Khutbah Idul Adha 1440 : Hikmah Haji dalam Membangun Kesatuan Ummat

Oleh : Ust. Agus Priyono, M.Si, Amir Majelis Dakwah Pusat Jama’ah Muslimin (Hizbullah)

 

اَلْحَمْدُ لِله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا،مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.
اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَاللهِ: اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ . فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ.امابعد
فَـإِنّ  أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَـابُ اللهِ , وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّالْأُمُوْرِ مُحْدَثاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعُةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِى لنَّارِ
الله اكبر, الله اكبر, الله اكبر ولله الحمد

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah

Marilah kita selalu banyak bersyukur dan menjaga nilai-nilai ketaqwaan, karena taqwa inilah yang akan menjadikan kita mulia disisi Allah. Bersyukur hari ini kita bersama segenap muslimin di dunia, 1,8 milyar muslimin, melantunkan takbir, tahmid dan tahlil sebagai wujud kesadaran sebagai hamba Allah yang bergantung kepada Allah subhanahu wata’ala. Lebih khusus saat ini lebih dari 2 juta umat Islam sedang melaksanakan haji di Makkatul Mukarromah, berbaur menjadi satu komunitas yang sama, umat Islam. Meski berbeda suku bangsa, berbeda bahasa, namun mereka disatukan Allah dengan niat dan pakaian yang sama, karena mereka adalah saudara se-iman.
Adapun bagi muslimin umumnya, pada hari ini kita melaksanakan salah satu syari’ah dari syari’ah-syari’ah Allah Subhanahu wa ta’ala yaitu shalat Idul ‘Adha dan dilanjutkan dengan penyembelihan hewan qurban yang merupakan semulia-mulia amalan pada hari Raya ‘Idul Adha (hari Nahar) ini. Bahkan Rasulullah menekankan pentingnya berqurban dengan ancaman sebagaimana hadits berikut :

Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

“Barangsiapa yang mempunyai kemampuan untuk berqurban, tapi ia tidak mau berqurban, maka janganlah ia dekat-dekat tempat shalat kami.”(HR. Ahmad, no: 7924, Ibnu Majah, no: 3114)

Ibadah haji dan qurban sekali lagi mengingatkan kita terhadap kehidupan keluarga Nabi Ibrahim, bagaimana mereka berjuang dan berqurban untuk mendapatkan ridla Allah. Ibadah tersebut juga mengokohkan semangat kita untuk merenungkan apa arti qurban dan ibadah haji pada masa kini. Haji dan qurban adalah syariat untuk pensucian jiwa, membersihkan kotoran yang ada pada hati kita, sifat-sifat ananiyah atau egoisme dibersihkan melalui ibadah haji dan menyembelih qurban. Kita tebar kepedulian sosial kita kepada sesama umat manusia melalui penyebarluasan daging qurban. Demikian pula persahabatan hakiki kita jalin antar sesama muslim se dunia melalui ibadah haji.
Dengan demikian hikmah rangkaian ibadah haji beserta shalat & qurban di hari Iedul Adha, adalah :

Pertama, mendekatkan diri kepada Allah
Kata qurban secara etimologi berasal dari kata bahasa Arab, yakni qaraba, yaqrabu, qurban wa qurbanan wa qirbanan yang memiliki arti dekat. Jadi, qurban berarti mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan perintah-perintahNya. Dari sinilah muncul istilah ”Idul Adha”. Dengan demikian yang dimaksud dengan qurban atau udhhiyah adalah penyembelihan hewan dengan tujuan beribadah mendekatkan diri kepada Allah pada hari raya Idul Adha dan tiga hari Tasyriq, yaitu tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah.

Perintah berqurban bahkan disandingkan dengan perintah sholat: “Maka laksanakan shalat karena Tuhan-mu dan berqurbanlah” (QS. al Kautsar: 2).

Memang sudah seharusnya manusia mendekatkan dirinya kepada Allah, karena manusia membutuhkan petunjuk dan pertolonganNYA dan hanya Allahlah yang menguasai alam semesta, yang maha menentukan atas nasib segenap manusia dan seluruh alam ini.

