Kemenkes Palestina: RS Indonesia Jadi Rujukan Utama Pelayanan Gawat Darurat Gaza

Jakarta, MINA – Rumah Sakit (RS) Indonesia menjadi rujukan bagi warga Gaza untuk berobat terutama memberikan pelayanan gawat darurat bagi korban aksi Great March Return yang masih terus berlanjut hingga saat ini.

Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Direktorat Kerjasama Luar Negeri Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Palestina Dr. Ashraf A. AbuMhadi saat mengadakan pertemuan dengan tim Lembaga Kemanusiaan Kegawatdaruratan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) di Kantor Pusat MER-C, Jakarta, Ahad malam (20/1).

“Ibaratnya semua orang yang ada di wilayah Jalur Gaza bertumpu harapannya kepada rumah sakit ini. Rumah Sakit Indonesia menjadi rumah sakit kedua (setelah Rumah Sakit Al-Shifa) yang banyak memberikan pelayanan gawat darurat bagi korban Great March Return,” kata AbuMhadi.

Hadir dalam pertemuan yang membahas pembangunan tahap kedua Rumah Sakit (RS) Indonesia itu, yakni Presidium MER-C Ir. Faried Thalib dan dr. Arief Rahman, SpRad.; Ketua Divisi Kontruksi MER-C dr. Ir. Idrus M Alatas M.Sc.; Ketua Tim Alkes RS Indonesia dr. Ir. Ahyahudin Sodri, MSc.; Arsitek RS Indonesia Ir. Rizal Syarifudin; Ketua Divisi Penggalangan Dana MER-C Ir. Luly Larissa; dan Manajer Operasional MER-C Rima Manzanaris.

AbuMhadi menjelaskan, aksi damai rakyat Gaza Great Return March (Aksi Kepulangan Massal) ini digelar setiap hari Jumat dan Senin sejak 30 Maret 2018 hingga kini.

Puluhan ribu warga Palestina yang tidak bersenjata mengadakan aksi protes dengan berkumpul di perbatasan Gaza untuk menerobos pagar pembatas.

Mereka menuntut otoritas pendudukan Israel agar memulangkan pengungsi Palestina ke tanah air serta mengakhiri blokade di Gaza yang sudah berlangsung selama 12 tahun.

“Setiap Jumat dan Senin mereka bergerak ke wilayah perbatasan, utamanya ke wilayah utara (berbatasan langsung dengan wilayah jajahan Israel). Sementara itu pasukan Israel menembaki para demonstran secara membabi buta,” ujarnya.

Hingga saat ini, lanjut AbuMhadi, sebanyak 280 lebih warga Gaza meregang nyawa, termasuk petugas medis, jurnalis dan anak-anak. Sementara warga yang terluka mencapai lebih dari 26.000 jiwa.

Tambah Kapasitas Ruang Gawat Darurat

Seiring dengan RS Indonesia yang berada di Bayt Lahiya, Gaza Utara, yang difungsikan sebagai Rumah Sakit Umum, sudah kewalahan menampung pasien yang datang berobat terutama bagi korban luka-luka dalam aksi damai tersebut.

AbuMhadi mengungkapkan, sebanyak 450-500 pasien yang menjalani operasi di RS Indonesia yang terdiri dari dua lantai dan setengah lantai basement itu setiap harinya.

“Kapasitas 100 tempat tidur sudah tidak mencukupi untuk memberikan perawatan kepada pasien yang membutuhkan. Dengan begitu banyak keadaan darurat, pasien yang telah rutin menjalani perawatan medis kini terpaksa dialihkan menjadi antrian bagian paling belakang,” jelasnya.

Untuk itu, AbuMhadi menyatakan, sambil menunggu pembangunan tahap kedua, dia mengharapkan MER-C dapat menambahkan tempat tidur tambahan untuk ruang gawat darurat di tenda yang didirikan di luar RS Indonesia, tepatnya di lahan parkir.

Presidium MER-C dr. Arief Rahman mengatakan, menyambut permintaan fihak Kemenkes Palestina itu, MER-C akan segera membangun tenda semi permanen yang digunakan untuk ruang gawat darurat sementara yang berlokasi di lahan parkir seluas sekitar 250 meter persegi.

“Salah satu solusi yang coba kita tawarkan. Untuk sementara, sambil menunggu penambahan lantai (pembangunan tahap kedua), kita sedang mempersiapkan halaman (parkir) di RS Indonesia bisa kita buat tenda (untuk ruangan gawat darurat),” imbuhnya kepada MINA.

Arief menegaskan, fihaknya pun juga siap untuk menambah lantai bangunan rumah sakit hingga dua lantai lagi. Namun pekerjaan tersebut dapat memakan waktu hingga dua tahun lamanya.

Sebagaimana pembangunan tahap awal yang dulu, MER-C akan mengirimkan relawan dari Indonesia bekerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Fatah dalam pembangunan tahap kedua RS Indonesia ini.

Pada pembangunan tahap kedua ini, MER-C akan mengirim 39 orang terdiri dari 7 insinyur dan 32 relawan pembangunan.

“Saat ini sedang menunggu izin masuk ke Gaza melalui pemerintah Mesir. Hingga enam bulan kami belum dapat jawaban. Jika pun tidak bisa berangkat semuanya. Minimal tim insinyur yang akan berangkat lebih dulu untuk berdiskusi dengan tim insinyur dari Kemenkes di Gaza. jika desain sudah di-approve maka kita akan start pembangunan tahap kedua ini,” tambahnya.(L/Haf/R01)

Mi’raj News Agency (MINA)