Keutamaan Mencari Ilmu

Oleh Zaenal Muttaqin, wartawan MINA

Allah SWT berfirman:

وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا

“Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” (QS Thoha: 114)

Belajar atau yang lazim disebut dengan menuntut ilmu merupakan perkara wajib dalam ajaran Islam. Bahkan kewajiban menuntut ilmu ini sejak lahir hingga mati. Seperti disebutkan dalam hadits yang tidak asing lagi yakni:

أُطْلُبِ الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إِلَى الَّلحْدِ

”Carilah ilmu sejak dari buaian hingga ke liang lahat”. (Al Hadits)

Disebutkan pula bahwa ilmu itu sebelum amal (العلم قبل العمل). Sehingga siapa yang beramal tanpa ilmu, amalnya ditolak, bahkan akan disiksa sebelum penyembah berhala disiksa.

Seperti disebutkan di atas bahwa ilmu itu harus dicari. Sebab, orang yang mencari sesuatu harus mengetahui apa yang dicari. Kemudian sesuatu yang dicari itu biasanya karena penting dan jika ingin mendapat apa yang dicari harus serius.

Pengertian ilmu sendiri terbagi menjadi dua macam, baik itu secara bahasa ataupun secara istilah. Yaitu, Ilmu secara bahasa اَلْعِلْمُ (al-‘ilmu), maksudnya adalah mengetahui sesuatu hal sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, disertai dengan pengetahuan yang pasti. Lawan dari ilmu adalah اَلْجَهْلُ (al-jahl atau kebodohan)

Kedua arti ilmu secara istilah yang dijelaskan oleh sebagian ulama bahwa ilmu merupakan pengetahuan (ma’rifah) sebagai lawan dari al-jahl (kebodohan). Sedangkan menurut ulama lainnya ilmu itu lebih jelas dari apa yang diketahui.

Apa Itu Ilmu

Ilmu adalah kunci segala kebaikan. Ilmu merupakan sarana untuk menunaikan apa yang Allah wajibkan pada kita. Tak sempurna keimanan dan tak sempurna pula amal kecuali dengan ilmu. Dengan ilmu Allah disembah, dengannya hak Allah ditunaikan, dan dengan ilmu pula agama-Nya disebarkan.

Kebutuhan pada ilmu lebih besar dibandingkan kebutuhan pada makanan dan minuman, sebab kelestarian urusan agama dan dunia bergantung pada ilmu. Imam Ahmad mengatakan, “Manusia lebih memerlukan ilmu daripada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman hanya dibutuhkan dua atau tiga kali sehari, sedangkan ilmu diperlukan di setiap waktu.”

Namun, yang dimaksud dengan kata ilmu di sini adalah ilmu syar’i. Yaitu ilmu yang akan menjadikan seorang mukallaf mengetahui kewajibannya berupa masalah-masalah ibadah dan muamalah, juga ilmu tentang Allah dan sifat-sifatNya, hak apa saja yang harus dia tunaikan dalam beribadah kepada-Nya, dan mensucikan-Nya dari berbagai kekurangan.

Keuntungan Menuntut Ilmu

Sedikitnya ada 10 keuntungan bagi orang yang mencari atau menuntut ilmu. Yakni: Ilmunya akan bertambah. Memudahkan jalan ke surga. Mensyukuri nikmat akal. Memperkuat agama. Mendakwahkan Islam. Akan diampuni dosanya. Mendapatkan naungan sayapnya malaikat. Menyambung silaturahim. Mendapatkan rahmat Allah. Memanfaatkan waktu secara maksimal.

Ilmunya Akan Bertambah

Orang yang mau mencari ilmu sudah pasti akan bertambah ilmunya dan orang yang bertambah ilmunya biasanya akan bertambah bijak dan arif budi pekertinya. Ada tiga tahapan dalam menuntut ilmu menurut Umar Bin Khattab: “Ilmu ada tiga tahapan. Jika seorang memasuki tahapan pertama, ia akan sombong. Jika ia memasuki tahapan kedua ia akan tawadhu’. Dan jika ia memasuki tahapan ketiga ia akan merasa dirinya tidak ada apa-apanya”.

Memudahkan Jalan ke Surga

Disebutkan dalam hadits:

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang meniti suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan untuknya jalan menuju Surga”.

Berjalan menuntut ilmu, mempunyai dua makna: Pertama, menempuh jalan dengan arti yang sebenarnya, yaitu berjalan kaki menuju majelis-majelis ilmu. Kedua, menempuh jalan (cara) yang mengantarkan seseorang untuk mendapatkan ilmu seperti menghafal, belajar dengan sungguh-sungguh, membaca, menela’ah kitab-kitab, menulis, dan berusaha untuk memahami apa-apa yang dipelajari. Serta cara-cara lain yang dapat mengantarkan seseorang untuk mendapatkan ilmu.

Allah akan memudahkan jalannya menuju Surga, mempunyai dua makna. Pertama, Allah akan memudah-kan memasuki surga bagi orang yang menuntut ilmu yang tujuannya untuk mencari wajah Allah, untuk mendapatkan ilmu, mengambil manfaat dari ilmu syar’i dan mengamalkan konsekuensinya.

Kedua, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga pada hari Kiamat ketika melewati “shirath” dan dimudahkan dari berbagai ketakutan yang ada sebelum dan sesudahnya. Wallaahu a’lam.

