‘Kesepakatan Abad Ini’ dan Langkah Menghadapinya

Oleh: Rendi Setiawan, Wartawan MINA

Kesepakatan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada 28 Januari 2020 di Gedung Putih, yang disebut oleh Trump sebagai ‘Kesepakatan Abad Ini’ telah menarik kecaman dan penolakan dari berbagai kalangan dunia.

Trump mengatakan, usulan  kesepakatan itu untuk menyelesaikan konflik Timur Tengah., Dalam pertemuannya dengan Netanyahu dan pemimpin oposisi Israel Benny Gantz. Trump menggambarkan rencananya itu sebagai sesuatu yang ‘hebat’. Tapi dengan penolakan terutama dari fihak Palestina, pastilah kesepakatan itu takkan pernah terwujud. Sebuah kesepakatan harus disetujui oleh semua fihak.

Salah satu poin rancangan dalam ‘Kesepakatan Abad Ini’ adalah membagi Yerusalem menjadi dua bagian. Yang pertama Kota Yerusalem sebagai ibu kota Israel, sementara Yerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina. Ironisnya, wilayah yang diperuntukan Palestina adalah lahan ‘buangan’.

Apa pun, Yerusalem merupakan salah satu wilayah penting bagi umat Islam. Dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 144 dan 150 disebutkan secara jelas bahwa Yerusalem yang di dalamnya terdapat Masjidil Aqsa sempat dijadikan sebagai kiblat salat, sebelum akhirnya dipindah ke Masjidil Haram.

Selain dijelaskan dalam Al-Quran, Yerusalem juga merupakan bentuk wakaf dari Khalifah Umar bin Al-Khattab sejak dibebaskan pada tahun 638 masehi. Saat itu, Uskup Sophronius menyerahkan langsung kunci Al-Quds kepada Khalifah Umar.

Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation dalam artikelnya berjudul ‘Pesan Umar bin Al-Khattab di Kota Al-Quds’ menyatakan bahwa bagi umat Islam, Yerusalem tidak akan bisa dilepaskan dari kedua hal, yaitu ikatan sejarah sekaligus ikatan iman.

“Artinya Yerusalem bagi umat Islam menjadi kota yang mengikat dalam perjalanan sejarah umat ini, sekaligus menjadi kota yang menghunjam ke dalam sanubari jiwa mereka yang beriman,” kata Shamsi Ali.

Hubungan masyarakat Muslim dengan Jerusalem itu dalam sejarah seiring dengan hijrahnya nabi Ibrahim (AS) bersama isterinya Sarah dan Hajar dari Babilonia ke kota itu. Sejak itu sejarah mencatat hubungan masyarakat Muslim dengan kota ini.

Sebab dari Ibrahim itulah ikatan sejarah berlanjut ke Ishak, Yaqub, Yusuf, hingga ke Daud, Selaeman, Yahya dan Isa (Alaihim sholawatullah). Ikatan sejarah ini kemudian direkam secara jelas dan pasti dalam kitab suci orang beriman, Al-Quran.

Melihat kenyataan itu, bagaimana Palestina khususnya, dan umat Islam pada umumnya menghadapi skenario sepihak yang telah dikeluarkan oleh Donald Trump dalam Kesepakatan Abad Ini? Ada beberapa langkah:

#1 Akhiri perpecahan internal Palestina

Analis politik Timur Tengah, Hussam Al-Dajani menyebutkan bahwa untuk menghadapi rencana Trump yang bertujuan untuk melikuidasi isu Palestina ini adalah dengan bekerja keras untuk mengakhiri perpecahan.

Dalam analisisnya, sebagaimana dimuat Pusat Info Palestina, Al-Dajani memandang perlunya melakukan pertemuan guna membahas apa yang dapat dilakukan untuk mengubah setiap ancaman menjadi peluang, dan menyepakati strategi untuk menghadapinya.

Dia juga mengatakan bahwa Presiden Otoritas Palestina Mahmud Abbas harus mulai mendukung Jalur Gaza dengan menghentikan sanksi yang dia setujui pada Maret 2017 dan menghentikan saling lempar tuduhan di media.

Dia juga mengatakan bahwa yang harus dilakukan Hamas dan faksi-faksi perlawanan adalah bekerja dengan semua kekuatan untuk mencegah mulusnya rencana Trump tersebut, membuka lembaran baru dalam hubungan dengan gerakan Fatah. Dan apa yang dilakukan Hamas baru-baru ini dengan menyerukan pertemuan nasional adalah langkah ke arah yang benar.

