KHILAFAH VS YAHUDI (Bag. 1)

Uray Helwan Rusli
Uray Helwan Rusli

Oleh: Uray Helwan Rusli, Penulis Buku Khilafah vs Yahudi

Fakta besar yang terjadi pada abad ini yakni terealisasinya nubuwwat kembalinya Bani Israel ke bumi al-Quds dalam keadaan bercampur-baur.

Takdir mengenai Bani Israel membentuk garis lintasan sejarah yang panjang dan berliku-liku. Dari periode pertama di masa para nabi dan rasul hingga periode akhir, ketika mereka kembali ke “tanah yang dijanjikan” (ini menurut mereka). Takdir ini akan dipungkasi dengan kehancuran mereka.

Dan kita, Allah takdirkan untuk menjadi penyaksi sejarah proses kehancuran akhir zaman mereka itu, yang diawali dengan kembalinya mereka ke Yerusalem dalam keadaan bercampur baur seperti sekarang. Fakta ini tidak pernah terjadi dalam sejarah mereka melainkan saat ini.

Fakta besar kedua adalah mengenai musuh Bani Israel. Kalau Bani Israel diibaratkan virus perusak umat manusia, maka fakta kedua ini ibarat vaksin yang akan melumpuhkan mereka.  Dan lagi-lagi, kita, umat Islam yang hidup di akhir zaman ini, Allah takdirkan untuk menjadi penyaksi sejarah, bahkan ambil bagian dalam merealisasikannya. Fakta besar ketiga ini adalah tegaknya KHILAFAH.

Allah mempunyai takdir tersendiri mengenai perjalanan kekhilafahan, sebagaimana Ia juga membentangkan takdir mengenai perjalanan panjang Bani Israel. Perbedaannya adalah kalau Kekhilafahan diakhiri dengan takdir kemunculannya, maka Bani Israel dipungkasi dengan takdir kehancurannya.

Fase Khilafah

Blueprint takdir kekhilafahan Allah tuangkan dalam sebuah nubuwwat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, berikut ini:

تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ

”Adalah masa Kenabian itu  ada di tengah tengah  kamu sekalian, adanya atas kehendaki Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Khilafah yang menempuh jejak kenabian (Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya (menghentikannya) apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Kerajaan yang menggigit  (Mulkan ‘Adldlon),  adanya atas kehendak Allah.   Kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Kerajaan yang menyombong (Mulkan Jabariyyah),  adanya atas kehendak Allah. Kemudian  Allah mengangkatnya, apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya.  Kemudian adalah masa  Khilafah yang menempuh jejak  Kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah).” Kemudian beliau (Nabi) diam.” (HR. Ahmad dari Nu’man bin Basyir, Dari Hudzaifah Ibnul Yaman,  Musnad Ahmad:IV/273, Al-Baihaqi, Misykatul Mashobih hal 461. Lafadz Ahmad. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 5).

Hadits di atas menunjukkan bahwa fase sejarah kehidupan kaum muslimin dimulai dari masa kenabian (sejak dibi’tsahnya beliau menjadi Rasul hingga wafat), kemudian dilanjutkan dengan masa Khilafah ‘Ala Minhaajinnubuwwah atau kekhilafahan yang mengikuti jejak kenabian Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang  dimulai sejak dibai’atnya khalifah pertama, Abu Bakar Ash Shiddiq sampai wafatnya kholifah keempat, Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhum.

Empat  khalifah  yang memimpin selama tiga puluh tahun tersebut diberi gelar oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai Khulafaurrasyidin Al Mahdiyyin, para khalifah yang benar dan diberi petunjuk. Beliau juga perintahkan agar sunnah para Khalifah teladan tersebut  dipegang sekuat tenaga oleh kaum Muslimin di kemudian hari.

Dari Abu Najih Al-’Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Alihi Wasallam tengah menasehati kami dengan sebuah nasehat yang membuat gemetar hati-hati kami dan meneteskan air mata kami, maka kami katakan: “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Alihi Wasallam seakan-akan ini sebuah nasehat perpisahan, maka nasehatilah kami. Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Alihi Wasallam berkata:

اُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَاِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَاِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى بَعْدِي اخْتِلَافًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ وَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَ مُحْدَثَاتِ الْأُمُورَ فَاِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَاِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Aku wasiatkan agar kalian bertaqwa kepada Allah, dan mendengar dan taat  sekalipun yang memimpinmu adalah seorang budak Habsyi, karena orang yang hidup diantara kamu di kemudian hari setelahku  akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, hendaklah kamu berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah Khulafaurrasyidin almahdiyyin (para khalifah yang mendapat petunjuk yang benar). Hendaklah kamu pegang teguh dengannya dan gigitlah dengan gigi gerahammu. Jauhilah perkara-perkara yang baru yang diada-adakan, karena sesungguhnya semua perkara yang diada-adakan itu bid’ah dan semua bid’ah itu sesat.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan At Tarmizi).[1]

