Kewajiban dan Strategi Dakwah di Era Globalisasi (Oleh: Ir. Agus Priyono, M.S.)*

Oleh: Ir. Agus Priyono, M.S.; Amir Majelis Dakwah Pusat Jama’ah Muslimin (Hizbullah)

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung (QS. Ali Imron: 104).

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah (QS. Ali Imron: 110).

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik (QS. an-Nahl: 125)

Islam adalah ajaran Allah yang sempurna dan diturunkan untuk mengatur kehidupan individu dan masyarakat (berjama’ah). Akan tetapi, kesempurnaan ajaran Islam hanya merupakan ide dan angan-angan saja jika ajaran yang baik itu tidak disampaikan kepada manusia. Lebih-lebih jika ajaran itu tidak diamalkan dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, dakwah merupakan suatu aktifitas yang sangat penting dalam keseluruhan ajaran Islam. Dengan da’wah, Islam dapat diketahui, dihayati, dan diamalkan oleh manusia dari generasi ke generasi berikutnya. Sebaliknya, tanpa da’wah terputuslah generasi Islam dan selanjutnya Islam akan lenyap dari permukaan bumi. Wallahu a’lam.

Da’wah merupakan kewajiban bagi setiap muslim, sebagaimana sabda Rasulullah. ”Siapa pun yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya, kalau tidak mampu, hendaklah mengubah dengan lisannya, kalau tidak mampu hendaklah mengubah dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman.” (HR. Bukhori Muslim).

Dakwah Islam bertugas memfungsikan kembali indra keagamaan manusia yang memang telah menjadi fikri asalnya, agar mereka dapat menghayati tujuan hidup yang sebenarnya untuk berbakti dan tunduk kepada Allah. Dengan demikian, perlu usaha mendakwahkan ajaran Islam kepada manusia melalui strategi, metode dan sistem yang relevan dengan mempertimbangkan aspek masyarakatnya. Sebelum membahas konsep dakwah ke depan, perlu kita mengkaji dan mengambil hikmah strategi dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini.

Strategi Dakwah Rasulullah

Dakwah Rasulullah ﷺ sejak di Mekkah diawali dengan penanaman nilai-nilai akidah (tauhid), persamaan derajat dan hak-hak manusiawi yang pada saat itu terabaikan, di tengah peradaban jahiliyyah. Dakwah Islam ternyata bukan sekedar menyampaikan wahyu Allah, melainkan tujuan lanjutnya adalah menanamkan keyakinan dan membangun peradaban yang benar, peradaban Islam.

Islam sejatinya adalah Din yang telah memiliki konsep sebagai peradaban. Di dalam istilah Din ini terdapat suatu sistem yang disebut oleh Dr. Hamid Fahmi sebagai sistem kehidupan. Ketika Din (agama) Allah dilaksanakan dan dipenuhi pada suatu tempat maka tempat itu disebut sebagai Madinah. Lalu dari kedua kata Din dan Madinah muncul akar kata baru yaitu madana, dari akar kata madana inilah lahir kata benda tamaddun yang berarti peradaban (civilization). Sejak hijrah ke Madinah, Rasulullah mulai leluasa menata strategi membina peradaban Islami bersama para sahabat beliau, khususnya kaum Muhajirin dan kaum Anshor.

Strategi Dakwah Rasulullah (Periode Madinah)

Yusuf Qardhawi mengatakan, sesungguhnya Islam sejak pertama kali datang telah membawa visi dan misi peradaban yang tidak diragukan lagi. Tujuannya adalah untuk meningkatkan mutu kehidupan manusia dan mengeluarkannya dari kekolotan dan kebodohan (kejahiliyahan) menuju kecerdasan dan kemajuan. Cita-cita Nabi Muhammad untuk mengembangkan peradaban Islam menemukan momentumnya yang tepat ketika beliau hijrah ke Madinah. Nabi mulai membentuk masyarakat baru dan meletakkan dasar-dasar untuk membangun masyarakat dan peradaban Muslim yang besar. Dasar-dasar pembentukan masyarakat Muslim yang menjadi cikal bakal pembentukan masyarakat madani itu dibangun oleh Nabi Muhammad dengan cara:

