Kemenkeu Israel: Bulan Mei, Pengeluaran Capai $67 Miliar

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (Foto: MEMO)

Tel Aviv, MINA – Ekonomi Israel kembali berkontraksi usai Kementerian Keuangan Israel melaporkan adanya defisit hingga mencapai 7,2 persen dari produk domestik bruto (PDB) selama Mei 2024.

Defisit tersebut naik menjadi 137,7 miliar shekel sekitar 67 miliar dolar AS dari PDB pada akhir April sebagaimana dikutip dari catatan lembaga keuangan Israel Globes.

“Adapun pembengkakan anggaran perang terjadi akibat militer Zionis Israel terus melakukan pembelian alat tempur serta membiayai perekrutan tentara cadangan dikirim ke Gaza menyerang pejuang perlawanan Palestina Hamas kian meningkat,” kata Kepala bank sentral Israel Amir Yaron dikutip dari Al Mayadeen, Senin (10/6).

Ia juga mengatakan, meski langkah itu dapat memperkuat pertahanan Israel melawan pejuang Hamas di Gaza, namun pembengkakan biaya belanja pertahanan terjadi disaat pendapatan Israel anjlok tajam, karena penurunan pembayaran pajak serta aktivitas ekspor dan impor mengalami kemerosotan.

Baca Juga:  Hari Ke-251 Genosida, Perlawanan Terus Berlanjut

“Kerugian pertahanan dan biaya sipil mencapai ratusan miliar syekel ini merupakan beban yang berat. Premi risiko negara meningkat sementara devaluasi syekel berlebihan terus berlanjut, dan devaluasi tentu menyebabkan kenaikan harga,” jelas Amir Yaron.

Belum diketahui secara pasti kapan ekonomi Israel akan kembali pulih, namun bank sentral mencatat total pengeluaran pemerintahan Benjamin Netanyahu akan membengkak sebesar 250 miliar shekel.

“Tidak ada keraguan bahwa diperlukan lebih banyak pengeluaran, karena perekonomian membutuhkan keamanan dan keamanan membutuhkan perekonomian. Namun, penting untuk ditekankan. Netanyahu tidak bisa melakukan pemeriksaan terbuka terhadap masalah belanja keamanan, mereka harus menemukan keseimbangan yang tepat,” tambah Amir Yaron.

Apabila ekonomi Israel terus menerus mengalami kemunduran, maka hal tersebut kemungkinan besar bisa membuat ekonomi Israel berada di jurang kehancuran. Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Israel akan mengalami perlambatan signifikan hingga memicu penurunan PDB sebesar 3 persen selama tahun 2024.

Baca Juga:  Yaman Umumkan Akan Lakukan Operasi Gabungan dengan Irak

Sementara itu, akibat dari ekonomi Israel yang semakin suram, lembaga pemeringkat keuangan dunia Moody’s menurunkan prospek utang Israel menjadi ‘negatif’ karena adanya “risiko eskalasi” perang yang meluas antara militer Israel dengan Hamas serta kelompok militan Lebanon, Hizbullah.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Wartawan: kurnia

Editor: Widi Kusnadi