Dari Said bin Jumhan dari Safinah berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  telah bersabda:

الْخِلاَفَةُ فِي أُمَّتِي ثَلاَثُونَ سَنَةً ثُمَّ مُلْكٌ بَعْدَ ذَلِكَ ثُمَّ قَالَ لِي سَفِينَةُ أَمْسِكْ خِلاَفَةَ أَبِي بَكْرٍ ثُمَّ قَالَ وَخِلاَفَةَ عُمَرَ وَخِلاَفَةَ عُثْمَانَ ثُمَّ قَالَ لِي أَمْسِكْ خِلاَفَةَ عَلِيٍّ قَالَ فَوَجَدْنَاهَا ثَلاَثِينَ سَنَةً قَالَ سَعِيدٌ فَقُلْتُ لَهُ إِنَّ بَنِي أُمَيَّةَ يَزْعُمُونَ أَنَّ الْخِلاَفَةَ فِيهِمْ قَالَ كَذَبُوا بَنُو الزَّرْقَاءِ بَلْ هُمْ مُلُوكٌ مِنْ شَرِّ الْمُلُوكِ

“Masa khilafah  pada ummatku itu tiga puluh tahun kemudian setelah itu masa kerajaan.  Kemudian Safinah berkata kepadaku: peganglah kekhalifahan Abu Bakar, kekhalifahan Umar, kekhali fahan Utsman dan kekhalifahan Ali. Maka aku dapatinya masa kekhalifahan itu tiga puluh tahun, Said berkata: “Saya bertanya kepadanya, sesungguhnya Bani Umayyah mengaku bahwa masa kekhalifahan itu ada pada mereka.” Ia berkata: “Banu Zurqo telah berdusta bahkan mereka itu para raja dari seburuk-buruk raja.” (HR.At Tirmidzi,  dan Abu Dawud).[2]

Meskipun hanya berlangsung selama 30 tahun  (ini sebenarnya fase yang singkat untuk ukuran rentang sejarah) namun masa kepemimpinan mereka penuh dengan dinamika dan kecemerlangan sejarah, sehingga menjadi tolok ukur  untuk periode-periode berikutnya. Setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hanya merekalah yang mendapat legitimasi untuk diambil sunnahnya dijadikan panutan, bahkan beliau memerintahkan agar berpegang teguh terhadapnya.

Khilafah Ala Minhhaajinnubuwwah akan terulang dua kali, sedangkan khulafaurrasyidin al mahdiyyin hanya satu kali dalam lintasan sejarah. Namun yang satu kali itu untuk menjadi patokan terhadap segala bentuk kepemimpinan pada era berikutnya, apakah tergolong mengikuti sunnah Rasulullah dan Khulafaurrasyidin  atau tidak. Dan pada kenyataannya kaum muslimin pun menggunakan berbagai pola kepemimpinan yang tercerabut dari sunnah 4 kholifah tersebut. Bahkan hal itu telah dimulai dari periode awal.

Selanjutnya dimulailah era baru dalam Islam, yakni fase mulkan (Mulkan ‘Adhdhon  kemudian dilanjutkan Mulkan Jabariyyah) dengan diawali oleh Bani Umayyah. Kondisi fitnah yang menimpa tubuh umat Islam tidak pernah pupus terus bertambah buruk, meskipun tidak dipungkiri perkembangannya juga meningkat tajam.  Berbagai wilayah di belahan dunia timur hingga barat, tunduk dalam Islam, sembari luka perpecahan internal yang terus menganga hingga sampailah suatu masa, umat Islam terpuruk dalam kubangan yang sangat dalam.

Periode kepemimpinan Mulkan dipungkasi dengan dihapuskannya sistem “Kekhilafahan”  Turki Utsmani pada 3 Maret 1924 oleh Mustafa Kemal Pahsya. Ini sekaligus menjadi tanda bahwa akan wujud fase berikutnya (sebagaimana yang disebutkan dalam nubuwwat Rasulullah pada Hadits Nu’man bin Basyir di atas).

