Khatib Jumat Ali Farkhan: Bencana Alam Menjadi Peringatan bagi Manusia

Jakarta, MINA –  Khatib Jumat Ustadz Ali Farkhan Tsani mengatakan, bencana alam yang banyak terjadi di muka bumi ini menjadi peringatan bagi manusia agar kembali bertaubat dan bertakwa kepada Allah Sang Maha Pencipta.

“Bencana alam merupakan ayat-ayat kauniyah, yaitu tanda-tanda kebesaran Allah melalui fenomena alam, dan mengingatkan manusia agar jangan lalai dari beribadah kepada Allah,” ujar Ustadz Afta, begitu ia disapa, da’i Ponpes Al-Fatah Cileungsi Bogor, pada Khutbah Jumat (17/12) di Masjid Al-Fataa Kompleks Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PB PII) Menteng Raya, Jakarta Pusat.

Ia mengatakan, bencana alam bukanlah sebatas kejadian alam, tanpa ada kekuasaan Sang Maha Pencipta. Padahal justru bencana alam itu sendiri adalah tanda-tanda adanya Allah, tanda-tanda kebesaran Allah di muka bumi ini.

Ia menambakan, bencana alam akibat kerusakan di muka bumi, kembalinya adalah akibat perbuatan tangan manusia itu sendiri, agar manusia menyadarinya dan kembali ke jalan yang benar. Ia mengutip Surat Ar-Ruum ayat 41.

Kerusakan alam berupa pencemaran sehingga tidak layak lagi didiami. Hancurnya flora dan fauna, itu terjadi bisa jadi akibat perilaku manusia berupa eksploitasi alam yang berlebih-lebihan tanpa memperhatkan pelestariannya, lanjut Ustadz Afta, yang juga Redaktur Senior Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency).

“Pada sisi lain, dengan adanya bencana menjadi lahan amal shaleh bagi mereka yang berada di sekitarnya atau mereka yang mengetahuinya. Maka, sesuai ajaran Islam dan jiwa masyarakat Indonesia yang terkenal dengan gemar menolong, jika terjadi bencana di suatu daerah, akan berbondong-bondonglah masyarakat memberikan bantuannya,” lanjutnya.

Tentang saling menolong terhadap korban bencana atau musibah, Ustadz Afta menukilkan seruan Umar bin Abdul Aziz ketika memerintahkan kepada kaum Muslimin, saat terjadi sebuah gempa bumi di negeri Syam. Ia menyeru kepada umatnya, “Keluarlah, dan barang siapa di antara kalian yang mampu bersedekah, hendaklah dia melakukannya”.

“Apalagi kita di Negara Kesatuan Republik Indonesia, wabil khusus umat Islam sebagai umat yang satu, maka jiwa kesatuan inilah kita bisa saling menolong dengan sesama,” imbuhnya.

Ia menekankan pentingnya terus menjaga persatuan dan kesatuan umat dan bangsa di tengah berbagai perbedaan yang tetap ada. “Perbedaan bisa saja terjadi, dan itu sebuah keniscayaan, tetapi perprecahan jangan sampai terjadi,” ujarnya. (L/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)