Kepulangan Relawan Gaza Disambut Pekik Takbir dan Yel Al-Aqsha Haqquna

Bandar Lampung, MINA – Kepulangan relawan pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) tahap kedua di Gaza Palestina, Rabu (30/9) petang, disambut pekikan takbir dan yel Al-Aqsha Haqquna.

Santri Ponpes Shuffah Hizbullah dan Madrasah Al-Fatah, juga masyarakat sekitar, menyambut tiga orang relawan asal Al-Fatah Lampung yang baru kembali dari Gaza Palestina, dengan berbaris di pinggir jalan sepanjang kurang lebih setengah km menuju Masjid An-Nubuwwah.

“Pekikan takbir dan yel Al-Aqsha Haqquna mengiringi kedatangan relawan sepanjang jalan menuju Masjid An-Nubuwwah,” lapor wartawan MINA, Antisya Azzahra dari lokasi.

Tiga relawan dari jaringan Ponpes Al-Fatah melaksanakan pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI)  di Gaza yang diinisiasi Medical Emergency Rescue Committe (Mer-C).

Usai ramah tamah, dan sholat Maghrib,  relawan diminta untuk menceritakan pengalaman selama berada di Gaza di hadapan jamaah masjid terbesar di Lampung ini.

Relawan asal Bangun Rejo Lampung Tengah, Mustaqim Darkam Winarko kepada jamaah Masjid menceritakan bagaimana awal mula bisa berangkat menjadi relawan ke Gaza Palestina.

“Pada 2006 saya termasuk dari sekian banyak orang yang yang menandatangani kesiapan untuk dikirim menjadi relawan ke Palestina, namun baru 2019 dikabulkan oleh Allah. itulah perjuangan perlu kesabaran,” katanya.

Karena menurut Mustaqim perjuangan itu tidak ada yang mudah semua pasti ada ada halangan.

“Namun kalau kita ikhlas Allah akan berikan kemudahan ketentraman dan sakinah dalam berjuang,” katanya.

Sementara Muhammad Gulam Romdhoni, relawan asal Bandar Lampung menceritakan bagaimana perasaannya berada di zona kematian.

“Beit Lahiya, Gaza Utara, tempat di mana RSI Palestina sekitar 2,5 km dari daerah yang dikuasai Israel. Mereka di sana menyebutnya zona merah atau zona kematian,” katanya.

Selain dihadapkan dengan moncong senjata zionis menurut Gulam, kondisi Gaza saat ini semakin buruk akibat dampak dari pandemi covid-19.

“Kondisi ekonomi semakin hancur, gaji PNS di sana ada yang 4 bulan sampai 6 bulan baru dibayar,” katanya.

Namun lanjut Gulam masyarakat Gaza tetap optimis terhadap perjuangan membebaskan masjid Al-Aqsha dan kemerdekaan Palestina.

“Mereka berharap besar kepada kita muslimin Indonesia untuk berjuang membebaskan Masjid Al-Aqsha,” katanya.

Sobar Muslim, relawan Tasikmalaya yang beristrikan warga Al Muhajirun Lampung Selatan, menceritakan saja kegiatan para relawan selama 19 bulan berada di Gaza.

“Tugas utama kita membangun rumah sakit namun ada kegiatan-kegiatan lain yang tetap berjalan yang sifatnya menyalurkan bantuan langsung terhadap warga yang membutuhkan,” katanya.

Diantara program tersebut yaitu bantuan paket makanan, bantuan paket musim dingin untuk pengungsi, bantuan paket iftar (berbuka puasa), yang yang terakhir saat ini terus berjalan yakni wakaf pohon zaitun,” katanya.

Menurutnya wakaf pohon zaitun yang digagas Mer-C dan Jama’ah Muslimin (Hizbullah) ini ditargetkan 1.000 pohon.

“Namun ternyata masyarakat Indonesia sangat antusias sehingga sampai saat ini ini sudah ada 3.600 pohon yang ditanam di Gaza Palestina, wakaf dari kaum muslimin Indonesia,” ujarnya.

Ada tujuh relawan Lampung yang berangkat 2019 lalu bersama puluhan relawan dari berbagai daerah lain. Sebagian sudah kembali ke rumahnya pada Agustus lalu.

  • Seluruh relawan yang berada selama 19 bulan di Gaza Palestina tersebut merupakan relawan dari jaringan Ponpes Al-Fatah seluruh Indonesia.

Para relawan berada di bawah payung Mer-c, sebuah lembaga kemanusiaan yang menginisiasi pembangunan RSI di Gaza Palestina.(L/B03/P1)

Mi’raj News Agency (MINA).