Khutbah Idul Adha: Meneladani Keluarga Nabi Ibrahim dalam Menghadapi Pandemi

Oleh: Widi Kusnadi, Dai Pondok Pesantren Al-Fatah, Cileungsi, Bogor

 

 اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ.   اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَاتَ وَ أَحْيَى. اَلْحَمْدُ للهِ الًّذِيْ أَمَرَنَا بِالتَّقْوَى وَ نَهَانَا عَنِ اتِّبَاعِ الْهَوَى. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ لَنَا عِيْدَ الْفِطْرِ وَ اْلأَضْحَى. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ  نِعْمَ الْوَكِيل وَنِعْمَ الْمَوْلَى، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَ مَنْ يُنْكِرْهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا. وَ صَلَّ اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَ حَبِيْبِنَا الْمُصْطَفَى، مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الْهُدَى، الَّذِيْ لاَ يَنْطِقُ عَنْ الْهَوَى، إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوْحَى، وَ عَلَى اَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدقِ وَ الْوَفَا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَنْ اِتَّبَعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْجَزَا. أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأيُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمْ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ. وقَالَ أَيْضاً إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ. صَدَقَ اللهُ العَظِيمْ

الله اكبر, الله اكبر, لااله الاالله اكبر, الله اكبر ولله الحمد

Hari ini, gemuruh takbir dan tahmid di berbagai penjuru negeri bergelora membahana. Ayat-ayat suci berkumandang menggetarkan kalbu dan jiwa. Di hari yang penuh berkah ini, diiringi hangatnya sinar mentari, menyibak sejuknya embun pagi, kita semua melangkahkan kaki,  menuju tempat shalat untuk bersimpuh, bersujud memuji kebesaran Ilahi Rabbi.

Ada yang berjalan cepat, ada pula yang memakai tongkat, ada yang berkendaraan, ada pula yang cukup bersama keluarga berjalan bergandeng tangan, mesra dan syahdu bersama pasangan. Pagi ini, suami istri, tua dan muda, semua bergembira, semua bersama sama mengumandangkan takbir penuh cinta, menghidupkan sunnah Idul Adha, sunnah Rasul kita yang mulia.

أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اَلْحَمْدُ

Dhulhijjah adalah bulan penuh keutamaan. Di dalamnya banyak peristiwa-peristiwa besar nan bersejarah ditorehkan. Dalam sebuah hadist, Kanjeng Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa salam mengisahkan; Nabi Adam diterima taubatnya pada 1 Dhulhijjah. Nabi Yunus dikeluarkan dari perut ikan Nuun pada 2 Dhulhijah. Nabi Zakariyya diijabah doanya dengan lahirnya Nabi Yahya pada 3 Dhulhijjah. Nabi Isa lahir pada 4 Dhulhijjah, Nabi Musa lahir pada 5 Dhulhijah.

Dan, peristiwa yang tak mungkin kita lupa, pengorbanan yang diabadikan dalam Al-Quran dan kitab-kitab sebelumnya, dialah Nabiyullah Ibrahim Alaihi Salam bersama keluarganya yang mulia, menunaikan perintah Allah dengan menyembelih Ismail, putra tercinta.

Pada suatu hari, Allah menguji Ibrahim melalui mimpi. “Wahai Ibrahim penuhilah nazarmu, sembelihlah Ismail, putra kesayanganmu”. Pada hari berikutnya, mimpi itu datang lagi dan lagi, hingga yakinlah Ibrahim bahwa itu benar-benar wahyu dari Allah Rabbul Izzati. Meski berat dirasa, gelisah dan galau bergelora di dada, namun Ibrahim berkeyakinan, syariat Allah harus dilaksanakan, perintah itu harus ditunaikan.

Maka, tatkala keduanya sudah berada di sebuah tempat yang dituju, pedang yang tajam telah dipersiapkan, kepala Ismail pun sudah bersemayam di atas batu, mata pedang dan leher siap beradu. Sang Ayah mengangkat pedang sambil memejamkan mata, tidak tega rasanya melihat putra kesayangannya meregang nyawa di hadapannya. Ibunda Sayyidatina Hajar di belakang suaminya menahan haru, tak kuasa membendung air mata yang mengalir deras di pipinya.

Maka, saat itulah terlihat secara nyata, kesabaran, ketabahan, keikhlasan dan kepasrahan dari keluarga Ibrahim yang mulia, keluarga yang patut menjadi suri tauladan dalam pengorbanan dan ketaatan.

أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اَلْحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin, jamaah shalat ‘Iedul Adha Rahimakumullah

Ada pelajaran berharga yang bisa kita ambil dari kisah Ibrahim dan keluarganya yang mulia.

Bagi kita seorang Bapak, bersikaplah adil dan bijak seperti Ibrahim. Ia teguh memegang amanah, namun ia bijak dalam menyampaikan perintah. Ia mengajak keluarganya bermusyawarah untuk menunaikan perintah Allah.

Ibrahim bukan sosok pemimpin otoriter, tapi ia merupakan sosok yang visioner. Ibrahim adalah contoh kepala keluarga yang idealis, namun di mata Sarah dan Hajar, ia merupakan sosok suami yang romantis, dan di mata anaknya ia adalah sosok ayah yang humoris.

Maka, utamanya di bulan Dhulhijah ini, mari kita santuni keluarga kita, jadikan bulan Dhulhijah ini bulan keluarga karena kebaikan, karena di bulan ini lebih mulia dari bulan-bulan selainnya. Kita bekali keluarga kita dengan Al-Quran, kita hiasi rumah kita dengan lantunan ayat suci Al-Quran, jangan jadikan rumah kita seperti kuburan, yang sepi dan jarang sekali  terdengar lantunan dan bacaan Quran.

