Keutamaan Bulan Sya’ban Menjelang Ramadhan

Oleh Ali Farkhan Tsani, Da’i Ponpes Al-Fatah Cileungsi, Bogor, Jawa Barat

Bulan Sya’ban memiliki beberapa keutamaan, di antaranya bulan tersebut adalah persiapan menjelang kehadiran bulan puasa Ramadhan. Di antara amalan yang utama di bulan ini adalah memperbanyak puasa sunnah.

Hal ini antara lain seperti disebutkan dari Usamah bin Zaid, berkata, “Katakanlah wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa selama sebulan dari bulan-bulannya selain di bulan Sya’ban”. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam lalu menjawab:

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Artinya: “Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai, yaitu bulan di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Tuhan semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR An Nasa’i. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Ibnu Rajab menjelaskan, “Dalam hadits ini terdapat dalil mengenai dianjurkannya melakukan amalan ketaatan di saat manusia lalai. Inilah amalan yang dicintai di sisi Allah.”

Pada hadits lain dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, mengatakan,

فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ

Artinya: “Aku pun tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Pada hadits lainnya ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha juga mengatakan,

لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

Artinya: “Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Imam Asy-Syaukani mengatakan bahwa riwayat-riwayat tersebut bisa dikompromikan bahwa yang dimaksud dengan kata “kullu” (seluruhnya) adalah kebanyakan. Dalam bahasa Arab disebut berpuasa pada kebanyakan hari dalam satu bulan dapat dikatakan dengan dikatakan berpuasa pada seluruh bulan.

Karena itu, Imam An-Nawawi dalam Syarah Muslim menyebutkan, para ulama mengatakan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak menyempurnakan berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan agar tidak disangka puasa selain Ramadhan adalah wajib.

Di antara rahasia atau hikmah mengapa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam banyak berpuasa di bulan Sya’ban adalah karena puasa Sya’ban adalah ibarat ibadah rawatib (ibadah sunnah yang mengiringi ibadah wajib). Sebagaimana shalat rawatib adalah shalat yang memiliki keutamaan karena dia mengiringi shalat wajib, sebelum atau sesudahnya, demikianlah puasa Sya’ban.

Secara fisik juga dianggap sebagai latihan atau dalam olahraga disebut dengan pemanasan sebelum pertandingan. Juga mengingatkan kepada mereka yang memiliki hutang puasa Ramadhan tahun lalu, agar membayar puasanya pada bulan Sya’ban. Seperti isteri Nabi, ‘Aisyah, pernah mempunyai hutang puasa Ramadhan sebelumnya, dan membayarnya pada bulan Sya’ban, saat suaminya juga memperbanyak puasa di dalamnya.

Di dalam kitab Lathoif Al-Ma’arif disebutkan, memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban adalah sebagai latihan sebelum memasuki bulan Ramadhan. Jika seseorang sudah terbiasa berpuasa sebelum puasa Ramadhan, tentu dia akan lebih kuat dan lebih bersemangat untuk melakukan puasa wajib di bulan Ramadhan.

Semoga Allah selalu membimbing kita dalam memperibadati-Nya, khususnya dalam melalui bulan Sya’ban ini menuju bulan suci Ramadhan. Semoga juga kita dijauhkan dari wabah virus corona, sehingga dapat melaksanakan ibadah dengan sebaik-baiknya. Aamiin. (A/RS2/RS3)

Mi’raj News Agency (MINA)