Mensyukuri Nikmat Akal

Manusia diberi anugerah oleh Allah SWT berupa akal pikiran, di mana dengan akal pikiran tersebut manusia bisa berpikir tentang berbagai hal, dan selalu berkembang dari setiap masanya. Dengan akal pikiran pula manusia bisa menyelesaikan banyak permasalahan sehingga pantas jika manusia dijadikan Allah SWT, sebagai kholifah atau pemimpin di muka bumi ini.

Salah satu cara mensyukuri nikmat akal tersebut adalah menggunakanya untuk mengenal dan mendekat kepada sang pencipta dengan jalan tafakkur atau berpikir. Orang yang mencari ilmu tentu akan berpikir untuk mengerti apa yang dipelajari.

Memperkuat Agama

Allah SWT berfirman:

وَمِنَ النَّا سِ مَنْ يُّجَا دِلُ فِى اللّٰهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَّلَا هُدًى وَلَا كِتٰبٍ مُّنِيْرٍ ۙ 

“Dan di antara manusia ada yang berbantahan tentang Allah tanpa ilmu, tanpa petunjuk, dan tanpa Kitab (wahyu) yang memberi penerangan”. (QS. Al-Hajj 22: Ayat 8)

Ilmu di dunia ini segalanya milik Allah. Yang benar adalah milik Allah, meski manusia kadang tidak menangkapnya secara seksama dalam kehidupan sehari-hari. Membaca ilmu pengetahuan dan mempelajarinya akan membuat kita semakin tunduk dan takjub, karena ilmu manusia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang Allah miliki.

Ilmu manusia hanya setetes dari luasnya samudera. Hal ini karena Islam dan ilmu pengetahuan tentu saling mendukung bukan bersebrangan.

Mendakwahkan Islam

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (An-Nahl/16:125)

Di antara pengertian dari arti kata hikmah adalah ilmu. Ibnu Katsîr berkata dalam tafsirnya: “Dalam ayat ini Allah Azza wa Jalla memerintahkan Rasul-Nya, Muhammad agar menyeru manusia kepada agama Allah Azza wa Jalla dengan cara hikmah.”

Firman Allah Azza wa Jalla , “Dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” yakni, apabila perlu dilakukan dialog dan tukar pikiran, hendaklah dilakukan dengan cara yang baik, lemah lembut dan dengan tutur kata yang baik. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla dalam ayat yang lain:

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zhalim di antara mereka.” (al-Ankabût/29:46)

Ini merupakan landasan penting yang wajib dipegang oleh setiap juru dakwah pada zaman sekarang ini dalam mengajak manusia kepada agama Allah Azza wa Jalla. Sebab, lemah lembut dalam berdakwah disertai pengajaran yang baik, jauh dari sikap congkak dan tidak mengklaim secara serampangan orang yang berseberangan dengan vonis fasik atau kafir.

Akan Diampuni Dosanya

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَطْلُبُ فِيْهِ عِلْمًا سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْـجَنَّةِ وَإِنَّ الْـمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّهُ لَيَسْتَغْفِرُ لِلْعَالِـمِ مَنْ فِى السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ حَتَّى الْـحِيْتَانُ فِى الْـمَاءِ وَفَضْلُ الْعَالِـمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ. إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ لَـمْ يَرِثُوا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرَثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Barangsiapa yang berjalan menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya Malaikat akan meletakkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya seorang yang mengajarkan kebaikan akan dimohonkan ampun oleh makhluk yang ada di langit maupun di bumi hingga ikan yang berada di air. Sesungguhnya keutamaan orang ‘alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar tidak juga dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Dan barangsiapa yang mengambil ilmu itu, maka sungguh, ia telah mendapatkan bagian yang paling banyak.”

Mendapatkan Naungan Sayapnya Malaikat

Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikeliling para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.” (HR. Muslim).

Menyambung Silaturahim

Mencari ilmu yang biasanya juga dilakukan melalui majelis-majelis ilmu akan bertemu dengan pencari ilmu yang lainnya sehingga akan terjalin silaturahmi. Silaturahmi merupakan faktor yang dapat menjadi penyebab umur panjang dan banyak rizki. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”. (Muttafaqun ‘alaihi).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُولُ مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللَّهُ

“Ar-rahim itu tergantung di Arsy. Ia berkata: “Barang siapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang memutusku, maka Allah akan memutus hubungan dengannya”. (Muttafaqun ‘alaihi).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa menyambung silaturahmi lebih besar pahalanya daripada memerdekakan seorang budak.

Mendapatkan Rahmat Allah

Dalam Al-Qur’an disebutkan:

إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56)

Dalam hadits Salman disebutkan bahwa ada orang yang berdzikir pada Allah, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat ketika itu, beliau pun bersabda:

مَا كُنْتُمْ تَقُوْلُوْنَ ؟ فَإِنِّي رَأَيْتُ الرَّحْمَةَ تَنْزِلُ عَلَيْكُمْ ، فَأَحْبَبْتُ أَنْ أُشَارِكَكُمْ فِيْهَا

“Apa yang kalian ucapkan? Sungguh aku melihat rahmat turun di tengah-tengah kalian. Aku sangat suka sekali bergabung dalam majelis semacam itu.” (HR. Al-Hakim).

Memanfaatkan Waktu Secara Maksimal

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan pentingnya memanfaatkan waktu, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”. (HR Bukhari).

Hadits yang mulia ini memberitakan bahwa waktu luang adalah nikmat yang besar dari Allâh Ta’ala, tetapi banyak manusia tertipu dan mendapatkan kerugian terhadap nikmat ini. (A/B05/RS3)

Dari berbagai sumber.

Mi’raj News Agency (MINA)