Bagi seorang istri, tirulah sosok Ibunda Hajar. Meski ditinggal sang suami di tengah gurun nan gersang, tiada makanan dan minuman yang ditinggalkan, ia tetap berbaik sangka, pasti Allah akan memberi rizki kepadanya. Sebagai seorang istri, ia selalu patuh, tanpa keluar kata-kata mengeluh. Ia tetap tegar, meski dahaga  kian menjalar, dan perut semakin terasa lapar, ia tetap tawakal, tanpa terucap dalam lisannya kata menyesal.

Ibunda Hajar merupakan sosok istri yang selalu mendukung perjuangan. Ia korbankan dan kalahkan ego pribadi demi suksesnya perjuangan sang suami.

Wahai para istri, berbaktilah kepada suamimu dengan sepenuh hati. Layani suamimu dengan senang dan riang. Dukunglah perjuangan suami, kuatkan semangatnya dalam berjuang dan menjemput rizki. Bersedekahlah dan berbagilah dari sebagian rizki yang telah Allah berikan. Dengan bersedekah dan berbagi, semoga keberkahan dan kemudahan akan senantiasa menyertai.

Bagi seorang anak, tirulah akhlak dan sikap Ismail AS. Dengan ketinggian ilmu dan keteguhan iman, ia dukung perjuangan sang ayah. Dalam menunaikan perintah, ia tetap tabah. Ia yakin dengan ketabahan, keberhasilan akan ia dapatkan, kesuksesan dunia akhirat akan ia raih, karena keridhaan Allah lah yang ia pilih.

Persiapkanlah dirimu wahai pemuda dengan ilmu dan akhlak mulia, karena ilmu tanpa akhlak, hanya akan menjadikan manusia sombong dan curang, pada ujungnya menyeret pelakunya kepada lembah kehancuran dan kehinaan. Betapa banyak kita saksikan di negeri kita seorang cerdik pandai, banyak orang yang silau dan terpukau, tapi karirnya berakhir di meja hijau. Ia tertangkap tangan, dan kemudian mendekam di balik jeruji besi, belum lagi siksa di akhirat menanti.

Manusia yang berakhlak terpuji pasti akan senantiasa dihargai, dan menjadi mulia di manapun ia berada. Bukankah Nabi kita bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya,” Orang yang baik akhlaknya bagaikan lentera yang menyala. Ia memancarkan cahaya, terang benderang, hangat dan menentramkan, orang-orang akan merasa suka dan betah berada di dekatnya. Karena dia pasti memberi pengaruh positif bagi lingkungan sekitarnya.

أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اَلْحَمْد

 Ma’asyiral Muslimin, jamaah shalat ‘Iedul Adha Rahimakumullah

Hari ini kita semua merayakan Idul Adha, dengan penuh keterbatasan dan kesederhanaan. Di saat wabah masih ada di sekitar kita, Alhamdulillah Sholat Ied bisa terlaksana. Namun demikian, wabah yang melanda ini, janganlah mengurangi rasa syukur kita karena Allah, masih memberikan nikmat kesehatan dan umur panjang. Dengan terus bersyukur, kiranya Allah terus menambah nikmat nya kepada kita semua, sebagaimana firmanNya:

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌۭ

“Jika kalian bersyukur, maka sungguh Aku akan tambah untuk kalian (akan nikmat). Dan jika kalian kufur, sesungguhnya siksa-Ku sangatlah pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Wabah ini adalah ujian. Untuk itu, kita harus terus bersabar, tidak boleh putus asa apalagi menyerah. Usaha dan ikhtiyar harus terus dilakukan dengan melaksanakan protokol kesehatan. Amalan ibadah juga terus kita tingkatkan. Juga tidak kalah penting, berbagi kebaikan pada anggota keluarga, saudara, dan tetangga kita yang membutuhkan.

Ketika kita berkumpul bersama ayah-ibu kita, bersama anak-anak kita, teman-teman dan orang-orang yang kita cinta, dalam rangka merayakan momen hari raya, ingatlah bahwa di sana ada anak-anak yatim yang tidak mendapatkan kasih sayang, mereka sudah tidak memiliki orang tua lagi.

Di sana ada  para janda kaum kaum fakir yang bekerja, membanting tulang mencari nafkah untuk menghidupi anak-anak mereka. Ingatlah bahwa di berbagai tempat, banyak orang yang kehilangan pekerjaan, penghasilannya yang turun drastis di tengah penyekatan dan penutupan diterapkan. Di berbagai daerah banyak orang kesulitan mencari nafkah, sementara Covid-19  terus mewabah.

Ma’asyiral Muslimin, jamaah shalat ‘Iedul Adha Rahimakumullah

Kita harus yakin bahwa di setiap kesulitan pasti ada banyak kemudahan, jika kita bersabar. Di setiap musibah pasti ada hikmah, jika kita bertawakal. Di setiap masalah, pasti akan kita temukan jalan keluar, jika kita bertakwa. Dan kita yakin bahwa di setiap kesusahan pasti ada kebahagiaan, jika kita tunduk total kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Jangan pernah merasa bosan, dan merasa lelah dalam berdoa. Sebab, dengan doa, kita berharap, Allah memberikan keselamatan kemudahan dan jalan keluar, dan negeri kita tercinta mampu bangkit, kehidupan kembali normal, ibadah di masjid kembali diselenggarakan, pengajian dan majelis taklim kembali digiatkan, sehingga masyarakat selamat dunia dan akhirat.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

 اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوآللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.  وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

(A/P2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)