Dia melanjutkan, Kesepakatan Abad Ini bertujuan menyerang proyek nasional, baik di Gaza, Tepi Barat atau Al-Quds, tidak ada bedanya. Jika semua pihak tidak bergerak di bawah satu payung nasional maka rencana Trump ini akan mulus. Sekedar pernyataan-pernyataan tidak akan bisa menghalangi mulusnya rencana tersebut.

Lebih lanjut dia mengatakan:

“Sebaliknya, keputusan-keputusan yang mengejutkan, terutama keputusan mengembalikan persatuan nasional, kembali ke semua bentuk perlawanan, dan pelaksanaan semua hasil Dewan Pusat Nasional adalah langkah-langkah yang harus diambil untuk menghadapi Kesepakatan Abad Ini. Tanpa itu, maka yang menghambat terealisasinya apa yang disebut di atas, baik di sengaja atau tidak disengaja, menjadi mitra dalam memuluskan Kesepakatan Abad Ini.”

Perwakilan Hamas di Tulkarem, Fathi Al-Qarawi, juga menegaskan perlunya merespon seruan nasional yang dilontarkan oleh Kepala Biro Politik Hamas, Ismail Haniyah, untuk melakukan pertemuan nasional dengan segera guna menghadapi apa yang disebut Kesepakatan Abad Ini.

Al-Qarawi mengatakan, ini adalah waktu yang tepat untuk mengumumkan inisiatif Haniyah dalam konteks upaya untuk menyelesaikan yang tersisa dari persoalan Palestina di tengah sikap diam dan persekongkolan Arab yang memprihatinkan, dan ketidakmampuan tingkat resmi Palestina yang memalukan.

Dia menambahkan bahwa pada saat ini inisiatif ini datang untuk mengumpulkan seluruh elemen Palestina, menjadi forum untuk mengalah demi konsensus untuk menjadi isu Palestina sampai pembebasan.

Menurut Al-Qarawi, inisiatif ini adalah pesan yang jelas bahwa sekarang adalah waktunya bagi semua kalangan Palestina untuk bertemu dan dalam satu komando untuk menghadapi badai yang mengamuk dan konspirasi yang bertujuan untuk mengakhiri isu Palestina dan hak-hak rakyat Palestina.

#2 Lawan narasi ‘bohong’ Israel di media massa

Israel dengan segela kekuatan armada militernya tidak akan berguna jika tidak ‘dibantu’ dengan narasi-narasi bohong yang mereka gelorakan di media massa. Hal itu tercermin dari banyaknya cerita-cerita fiksi menyangkut ‘klaim’ sejarah Israel yang bertebaran di media massa, terlebih lagi sejarah dunia yang berkaitan dengan mereka dalam dua abad terakhir.

Seorang penulis yang juga jurnalis asal Belgia, Michel Collon, secara sistematis mengungkap kebohongan itu lewat sebuah buku berjudul ‘Israel, Let’s Talk About It‘. Buku tersebut diterjemahkan dari bahasa Perancis berjudul ‘Israel, Parlons-en’.

Dalam catatannya, Collon menyebut ada sepuluh kebohongan besar yang sengaja disebar Israel untuk mendukung pendudukannya atas wilayah Palestina. Berikut ini adalah sepuluh kebohongan besar Israel yang selalu disiarkan oleh media-media Barat pada umumnya.

Satu, Israel menyebutkan bahwa pembentukan negara Yahudi itu merupakan reaksi atas pembunuhan massal pada Perang Dunia II. Menurut Collon, konsep negara Israel sudah dimunculkan pada Kongres Zionis I di Basel tahun 1897, jauh sebelum Perang Dunia II meletus.

Dua, Warga Yahudi memerlukan kembali ke tanah leluhurnya, karena di tahun 70 M mereka terusir. Namun, seorang sejarawan Yahudi, Shlomo Sand juga yang lain yakin bahwa tidak ada eksodus, sehingga istilah ‘kembali’ tidak lagi diperlukan.

Tiga, Pernyataan bahwa saat diduduki, Palestina adalah wilayah tak berpenghuni. Padahal, rekaman sejarah menunjukkan bahwa di abad ke-19, hasil pertanian Palestina telah diekspor ke berbagai negara, termasuk Perancis.

Empat, Warga Palestina pergi dengan kerelaan untuk meninggalkan kampung halamannya. Kabar bohong ini terus dihembuskan Israel. Illan Pappe dan Benny Morris, pengamat sejarah, memberikan kesaksian bahwa warga Palestina terusir dengan pemaksaan dan kekerasan.

