Kepiluan Pemilik Toko-Toko Gaza yang Dihancurkan Israel (Oleh: Sarah Algherbawi, Gaza)

Seorang warga Palestina memeriksa toko pakaian bayi di Gaza City yang hancur oleh serangan udara Israel pada 4 Mei 2019. (Foto: Ashraf Amra)

Oleh: Sarah Algherbawi, penulis lepas di Gaza

 

Awal bulan Mei 2019, saya (Sarah Algherbawi) pergi berbelanja untuk bayi saya, Khalil, agar ia memiliki sesuatu yang baru untuk dipakai selama liburan Idul Fitri. Namun, tidak pernah terpikir oleh saya bahwa toko tempat saya membeli pakaiannya, satu hari kemudian akan jadi sasaran  serangan udara Israel.

Toko perlengkapan bayi itu milik Husam Al-Haddad. Itu salah satu dari banyak toko dan kantor yang berlokasi di Gedung Al-Khuzundar, Gaza City. Pada 4 Mei, Israel menembakkan empat rudal ke gedung itu. Di sana juga menjadi tempat kegiatan badan amal Turki yang membantu anak yatim Palestina.

Serangan itu adalah “bencana nyata,” menurut Al-Haddad, pemilik toko. Dia telah menghabiskan 90.000 dolar AS untuk membeli stok baru sebelum Idul Fitri.

“Kami sudah hidup dalam kondisi ekonomi yang sulit,” katanya. “Dengan ini, kami benar-benar hancur.”

Ada lima orang yang dipekerjakan di tokonya. Salah satunya adalah Muhammad Jarada yang berusia 23 tahun.

Jarada menerima telepon dari seorang Israel lima menit sebelum serangan itu. Penelepon itu mengaku ia adalah bagian dari militer Israel dan memperingatkan bahwa bangunan itu harus dievakuasi dalam 60 detik.

“Kami berlari sekitar 50 meter dari gedung,” kata Jarada. “Petugas Israel menelepon saya lagi dan menyuruh saya pergi lebih jauh. Kami mengikuti instruksi dan berlari lagi. Kemudian rudal pertama yang ditembakkan dari drone menghantam pintu masuk gedung.”

Jarada menerima panggilan telepon ketiga dari orang yang sama, menyuruhnya bergerak lebih jauh ke belakang.

“Ada kerumunan orang di daerah itu,” tambah Jarada. “Saya meneriaki mereka untuk melarikan diri lebih jauh, tetapi mereka tidak mendengarkan saya. Tiba-tiba, tiga rudal drone lainnya menghantam gedung dan kerumunan mulai bergerak menjauh. Setelah tiga menit, sebuah rudal ditembakkan dari sebuah (pesawat) F-16 menghantam gedung dan roboh.”

Jarada sedang menempuh pendidikan di Universitas Islam Gaza. Menemukan pekerjaan alternatif adalah hal yang sulit, karena tingkat pengangguran di Gaza melebihi 50 persen.

“Saya tidak percaya sekarang saya menganggur,” kata Jarada. “Saya dulu membantu keluarga saya dan membayar biaya universitas saya dari pekerjaan ini. Sekarang saya merasa seperti bukan siapa-siapa.”

 

“Tak berdaya”

Amjad Jaber adalah pengelola toko sebelah yang menjual sepatu kets.

Begitu dia mendengar peringatan untuk mengungsi, Jaber meninggalkan semuanya dan berlari.

“Saya tidak punya waktu untuk memikirkan apa pun selain menyelamatkan hidup saya pada saat itu,” katanya. “Tetapi ketika saya melihat kehancuran bangunan, saya menyadari bahwa saya telah kehilangan semua uang dan sumber kehidupan saya. Saya merasa tidak berdaya. Saya berharap bisa tetap di dalam dan mati.”

Jaber memperkirakan bahwa ia kehilangan 100.000 dolar AS akibat dari serangan itu. Dua pekerjanya menjadi pengangguran saat itu juga.

Sepuluh toko di Gedung Al-Khuzundar dihancurkan oleh Israel, sementara 37 lainnya rusak.

Serangan itu adalah bagian dari serangan yang diperintahkan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dengan ironi pahit, Netanyahu telah lama mengklaim dirinya sebagai pengusung “perdamaian ekonomi.”

Capital Mall di dekatnya juga rusak oleh senjata Israel pada hari yang sama. Sekitar 90 persen dari layanan yang ditawarkan oleh pusat perbelanjaan di Gaza City itu telah terhenti.

Layanan cuci mobil di dalam mall benar-benar rusak oleh serangan. Layanan itu telah mempekerjakan 15 orang.

Muhammad Abu Ali, seorang sarjana hukum berusia 25 tahun, bekerja sebagai pengawas dalam pencucian mobil. Dia tidak dapat menemukan pekerjaan lain setelah menyelesaikan studinya di Universitas Al-Azhar Gaza.

“Saya tidak punya apa-apa di cakrawala,” katanya. “Saya melihat emigrasi sebagai satu-satunya solusi.”

Abu Ali telah jatuh cinta kepada seorang wanita selama beberapa tahun terakhir dan telah merencanakan pernikahannya segera. Namun, sekarang dia memutuskan membatalkan rencananya karena situasi keuangannya.

“Sepertinya saya tidak akan pernah bisa bersama wanita yang saya cintai sampai saya menemukan pekerjaan yang tepat atau berhasil beremigrasi,” katanya.

Sejumlah perusahaan kecil juga terpengaruh oleh tindakan Israel yang dilakukan pada 5 Mei, sehari setelah Gedung Al-Khuzundar dan Capital Mall diserang.

Salah satunya adalah salon tata rambut yang terletak di dalam Gedung Abu Qamar, juga di Gaza City.

“Dalam satu waktu, saya kehilangan segalanya,” kata Ihab Dughmush, pria 48 tahun yang telah membuka salon lima bulan sebelumnya. “Tampaknya Israel ingin menghancurkan pengusaha di Gaza.” (AT/RI-1/P1)

Sumber: The Electronic Intifada

 

Mi’raj News Agency (MINA)