Kemuliaan Masjidil Aqsha dan Hukum Menziarahinya di Masa Kini (Bagian 1)

Oleh: Imaamul Muslimin KH. Yakhsyallah Mansur

Keistimewaan Masjidil Aqsha dan Palestina

Firman Allah ﷻ:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (الإسراء [١٧]: ١

“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (Q.S. Al-Isra [17]: 1)

Ayat pertama surat Al-Isra ini dimulai dengan tasbih di mana kalimat ini hanya digunakan dalam perkara-perkara besar. Isra dan Mi’raj memang perkara yang besar dan menakjubkan. Hal ini dapat dipahami karena jarak antara Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha sekitar 1.500 km, yang memerlukan waktu perjalanan sekitar 40 hari dan dilanjutkan dengan perjalanan di luar angkasa melintasi tujuh langit sampai ke Sidratul Muntaha, ditempuh oleh Rasulullah ﷺ pada waktu malam dalam waktu yang sangat singkat.

Singkatnya perjalanan Isra’ dan Mi’raj ini dapat kita lihat pada penggunaan isim nakirah pada kata لَيْلًا (malam), yang menurut Asy-Syaukani (w. 1250) di dalam tafsir Fathul Qadir menunjukkan تَقْلِيْلُ الْمَدَّةِ (waktu yang sedikit).

Pada ayat di atas, Allah menyebutkan dua masjid yaitu Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha. Hal ini menunjukkan kemuliaan dua masjid tersebut. Mengomentari hal ini, Dr. Yusuf Qaradhawi menyatakan bahwa melalui ayat ini Allah memerintahkan agar umat Islam memperhatikan dua masjid tersebut dengan cara yang sama. Orang yang memperhatikan Masjidil Haram tetapi tidak memperhatikan Masjidil Aqsha, pada hakikatnya dia tidak memperhatikan Masjidil Haram, begitu juga sebaliknya.

Selanjutnya Allah menjelaskan kemuliaan Masjidil Aqsha dengan menyatakan bahwa dia telah memberkahi sekelilingnya.

Para ulama menyatakan bahwa Masjidil Aqsha adalah masjid yang berlokasi di Baitul Maqdis, Palestina yang memiliki kawasan kurang lebih 114 ha. Dia disebut Al-Aqsha karena pada waktu itu merupakan masjid yang paling jauh (الأقصى) dari Masjidil Haram di Makkah.

Berkah adalah kebaikan yang melimpah, utuhnya kebaikan dalam sesuatu yang disertai dengan penambahan.

Para ahli tafsir menerangkan yang dimaksud dengan keberkahan di sekeliling Masjidil Aqsha adalah mencakup dua keberkahan yaitu hissiyah (yang bisa dirasakan secara fisik) dan maknawiyah (yang bisa dirasakan secara pshichis).

Dalam penafsiran Ibnu Jarir Ath-Thabari (w. 310 H), dijabarkan, keberkahan hissiyah seperti keberkahan penduduknya dalam aktivitas kehidupan, makanan, banyaknya tanaman, sungai, dan kesuburannya yang tiada putus.

Sedang keberkahan maknawiyah karena banyaknya nabi yang diutus di sana dan para malaikat membentangkan sayapnya di bumi Palestina (Syam).

Namun jika dilihat kondisi Palestina sekarang, keberkahan fisik seolah hampir tidak ada di sana. Kezaliman, pengusiran, penggusuran, intimidasi hingga bertambahnya penderitaan penduduk Palestina. Maka, para ulama Baitul Maqdis menafsirkan keberkahan akan didapatkan bagi setiap usaha yang ditujukan untuk melindungi dan mempertahankan Baitul Maqdis baik berupa harta, pikiran, tenaga, maupun doa.

Dalam pandangan Islam, tanah Palestina adalah tanah milik kaum Muslimin yang memiliki keistimewaan seperti Makkah dan Madinah. Keistimewaan inilah yang menjadi landasan Rasulullah ﷺ dan para sahabat untuk berjuang mengembalikan kemuliaan tanah Palestina ke pangkuan umat Islam dengan mengerahkan segala potensi yang dimiliki.

Berikut ini beberapa keistimewaan Masjidil Aqsha dan bumi Palestina:

  1. Kiblat Pertama Umat Islam

Firman Allah ﷻ:

سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّاهُمْ عَن قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا ۚ قُل لِّلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ (البقرة [٢]: ١٤٢

“Orang-orang yang kurang akal di antara manusia akan berkata, “Apakah yang memalingkan mereka (Muslim) dari kiblat yang dahulu mereka (berkiblat) kepadanya?” Katakanlah (Muhammad), “Milik Allahlah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 142)

Seluruh ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan “kiblat mereka yang dahulu” adalah Masjidil Aqsha di Palestina. Sebelum umat Islam diperintahkan mengubah arah kiblat ke Masjidil Haram, mereka shalat menghadap ke Masjidil Aqsha.