Fase berikutnya yang Allah akan takdirkan kemunculannya adalah  kembalinya  Khilafah ‘Ala Minhaajinnubuwwah. Kemunculannya ini adalah sesuatu yang menakjubkan, diimpikan sekaligus menakutkan.

Menakjubkan, karena ia muncul ketika kaum muslimin dalam kancah perpecahan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Jika kita bentangkan status perselisihan kaum muslimin sehingga ia membentuk garis panjang yang pangkalnya diawali dengan syahidnya Khalifah Utsman sampai ujungnya saat ini maka kondisi yang paling memprihatinkan adalah ketika tumbangnya simbol kekhilafahan (baca: Mulkan) Turki Utsmani pada tahun 1924 sampai masa kini. Kaum muslimin benar-benar seperti ayam kehilangan induk, mereka terpecah menjadi ratusan negara, ratusan/ribuan organisasi, partai dan kelompok, berbagai mazhab, dan golongan-golongan lainnya tanpa ada rujukan untuk kembali.

Kondisi ini tidak pernah terjadi melainkan saat ini (pasca Turki Utsmani). Pada masa sebelumnya, jika pun ada letusan-letusan fitnah namun keberadaan simbol kekhilafahan berperan sebagai sentralisasi kaum muslimin, sehingga mampu menjaga keutuhan kaum muslimin dan melindunginya dari serangan pihak-pihak luar. Itulah sebabnya, dalam kondisi puncaknya perselisihan dan perpecahan ini, kembalinya wadah Khilafah ‘Ala Minhaajinnubuwwah di tengah-tengah kaum muslimin hampir tidak bisa dipercaya, jika kita hanya mengandalkan logika untuk mengimaninya. Namun, masyaa Allahu kaan wama lam yasya lam yakun, apa yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa-apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi. Dan menurut hadits  Nu’man bin Basyir tersebut, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam nyatakan pasca Mulkan Jabariyyah (yakni tumbangnya Turki Utsmani) maka:

 ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ

“…..Kemudian adalah masa  Khilafah yang menempuh jejak  Kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah).”

Diimpikan, tentu saja, oleh kaum Muslimin dari pelbagai pelosok dunia. Mereka sudah jenuh dengan pola-pola sistem kemasayarakatan produk akal manusia yang tidak pernah bisa memberikan solusi terbaik. Kesenjangan sosial semakin menganga. Orang-orang kelaparan dan terlantar hanya menjadi berita, menghiasi media-media. Ironis, ketika dunia semakin dieksplorasi untuk dikuras kekayaannya, kian banyak teriakan-teriakan orang kelaparan bahkan mati karenanya. Peperangan, pembunuhan, dan berbagai tindak kezaliman serta kebrutalan, terus berlangsung tanpa ujung. Inilah hasil dunia yang dirancang oleh manusia-manusia yang meneriakkan dirinya moderen dan beradab, semboyannya demokrasi, kendaraannya perdamaian dunia dan semangat hak asasi manusia.

Dalam kondisi seperti ini, terlebih lagi bagi kaum muslimin yang berada di daerah merah pada garda terdepan menghadapi moncong-moncong senjata kaum kuffar wal musyrikin, Khilafah Ala Minhaajinnubuwwah benar-benar diidam-idamkan. Mereka sangat paham, dulu keberadaan Khilafah menjadi tameng bagi kaum Muslimin terhadap serangan dari luar dan pengkeroposan dari dalam.

Muslimin jaya dengan Khalifah. Aqidahnya kuat, ukhuwwahnya solid dan akhlaknya tetap mulia. Siapa yang tidak ingin untuk kembali memiliki marwah? Agar ada pembelaan disaat kehormatan kaum muslimin dilecehkan sampai pada titik nadir? Adakah yang tidak menginginkan itu?

Menakutkan, bagi musuh-musuh Islam.  Konspirasi menumbangkan kekhilafahan adalah kerja keras jangka panjang mereka. Sejak masa Khulafaurrasyidin dulu mereka telah kasak-kusuk berupaya dengan segala cara menumbangkan fondasi kekuatan kaum muslimin ini. Munculnya figur Abdullah bin Saba kala itu, hingga sosok Mustafa Kamal adalah bukti nyata bahwa mereka tidak pernah berhenti. Sampailah pada masa kini, jerih payah mereka itu pun berbuah, simbol terakhir kekhilafahan tumbang.

Turki secara resmi menghapus sistem kekhilafahan dan menjadikannya Republik. Yahudi –sebagai representasi musuh-musuh Allah- bersorak kegirangan. Mereka merasa telah memenangkan pertempuran jangka panjang yang berlangsung 14 abad, dan melucuti seluruh kekuatan Muslimin. Lantas bagaimana mungkin mereka merasa aman jika ternyata hal yang mereka paling takuti itu akan muncul kembali?