Kedua, membina ketaatan hamba kepada Allah. Pengorbanan besar yang dilakukan oleh Nabiyullah Ibrahim ‘alaihis salam beserta keluarganya tercatat dalam sejarah kemanusiaan yang diabadikan Allah dalam firman-Nya, seakan telah menjadi pondasi bangunan yang kokoh kuat ketika Allah berkehendak menghidupkan dan membangun kota Mekkah Al-Mukarromah. Nabi Ibrahim memberikan teladan tentang ketaatan mutlak kepada Allah. Beliau melalui mimpi diperintah Allah agar menyembelih putra satu-satunya putra yang digadang-gadang menjadi penerus perjuangan, pelanjut silsilah keturunan dan penyambung tongkat estafet kenabian. Demikian pula Nabi Ismail, sang putra, taat dan ikhlas menerima perintah Allah yang diterima ayahnya.

Peristiwa sejarah tersebut diabadikan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya:

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. – Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya)”.  (QS.Ash-Shoffat: 109).

Dengan ayat diatas, Allah memberikan pelajaran kepada hamba-hambaNya yang beriman tentang ketaatan kepada perintah Allah subhanahu wata’ala. Begitu taatnya beliau hingga diperintah menyembelih anak kesayangannyapun beliau lakukan dengan ikhlas, tanpa pikir panjang tanpa ragu sedikitpun. Begitulah teladan ahli surga. Bahkan Allah memerintahkan Nabi Muhammad serta umatnya untuk mengikuti teladan Nabi Ibrahim. Allah berfirman:

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif.” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah (QS. An-Nahl 123).

Ketiga, membina kesatuan umat.
Umat Islam dari penjuru dunia, dari beraneka warna kulit, suku bangsa dan bahasa mereka membaur dengan pakaian yang sama, dengan niat yang sama, mencari ridho Allah. Mereka membawa rasa cinta yang sama, yaitu cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Keutuhan sebagai satu komunitas umat ini lebih terasa lagi ketika Rasulullah sendiri memimpin jamaah haji hingga haji wada’ yang terakhir bagi beliau. Itulah satu kesatuan umat yang utuh, perwujudan ummatan waahidah yang indah. Keutuhan umat ini terus berlanjut hingga masa-masa Khulafaur rasyidin al-mahdiyyin. Kesatuan umat secara syar’iy memang menjadi pakaian umat, mewarnai gerak langkah sosial umat sehari-hari.

Allah berfirman :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpegang-eratlah kamu semuanya dengan tali (agama) Allah seraya ber-Jama’ah, dan janganlah kamu berfirqoh-firqoh. Dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (S.Ali Imran 103).

Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam bersabda :
“Hendaklah kalian berjamaah dan jangan bercerai-berai, karena syetan bersama yang sendiri dari pada dengan dua orang lebih. Barangsiapa ingin masuk ke dalam surga maka hendaklah komitmen dalam jama’ah” (HR At-Tirmidzi).

Sejarah mencatat sepeninggal Khulafaur rasyidin al-mahdiyyin, umat Islam di dunia ini terkotak-kotak dalam perbedaan aliran-aliran pemikiran, madzhab hingga ashobiyah antar bangsa antar wilayah. Akibatnya, umat 1,8 milyar di dunia ini dalam kondisi lemah tidak berdaya menghadapi fitnah dan serbuan musuh. Allah mengingatkan:

وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfâl: 46).

Imam al-Qurtuby menjelaskan maksud dari “watadzhabu rîhukum” pada ayat di atas adalah, “hilang kekuatanmu”. Sementara Imam ath-Thabarî menjelaskan maksud dari “walâ tanâza’û fatafsyalû” adalah janganlah kamu berbeda kemudian kamu terpecahbelah yang menyebabkan kamu menjadi lemah dan gentar. Sering kita dengar peribahasa yang mengatakan: “Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh”. Peribahasa ini memiliki arti bahwa suatu umat akan kuat dan maju apabila bersatu tidak terpecah belah.

Persatuan umat ini diperkokoh lagi dengan ikatan persaudaraan (ukhuwwah). Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara” (S.al-Hujurat 10). Sikap ukhuwah ini menjadi barometer keimanan, maka jelaslah bahwa pertikaian sesama muslimin dengan motif dan modus apapun bukanlah watak orang beriman.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabada:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh mendzaliminya dan tidak akan membiarkannya” (Muttafaq ‘alaih).

