BULAN Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, ampunan, dan rahmat dari Allah subhanahu wata’ala. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu malam Lailatul Qadar. Memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan kualitas ibadahnya, salah satunya dengan melaksanakan i’tikaf di masjid.
I’tikaf secara bahasa berarti berdiam diri atau menetap. Secara istilah syariat, i’tikaf adalah berdiamnya seseorang di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata’ala, disertai dengan tata cara tertentu. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sendiri tidak pernah meninggalkan i’tikaf selama sepuluh hari terakhir Ramadhan sejak beliau tiba di Madinah hingga wafatnya. Ini menunjukkan betapa besar keutamaan ibadah ini.
Salah satu keutamaan terbesar i’tikaf adalah mengikuti sunnah Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam yang sangat istimewa. Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan:
“Bahwa Nabi SAW biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian istri-istri beliau beri’tikaf setelah beliau wafat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global
Dengan beri’tikaf, kita telah menghidupkan sunnah yang terus dijaga oleh para istri Nabi dan para sahabat setelahnya. Mendapatkan pahala karena mengikuti jejak Rasulullah adalah keutamaan yang tidak ternilai.
Tujuan utama i’tikaf di sepuluh hari terakhir adalah untuk meraih malam Lailatul Qadar. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Qadr ayat 1-3:
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
Malam Lailatul Qadar disembunyikan oleh Allah di antara malam-malam sepuluh terakhir, khususnya pada malam-malam ganjil. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
“Carilah Lailatul Qadar di (malam) ganjil dari sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)
Dengan beri’tikaf, seorang muslim tidak akan melewatkan malam istimewa ini meskipun ia tidak tahu persis kapan datangnya, karena ia senantiasa berada dalam ibadah sepanjang malam.
I’tikaf adalah sarana efektif untuk “mengasingkan diri” dari hiruk-pikuk dunia dan fokus beribadah kepada Allah. Selama i’tikaf, seorang muslim dapat memperbanyak shalat sunnah, membaca dan mentadabburi Al-Quran, merenungi makna-maknanya, berdoa dan berdzikir, memohon ampunan dan kebaikan dunia akhirat dan muhasabah atau introspeksi diri atas segala kekurangan selama ini.
Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi
Suasana masjid yang tenang dan jauh dari gangguan duniawi memudahkan hati untuk khusyuk dan fokus bermunajat kepada Sang Khalik.
Kesibukan dunia seringkali membuat hati kita keras dan lalai. I’tikaf menjadi momentum untuk membersihkan jiwa. Dengan menyendiri bersama Allah, hati menjadi lembut kembali, kesadaran akan dosa semakin besar, dan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik pasca Ramadhan semakin kuat.
Ini adalah waktu untuk “me-reset” diri, melepaskan beban pikiran duniawi, dan mengisi ulang energi spiritual.
Orang yang beri’tikaf termasuk dalam golongan yang tekun beribadah di masjid. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa malaikat akan bershalawat (mendoakan) kepada seseorang selama ia berada di tempat shalatnya selama tidak berhadats.
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang Mengikat Hati Orang Beriman
Selain itu, i’tikaf juga mendatangkan keberkahan dalam hidup. Waktu yang dihabiskan di masjid akan melahirkan ketenangan batin yang berdampak positif pada kehidupan sehari-hari setelah Ramadhan berlalu.
I’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah kesempatan emas yang sayang untuk dilewatkan. Di saat orang lain sibuk dengan persiapan menyambut hari raya secara fisik, seorang mu’takif (orang yang beri’tikaf) justru sibuk mempersiapkan jiwanya untuk meraih predikat takwa, tujuan utama dari puasa Ramadhan.
Mari kita manfaatkan sisa waktu Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya. Jika mampu, luangkanlah waktu untuk beri’tikaf di masjid. Jika tidak memungkinkan untuk penuh sepuluh hari, sempatkanlah beberapa jam di malam hari. Yang terpenting adalah niat dan usaha kita untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita di bulan Ramadhan, mempertemukan kita dengan malam Lailatul Qadar, dan menjadikan kita termasuk hamba-Nya yang bertakwa. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. []
Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic