Khutbah: Berharaplah Datangnya Rahmat Allah dan Takutlah Azab-Nya, Wabah COVID-19

Oleh: Sakuri, Waliyul Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Jabodetabek

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Jamaah shalat Jumat yang mengharap rahmat-Nya dan takut azab-Nya

Dalam situasi apapun, marilah kita tetap ekspresikan rasa syukur kita kepada Allah dengan melafalkan kata “alhamdulillaah” serta menyampaikan shalawat dan salam kepada junjungan kita Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sebagai wujud pengamalan perintah Allah dalam Al-Quran Surat An-Naml ayat 59:

قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَامٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَىٰ ۗ آللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ

“Katakanlah: Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?”

Khatib juga mengajak kepada seluruh jamaah shalat jumat untuk menyampaikan shalawat dan salam kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sebagai perwujudan pengamalan perintah Allah dalam Surat Al-Ahzab 56:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Selanjutnya dari mimbar ini, khatib mewasiatkan untuk dirinya dan seluruh jamaah shalat jumat untuk senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah, karena sebaik-baik perbekalan itu takwa, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)

وَٱتَّقُوا۟ يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى ٱللَّهِ ۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dizalimi (dianiaya, dirugikan).” (QS. Al-Baqarah: 281)

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (Al-Anfal ayat 25)

Jamaah shalat Jumat yang mengharap rahmat Allah dan takut azab-Nya

Menurut Data Pantauan COVID-19 Jakarta per 2 April 2020 saat teks khutbah ini dibuat, kasus positif di Jakarta mencapai 885 orang, 562 orang dirawat, 52 orang sembuh, 92 orang meninggal dan 181 orang isolasi mandiri.

Adapun jumlah pasien positif terinfeksi di Indonesia sebanyak 1.790 orang, 1.508 orang dirawat, 112 sembuh dan 170 orang meninggal.

Dari pantauan data angka ini dari menit ke menit menunjukkan kecenderungan naik, namun khatib berharap memohon kepada Allah subhanahu wa Ta’ala semoga angkanya semakin menurun.

Sejak dilaporkan ke Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 31 Desember 2019 sampai dengan 2 April 2020, jumlah kasus virus corona di dunia sudah merebak ke 201 negara, lebih 939.000 kasus, sebanyak 194.000 pasien sembuh dan 47.200 orang meninggal dunia. Namun, sekali lagi khatib berharap memohon kepada Allah subhanahu wa Ta’ala semoga angkanya semakin menurun.

Wabah yang bermula dari Wuhan Cina itu menyebar dan merangsek ke penjuru dunia, tanpa pilih-pilih dan pandang bulu. Wabah menyerang secara masif tanpa mengenal siapa korbannya, dari mana negaranya, baik negara yang mengklaim dirinya sebagai negara kuat yang tak tergoyahkan ataupun negara yang tak berdaya, negara penjajah atau yang dijajah. Tanpa pandang etnisnya, bangsanya, warna kulitnya, agamanya. Orang jahat atau orang baik sekalipun semuanya tanpa kecuali bisa terdampak wabah ini.

Jamaah shalat Jumat yang mengharap rahmat Allah dan takut azab-Nya

Allah subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan dengan firman-Nya,

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfal ayat 25)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan hamba-hamba-Nya yang mukmin agar waspada terhadap fitnah. Yang dimaksud dengan fitnah ialah cobaan dan bencana. Apabila ia datang menimpa, maka pengaruhnya meluas dan menimpa semua orang secara umum, tidak hanya orang-orang durhaka dan orang yang melakukan dosa saja, melainkan bencana dan siksaan itu mencakup kesemuanya, tidak ada yang dapat menolaknya, tidak ada pula yang dapat melenyapkannya.

Mengapa pengaruhnya meluas dan menimpa semua orang secara umum, tidak hanya orang-orang durhaka dan orang yang melakukan dosa saja?

Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad disebutkan,

حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ زَكَرِيَّا، حَدَّثَنَا عَامِرٌ، قَالَ: سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَخْطُبُ يَقُولُ -وَأَوْمَأَ بِإِصْبَعَيْهِ إِلَى أُذُنَيْهِ -يَقُولُ: مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فيها -أو المُداهن فِيهَا -كَمَثَلِ قَوْمٍ رَكِبُوا سَفِينَةً، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا وَأَوْعَرَهَا وَشَرَّهَا، وَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا، فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوُا الْمَاءَ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَآذُوهُمْ، فَقَالُوا: لَوْ خَرَقْنا فِي نَصِيبِنَا خَرْقا، فَاسْتَقَيْنَا مِنْهُ، وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا، فَإِنْ تَرَكُوهُمْ وَأَمْرَهُمْ هَلَكوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا جَمِيعًا.

Telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa’id, dari Zakaria; telah menceritakan kepada kami Amir Radhiyallahu Anhu yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar An-Nu’man ibnu Basyir Radhiyallahu Anhu berkhotbah, antara lain ia mengatakan seraya mengisyaratkan kepada telinganya dengan kedua jari telunjuknya (yang maksudnya dia telah mendengar ucapannya itu dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam),
“Perumpamaan orang yang menegakkan batasan-batasan Allah dan orang yang melanggarnya serta orang yang berdiplomasi terhadapnya sama dengan suatu kaum yang menaiki sebuah kapal laut. Sebagian dari mereka ada yang menempati bagian bawah dari kapal itu, yaitu bagian yang paling tidak enak dan buruk, sedangkan sebagian yang lain menempati bagian atas (geladak) nya. Orang-orang yang menempati bagian bawah kapal itu apabila mengambil air minum harus melalui orang-orang yang bertempat di atas mereka, sehingga mengganggunya. Akhirnya orang-orang yang tinggal di bagian bawah kapal itu mengatakan, “Seandainya saja kita membuat lubang untuk mengambil bagian kita hingga dapat mengambil air dan tidak mengganggu orang-orang yang ada di atas kita.” Jika orang-orang yang berada di atas membiarkan mereka untuk melakukan niatnya itu, niscaya mereka semuanya binasa (karena kapal akan tenggelam). Dan jika orang-orang yang berada di atas mau saling bantu dengan orang-orang yang ada di bawah mereka, niscaya mereka semuanya selamat.”

Hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad menyebutkan,

حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ، حَدَّثَنَا خَلَف بْنُ خَلِيفَةَ، عَنْ لَيْث، عَنْ عَلْقَمَة بْنِ مَرْثد، عَنِ الْمَعْرُورِ بْنِ سُوَيْد، عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “إِذَا ظَهَرَتِ الْمَعَاصِي فِي أُمَّتِي، عَمَّهم اللَّهُ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ”. فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَمَا فِيهِمْ أُنَاسٌ صَالِحُونَ؟ قَالَ: “بَلَى”، قَالَتْ: فَكَيْفَ يَصْنَعُ أُولَئِكَ؟ قَالَ: “يُصِيبُهُمْ مَا أَصَابَ النَّاسُ، ثُمَّ يَصِيرُونَ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ”

Telah menceritakan kepada kami Husain, telah menceritakan kepada kami Khalaf ibnu Khalifah, dari Lais, dari Alqamah ibnu Marsad, dari Al-Ma’rur ibnu Suwaid, dari Ummu Salamah istri Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,
“Apabila perbuatan-perbuatan maksiat muncul di kalangan umatku, maka Allah menimpakan azab dari sisi-Nya kepada mereka secara menyeluruh. Ummu Salamah bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah bila di antara mereka terdapat orang-orang yang saleh?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “Ya, ikut tertimpa azab pula.” Ummu Salamah bertanya, “Lalu bagaimanakah nasib mereka selanjutnya?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Orang-orang saleh itu ikut tertimpa azab yang menimpa kaumnya, kemudian mendapat ampunan dan rida dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Imam Ahmad juga menyebutkan hadits,

حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، حَدَّثَنَا جَامِعُ بْنُ أَبِي رَاشِدٍ، عَنْ مُنْذِر، عَنْ حَسَنِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنِ امْرَأَتِهِ، عَنْ عَائِشَةَ تَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِذَا ظَهَرَ السُّوءُ فِي الْأَرْضِ، أَنْزَلَ اللَّهُ بِأَهْلِ الْأَرْضِ بَأْسَهُ”. قَالَتْ: وَفِيهِمْ أَهْلُ طَاعَةِ اللَّهِ؟ قَالَ: “نَعَمْ، ثُمَّ يَصِيرُونَ إِلَى رحمة الله”

Telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami Jami ibnu Abu Rasyid, dari Munzir. dari Al-Hasan ibnu Muhammad, dari istrinya, dari Aisyah yang sampai kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam Disebutkan bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda, “Apabila kejahatan muncul di muka bumi, maka Allah menurunkan siksa-Nya kepada penduduk bumi. Siti Aisyah Radhiyallahu Anhu bertanya, “Bagaimanakah nasib orang-orang yang taat kepada Allah di antara mereka?” Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Ya ikut tertimpa pula, kemudian mereka beroleh rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Jamaah shalat Jumat yang mengharap rahmat Allah dan takut azab-Nya

Terkait mewabahnya COVID-19 dikaitkan apa yang disampaikan diatas, maka ada tiga kemungkinan.