  1. Membangun Masjid

Masjid yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah di Madinah ialah Masjid Quba, yang berjarak ± 5 km, sebelah barat daya Madinah. Masjid Quba ini dibangun pada tanggal 12 Rabiul Awal Thn-1 H (20 September 622 M). Setelah Rasulullah ﷺ menetap di Madinah, pada setiap hari Sabtu, beliau mengunjungi Masjid Quba untuk salat berjamaah dan menyampaikan dakwah Islam. Masjid kedua yang dibangun oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya ada Masjid Nabawi di Madinah.

  1. Mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar

Rasulullah bermusyawarah dengan Abu Bakar r.a. dan Umar bin Khattab r.a. mempersaudara kan antara Muhajirin dan Anshar, sehingga terwujud persatuan yang tangguh. Hasil musyawarah memutuskan agar setiap orang Muhajirin mencari dan mengangkat seorang dari kalangan Anshar menjadi saudaranya senasab (seketurunan), dengan niat ikhlas karena Allah SWT. Demikian juga sebaliknya orang Anshar. Rasulullah ﷺ memberi contoh dengan mengangkat Ali bin Abu Thalib sebagai saudaranya. Apa yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dicontoh oleh seluruh sahahatnya misalnya:

  • Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah ﷺ, bersaudara dengan Zaid bin Haritsah, mantan hamba sahaya, yang kemudian dijadikan anak angkat Rasulullah ﷺ.
  • Abu Bakar Ash-Shiddiq, bersaudara dengan Kharizah bin Zaid.
  • Umar bin Khattab bersaudara dengan Itban bin Malik Al Khazraji (Anshar).
  • Utsman bin Affan bersaudara dengan Aus bin Tsabit.
  • Abdurrahman bin Auf bersaudara dengan Sa’ad bin Rabi (Anshar).
  1. Perjanjian Taawun Muslim-non muslim

Pada waktu Rasulullah ﷺ menetap di Madinah, penduduknya terdiri dari tiga golongan, yaitu umat Islam, umat Yahudi (Bani Qainuqa, Bani Nazir dan Bani Quraizah), dan orang-orang Arab yang belum masuk Islam. Rasulullah ﷺ membuat perjanjian dengan penduduk Madinah non-Islam dan tertuang dalam Piagam Madinah. Isi Piagam Madinah itu antara lain:

  • Setiap golongan dari ketiga golongan penduduk Madinah memiliki hak pribadi, keagamaan dan politik. Sehubungan dengan itu setiap golongan penduduk Madinah berhak menjatuhkan hukuman kepada orang yang membuat kerusakan dan memberi keamanan kepada orang yang mematuhi peraturan.
  • Setiap individu penduduk Madinah mendapat jaminan kebebebasan beragama.
  • Seluruh penduduk Madinah yang terdiri dan kaum Muslimin, kaum Yahudi, dan orang-orang Arab yang belum masuk Islam sesama mereka hendaknya saling membantu dalam bidang moril dan materil. Apabila Madinah diserang musuh, maka seluruh penduduk Madinah harus bantu-membantu dalam mempertahankan Kota Madinah.
  • Rasulullah ﷺ adalah pemimpin seluruh penduduk Madinah. Segala perkara dan perselisihan yang terjadi di Madinah harus diajukan kepada Rasulullah ﷺ untuk diadili sebagaimana mestinya. Sepeninggal beliau, kepemimpinan umat Islam dilanjutkan para Khalifah, Khulafaur Rasyidin al-mahdiyyin.
  1. Meletakkan Dasar Siyasah, Ekonomi, dan Sosial

Demi terwujudnya masyarakat Madani, Islam tidak hanya mengajarkan bidang akidah dan ibadah, tetapi mengajarkan juga bidang siyasah/politik, ekonomi, dan sosial, yang kesemuanya dalam bingkai Al Qur’an dan As-Sunnah. Rasulullah memimpin umat secara langsung dengan menerapkan asas musyawarah. Dalam bidang ekonomi Rasulullah ﷺ telah meletakkan dasar bahwa sistem ekonomi Islam bebas riba, fair dan saling menguntungkan, sehingga menjamin terwujudnya keadilan sosial. Dalam bidang sosial kemasyarakatan, Rasulullah ﷺ telah meletakkan dasar antara lain adanya persamaan derajat di antara semua individu, semua golongan, dan semua bangsa. Sesuatu yang membedakan derajat manusia ialah amal salehnya atau hidupnya yang bermanfaat (lihat QS. Al-Hujurat: 13). Hal-hal inilah sebagai dakwah bil haal.

