Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kenangan Manis Ramadhan: Dari Beban Ekonomi Hingga Ketenangan Itikaf

Redaksi Editor : Arif R - 2 menit yang lalu

2 menit yang lalu

0 Views

Abas Samsul Muttaqin

RAMADHAN selalu menjadi waktu yang dinanti-nantikan oleh umat Muslim. Bulan penuh berkah ini membawa harapan dan kebahagiaan bagi banyak orang. Namun, di tengah persiapan menyambut Ramadhan, banyak orang merasa terbebani oleh kebutuhan yang harus dipenuhi.

Senyum sinis mulai terlihat di wajah-wajah yang seharusnya berseri-seri, akibat tekanan ekonomi yang dirasakan oleh kalangan menengah ke bawah. Padahal, Ramadhan seharusnya disambut dengan kebahagiaan karena melimpahnya ampunan dan berkah.

Tahun lalu, Saya dan beberapa kawan sahabat memutuskan untuk mengikuti itikaf di masjid sebagai salah satu bentuk ibadah di bulan suci ini. Sekuat tenaga Saya menjadikan itikaf sebagai momen yang sangat berkesan dan penuh makna. Dalam sepuluh hari itikaf, mereka menemukan kedamaian dan ketenangan yang sulit didapatkan di tempat lain.

Banyak hikmah yang bisa dipetik dari itikaf tersebut, di antaranya:

Baca Juga: Telat Sahur Ramadhan Tahun Lalu, Semoga tak Terulang

Semakin meningkatnya niat untuk membaca Al-Qur’an, Itikaf memberikan kesempatan bagi Saya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah melalui membaca Al-Qur’an. Waktu yang ada Saya gunakan dengan baik untuk memperbanyak tilawah dan mengkaji makna dari ayat-ayat suci.

Semangat untuk melaksanakan qiyamul lail bertambah, Qiyamul lail atau shalat malam menjadi lebih mudah dilakukan selama itikaf. Suasana masjid yang tenang dan khusyuk mendukung para peserta untuk lebih giat melaksanakan ibadah ini.

Merenungi kekurangan diri dan kesalahan yang pernah dilakukan. Dalam kesunyian malam, peserta itikaf memiliki waktu untuk merenungi diri sendiri. Mereka menyadari kekurangan dan kesalahan yang pernah dilakukan, lalu bertekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Ukhuwah semakin meningkat di antara sesama peserta itikaf. Selama itikaf, para peserta tidak hanya beribadah sendiri, tetapi juga membangun persaudaraan dengan sesama peserta. Kebersamaan dalam menjalankan ibadah menciptakan ikatan ukhuwah yang kuat.

Baca Juga: Perjalanan Empat Pemuda Petani Nilam Aceh Timur ke Taklim Pusat 1446H

Kebersihan diri dan hati terjaga. Itikaf mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan diri dan hati. Peserta itikaf selalu berusaha menjaga kebersihan fisik dan berusaha membersihkan hati dari sifat-sifat buruk.

Rasa sabar Saya semakin meningkat. Melalui itikaf, saya dan juga peserta lain belajar untuk lebih sabar dalam menghadapi segala cobaan dan ujian hidup. Saya menyadari bahwa kesabaran adalah kunci untuk meraih ketenangan dan kebahagiaan.

Pengalaman itikaf yang begitu berkesan ini bagi Saya menjadi kenangan manis di bulan Ramadhan tahun lalu. Harapan mereka untuk Ramadhan tahun ini adalah bisa kembali mengikuti itikaf dan semakin banyak orang yang turut serta.

Dengan semakin banyaknya peserta itikaf, diharapkan semakin banyak pula hikmah yang bisa dipetik dan semakin erat tali persaudaraan di antara umat Muslim. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Baca Juga: Tabligh Akbar Mengukir Hikmah Menguatkan Iman

Begitu penuh makna kenangan Ramadan yang tak terlupakan ini. Semoga cerita ini memberikan inspirasi dan semangat bagi pembaca untuk menyambut Ramadhan dengan hati yang lapang dan penuh kebahagiaan. [Samsul Abbas Muttaqin]

Rekomendasi untuk Anda

MINA Preneur
Indonesia
Indonesia
Kata Mereka