata-rata 40 per-100 ribu penduduk, insidens 845 ribu atau rerata 319 per-100 penduduk. Ini merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan dan upaya pemerintah dalam mencegah TBC sudah maksimal,” jelas dr. Imran

Hal itu disampaikan dalam Diskusi dan Silaturahmi Lembaga Zakat Filantropi Indonesia dengan tema “Urgensi Kesehatan Indonesia : Optimalisasi Peran Lembaga Zakat di Indonesia Untuk Eliminasi TBC 2030,” Hotel Maharadja, Mampang, Jakarta Selatan, Rabu (18/12_.

Hadir sebagai narasumber: dr. Yenny Purnamasari (General Manager Devisi Kesehatan Dompet Dhuafa), Bambang Suherman (Ketua Forum Organisasi Zakat), dr. Imran Pambudi. MPHM (Kasubdit TB Kemenkes) dan Budi Hermawan (POP TBC Indonesia).

Imran memaparkan,  penyebaran penyakit TB jauh lebih cepat ketimbang pemulihan.

Mengatasinya Indonesia telah menargetkan untuk eliminasi TBC di Indonesia pada tahun 2030, hanya satu per-sejuta kasus TBC. Maka jika jumlah penduduk Indonesia saat itu 300 juta penduduk maka hanya 300 orang saja yang menderita penyakit TBC dalam setahun.

“Kesehatan merupakan dimensi utama dari Target Pembangunan Berkelanjutan. Keberadaan lembaga zakat sebagai salah satu institusi pengelola dana umat memegang peranan penting dalam menjaga stabilitas sosial yang berkembang di masyarakat,” Imbuhnya.

“Sejak tahun 2013 bersama beberapa CSO/NGO lainnya telah tergabung bersama dalam Stop TBC Partnership Indonesia untuk kerja yang lebih terkoordinasi dan massif. DD menyadari bahwa kerja besar ini tidak mungkin dapat dilakukan sendiri bahkan terpisah pisah, karenanya DD berperan aktif dalam menginisiasi kolaborasi dan aliansi strategis dengan Lembaga kemanusiaan lainnya untuk turut berkontribusi membantu pemerintah dalam upaya eliminasi TBC 2030,” ucap dr. Yenny dari Dompet Dhuafa.

Ia menjelaskan, penyakit TBC merupakan penyakit menular yang masih menjadi beban besar bagi bangsa Indonesia. Dampak yang ditimbulkan bagi pasien, keluarga dan masyarakat yaitu penularan, sosial dan ekonomi.

“Setiap hari hampir 4.500 orang meninggal dunia akibat TBC dan 30 ribu orang menderita penyakit TBC yang sebenarnya bisa dicegah dan diobati. Secara global sudah dilakukan usaha untuk melawan penyakit TBC dan sudah menyelamatkan 54 juta jiwa sejak tahun 2000 dan rerata mortalitas akibat TBC menurun sebanyak 42%,” sambungnya.

Saat ini, Indonesia masih harus menyelesaikan beberapa agenda yang belum terselesaikan (unfinished agenda ) dalam Millenium Development Goals (MDGs) untuk mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals) 2016-2030.

Tuberkulosis atau TBC masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menjadi tantangan global. Selain itu terdapat tantangan yang perlu menjadi perhatian yaitu meningkatnya kasus TBC – MDR, TBC – HIV, TBC dengan DM, TBC pada anak dan masyarakat rentan lainnya.

Hal ini, lanjut Yenny,  memacu pengendalian TBC secara nasional terus dilakukan melalui upaya-upaya intensifikasi, ekstensifikasi, akselerasi dan inovasi program. (L/Gun/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)