Tantangan Dakwah di Era Globalisasi

Milenium ketiga, era globalisasi yang ditandai dengan ketegangan perang peradaban, karena kehawatiran munculnya tandingan peradaban terhadap barat. Inilah sebabnya yang menjadi salah satu alasan, mengapa Amerika meluluh lantahkan pusat-pusat munculnya peradaban Islam masa lalu. Sikap tersebut berlatar belakang pada analisa Samuel P.Huntington yang menyatakan akan munculnya bentrokan antar-peradaban sebagai pengganti perang ideologi yang ditandai dengan runtuhnya ideologi komunis. Alasan lain barat bernafsu menguasai Islam di timur adalah karena kekhawatiran akan terjadinya semangat nasionalisme etnis, nasionalisme kultural, kekeluargaan keagamaan, yang akan mengancam kepentingan barat untuk menjaga hegemoni peradabannya. Dalam kerangka-kerangka itulah, maka barat selalu mewaspadai Islam dan kekuatan timur lain, yang oleh barat dipandang sebagai kekuatan peradaban tandingan, yang berpotensi menggusur hegemoninya di masa yang akan datang.

Tantangan-tantangan yang harus dihadapi para Dai dalam menuju suksesnya dakwah di era globalisasi tersebut adalah:

  1. Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat saat ini telah melahirkan apa yang disebut dengan era globalisasi, yaitu sebuah era yang menjadikan bumi ini ibarat sebuah desa kecil dimana semua penduduk saling mengetahui apa yang terjadi di desanya. Saat ini semua ummat manusia pada satu belahan bumi mengetahui secara persis apa yang terjadi pada belahan bumi yang lainnya, sebagai dampak positif dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan ini juga menimbulkan dampak negatif dalam kehidupan ummat manusia seperti rasa keterasingan, kecemasan, kegersangan hidup, terjadinya dekadensi moral, keretakan keluarga dan bahkan menambah jumlah penderitaan gangguan kejiwaan dan saraf.

  1. Serangan Pemikiran (Ghazwul fikri)

Kelumpuhan ummat Islam saat ini salah satunya adalah disebabkan derasnya intervensi dari luar terhadap keberadaan ummat Islam. Serangan paling deras adalah dilakukan oleh oknum-oknum atau golongan yang tidak menyukai tumbuh dan berkembangnya ummat Islam sebagai salah satu kekuatan dunia. Intervensi itu dilakukan dalam bentuk serangan pemikiran dengan mencopot akar-akar aqidah dari dalam individu dan masayarakat Muslim. Akibatnya ummat Islam lumpuh, dekadensi moral terjadi, dan ummat Islampun tidak lagi menyadari kehebatan dan kedahsyatan ajaran agamanya.

  1. Gerakan Pemurtadan

Gerakan pemurtadan terhadap kaum muslimin Indonesia cukup menghebat, diprogramkan sedemikian rupa, dengan dukungan dana yang cukup besar. Pokoknya ummat Islam Indonesia bukan hanya berhadapan dengan kaum Kristen domestik tetapi juga berhadapan dengan kaum Kristen internasional yang secara sistematis dan konsern melakukan pekabaran injil di sini.

  1. Imperialisme Budaya Asing

Sebagai salah satu akibat langsung dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui informasi dan komunikasi yang sangat dekat dengan setiap individu Muslim adalah masuknya budaya asing langsung ke dalam rumah tangga Muslim melalui media Televisi dan lain sebagainya. Akibatnya anak-anak muda generasi masa depan bangsa larut dan mencontoh budaya-budaya asing yang bertentangan dengan agama.

