Khutbah Idul Adha: Nabi Ibrahim Alaihi Salam Teladan Umat

Oleh : Majelis Dakwah Pusat Jama’ah Muslimin (Hizbullah)

اَلْحَمْدُ ِلِلَّهِ الَّذِىْ اَمَرَنَا بِلُزُوْمِ الْجَمَاعَةِ وَنَهَانَا عَنِ الْاِخْتِلَافِ وَالتَّفَرُّقِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ نَبِيُّ الرَّحْمَةِ. مَاشَاءَ اللهُ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَاءْ لَمْ يَكُنْ لَاحَوْلَ وَلَاقُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ هُدَاةِ الْاُ مَّةِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

اَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، كَمَا قَالَ تَعَالَى فِىْ كِتَابِهِ الْكَرِيْم، أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

اَمَّا بَعْدُ، فَـإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَـابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِى النَّارِ

 

اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah

Marilah kita bersyukur kepada Allah  hari ini dapat melaksanakan rangkaian ibadah sunnah dengan mengawali takbir yang menggema sejak malam di seluruh dunia.

Shalat Idul Adha mengingatkan kita kepada pribadi agung Nabi Ibrahim  dan keluarganya sebagai teladan bagi manusia. Keluarga yang taat, bersyukur dan sabar. Keluarga yang harmonis dan rukun. Keluarga yang melahirkan generasi yang saleh. Keluarga yang mampu membangun peradaban manusia berbasis tauhid dan syariah yang agung.

Para Rasul memiliki kelebihan yang berbeda-beda, sebagaimana Nabi Ibarahim , Allah telah mengangkat derajatnya sekaligus menjadi teladan yang baik (uswah) bagi umat manusia sesuai dengan firman Allah   :

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ۖ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ. (المُمتَحنَة: 4)

“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali”.(QS. Al-Mumtahanah:4)

Berikut beberapa uswah (keteladanan) dari Nabi Ibrahim  yang dapat kita ikuti:

  1. Keteladan Nabi Ibrahim dalam Tauhid

Kisah agung Nabi Ibrahim  adalah bukti peneguhan nyata akan tauhid, perjalanan hidupnya selalu berpijak pada kebenaran dan tidak pernah berpaling dari kebenaran, beliau selalu patuh kepada Allah  dengan tulus dan ikhlas, juga selalu bersyukur atas nikmat yang diperolehnya. Sesuai dengan firman Allah :

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. شَاكِرًا لِأَنْعُمِهِ ۚ اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (النَّحْل:121-120(

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus”.(QS. an-Nahl: 120-121)

Beliau adalah sosok pembawa panji-panji tauhid, perjalanan hidupnya yang panjang syarat dengan dakwah kepada tauhid dengan segala lika-likunya, sejak dakwah beliau kepada kaumnya di Babilonia, Irak, saat menghadapi Raja Namrud dan pengikutnya hingga perintah hijrah beliau ke wilayah Syam, Palestina untuk menjaga dan memakmurkan Masjidil Aqsa serta perintah Allah  untuk membawa sebagian keluarganya (Hajar dan Ismail putranya) ke wilayah Hijaz (Makkah Al Mukaramah).

Gambaran tentang dakwah tauhid yang beliau sampaikan serta ketegasan terhadap segala kemusyrikan, Allah  terangkan dalam surat al-Mumtahanah di atas.

إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَه.(المُمتَحنَة: 4)

“Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.”

Nabi Ibrahim  mengingkari kaumnya, tidak mengacuhkan tuhan-tuhan mereka, dan tidak membenarkan perbuatan mereka yang menyembah patung-patung yang tidak dapat memberi manfaat dan mudarat kepada siapapun.

