Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepemimpinan Umar Bin Khattab Saat Krisis dan 5 Langkah Solutif Bangun Kepercayaan Menurut Islam

Arief Rahman Editor : Widi Kusnadi - 2 menit yang lalu

2 menit yang lalu

3 Views ㅤ

Pentingnya hidup seorang muslim memiliki pemimpin (foto: ig)

SEJARAH Islam mencatat bagaimana pemimpin dapat bersikap adil dan taat amanah di masa krisis. Saat terjadi paceklik besar di era Khalifah Umar bin Khattab, beliau menunjukkan teladan dalam kepemimpinan yang mengutamakan rakyat.

Umar memimpin umat melaksanakan Shalat Istisqa’ (memohon hujan) bersama Sahabat al-Abbas, dengan sabar berdoa: “Ya Allah, kami dulu memohon lewat Nabi-Mu… kini kami memohon lewat paman Nabi, turunkanlah hujan!” (HR Bukhari).

Tidak ada kebijakan menambah pungutan rakyat; sebaliknya, beliau menyerahkan segalanya kepada rahmat Allah dan kepedulian kepada fakir miskin. Kisah ini mengingatkan bahwa dalam ujian, seorang pemimpin harus menegakkan keadilan dan amanah, bukan bertindak arogan demi kepentingan diri sendiri. Apalagi mencela serta mengolok-olok rakyat yang mencederai nilai-nilai kemanusiaan.

Refleksi dan Solusi Sosial Berbasis Islam

Baca Juga: Teka-Teki Hudzaifah dan Kecerdasan Ali Bin Abi Thalib

Demonstrasi yang terjadi saat ini seharusnya menjadi panggilan bangkit: perlunya membangun kembali kepercayaan dan keadilan dalam masyarakat. Berikut 5 langkah solutif membangun kepercayaan berdasarkan prinsip Islam :

1. Kepatuhan pada amanah dan keadilan. Pemimpin wajib menyampaikan amanah dengan seadil-adilnya. Tunjangan pejabat harus proporsional dan transparan, meniadakan kesenjangan mencolok dengan masyarakat.

إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُكُمۡ أَن تُؤَدُّواْ ٱلۡأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهۡلِهَا وَإِذَا حَكَمۡتُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحۡكُمُواْ بِٱلۡعَدۡلِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”(QS Surah An-Nisa’ 58)

Baca Juga: Selamatkan Masa Depan Anak, Indonesia Harus Berani Putus Mata Rantai Industri Tembakau

2. Redistribusi kekayaan dan kesejahteraan. Nilai zakat, sedekah, dan kebijakan ekonomi pro-rakyat perlu dihidupkan. Islam mengajarkan qana’ah (cukup diri) dan tolong-menolong kepada yang membutuhkan, untuk mengatasi jurang ekonomi.

مَّآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِى ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ كَىۡ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيۡنَ ٱلۡأَغۡنِيَآءِ مِنكُمۡ ۚ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْ ۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ

“Apa saja (harta yang diperoleh tanpa peperangan) yang dianugerahkan Allah kepada Rasul-Nya dari penduduk beberapa negeri adalah untuk Allah, Rasul, kerabat (Rasul), anak yatim, orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan. (Demikian) agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah. Apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” QS Al Hasyr :7

3. Pemberdayaan aspirasi rakyat. Ruang dialog dan syura harus dijaga; kebebasan menyampaikan pendapat (dijamin konstitusi) dihormati sebagai bagian daripada amanat syariat. Perhatian kepada kesulitan ekonomi dan politik rakyat hendaknya senantiasa tertanam dalam hati pemimpin, seperti disabdakan Nabi bahwa kesungguhan dalam melayani rakyat adalah bagian dari iman.

Baca Juga: 10 Tanda Muslim Sejati Adalah: Cek Apakah Anda Memenuhi Semuanya?

فَبِمَا رَحۡمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡ ۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَ ۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِى ٱلۡأَمۡرِ ۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ

“Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” QS  Ali Imron : 159

4. Pendidikan nilai keislaman. Menanamkan sikap anti-keserakahan dan mengagungkan ketulusan hati dapat mencegah penumpukan kekayaan berlebihan, sebagaimana Allah SWT berfirman pada Surah Al-Fajr ayat 20 :

وَتُحِبُّونَ ٱلۡمَالَ حُبًّا جَمًّا

Baca Juga: 5 Hal yang Harus Diketahui Sebelum Membeli Tiket Pesawat untuk Liburan Sekolah

“dan mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.”

Rasulullah SAW bersabda dalam HR Bukhari-Muslim: “kekayaan hakiki adalah kaya hati”

5. Akuntabilitas dan penegakan hukum. Penegakan hukum atas penyalahgunaan kekuasaan harus ditegakkan tanpa kecuali, agar warga percaya bahwa negara hadir menegakkan keadilan, bukan menindas.

يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلۡنَٰكَ خَلِيفَةً فِى ٱلۡأَرۡضِ فَٱحۡكُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلۡهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ لَهُمۡ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُواْ يَوۡمَ ٱلۡحِسَابِ

Baca Juga: Perkembangan Konten Keislaman di Media Digital Indonesia

(Allah berfirman,) “Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah (penguasa) di bumi. Maka, berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan hak dan janganlah mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari Perhitungan.” QS Sad : 2

Semoga demonstrasi yang saat  ini terjadi menjadi momentum introspeksi kolektif. Islam menuntun kita agar membangun tatanan sosial yang adil dan penuh amanah, di mana pemimpin berkhidmat mengutamakan rakyat karena takut kepada-Nya dan rakyat hidup sejahtera karena keberkahan.

Hanya dengan itu, ketimpangan dapat disingkirkan, amarah massa reda, dan masa depan bangsa bisa kembali cerah penuh harapan. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Dari Mimbar Jakarta, Serukan Solidaritas Gaza

Rekomendasi untuk Anda