Kesatuan umat tetap diperlukan hingga akhir jaman. Lihatlah bagaimana saat ini kita saksikan pertikaian sesama muslim di negara-megara Timur Tengah. Lebih parah lagi adalah nasib saudara-saudara kita di Palestina hingga saat ini dalam kondisi tertindas di negerinya sendiri akibat keganasan Yahudi Israel. Bahkan Masjid Al-Aqsa warisan muslimin dirusak dan mereka kendalikan. Apa yang dapat dilakukan saudara-saudara muslimin di dunia ketika mereka sendiri juga terkungkung dalam kotak-kotak mazhab, harokah, serta kelompok sosial politik yang berbeda-beda?.

Di hari Idul Adha ini marilah kita perkuat persatuan dan kesatuan umat ini, kita bangun masyarakat yang damai, saling nasihat, saling peduli sesama, karena kita bersaudara.

الله اكبر, الله اكبر, الله اكبر ولله الحمد

Hadirin kaum muslimin rahimakumullah
Kesatuan umat dalam membina dinamika kehidupan akan melahirkan kebersamaan serta perwujudan hidup ber-Jama’ah. Dengan berjama’ah muslimin akan saling kuat menguatkan, saling tolong menolong dalam kebaikan, karena tidak ada satupun manusia yang sempurna tanpa dukungan dan kerjasama dengan sesama. Bahkan orang-orang kafirpun saling kerjasama, sebagaimana firman Allah:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

“Dan orang-orang kafir itu sebagian mereka melindungi sebagian yang lain, maka jika kalian tidak berbuat begitu maka akan terjadi fitnah dimuka bumi dan kerusakan yang besar”
(QS. al-Anfal 73).

Adapun rambu-rambu Al-Qur’an tentang kewajiban muslimin membina kesatuan umat sangat jelas, antara lain:

Ikatan persaudaraan

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahma” (QS al-Hujurat 10).

Perintah berjuang dalam satu barisan umat

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh” (QS.ash-Shof 4).

Perintah untuk saling menasihati sesama

وَالْعَصْرِإِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍإِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS.al-Ashr 1-3).

Perintah untuk saling menolong

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (QS. Al-Maidah 2).

Perintah untuk saling melindungi

 

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain” (QS. At-Taubah 71).

Larangan berfirqoh-firqoh

وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-beraidan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,” (QS. Ali-Imran {3} : 105).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

..اَلْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ

“Al-Jama’ah itu adalah rahmat dan perpecahan (perselisihan) adalah adzab”. (HR. Ahmad).

مَنْ أَرَادَ مِنْكُمْ بُحْبُوْحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمِ الْجَمَاعَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ الْإِثْنَيْنِأَبْعَدُ (رواه الترمذي والحاكم وصححه)

“Barangsiapa dari kalian menginginkan tinggal di tengah-tengah surga, maka hendaklah berpegang teguh kepada Al-Jama’ah karena setan bersama orang-orang yang sendirian dan dia dari dua orang lebih jauh.” (H.R. At-Tirmidzi dan Hakim menshahihkannya).

Oleh karena itu marilah kita hindari perselisihan di tengah umat, sebaliknya kita bangun kesatuan dan kerjasama dalam membina amal ibadah secara kaaffah, sehingga terhindar dari ancaman Allah sebagaimana firman-Nya :

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,”(Q.S. Ali Imran [3]: 105).

الله اكبر, الله اكبر, الله اكبر ولله الحمد

Hadirin rahimakumullah,
Di Era globalisasi adalah peluang yang Allah berikan kepada kita, agar terus membina ummatan waahidah yang semakin luas di muka bumi ini. Kemudahan ilmu dan teknologi menjadi berkah jika dimanfaatkan secara positif, dalam membina kesatuan umat, untuk menegakkan syariah Islam yang kaaffah.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الأرْضِ أَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الأمُورِ

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa. (Yaitu)orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan” (S. al-Hajj: 40-41).