Hal ini menunjukan pemisahan yang jelas dan tegas dari Nabi Ibrahim  kepada orang-orang musyrik termasuk komunis yang atheis (tidak bertuhan dan tidak mengakui adanya Tuhan). Bahwa tidak ada lagi ikatan-ikatan dan hubungan-hubungan setelah terputusnya ikatan akidah dan hubungan iman. Dalam hal ini, keputusan dan ujian yang harus ditempuh dan dilalui oleh setiap mukmin pada setiap generasi hingga hari kiamat.

Tauhid, meng-Esa-kan Allah  adalah pokok aqidah yang menjadi pegangan dan ajaran semua nabi-nabi, termasuk yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim . Syarat dan tata cara peribadatan mungkin berbeda, namun dalam pokok aqidah tidaklah berubah. Sebab itu di samping kewajiban mengikuti langkah Nabi Muhammad  yang teguh berpegang pada pendirian tauhid itu, suri teladan pun hendaklah diambil juga dari nabi-nabi yang lain, terutama Nabi Ibrahim  yang dengan datangnya Nabi Muhammad  itu untuk membersihkan agama Islam dari kaum Quraisy dengan berbagai macam berhala yang mengantarkan kepada kemusyrikan.

  1. Keteladana Nabi Ibrahim dalam Berkurban

Syariat qurban pertama kali dilakukan oleh Nabi Ibrahim , berdasarkan firman Allah:

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ. (الصفّتّ: 107)

“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”.(QS. asShafat: 107).

Pengorbanan besar yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim  menyembelih putranya beserta pengorbanan keluarganya tercatat dalam sejarah kemanusiaan yang diabadikan Allah  dalam firman-Nya. Nabi Ibrahim  memberikan teladan tentang ketaatan mutlak kepada Allah . Beliau melalui mimpi diperintah Allah  agar menyembelih putra satu-satunya, putra yang digadang-gadang menjadi penerus perjuangan, pelanjut silsilah keturunan dan penyambung tongkat estafet kenabian. Demikian pula Nabi Ismail , sang putra, taat dan ikhlas menerima perintah Allah  yang diterima ayahnya.

Kata qurban berasal dari bahasa Arab, yakni qaraba, yaqrabu, qurbanan yang memiliki arti dekat. Kurban juga disebut al-udhhiyyah dan adh-dhahiyyah yang berarti binatang sembelihan.

Secara istilah qurban berarti mendekatkan diri kepada Allah  dengan menyembelih hewan kurban (seperti unta, sapi (kerbau), dan kambing) pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq (tanggal 11, 12, dan 13).

Perintah berqurban ditegaskan oleh Allah  dalam firman-Nya:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. (الكَوْثر:2)

“Maka laksanakan shalat karenaTuhan-mu dan berqurbanlah”  (QS. al Kautsar: 2).

Bahkan Rasulullah  menekankan pentingnya berqurban dengan ancaman sebagaimana hadits dari Abu Hurairah r.a.:

مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا (رواه أحمد)

“Barangsiapa yang mempunyai kemampuan untuk berqurban, tapi ia tidak mau berqurban, maka janganlah ia dekat-dekat tempat shalat kami.” (HR. Ahmad)

Berdasarkan Al-Qur’an dan hadits Rasulullah  bahwa berkurban itu memberikan hikmah yang banyak, diantaranya:

  1. Berkurban sebagai syiar Islam (QS. al-Hajj; 34).
  2. Berkurban sebagai kenangan untuk mengingat kecintaan Allah kepada Nabi Ibrahim Alaihi Salam (QS. ash-Shafat: 102).
  3. Berkurban sebagai misi kepedulian kepada sesama (HR. Muslim).
  4. Berkurban merupakan ciri keislaman seseorang (HR. Ahmad).
  5. Ibadah kurban adalah amal yang paling dicintai pada hari itu (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi).
  6. Setiap yang berkurban akan mendapatkan pahala sebanyak bulu yang melekat pada hewan kurban (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Idul Adha sejatinya merayakan kemenangan spiritual setelah sukses dengan makrifatullah (mengenal Allah) dalam puncak rangkaian ibadah Haji pada peristiwa wukuf di Arafah yang berarti manusia berhenti pada titik ia mengenal dirinya dan mengenal penciptanya, Allah .