Sebenarnya masalah kemunculan kekhilafahan adalah janji Allah dalam Al Quran, surah Annur ayat 55. Selengkapnya berbunyi:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Artinya: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”

Menurut Ibnu Katsir ayat ini mengandung janji Allah kepada Rasul-Nya bahwa Dia akan menjadikan umat Muhammad penguasa di atas bumi, pemimpin umat manusia seluruhnya dan akan menukar keadaan mereka sesudah berada dalam kedaan lemah, diremehkan orang dan ditindas menjadi kuat, disegani orang serta ditakuti dan sesudah berada dalam keadaan ketakutan dikejar-kejar  musuh menjadi keadaan aman sentosa dan berwibawa.

Janji Allah ini telah menjadi kenyataan tidak lama sebelum Rasulullah wafat dengan dibebaskannya kota Makkah, Khaibar, Bahrain, Yaman dan seluruh Jazirah Arab. Pembayaran jizyah dilakukan oleh Majusi Hajar dan sebagian penduduk Syam, beliau juga menerima hadiah sebagai tanda bersahabat dari Hercules Raja Romawi, Penguasa Mesir, Al-Muqauqis penguasa Iskandariah juga dari Raja Oman dan Raja Abesinia. Setelah beliau wafat penyebaran Islam dilanjutkan oleh para Khalifah, sampai pada masa Utsman daerah yang tunduk dalam naungan  Islam hampir meliputi bagian terbesar benua Asia dan Afrika serta tidak ketinggalan beberapa kota dan daerah di benua Eropa.[3]

Ibnu Katsir juga menukil QS. Al-Qashash ayat 5 sebagai berikut:

وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ

Artinya: “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)”.

Kekuasaan Islam terus meluas pada masa Mulkan hingga ke jantung Kerajaan Romawi kala itu dengan tumbangnya Bizantium pada masa Turki Utsmani (Sultan Muhammad Al Fatih), juga berkembangnya Bani Umayyah di Kordova (Eropa), termasuk juga penyebaran keislaman di tanah Tiongkok yang sangat berperan menumbangkan ketiranian Dinasti Yuan (Penguasa Mongol).[4]

Ayat 55 pada QS. Annur di atas, tidak hanya membatasi dinamika dakwah dan eksistensi kepemimpinan kaum Muslimin sebatas masa Rasulullah dan Khulafaurrasyidin, namun menjadi janji Allah kepada kaum Mu’minin yang beramal sholih (kapan pun masa mereka) akan menjadikan mereka kholifah dimuka bumi, meneguhkan dienul Islam, dan menukar kondisi ketakutan mereka menjadi aman sentausa.

Hadits Nu’man bin Bashir yang sedang kita bahas ini pun merupakan penafsiran dari ayat ini, merincikannya tahap demi tahap dengan ditutup kembali terwujudnya anugerah kekhilafahan  bagi kaum Muslimin, setelah terputus dalam jangka waktu yang sangat panjang dengan berlangsungnya era Kerajaan (Mulkan).

Dalam ayat lain, yang juga menggunakan kata istikhlaf, terdapat pada surah Al A’raf:129,

قَالُوا أُوذِينَا مِنْ قَبْلِ أَنْ تَأْتِيَنَا وَمِنْ بَعْدِ مَا جِئْتَنَا ۚ قَالَ عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُهْلِكَ عَدُوَّكُمْ وَيَسْتَخْلِفَكُمْ فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ

Kaum Musa berkata: “Kami telah ditindas (oleh Fir’aun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang. Musa menjawab: “Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi-(Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu.(P004/P4).

[1] Wali Al Fattah, 2011, Khilafah ‘Ala Minhaajinnubuwwah Khilafah yang Mengikuti Jejak Kenabian, Pustaka Amanah, Bogor, Hal. 16.

[2] Wali Al Fattah, 2011, Khilafah ‘Ala Minhaajinnubuwwah Khilafah yang Mengikuti Jejak Kenabian, Pustaka Amanah, Bogor, Hal. 11.

[3] Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir Jilid 5, Penerjemah: H. Salim Bahreisy dan H. Said Bahreisy, 2004, PT. Bina Ilmu, Surabaya. Hal. 505-506.

[4] H. Ibrahim Tien Ying Ma, Penerjemah: Joesoef Sou’yb, Perkembangan islam di Tiongkok, 1979, Penerbit Bulan Bintang, Jakarta.

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0