Ketetapan Bagi Pemimpin Pendusta (Oleh: Rudi Hendrik)

Oleh Rudi Hendrik, jurnalis MINA

 

Sebuah hadits sahih berbunyi:

عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ دَخَلَ وَنَحْنُ تِسْعَةٌ وَبَيْنَنَا وِسَادَةٌ مِنْ أَدَمٍ فَقَالَ إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ يَكْذِبُونَ وَيَظْلِمُونَ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكِذْبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَيُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَهُوَ وَارِدٌ عَلَيَّ الْحَوْضَ

Dari Ka’ab bin Ujrah rahiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah keluar atau masuk menemui kami, ketika itu kami berjumlah sembilan orang. Dan di antara kami ada bantal dari kulit. Baginda lalu bersabda, ‘Sesungguhnya akan ada setelahku para pemimpin yang berdusta dan zalim. Barangsiapa mendatangi mereka kemudian membenarkan kebohongan mereka, atau membantu mereka dalam kezalimannya, maka ia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya. Serta ia tidak akan minum dari telagaku. Dan barangsiapa tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu mereka dalam berbuat kezaliman, maka ia adalah dari golonganku dan aku adalah dari golongannya. Dan kelak ia akan minum dari telagaku’.” (HR Ahmad No: 17424).

Jika pemimpin sudah berdusta kepada rakyat dan itu jelas-jelas di depan mata kita, lantas apalagi yang diharapkan kepadanya? Bohong atau dusta adalah sikap dan mental orang yang sudah tidak lagi stabil kepribadiannya. Dia telah mengalami gangguan yang akan berdampak pada ketidakpercayaan rakyat. Padahal kepemimpinan yang mahal adalah ketika kejujuran ditegakkan setegak-tegaknya.

Bila pemimpin sudah berdusta, maka akan dapat kita lihat masalah-masalah yang semakin rumit, seperti dia akan berusaha menutupi kebohongan dengan berbohong lagi sebagai upaya menutupi kelemahan dirinya. Dia akan dilanda ketakutan, sebab secara naluriah manusia cenderung ingin berbuat jujur, maka tatkala dia berbohong sesungguhnya dia sedang berkelahi dengan hawa nafsunya sendiri. Hidupnya justru tidak tenang, ia akan cenderung menghindari acara-acara atau kondisi-kondisi yang mungkin akan memperlihatkan kelemahan dan kedustaannya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah mewanti-wanti kepada umatnya akan kondisi kepemimpinan di masa berikutnya, termasuk di masa yang sekarang kita arungi, yang memiliki para pemimpin pendusta dan zalim.

Ketika masa itu telah tiba, maka Rasulullah memetakan kondisi umat atau rakyat yang akan terpola menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama adalah orang-orang yang mendatangi para pemimpin pendusta itu kemudian membenarkan kebohongannya atau membantu mereka dalam kezalimannya.

Kelompok kedua adalah orang-orang yang tidak membenarkan kebohongan mereka atau tidak membantu mereka dalam berbuat kezaliman, apalagi mendekati mereka untuk meminta keuntungan jabatan atau uang.

Dalam sabdanya tersebut pula, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan posisi kedua kelompok itu baginya dan di mana kelak mereka berada saat hari kiamat tiba.

Mengenali pemimpin pendusta atau pembohong di masa sekarang sangat mudah. Di era demokrasi, nyaris 100 persen pemimpin naik melalui sistem pemilu. Untuk menduduki kursi kepemimpinan mereka harus dipilih oleh rakyat. Agar rakyat mau memilih mereka, maka rakyat harus dibuat senang dan diberi harapan. Agar harapan itu bukan sekedar omong kosong belaka, maka mereka menyegel harapan bagi rakyat itu di dalam kata-kata yang diberi stempel “janji”.

Barulah mereka dapat dinilai pemimpin pendusta atau pemimpin jujur saat mereka memimpin setelah dipilih. Tolok ukurnya, apakah para pemimpin itu memenuhi janji-janji mereka saat diucapkan kala kampanye atau tidak.

Namun, dari sudut pandangan agama, kebohongan dan kezaliman yang besar adalah dengan mengingkari aturan Allah dan Rasul-Nya dalam menjalani kehidupan. Salah satunya adalah pemimpin yang bukan beragama Islam.

Sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam QS. Al-Maidah [5] ayat 51:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰۤى اَوْلِيَآءَ ۘ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِنَّهٗ مِنْهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin (mu), mereka satu sama lain saling melindungi. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

Bagaimana mungkin pemimpin kafir akan membela umat Islam dan mementingkan segala urusan orang yang hakikatnya adalah musuh?

 

Nasib pemimpin pendusta

Para pemimpin pendusta yang merasa beruntung dipilih oleh suara mayoritas rakyat, memiliki nasib akhir yang jelas.

Sebuah hadits riwayat dari Abu Hurairah radiyallahu anhu menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ شَيْخٌ زَانٍ وَمَلِكٌ كَذَّابٌ وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ

“Tiga orang yang Allah enggan berbicara dengan mereka pada hari kiamat kelak. (Dia) tidak sudi memandang muka mereka, (Dia) tidak akan membersihkan mereka daripada dosa (dan noda). Dan bagi mereka disiapkan siksa yang sangat pedih. (Mereka ialah) Orang tua yang berzina, penguasa yang suka berdusta dan fakir miskin yang takabur.” (HR. Muslim)

Para pemimpin pendusta pun pada puncaknya akan ditempatkan di dalam neraka.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

أَيُّمَا رَاعٍ غَشَّ رَعِيَّتَهُ فَهُوَ فِي النَّارِ

“Siapa pun pemimpin yang menipu rakyatnya, maka tempatnya di neraka.” (HR. Ahmad)

Di hadits lain Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Seseorang yang diberi amanat oleh Allah untuk memimpin rakyat, lalu mati ketika sedang menipu rakyatnya, maka Allah mengharamkan baginya surga.” (HR. Muslim)

Bagi umat Islam yang menjadi rakyat dari para pemimpin pendusta, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan:

وَلا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِينٍ

“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang suka bersumpah dan suka menghina.” (QS. Al-Qalam: 10)

 

ِاَللّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ الْمَسِيْحِ الدَّجَّال

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari azab jahannam, serta azab kubur. Dan aku berlindung kepadamu dari fitnah (ujian) kehidupan dan kematian, serta dari keburukan Dajjal.”

Wallahu A’lam. (A/RI-1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)