Kebalikannya, jika muslimin tidak terpimpin sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya, maka kehancuranlah yang akan terjadi. Allah berfirman:

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. “(QS. Al-Israa 17: 16).

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Khusus untuk kaum muslimat, kami mengingatkan agar tetap menjaga nilai-nilai ketaqwaan dan kehormatan diri dalam kehidupan sehari-hari, serta agar berinfaq selesai shalat ini. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pada setiap akhir sholat Iedul Fitri atau Iedul Adha selalu menasehati kaum muslimat untuk bertakwa dan banyak bersedekah sebagaimana hadist berikut:

عَنْ سَعِيْدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ اَنَّ النَّبِيَّ ص صَلَّى يَوْمَ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلّ قَبْلَهَا وَلَا بَعْدَهَا ثُمَّ اَتَى النّسَاءَ وَمَعَهُ بِلَالٌ فَاَمَرَهُنَّ بِالصَّدَقَةِ فَجَعَلْنَ يُلْقِيْنَ تُلْقِي الْمَرْأَةُ خُرْصَهَا وَسِخَابَهَا. البخارى 2:5

Dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas bahwasanya dahulu Nabi SAW melaksanakan shalat hari raya ‘Iedul Fithri dua raka’at, beliau tidak shalat apapun sebelumnya maupun sesudahnya. Kemudian beliau datang bersama Bilal ke tempat para wanita, lalu beliau menganjurkan mereka untuk bershadaqah, lalu para wanita bershadaqah, ada yang memberikan anting-antingnya, dan ada pula yang memberikan kalungnya. [HR. Bukhari juz 2, hal. 5].

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Mengakhiri khutbah ini, marilah kita di hari Idul Adha ini memanjatkan doa kepada Allah. Memohon tetapnya iman dan islam dalam diri kita hingga khusnul khotimah seraya memohon ampunan dan ridho-Nya.

DOA AKHIR KHUTBAH

اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِىْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ.
يَارَبَّنَالَكَ الْحَمْدُ وَلَك الشُّكْرُ كَمَا يَنْبَغِىْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ
اللّهُم اغْفِرْلِلْمُؤْمِنِيْن وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنَهُمْ وَأَلِّف بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَاجْعَل فِي قُلُوْبِهِم الإِيْمَان وَالْحِكْمَةَ وَثَبِّتْهُم عَلَى مِلَّةِرَسُوْلِكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم
وَأَوْزِعْهُمْ أَنْ يُوْفُوْابِعَهْدِكَ الَّذِي عَاهَدْتَهُمْ عَلَيْهِ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ إِلهَ الْحَقِّ
وَاجْعَلْنَامِنْهُمْ
اللّهمّ حَبِّبْ إلَيْنَاالإيمَان وَزَيِّنْه فِي قُلُوْبِنَاوَكَرِّهْ إلَيْنَاالْكُفْرَوَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ وَاجْعَلْنَامِنَ الرَّاشِدِيْنَ
اَللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا ، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوْبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ
الرَّحِيْمُ.
اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي فلسطين خاصة وفِي سَائِرِ بِلاَدِ الإِسْلاَمِ عامة يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
اللّهمّ أَعِزَّالإسْلاَم وَالمسلمين وَأَذِلّ الشِّرْكَ والمشركين وَدَمِّرْأعْدَاءَالدِّين وَاجْعَلْ دَائِرَةَالسَّوْءِعَلَيْهِم ياربَّالعالمين
اللهم عذّ بِ الكَفَرَةَالذ ين يَصُدُّوْنَ عَن سَبِيْلِكَ ويُكَذِّبُوْن رُسُلَكَ ويُقاتِلُونَ أوْلِيَاءَكَّ
اللهم فَرِّقْ جَمْعَهُم وَشَتِّت شَمْلَهُمْ وَخُذْهُم أَخْذَعَزِيْزٍمُقْتَدِرٍإنَّكَ رَبُّنَاعَلَى كل شَيْئ قَدِيْرٍيَارَبَّ العالمين
اَللَّهُمَّ اغْفِرلَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَيَانَاصِغَارًا، وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةَ وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةَ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ،
وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزِّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

(Ast/R/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)