  1. Kehidupan Yang Permisif

Salah satu bentuk kecenderungan yang permisif ini adalah meningkatnya kasus-kasus pengguguran kandungan di kalangan perempuan dan pelajar/mahasiswi, maraknya hamil di luar nikah, dan kumpul kebo. Kecenderungan seperti ini adalah merupakan dominasi pengaruh aspek fisik (materi) pada diri mereka yang mengalahkan fithrahnya. Padahal manusia dalam fithrahnya memiliki sekumpulan unsur rohani yang luhur, yang berbeda dengan unsur-unsur badani yang ada pada binatang, tumbuhan dan benda-benda tak bernyawa. Unsur-unsur itu merupakan suatu senyawa antara alam nyata dan metafisis , antara rasa dan non rasa (materi), antara jiwa dan raga.

Selain itu, tantangan dakwah tersebut, ditambah lagi dengan kondisi tantangan jaman yang terus berkembang, antara lain:

Pertama, tantangan sosio-ekonomi yang memberi isyarat bahwa penduduk dunia sekarang berjumlah kurang lebih 6 miliyar, dimana sekitar 30 % adalah muslim, sebahagian mereka berada di negara sedang berkembang atau di belahan dunia bagian selatan.

Kedua, tantangan sain dan teknologi yang karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang, maka corak kehidupan akan terkurung dalam sistem kompleks dari business science technology, dengan tujuan menghasilkan produk lebih banyak dengan pekerja lebih sedikit. Sedangkan unsur emosional dan spiritual tidak diperhitungkan.

Ketiga, tantangan etis religious. Sebagai korban kehidupan dalam modernisasi materialis, maka konsekwensinya adalah terjadinya suatu pergeseran kemauan masyarakat dari kemauan alami (natural will) menjadi kemauan rasional (rasional will). Dalam proses perubahan ini, kehidupan emosional manusia mengalami erosi dan berlanjut pada pemiskinan spiritual.

Reformasi Strategi Dakwah

Pembaharuan strategi dakwah Islam dalam era millenium ketiga adalah agenda sosialisasi ajaran Islam yang kaaffah, sesuai tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam bingkai Khilafah Alaa Minhajin Nubuwwah. Visi dalam reformasi strategi dakwah Islamiyah antara lain:

  • Islam yang kaaffah (QS. Al-Baqarah 208).
  • Islam untuk semua (QS. Saba 28).
  • Islam rahmah bagi semesta alam (QS. Al-Anbiya 107).

Adapun Misi dakwah Jama’ah-Imamah adalah:

  1. Agar manusia hanya menyembah Allah (QS. An-Nahl: 36).
  2. Menegakkan amar ma’ruf nahi munkar (QS. Ali Imran: 110).
  3. Mendakwahkan kewajiban berjama’ah dalam mengamalkan syariah Islam (QS.Ali Imran 103).
  4. Mendakwahkan Khilafah Alaa Minhajin Nubuwwah di tengah umat (QS. An-Nisa: 59).

Strategi Dakwah Islamiyah

Strategi atau metode berarti rangkaian yang sistematis dan merujuk kepada tata cara yang sudah dibina berdasarkan rencana yang pasti, mapan, dan logis dalam melaksanakan suatu kegiatan dakwah agar tujuannya tercapai. Metode dakwah yang lazim dikenal dan diterapkan oleh Dai secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga sebagai berikut:

  • Dakwah bil-kitabah yaitu berupa buku, makalah, surat, suratkabar, spanduk, pamplet, lukisan-lukisan dan sebagainya.
  • Dakwah bil-lisan meliputi ceramah, seminar, diskusi, khutbah, saresehan, obrolan dan sebagainya.
  • Dakwah bil-hal, yaitu berupa perilaku yang sopan sesuai ajaran Islam, memelihara lingkungan, bantuan sosial, kerja bakti bersama dan lain sebagainya.

