Ketegangan Meningkat di Sahara Barat

Sahara Barat, 26 Dzulqa’dah 1437/29 Agustus 2016 (MINA) – Ketegangan merambah di wilayah Sahara Barat yang bermasalah, ketika pasukan Maroko dan pejuang militan Sahrawi menolak untuk mengalah dari daerah zona penyangga yang sensitif.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon telah mendesak kedua belah pihak untuk menarik diri dari tanah tak bertuan dekat perbatasan Mauritania yang diperebutkan, di tengah kekhawatiran bahwa militerisasi wilayah bisa menyalakan perang.

Militer Mauritania dilaporkan telah mengerahkan rudal anti-pesawat dekat perbatasan Maroko sebagai antisipasi jika konflik pecah.

Sekjen PBB tampak sama khawatir jika gencatan senjata 26 tahun yang dipelihara jadi berantakan.

“(Saya) sangat prihatin atas situasi tegang yang telah dikembangkan di zona penyangga sempit di barat daya Sahara Barat,” katanya, demikian Alaraby.co.uk memberitakan yang dikutip MINA.

Baca Juga:  Kelompok HAM: China Hapus Istilah Agama dan Budaya Uighur

Pernyataan PBB menyebutkan, tentara Maroko dan pejuang Front Polisario saling mendekat satu sama lain di zona penyangga.

Ban menyerukan kedua pihak untuk menangguhkan tindakan yang bisa mengubah status quo dan agar menarik semua elemen bersenjata sehingga bisa mencegah eskalasi lebih lanjut.

Ban menambahkan, misi PBB di Sahara Barat yang dikenal sebagai MINURSO, akan mengadakan diskusi dengan kedua belah pihak untuk menurunkan ketegangan.

Pada 1991, sebuah gencatan senjata antara Maroko dan pejuang Polisario mengakhiri 16 tahun pertempuran antara kedua pihak.

Kesepakatan itu membuat Maroko mengendalikan semua kota utama di wilayah tersebut dan Polisario terbatas pada jalur sempit di bagian dalam gurun.

Baca Juga:  Kelompok HAM: China Hapus Istilah Agama dan Budaya Uighur

Jauh di selatan, tersisa wilayah yang tidak bertuan dan tidak ada pihak yang bisa menempatkan militernya secara permanen di sana.

Menurut pengaturan gencatan senjata, tidak ada pasukan yang boleh memasuki zona penyangga.

Awal bulan ini, Polisario mengeluh bahwa Maroko telah melanggar perjanjian gencatan senjata dan memasuki wilayah tersebut.

Pemerintah Rabat mengakui bahwa pasukannya berada di zona penyangga, tetapi berdalih untuk menghentikan penyelundupan lintas batas. (T/P001/R02)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Wartawan: Rudi Hendrik

Editor: Bahron Ansori