Ketika Akhlak Khalifah Umar Kembali Hidup di Tengah Pejuang Palestina

Para pejuang Palestina memperlakukan para tawanan dengan baik. (Istimewa)

Oleh: Rendi Setiawan, Jurnalis MINA

Seluruh umat Islam pasti mengenal Khalifah Umar bin Al Khattab ra. Khalifah yang meneruskan amanah dan tanggung jawab kepemimpinan umat Islam setelah Rasulullah SAW dan Abu Bakar Ash Shiddiq ra wafat.

Seluruh umat Islam juga tau bagaimana akhlak Umar yang begitu mulia. Salah satu akhlak yang ditampilkan Umar adalah sifat lemah lembut terhadap sesama manusia, meski pada dasarnya, Umar berwatak tegas, namun hanya berlaku terhadap musuh Islam.

Sebelum mengenal Islam, Umar merupakan orang yang terkenal keras kepala dan punya kemauan keras. Setelah memeluk Islam, sifat tersebut berubah menjadi sifat tegas terhadap musuh-musuh Islam.

Salah satu momen lembutnya sifat dan sikap Umar adalah ketika pembebasan Baitul Maqdis dari tangan orang-orang Nasrani, sekitar tahun 637 masehi. Kala itu, Umar datang dari Kota Madinah bersama seorang ajudan dan seekor unta, sumber lain menyebut kuda.

Di sepanjang perjalanan, menurut sejumlah sumber dikatakan, Umar bersama pembantunya silih berganti menaiki unta. Sampai suatu ketika sudah dekat dengan Baitul Maqdis, Umar kebagian berjalan kaki, sementara ajudannya menaiki itu.

Orang-orang Nasrani, termasuk Patriark Sophronius mengira bahwa orang yang menaiki unta itulah pemimpin umat Islam. Namun, para jenderal perang umat Islam seperti Abu Ubaidah bin Al Jarrah, Khalid bin Walid, dan yang lainnya tau betul bahwa yang berjalan itulah sosok Umar.

Ketika orang-orang Nasrani diberi tau, sosok yang berjalan-lah pemimpin umat Islam, mereka sangat takjub dan kagum. Kedatangan dengan dua orang dan seekor hewan tunggangan saja sudah membuat heran, apalagi setelah tau bahwa Umar yang berjalan kaki, makin menjadi-jadi kekaguman mereka.

Umar memasuki Yerusalem dengan berjalan. Tidak ada pertumpahan darah dan tidak ada pembunuhan oleh tentara Islam. Barang siapa yang ingin meninggalkan Yerusalem dengan segala harta benda mereka, dibenarkan berbuat demikian. Barang siapa yang ingin terus tinggal dijamin keselamatan nyawa, harta benda, dan tempat beribadah mereka. Semua ini terdapat dalam Perjanjian Umariyya.

Kelembutan akhlak Umar tidak sampai di situ. Ketika sang Khalifah selesai berkeliling bersama Sophronius dan hendak salat Asar, Sophronius mempersilakan Umar untuk salat di gereja mereka. Namun, dengan sopan, Umar menolak karena khawatir orang-orang setelah zaman itu akan menganggap gereja tersebut telah menjadi masjid. Akhirnya dipilih sebuah tempat di dekat Gereja Makam Kudus di Yerusalem.

Begitulah akhlak mulia salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yakni Umar bin Al Khattab yang bahkan non Muslim pun takjub dan kagum padanya.

Akhlak Khalifah Umar kembali hidup

Di zaman ini, tidak ada masyarakat yang lebih sabar daripada orang-orang Palestina. Bahkan, di zaman kolonialisme dan imperialisme antara abad 16 hingga 19 masehi, tidak ada tragedi pembantaian separah yang diderita masyarakat di Palestina.

Belasan ribu jiwa telah syahid dalam Operasi Badai Al Aqsa yang dimulai sejak Sabtu, 7 Oktober 2023. Israel mengerahkan seluruh kekuatan militernya, termasuk bantuan dari negeri-negeri pendukung seperti Inggris, Prancis, hingga Amerika Serikat.

Ujian kesabaran selama lebih dari 45 hari pengepungan dan aksi genosida yang dilakukan Israel terhadap warga Gaza tak membuat para pejuang kehilangan akal dan pikiran dalam melawan kekejaman mereka. Mereka tetap berpikir jernih.

Para pejuang tetap mengedepankan akhlak dan etika dalam berperang. Mereka tetap lembut terhadap sesama, namun tegas dan keras terhadap penjajah. Kelembutan akhlak para pejuang di Palestina ditampilkan tidak hanya terhadap warga Muslim Palestina saja, bahkan terhadap para tawanan.

Apa buktinya? Ketika terjadi gencatan senjata antara pejuang Palestina dengan Israel, ada kesepakatan tukar guling. Penukaran tawanan untuk dikembalikan. Pejuang Palestina harus melepaskan 50 tawanan, dan Israel melepaskan 150 tawanan.

Yang menarik dan menjadi perhatian publik adalah cara-cara yang ditampilkan dalam penukaran sandera itu. Ketika menyerahkan 50 tawanan kepada ICRC atau Palang Merah Internasional, para pejuang Palestina memperlakukan para sandera seperti kerabat, anak, bahkan orangtua mereka sendiri.

Hal itu diamini oleh mayoritas tawanan yang telah dilepaskan pejuang Palestina. Beberapa tawanan malah melambaikan tangan, seperti melambaikan tangan kepada keluargnya ketika hendak pergi untuk waktu yang lama. Ini membuktikan bahwa mereka merasa aman dan nyaman meski menjadi sandera pejuang Palestina.

Kejadian kontras malah terlihat di pihak Israel, di mana mereka justru mengerahkan militer untuk membubarkan keluarga sandera yang hendak menjemput sanak saudaranya yang baru dibebaskan.

Mereka para keluarga sandera justru ditembak dengan gas air mata, sehingga kericuhan terjadi membuat suasana tidak kondusif. Israel telah menunjukkan kepada kita semua bagaimana watak asli mereka. Pun, pejuang Palestina telah menghidupkan kembali akhlak mulia Khalifah Umar yang sangat dirindukan umat Islam.

Terima kasih, para pejuang Palestina. Kalian telah memperlihatkan akhlak mulia dari Khalifah Umar yang kami rindukan. Terima kasih, kalian juga telah memperlihatkan keburukan akhlak dari kaum yang dulu mengkhianati Rasulullah di Madinah. (A/R2/RS3)

Mi’raj News Agency (MINA)