Lima, Di mata dunia, Israel terus mendengungkan dirinya sebagai satu-satunya negara demokratis di kawasan Timur Tengah. Faktanya, Israel dikelola oleh rezim yang tidak punya hukum yang mendefinisikan batas wilayahnya. Para pemimpin Israel terus meniupkan semangat ekspansionisme dengan mencaplok wilayah-wilayah di sekitar area yang kini diduduki. Hukum yang mereka gunakan juga sangat rasis, hanya memihak Yahudi dan Zionis.

Enam, Israel selalu menyebut bahwa dukungan Amerika Serikat (AS) datang untuk menegakkan demokrasi. Padahal ini omong kosong, karena dana yang dikirim AS senilai 3 miliar dolar AS per tahun adalah untuk menyerang negara tetangga Israel dan melancarkan aliran minyak dari Timur Tengah.

Tujuh, Perundingan yang digagas AS untuk mendamaikan Israel dan Palestina adalah pura-pura. Mantan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Javier Solana, jelas-jelas pernah menyatakan bahwa Israel adalah anggota ke-21 Uni Eropa. Sebaliknya, dia tidak pernah mau mengakui Palestina. Eropa juga merestui penyerangan Israel ke Gaza.

Delapan, Istilah anti-semit juga menjadi alat kebohongan bagi Israel. Semua pengritik Israel dianggap anti-semit, meski sesunggunya mereka mengkritik rezim yang diskriminatif dan rasis.

Sembilan, Isu terorisme juga didorong untuk terus memojokkan Palestina. Perjuangan Hamas untuk mengusir penjajahan dianggap sebagai aksi terorisme. Padahal pendudukan Israel-lah yang sebenarnya bentuk nyata aksi terorisme terlembaga yang didukung negara-negara raksasa.

Sepuluh, Israel dan para pendukungnya terus mengkampanyekan bahwa masalah Palestina tidak akan pernah bisa terselesaikan dengan menebar kebencian atas Israel. Padahal, satu-satunya solusi yang bisa menyelesaikan ada dengan membangkitkan publik untuk menekan AS dan negara-negara di Eropa yang mendukung Israel, juga mendorong media untuk memberitakan secara jujur kondisi yang terjadi di Palestina.

#3 Jadikan Islam sebagai tujuan utama

Mantan Asisten Menteri Luar Negeri Mesir Abdullah Ashaal juga menegaskan bahwa lingkungan Arab sepenuhnya telah disiapkan untuk mengumumkan Kesepakatan Abad Ini tanpa ada kontra apapun terhadap Israel dan Amerika Serikat, sebagaimana disebutkan Pusat Info Palestina.

Ashaal melihat bahwa unsur-unsur dari Kesepakatan Abad Ini telah diterapkan di lapangan dengan diam-diam tanpa diumumkan. Ini merujuk pada pengakuan Amerika bahwa Al-Quds atau Yerusalem adalah ibukota abadi penjajah Israel, pemindahan kedutaan Washington ke sana, dan pengakuan terhadap kontrol Israel atas Golan.

Dia mengatakan, Amerika Serikat dan Israel mampu mempersiapkan kondisi lapangan untuk mengumumkan dengan berani Kesepakatan Abad Ini, melalui beberapa hal. Yang pertama di kancah Palestina, mereka berhasil memecah barisan Palestina dan mempertahankan rakyat Palestina tetap tanpa memiliki sandaran baik pada Arab atau pada dunia Islam.

Adapun hal kedua adalah langkah-langkah Arab Saudi dan UEA terhadap negara penjajah Israel. Dan hal yang ketiga adalah keputusan Liga Arab bahwa perlawanan adalah terorisme, baik di Palestina atau Lebanon.

Dia menambahkan, “Petunjuk nyata dari Kesepakatan Abad Ini masih tidak jelas. Karena belum muncul dari pihak resmi. Sebab pembicaraan hanya sebatas tentang adanya penyelesaian antara Palestina dan Israel.”

Ashaal menegaskan, “Rakyat Palestina sedang mengalami serangan kuat, yang bertujuan mencabut mereka dari tanahnya serta mengakhiri nama Palestina dan kawasan Arab secara keseluruhan.”

Dari pernyataan Ashaal dapat diketahui bahwa keberanian Donald Trump dan Benjamin Netanyahu dalam berbuat sewenang-wenang di wilayah Palestina tidak lepas dari ‘dukungan’ terselubung sejumlah negara Arab yang mayoritas adalah negara Islam. Maka, sudah saatnya Islam menjadi fokus utama kebijakan negeri-negeri Islam. (A/R2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)