Dalam mendakwahkan tegaknya syariah Islam dalam kepemimpinan Khilafah kepada masyarakat, maka ditetapkan 6 strategi besar, yaitu:

  1. Pembinaan kader Da’i fil ardh, baik formal melalui lembaga tarbiyah serta informal melalui ta’lim/tadrib Dai di tingkat niyabah, wilayah maupun pusat.
  2. Pemetaan dan pemantauan medan dakwah fil ardh, meliputi perkembangan dunia Islam maupun peta politik dunia sebagai upaya memahami dan mengantisipasi potensi tantangan dan ancaman terhadap Islam dan muslimin dunia
  3. Pengiriman Dai/Mubaligh ke seluruh dunia
  4. Pemanfaatan media dakwah, baik cetak maupun elektronik (online) dalam rangka publikasi maupun sosialisasi visi misi Islam yang kaaffah
  5. Penyediaan pusat informasi dan komunikasi untuk mendukung kegiatan dakwah maupun pembinaan umat pada umumnya.
  6. Advokasi dalam rangka pembebasan Masjid Al-Aqsha, serta pembelaan nasib dan kepentingan muslimin di dunia.

Dakwah Fardiyah

Berdasarkan jumlah mad’u, dakwah terbagi atas: Da’wah fardiyah (individu) dan da’wah ammah/jama’i. Da’wah fardiah yaitu dakwah yang dilakukan seseorang kepada orang lain (satu orang) atau kepada beberapa orang dalam jumlah yang kecil dan terbatas. Biasanya da’wah fardiyah terjadi tanpa persiapan yang matang dan tersusun secara tertib. Termasuk kategori dakwah seperti ini adalah menasihati teman, teguran, anjuran, berdoa pada saat mengunjungi orang sakit, dan berwasiat taqwa serta kesabaran kepada orang lain.

Prof. Dr.Ali Abdul Halim Mahmud dalam bukunya “Da’wah Fardiyah: Membentuk Pribadi Muslim” mengatakan, da’wah fardiyah adalah “ajakan atau seruan ke jalan Allah yang dilakukan seorang Dai (penyeru) kepada orang lain secara perseorangan dengan tujuan memindahkan al mad’uw pada keadaan yang lebih baik dan diridhai Allah”. Sebagai komunikasi antarpersonal, da’wah fardiyah menurut Joseph A.Devito adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan antara dua orang atau di antara sekelompok kecil orang, dengan beberapa efek dan beberapa umpan balik seketika (the process of sending and receiving messages between two persons, or among a small group of persons, with some effect and some immediate feedback).

Unsur-unsur Dakwah Fardiyah

1. Kepandaian dan kecerdasan Dai

Seorang Dai harus sensitif dan cerdas. Harus jeli menangkap isyarat dan gejala yang sekecil-kecilnya sehingga cepat pula dalam merumuskan antisipasinya. Hendaklah dapat memaparkan apa saja yang ada dalam dirinya kepada ikhwah yang lain tanpa harus diketahui lawan.

2. Penuh Perhitungan dan Tidak Isti’jal

Seorang Dai harus lapang dada dalam berinteraksi dengan mad’u, sampai ia berhasil mengukur kedalaman pribadinya dan mematangkan kualitasnya yang menjadi tolok ukur di sini bukanlah kuantitas dengan mutu ala kadarnya (Sayid,2004: 77-79)

3. Lemah lembut

Seorang Dai harus berpenampilan lemah lembut dan kalem serta tidak menunjukkan watak keras dan kasar. Allah berfirman yang berisi wasiat kepada Nabi Musa dan Harun, dalam firmannya yang terdapat dalam surat Thaha: 44:

Artinya: “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut”.

Dakwah ini dapat dilakukan dimana saja pada berbagai kesempatan berbicara dan berdialog. Karena da’wah fardiyah umumnya non-formal, maka dapat dilakukan antara lain: shilaturahim door to door, dialog/nasihat perorangan, pemberian santunan materi, ajakan beribadah, ajakan ta’lim, serta ajakan kepada perbuatan-perbuatan kebaikan umumnya yang sejalan dengan tuntunan agama. Secara perorangan Dai juga bisa memberikan publikasi tertulis ataupun artikel via medsos, agar bisa dipelajari lebih dalam.

