Ketua AWG Lampung: Mujahid Pembebas Al-Aqsa Jangan Melempem

Al-Muhajirun, Lampung Selatan, MINA – “20 tahun Intifada Al-Aqsa, Mujahid pembebas Al-Aqsa jangan melempem,” demikian ditegaskan Ketua Al-Aqsa Working Group (AWG) Biro Lampung, Rustam Effendi saat diwawancarai MINA, Senin, (28/9) di Lampung.

Menurutnya perjuangan pembebasan Masjid Al-Aqsa bukan perjuangan jangka pendek namun jangka panjang yang memerlukan tenaga dan biaya yang tidak sedikit.

“Karenanya kita perlu Istiqomah jangan melempem, di tengah kesibukan dan kekurangan, kita tetap harus perhatikan saudara kita di Palestina,” tegasnya.

Lebih lanjut Rustam menghimbau umat Islam untuk meningkatkan perhatian terhadap kiblat pertama umat Islam ini.

“Zionis Yahudi semakin masif berupaya untuk merobohkan Masjid Al-Aqsa, karenanya kita harus punya upaya yang jauh lebih masif dibandingkan dengan mereka,” katanya.

Rustam juga menekankan pentingnya memfokuskan perjuangan untuk membebaskan Masjidil Aqsa.

“Kita tahu banyak permasalahan umat baik di internal umat Islam Indonesia juga di berbagai belahan dunia lain, namun fokus perjuangan kita tetap satu yaitu terbebasnya Baitul Maqdis dari cengkraman Zionis,” katanya.

Rustam mengutip sebuah teori yang disebut dengan teori Heartland.

“Orang Yahudi percaya untuk menguasai dunia harus terlebih dahulu menguasai Palestina. karenanya pusat kedamaian dunia ada di Palestina,” katanya.

Artinya kedamaian di dunia akan terwujud ketika ada kedamaian di Palestina.

“Itulah sebabnya kita perlu memfokuskan upaya untuk menciptakan kedamaian di Palestina dengan mengembalikan Masjid Al-Aqsa kepangkuan kaum muslimin,” katanya.

Kalau Zionis Yahudi diibaratkan seperti gurita, maka kepala guritanya saat ini sedang berusaha menguasai Palestina.

“Meski tentakelnya ada di mana-mana termasuk di Indonesia ini tapi fokus umat Islam haruslah memotong kepalanya sehingga otomatis tentakelnya yang banyak itu akan mati,” katanya.

Hari ini, 28 September tahun 2000, terjadi perlawanan besar-besaran kedua Palestina, yang dikenal sebagai “Intifada Al-Aqsa”,  sebagai perlawanan rakyat Palestina terhadap aksi perluasan pemukiman ilegal Yahudi, dan pemerintah Israel yang saat itu dipimpin oleh Ehud Barak, dengan izin mantan Perdana Menteri Ariel Sharon, melakukan operasi penyerbuan ke halaman Masjid Al-Aqsa, sebagai bagian dari rencana yang bertujuan mengusai masjid tersebut.

Percikan “Intifada Al-Aqsa” meletus mengiringi kunjungan Sharon ke kompleks Masjid Al-Aqsa, konfrontasi sengit pun meletus. Orang-orang Yerusalem berhadapan dengan tentara pendudukan yang menyemprotkan peluru dan menimbulkan korban pada barisan mereka.

Tepat pada hari Jumat, warga Palestina marah besar. Orang-orang Yerusalem menanggapi penyerbuan pendudukan di halaman Al-Aqsa selama shalat Jumat, yang mengakibatkan wafatnya enam syuhada di halaman Al-Aqsa, dan ratusan luka-luka lainnya. (L/R12/B03/P1)

Mi’raj News Agency (MINA).