Pertama merupakan Adzab dari Allah
Adzab adalah peringatan, siksaan atau hukuman.

Kata al-‘adzab biasanya digunakan pada konteks hukuman atau siksaan kelak di hari akhir.

Seperti firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 7:

خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (Al-Baqarah ayat 7)

Dan firman Allah dalam Al-Quran Surat Al-Isra ayat 10:

وَأَنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

“Sesungguhnya, orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akherat, Kami sediakan bagi mereka adzab yang pedih.”

Namun demikian, kata ‘adzab juga digunakan dalam konteks hukuman di kehidupan dunia.

Sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran Surat Al-Isra ayat 58:

وَإِنْ مِنْ قَرْيَةٍ إِلَّا نَحْنُ مُهْلِكُوهَا قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ أَوْ مُعَذِّبُوهَا عَذَابًا شَدِيدًا ۚ كَانَ ذَٰلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا

“Tak ada suatu negeri pun yang durhaka penduduknya, melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat, atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab Lauh al-Mahfuudz.”

Kedua, merupakan bala.

Al-bala’ bermakna ujian, baik maupun yang buruk. Ada yang bermakna cobaan dan ujian yang dibenci manusia. Ada pula yang berarti kemenangan atau kenikmatan (bala’ hasanan).

Bala’ dalam konteks ujian yang buruk, misalnya terdapat di dalam firman Allah dalam Al-Quran Surat Al Baqarah ayat 49:

وَإِذْ نَجَّيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ ۚ وَفِي ذَٰلِكُمْ بَلَاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu.”

Ayat ini bercerita tentang diselamatkannya Bani Israil dari penyembelihan dan kekejaman Fir’aun. Menurut Ali ash-Shabuni, bala’ dalam ayat ini adalah al-mihnah wa al-ikhtibar (ujian dan cobaan) yang ditimpakan oleh Fir’aun kepada Bani Israil, yakni penyembelihan anak laki-laki.

Adapun bala’ dalam konteks ujian yang baik terdapat dalam firman Allah Al-Quran Surat Al-Anfal ayat 17:

فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ قَتَلَهُمْ ۚ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ رَمَىٰ ۚ وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلَاءً حَسَنًا ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Ketiga merupakan musibah.

Musibah adalah ujian dan semua perkara yang dibenci oleh manusia. Menurut Imam al-Baidhawi, musibah adalah semua kemalangan yang dibenci dan menimpa umat manusia. Ini didasarkan pada sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,
“Setiap perkara yang menyakiti manusia adalah musibah.”

Kata musibah disebutkan di sepuluh ayat, dan semuanya bermakna kemalangan, musibah, dan bencana yang dibenci manusia. Namun demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kaum Muslim untuk menyakini, bahwa semua musibah itu datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan atas izin-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Quran Surat At-Taghabun ayat 11:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepadanya hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Jamaah shalat Jumat yang mengharap rahmat Allah dan takut azab-Nya

Semoga kita termasuk kategori orang-orang yang beriman kepada Allah yang apabila ditimpa sesuatu musibah dikembalikan kepada Allah sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah 155 dan 156:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.

“Ya Allah sungguh aku berlindung kepada-Mu dari cobaan yang berat, kesengsaraan yang hebat, takdir yang buruk dan kebahagiaan/kegembiraan musuh.” (H.R. Al-Bukhari)

Ya Allah jagalah kami dari segala bala, wabah, kelaparan, kemudaratan, kekejian, kemunkaran, kesesatan, kesulitan, segala fitnah, penyakit menular dan segala ujian baik yang zahir atau yang batin di negri kami khususnya dan di negri-negri kaum muslimin umumnya karena sesungguhnya Engkau Rabb Maha Kuasa atas segala sesuatu.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُبِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ وَدَرَكِ الشَّقَاءِ وَسُوْءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ

(A/RS5/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)