Keuntungan Amal Shalih Dunia Akhirat

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Kita sering mendengar kata amal shalih. “Kita di sini beramal shalih”. “Amal Shalih tana gaji”, dan seterusnya.

Padahal, makna amal shalih sangat mulia, yaitu segala kegiatan, pekerjaan, atau aktivitas dalam agama Islam yang dilakukan secara benar dan ikhlas karena Allah serta mengikuti sunnah Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasalam.

Syaikh Abdurrahman As-Sa’diy menjelaskan, dinamakan amal shalih karena dengan sebab amal shalih keadaan urusan dunia dan akhirat seorang hamba Allah akan menjadi baik dan akan hilang seluruh keadaan- keadaannya yang rusak.

Dengan amalan yang baik tersebut seseorang akan termasuk golongan orang yang shalih yang pantas bersanding di tempat terhormat di dalam surga Allah Yang Maha Pengasih.

Allah pun memberikan ‘gaji’ atau ‘upah’ bagi orang-orang yang beramal shalih dengan “kehidupan yang baik” dan “pahala yang lebih”.

Bagaimana tidak disebut dengan gaji yang tinggi jika Allah sudah menyebut mereka yang beramal shalih dengan “Kehiduoan yang baik” (hayaatan thayyibatan).

Allah menyebut di dalam firman-Nya:

مَنۡ عَمِلَ صَـٰلِحً۬ا مِّن ذَڪَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٌ۬ فَلَنُحۡيِيَنَّهُ ۥ حَيَوٰةً۬ طَيِّبَةً۬‌ۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا ڪَانُواْ يَعۡمَلُونَ

Artinya: “Barangsiapa yang beramal shalih, dari lelaki atau perempuan, sedang dia beriman, maka sesungguhnya Kami akan menghidupkan dia dengan kehidupan yang baik dan sesungguhnya Kami akan membalas mereka, dengan memberikan pahala yang lebih dari apa yang mereka telah kerjakan”. (Q.S. An-Nahl [16]: 97).

Ibnu Katsir di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah Ta’ala memberikan janji bagi orang-orang yang melakukan amal shalih, apakah dia laki-laki atau perempuan dari umat manusia, dan dia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan amal yang diperintahkan di sini adalah sesuatu yang memang disyariatkan dari sisi Allah. Maka Allah akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik di dunia dan akan membalasnya di akhirat dengan balasan yang lebih baik dari apa yang telah dilakukannya.

Pada ayat lain Allah menyatakan tentang pentingnya amal shalih ini dalam firman-Nya:

فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلاً۬ صَـٰلِحً۬ا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦۤ أَحَدَۢا (١١٠)

Artinya: “Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhan-nya hendaklah dia melakukan amal shalih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabb-nya dengan sesuatu apapun”. (QS Al-Kahfi [18]: 110)

Keuntungan Amal Shalih

Adapun keuntungan secara lebih luas lagi dari amal shalih, di dalam Al-Qur’an banyak diuraikan, baik dampak di dunia maupun di akhirat. Di antaranya adalah :

  1. Mendapatkan kehidupan yang baik dunia akhirat. (QS An-Nahl [16]: 97).
  2. Mendatangkan rezeki yang baik (QS Al-Hajj [22]: 50).
  3. Meningkatkan derajat ke tempat yang tinggi (QS Thaha [20]: 75).
  4. Mendatangkan keberuntungan (QS Al-Qashash [28]: 67).
  5. Menegakkan keadilan (QS Yunus [10]: 4).
  6. Mengeluarkan dari kegelapan (QS At-Talaq [65]: 11).
  7. Menumbuhkan rahmat dan kasih sayang (QS Al-Jasiyah [45]: 30).
  8. Menghilangkan perasaan takut (QS Thaha [20]: 112).
  9. Mendapatkan pahala yang cukup (QS Alli ‘Imran [3]: 57).
  10. Mendapatkan ampunan Ilahi (QS Fathir : 57).
  11. Mendapatkan balasan kehidupan di surga (QS Al-Mu’minun [23]: 40).

Bagi seorang da’i, penulis atau jurnalis/wartawan, jika ia maksudkan kegiatannya itu untuk beramal shalihm karena Allah, tentu ia akan dengan sepenuh jiwa menuntaskan semua kegiatannya demi tercapainya tujuan mulia.  Sehingga tercapailah keadilan, manusia manusia keluar dari kegelapan, hilangnya perasaan takut, tercerahkannya pikiran, dan mendapatkan balasan kehidupan utama di surga.

Visi dan orientasi utamanya adalah ganjaran di akhirat, bukan materi dunia yang sebentar saja. Dan pemberian Allah kepadanya, akan sangat tergantung seberapa maskimal ia beramal shalih dan seberapa penuh ia sandarkan dan tawakkalkan hanya kepada Allah. Allah pun tidak mengantuk apalagi tidur.

Oleh karena itu, setiap kita beramal shalih, mestilah senantiasa didasari dengan niat yang suci dan ikhlas. Ia tidak mengharapkan pujian, kedudukan duniawi, dan keuntungan lain-lainnya. Sehingga, kondisi fisik dan lingkungan, keadaan diri dan keluarga, susana hati dam pikiran, walaupun sempat sedikit mengguncangnya. Tidak berapa lama pun, ia akan kembali beramal shalih. Sebab ia beramal bukan karena orang, benda, suasana apalagi nafsu. Tapi karena Allah.

Di samping itu juga mengerjakan amal shalih itu dengan penuh daya upaya, penuh dengan kreasi, pantang menyerah, tidak mudah malas dan tidak suka mengeluh.

Maka sungguh beruntung menjadi orang-orang yang gemar beramal shalih, sehingga ia dijuluki Allah sebagai shalihin dan shalihat, yaitu orang-orang yang selalu berbuat kebaikan, rajin ibadah, dan menebar manfaat bagi orang lain dan lingkungannya.

Betapa tidak, selain dicintai Allah dan para malaikat-Nya, setiap waktu shalat,  jutaan umat Islam senantiasa menyebut dan mendoakannya dalam shalatnya.

Orang-orang yang suka beramal shalih didoakan oleh orang-orang yang shalat, dalam doa tahiyat, “assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish shaalihiin”. (Semoga keselamatan dicurahkan kepada kami dan hamba-hamba Allah yang shalih).

Banyak sekali karunia dan nikmat yang telah Allah berikan kepada kita karena amal shalih kita. Maka jangan sampai kita digeser dan bergeser dari amal shalih. kalau tidak akan digantikan oleh orang lain yang Allah lebih ridha dan dia meridhai-Nya. (QS Al-Maidah 55).

Semoga kita dapat istiqamah dalam beramal shalih karena Allah semata, di mana pun, kapan pun dan dalam keadaaan bagaimana pun jua. (RS2/P1).

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)