KHALID MISY’AL: TIDAK ADA GENCATAN SENJATA TANPA PENGHAPUSAN BLOKADE GAZA

Khalid Misy'al.(Foto: AlFatheNews)
Khalid Misy’al.(Foto: AlFatheNews)

Doha, 21 Ramadhan 1435/19 Juli 2014 (MINA) – Kepala Biro Politik Hamas, Khalid Misy’al menegaskan, pihaknya tidak akan menyetujui gencatan senjata apa pun dengan Zionis Israel selama blokade Gaza tidak dicabut.

“Sesungguhnya inisiatif apa pun yang tidak mengarah kepada penghentian serangan dan penghapusan blokade atas Gaza tidak bisa diterima oleh rakyat kami. Maka dari inilah inisiatif Mesir ditolak,” kata Misy’al dalam dialognya yang dirilis laman elektronik Al-monitor di Doha, Qatar sebagaimana diterima Koresponden Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di Gaza, Sabtu.

Misy’al mengatakan, saatnya bagi masyarakat dunia untuk memperbaiki dasar dari permasalahan Palestina terutama di Gaza serta mengangkat blokade semena-mena di wilayah itu.

Dia juga menyerukan masyarakat dunia menghentikan berbagai pelanggaran yang sedang dilakukan Zionis Israel di wilayah Al-Quds (Jerusalem) dan Tepi Barat –seperti penangkapan ilegal, penghancuran rumah, penutupan lembaga sosial-.

Petinggi Hamas itu menegaskan, dasar dari permasalahan di kawasan adalah penjajah dan para penduduk ilegal serta adanya pelanggaran yahudisasi tanah-tanah Palestina.

Misy’al juga menegaskan, pihaknya tidak menginginkan perang atau menumpahkan lebih banyak darah karena justru rakyat Palestina menjadi korban pembunuhan dan penangkapan serta penyerangan oleh pihak penjajah.

“Kami para korban pendudukan ilegal dan blokade. Kami ingin hidup dengan terhormat tanpa penjajahan dan blokade,” tegas Misy’al.

Khalid Misy’al menuduh Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu telah melakukan penghasutan perang karena alasan politik internal mereka.

“Sesungguhnya Netanyahu, dialah yang telah memulai perang ini dengan menyerang Gaza tanpa alasan, hal tersebut disebabkan oleh hutang-hutang internal Israel serta untuk menghentikan mereka yang berusaha meminta lebih di dalam pemerintahannya,” ungkap Misy’al.

Dia menegaskan berbagai tuduhan zionis tentang para pejuang Hamas menggunakan warga sipil sebagai tameng hidup, bena-benar merupakan sebuah kebohongan.

“Ini merupakan alasan tak bermoral untuk berbagai aksi kriminal yang dilakukan (Israel) ketika jet-jet tempur F-16 mereka meluluhlantahkan ratusan rumah di Gaza beserta para penghuninya.”

Sebelumnya, pemimpin Hamas di Gaza Ismail Haniyah, Senin (14/7) lalu, menyatakan para pejuang akan melakukan gencatan senjata jika beberapa syarat disepakati, di antaranya mengangkat blokade terhadap Gaza serta membuka pintu Rafah yang berbatasan dengan Mesir 24 jam penuh untuk perlintasan manusia dan perdagangan kebutuhan rakyat Gaza.

Terkait kesepakatan rekonsiliasi dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan gerakan Fatah, Khalid Misy’al mengatakan, tidak ada niat sekali pun untuk merusak kesepakatan tersebut.

Saat itu Netanyahu masih berusaha merusak rekonsiliasi, akan tetapi kami akan terus lebih komitmen.

Misy’al juga mendesak Presiden Amerika Serikat (AS) Barak Obama agar menghormati kesepakatan rekonsiliasi Palestina, dan melarang bentuk usaha apa pun yang bisa merusaknya.

Misy’al mendesak AS untuk segera mengubah kebijakan politiknya terhadap konflik Israel–Palestina agar lebih berimbang.

Sejak gerakan perlawanan Hamas memenangkan pemilu pada 2006, penjajah Israel telah memperketat blokade jalur darat dan laut untuk mengisolasi Jalur Gaza dari akses keluar masuk menuju Tepi Barat, termasuk Kota Al-Quds di mana Masjid Al-Aqsha berada.

Selain itu, perbatasan Rafah adalah satu-satunya pintu penyeberangan melalui darat yang tidak dikontrol oleh Israel. Melalui pintu perbatasan inilah warga Gaza dapat terhubung dengan dunia luar. Namun, perbatasan Rafah hanya menjadi jalur perlintasan orang untuk keluar masuk Jalur Gaza (Palestina)-Mesir.(L/K01/K02/P02/R2)

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

 

Comments: 0