Dakwah Ammah/Jam’iyah

Da’wah ammah merupakan jenis dakwah yang dilakukan oleh seseorang dengan media lisan/elektronik/medsos yang ditujukan kepada orang banyak dengan maksud menanamkan pengaruh kepada mereka. Metode yang dipakai biasanya berbentuk khotbah (pidato), ceramah ataupun siaran radio/tv. Da’wah ini secara kuantitatif lebih menjangkau banyak mad’u dalam sekali kesempatan da’wah. Da’wah ini efektif untuk menyampaikan gagasan/sosialisasi dan informasi awal untuk memancing minat dan perhatian mad’u pada gagasan yang disampaikan Dai. Pendalaman hasil da’wah ammah sebaiknya dilanjutkan dengan da’wah fardiyah/personal kepada mad’u agar lebih intensif dan mendalam. Maka pada dasarnya da’wah ammah dan da’wah fardiyah itu saling melengkapi.

Sedangkan da’wah jam’iyah adalah dakwah yang bersifat kolektif, dilakukan secara bersama atau tim Dai yang melaksanakan kegiatan dakwah. Tim tersebut bisa merupakan sebuah tim delegasi, tim diskusi, tim shilaturahim dll, dapat pula berbentuk kelembagaan (majlis) dakwah khusus, lembaga bantuan sosial kemanusiaan dan pembelaaan hak-hak muslim lainnya. Aktifitas dakwah ini mencerminkan bagian penting strategi kelembagaan yang membina umat dalam mengamalkan amal-amal jama’i, khususnya da’wah Jamaah dan Imamah. Allah berfirman:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung (QS. Ali Imron: 104).

Dengan mengambil hikmah strategi dakwah Rasulullah, kegiatan dakwah Jamaah-Imamah secara jama’iy tetap berbasis pada:

  1. Pembinaan dan pemberdayaan masjid sebagai pusat kajian dan pengembangan peradaban Islam, baik masjid-masjid di markaz pusat, wilayah hingga niyabah.
  2. Pembinaan ukhuwwah umat sebagai bagian da’wah bil haal, di tengah kehidupan sosial yang semakin terpecah-belah dan lemahnya kendali akidah.
  3. Membangun kerjasama lintas masjid, lintas lembaga kemasyarakat sebagai bagian da’wah jama’i ikhwan/akhwat, melalui kegiatan-kegiatan sosial kemanusiaan.
  4. Mengembangkan kegiatan/usaha muammalah, khususnya di bidang ekonomi, pendidikan dan pelatihan, antara lain: Lembaga keuangan syariah (BMT), pendidikan Islam, rumah sakit dan berbagai jasa-jasa sosial-ekonomi lainnya yang sesuai dengan visi Islam Rahmatal lil ‘Alamiin.

Tantangan dakwah Islam dalam bingkai Khilafah Alaa Minhajin Nubuwwah ke depan dalam membangun peradaban Islam merupakan tugas besar yang perlu melibatkan berbagai komponen ummat secara berjama’ah. Wallahu a’lam.

Daftar Pustaka

Ali, Aziz. Ilmu Da’wah. (Bandung: Perdana Media, 2004)

Azizy, Qodri. Melawan Globalisasi Reintersepsi Ajaran Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003)

Hasan, Muhammad Thaha, Prospek Islam dalam Menghadapi Tantangan Zaman. Cet. IV; (Jakarta: Lenterabora Press 2003).

Lena Ellitan. Sistem Informasi Managemen. (Bandung: Alfabeta 2000)

Sardar, Zainuddin & Priyono. Tantangan Dunia Islam Abad 21 Menjangkau Informasi, (Bandung: Mizan/)
 
(AK/R01/RS1)
Mi’raj News Agency (MINA)

*Tulisan ini disampaikan Ir. Agus Priyono, M.S. pada Kuliah Subuh dalam rangkaian Tabligh Akbar Festival Sya’ban 1440H, di Masjid An-Nubuwwah, Komplek Pondok Pesantren Al-Fatah, Muhajirun, Natar, Lampung SelatanJumat 20 Sya’ban, 1440H/26 April 2019M.