Peristiwa perubahan kiblat ini disebutkan dalam hadis dari Barra’ bin Al-Azib berkata, “Saya shalat bersama Nabi ke arah Baitul Maqdis selama enam belas bulan, sampai turun ayat dalam surat Al-Baqarah ‘wahaitsu ma kuntum fa wallu wujuhakum syathrohu’ Q.S. Al-Baqarah [2]: 144.” (H.R. Bukhari)

  1. Masjid Kedua yang Dibangun di Bumi

Firman Allah ﷻ:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ (ال عمران [٣]: ٩٦

“Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.” (Q.S. Ali Imran [3]: 96)

Ketika menafsirkan ayat ini Ibnu Katsir (w. 774) menukilkan hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Abu Dzar berkata, “Ya Rasulullah, masjid apa yang pertama kali didirikan? Beliau menjawab, “Masjidil Haram.” Aku bertanya lagi, “Kemudian masjid apa?” Beliau menjawab, “Masjidil Aqsha.” Aku bertanya lagi, “Berapa lama jarak antara keduanya?” Beliau menjawab, “Empat puluh tahun.”

  1. Tanah Suci Umat Islam

Firman Allah ﷻ:

يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوا عَلَىٰ أَدْبَارِكُمْ فَتَنقَلِبُوا خَاسِرِينَ (المائدة [٥]: ٢١

“Wahai kaumku! Masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu berbalik ke belakang (karena takut kepada musuh), nanti kamu menjadi orang yang rugi.” (Q.S. Al-Maidah [5]: 21)

Allah menjadikan bumi Palestina suci karena di dalamnya terdapat Masjidil Aqsha yang merupakan kiblat pertama umat Islam. Kesucian ini tidak terlepas dari risalah semua nabi yang mengajarkan prinsip tauhid. Sehingga ketika orang Yahudi, kufur kepada Allah, mereka tidak lagi memiliki hak terhadap bumi Palestina yang suci tersebut.

  1. Tempat Berkumpulnya Manusia di Hari Kiamat

Firman Allah ﷻ:

وَاسْتَمِعْ يَوْمَ يُنَادِ الْمُنَادِ مِن مَّكَانٍ قَرِيبٍ (ق [٥٠]: ٤١

“Dan dengarkanlah (seruan) pada hari (ketika) penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat.” (Q.S. Qaf [50]: 41)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud “tempat yang dekat” adalah batu “Shakhrah” di Baitul Maqdis. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ:

أَرْضُ الْمَحْشَرِ وَالْمَنْشَرِ ائْتُوْهُ فَصَلُّوْا فِيْهِ فَإِنَّ صَلَاةً فِيْهِ كَأَلْفِ صَلَاةٍ فِى غَيْرِهِ (ابن ماجه

“Baitul Maqdis tempat dikumpulkannya dan tempat dibangkitkannya manusia. Datangilah dan shalatlah di dalamnya. Sesungguhnya shalat di dalamnya sama seperti seribu kali shalat di tempat yang lain” (H.R. Ibnu Majah)

  1. Salah Satu Tiga Masjid yang Sangat Dianjurkan Dikunjungi

Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِى هَذَا وَالْمَسْجِدِ الأَقْصَى (رواه البخارى ومسلم

“Tidak dikerahkan melakukan perjalanan susah payah kecuali menuju tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi) dan Masjidil Aqsha” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Berdasar hadis ini Masjidil Aqsha merupakan masjid yang sangat dianjurkan dikunjungi, bahkan dalam kondisi susah payah sekalipun.

Mengingat hadis ini, maka hampir seluruh sahabat pernah berkunjung ke sana, di antaranya: Khalifah Umar bin Khattab , Abu Hurairah , Sa’ad bin Abi  Waqqash , Abdullah bin Abbas , Mu’adz bin Jabal , Khalid bin Walid , Salman Al-Farisi , Ubadah bin Shamit , Bilal bin Rabbah , Shafiyyah istri Rasulullah ﷺ dan lain-lain.

Di kalangan ulama terkenal yang pernah ziarah ke Masjidil Aqsha antara lain, Imam Syafi’i, Imam Al-Ghazali, Imam Hajar Al-Asqalani dan Rabi’ah Al-Adawiyah suffi wanita terbesar sepanjang sejarah.

  1. Negeri Para Nabi

Hampir semua nabi yang diutus oleh Allah pernah datang ke Palestina dan sebagian besar tinggal di Palestina. Oleh karena itu Palestina disebut Ardhul Anbiya wal Mursalin (Negeri Para Nabi dan Rasul). Dari dua puluh lima Rasul yang disebut dalam Al-Qur’an, delapan belas di antaranya lahir dan tinggal di sana.

Palestina juga disebut sebagai Mahajirul Anbiya (tempat hijrah para nabi) karena ketika para nabi didustakan dan dimusuhi kaumnya, mereka diperintahkan hijrah ke Palestina, seperti Nabi Ibrahim, Nabi Luth, Nabi Musa .

Berikut daftar nabi dan rasul yang pernah tinggal di Palestina

  1. Kota Al-Quds: Nabi Dawud , Nabi Sulaiman , Nabi Zakaria , Nabi Yahya , Nabi Ilyasa , Nabi Ilyas , dan Nabi Dzulkifli.
  2. Kota Yerusalem: Nabi Isa dan Nabi Hidhr.
  3. Kota Al-Khalil (Hebron): Nabi Ibrahim , Nabi Ishaq , Nabi Ya’kub , Nabi Yusuf , Nabi Yunus , dan Nabi Ayub.
  4. Kota Jericho (Ariha): Nabi Musa.
  5. Kota Thiberias: Nabi Shalih dan Nabi Syu’aib.

Ibnu Abbas berkata, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Para nabi tinggal di Syam dan tidak ada sejengkal pun kota Baitul Maqdis kecuali seorang nabi atau malaikat pernah berdiri dan berdoa di sana.” (H.R. Tirmidzi)

  1. Masjid yang Direnovasi oleh Nabi Sulaiman

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya ketika Nabi Sulaiman bin Daud membangun kembali Baitul Maqdis, ia meminta kepada Allah tiga hal (yaitu) meminta kepada Allah agar diberi kebijakan memutus perkara sesuai dengan hukumNya, lalu dikabulkan; dan meminta kepada Allah diberi kerajaan yang tidak patut diberikan kepada seseorang setelahnya, lalu dikabulkan; kemudian meminta kepada Allah apabila selesai membangun masjid, agar tidak seorangpun yang berkeinginan shalat di dalamnya kecuali dikeluarkan kesalahannya seperti dia dilahirkan oleh ibunya.”

Pada riwayat lain beliau bersabda, “Adapun yang dua sudah dikabulkan dan aku berharap yang ketiga pun dikabulkan.” (H.R. An-Nasa’i)

  1. Tempat Singgah Nabi Muhammad ﷺ dalam Isra dan Mi’raj

Dalam hadis tentang rangkaian peristiwa Isra dan Mi’raj, Rasulullah ﷺ bersabda, “Telah didatangkan kepadaku seekor Buraq yaitu binatang yang berwarna putih, lebih besar dari keledai tetapi lebih kecil dari bighal. Ia meletakkan ujung kakinya mencapai ujung pandangannya.” Beliau bersabda, “Maka aku segera menungganginya sehingga sampai ke Baitul Maqdis. Kemudian aku mengikatnya di tempat yang biasa para nabi mengikat kendaraannya. Lalu aku masuk ke dalam masjid dan mendirikan shalat dua rakaat. Setelah selesai aku terus keluar.” (H.R. Muslim)

  1. Tempat Bertolaknya Haji dan Umrah

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَحْرَمَ مِنْ بَيْتِ الْمَقْدِسِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (رواه أحمد

“Barang siapa berihram dari Baitul Maqdis maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah terdahulu.” (H.R. Ahmad)

  1. Tempat Kehancuran Bangsa Yahudi

Firman Allah:

إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا (الإسراء [١٧]: ٧

“Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. Apabila datang saat hukuman (kejahatan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu lalu mereka masuk ke dalam masjid (Masjidil Aqsha), sebagaimana ketika mereka memasukinya pertama kali dan mereka membinasakan apa saja yang mereka kuasai.” (Q.S. Al-Isra [17]: 7)

Bagi orang beriman semua janji Allah pasti terjadi. Apabila kita perhatikan fenomena saat ini dengan berbagai pelanggaran orang Yahudi terhadap berbagai perjanjian dan tindak kejahatan mereka terhadap bangsa Palestina dan Masjidil Aqsha sejak mereka mendirikan negara Israel pada tahun 1948 dengan merampas tanah Palestina dengan bantuan Inggris, hal ini membuktikan seakan-akan Allah sengaja mengumpulkan mereka di Palestina yang sebelumnya terpecah belah untuk membinasakan mereka.

Nubuwwah kehancuran bangsa Yahudi di Palestina ini juga telah disampaikan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya:

لَا تَقُوْمُ السَّاعَةَ حَتَّى يُقَاتلُ الْمُسْلِمُوْنَ الْيَهُوْدَ فَيَقْتُلُهُمْ الْمُسْلِمُوْنَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُوْدِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ فَيَقُوْلَ الْحَجَرُ وَالشَّجَرُ: يَا مُسْلِمُ! يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا يَهُوْدِيُّ خَلْفِى فَتَعَالْ فَاقْتُلْهُ إِلَّا الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُوْدِ (رواه البخاري ومسلم

“Kiamat tidak datang hingga kaum Muslimin memerangi Yahudi. Kaum Muslimin akan membunuh mereka semua sehingga orang Yahudi bersembunyi di belakang batu dan pohon. Maka batu dan pohon itu berkata, “Wahai muslim, wahai hamba Allah, ini orang Yahudi ada di belakangku, bunuhlah dia! Kecuali gharqad sebab ia termasuk pohon Yahudi.” (H.R. Bukhari Muslim)

Dalam riwayat lain yang bersumber dari Ibnu Umar , Rasulullah ﷺ bersabda, “Kalian akan diperangi oleh orang Yahudi, lalu kalian akan diberi kemenangan atas mereka. Sampai-sampai batu akan berbicara, ‘Hai Muslim, ini orang Yahudi di belakangku bunuhlah.’” (H.R. Bukhari Muslim)

Fenomena kehancuran bangsa Yahudi itu dapat kita lihat dari beberapa indikasi sebagai berikut:

  1. Sebagai negara penjajah, Israel jelas kehilangan kemampuan melakukan peleburan dengan bangsa lain di kawasan Timur Tengah.
  2. Israel mengalami ketimpangan demografi melawan pertumbuhan warga Arab.
  3. Dunia makin sadar tentang apa yang terjadi di Timur Tengah. Makin banyak negara yang mendukung perjuangan Palestina dan makin banyak yang anti Israel. Di Israel sendiri mulai muncul organisasi swasta yang anti Israel dan melawan penghancuran rumah warga Palestina dan pengungsian mereka.
  4. Menurunnya jumlah militer Israel sebab jumlah kelompok usia militer semakin tinggi.
  5. Israel mengalami masalah sosial dan politik yang krusial karena perpecahan dua partai besar Kadima dan Likuid terus berlanjut.
  6. Kaum terpelajar sekuler dari Barat eksodus kembali dari Israel sehingga yang tersisa hanya kelompok ekstrim dalam politik dan agama yang saling mengkafirkan dan menghabisi. Inilah yang digambarkan Allah ﷻ:

لَا يُقَاتِلُونَكُمْ جَمِيعًا إِلَّا فِي قُرًى مُّحَصَّنَةٍ أَوْ مِن وَرَاءِ جُدُرٍ ۚ بَأْسُهُم بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ ۚ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْقِلُونَ (الحشر [٥٩]: ١٤

“Mereka tidak akan memerangi kamu (secara) bersama-sama, kecuali di negeri-negeri yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu padahal hati mereka terpecah belah. Yang demikian itu karena mereka orang-orang yang tidak mengerti.” (Q.S. Al-Hasyr [59]: 14)

Tentu saja kehancuran Bani Israel dan kemenangan umat Islam tidak akan datang begitu saja. Sunnatullah pasti berlaku yaitu kemenangan akan datang dengan melalui perjuangan (jihad). Sebagaimana firman Allah ﷻ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ (محمد [٤٧]: ٧

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Q.S. Muhammad [47]: 7)

  1. Tempat Rasulullah ﷺ Mengimami Shalat bagi Para Nabi

Pada peristiwa Isra Mi’raj disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ menjadi imam shalat bersama para nabi di Masjidil Aqsha. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits, dari Abu Hurairah  berkata, “Rasulullah bersabda, “…Dan sungguh telah diperlihatkan kepadaku jamaah para nabi. Adapun Musa  sedang berdiri shalat, dia lelaki tinggi kekar seperti dari suku Syanu’ah. Dan ada pula Isa bin Maryam  sedang berdiri shalat, orang yang paling mirip dengannya adalah Urwah bin Masud Ats-Tsaqafi. Ada pula Ibrahim  sedang berdiri shalat, orang yang paling mirip dengannya adalah sahabat kalian ini (maksudnya Rasulullah sendiri). Kemudian diserukan shalat, lantas aku mengimami mereka.”

Seusai shalat Ada yang berkata (Jibril ), “Wahai Muhammad, ini adalah Malik penjaga neraka, berilah salam kepadanya, walaupun dia mendahuluiku memberi salam.” (H.R. Muslim)

  1. Tidak Akan Dimasuki Dajjal

Menjelang hari Kiamat akan muncul Fitnah Dajjal yang mampu menjelajahi bumi dengan kecepatan luar biasa. Tidak ada satu negeri yang tidak didatangi kecuali Mekkah, Madinah, dan Baitul Maqdis, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis: “…Kekuasaannya (Dajjal) akan mencapai semua telaga. Dia tidak akan mendatangi empat masjid: Masjid Kabah, Masjid Rasul, Masjidil Aqsha dan Thur (Thursina).” (H.R. Ahmad)

(AK/R1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)