Sehingga semangat berkurban ini adalah semangat berjihad yang tak terkalahkan dengan harta, tahta, wanita dan anak tercinta yang dapat mengantarkan pada cinta yang otentik dan kedekatan yang paling tinggi di hadapan Allah . Sebagaimana firman-Nya yang lain:

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا. (النِّسَآء:125)

Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya. (QS. an-Nisa: 125)

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah 

  1. Keteladanan Nabi Ibrahim dalam menjaga Masjidil Aqsa

Nabi Ibrahim  adalah Nabi yang secara khusus Allah  perintahkan untuk berhijrah membangun, mendiami, memelihara dan menjaga kesucian Masjidil Aqsa. Hal itu terjadi setelah beliau menghadapi tantangan penolakan dakwah yang besar di negeri Babilonia dengan Raja Namrud dan pengikutnya. Sebagaimana firman Allah :

وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ. وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ نَافِلَةً ۖ وَكُلًّا جَعَلْنَا صَالِحِينَ. (الأنبيآء: 72-71)

“Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) lshak dan Ya’qub, sebagai suatu anugerah (dari Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang saleh” (Qs. Al Anbiya : 71-72).

Hampir sebagian besar usia Nabi Ibrahim  dihabiskan di tanah suci Syam Palestina, bersama sebagian keluarga, anak dan keturunannya, yaitu Ishak dan Ya’kub.

Nabi Ibrahim  adalah pelanjut dari pembangunan Masjid Al-Aqsa, setelah diawali oleh Nabi Adam .

Masjidil Aqsa adalah masjid yang Allah  sucikan di tanah yang diberkahi. Masjid yang disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai isyarat kemuliaan. Masjid yang pernah disinggahi oleh Rasulullah  dalam peristiwa Isra Mi’raj, dan masjid yang menjadi kiblat pertama umat Islam. Sebagaimana firman-Nya:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. (الاِسْرَآء:1)

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al Isra’: 1).

Masjidil Aqsa adalah rumah ibadah kedua tertua di dunia setelah Masjidil Haram yang dibangun di muka bumi. Dijelaskan di dalam sebuah hadits, Abu Dzar berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِي الْأَرْضِ أَوَّلَ؟ قَالَ: الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ، قَالَ: قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: ثُمَّ الْمَسْجِدُ الْأَقْصَى، قَالَ: أَبُو مُعَاوِيَةَ يَعْنِي بَيْتَ الْمَقْدِسِ، قَالَ: قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا؟ قَالَ: أَرْبَعُونَ سَنَةً. (رواه أحمد)

“Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama diletakkan oleh Allah di muka bumi?” Beliau bersabda, “Al-Masjid Al-Haram”. Abu Dzar bertanya lagi, “Kemudian apa?”. Beliau bersabda, “Kemudian Al-Masjid al-Aqsha”. Berkata Abu Mu’awiyah “Yakni Baitul Maqdis”. Abu Dzar bertanya lagi, “Berapa lama antara keduanya?”. Beliau menjawab, “Empat puluh tahun” (HR Ahmad).

Al Aqsa merupakan salah satu masjid yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad  untuk dikunjungi selain Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ، مَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِيْ هَذَا وَالْمَسْجِدِ الْأَقْصَى (رواه البخاري ومسلم)

“Tidak dikerahkan melakukan suatu perjalanan kecuali menuju tiga Masjid, yaitu Masjid Al-Haram (di Mekkah), dan Masjidku (Masjid An-Nabawi di Madinah), dan Masjid Al-Aqsha (di Palestina) (HR. Bukhari dan Muslim).

Masjid yang menjadi wakaf bagi kaum muslimin agar mereka menjaga, merawat dan memakmurkannya.

Masjidil Aqsa kini dalam bahaya, terlebih sejak adanya rencana pencaplokan dengan paksa (aneksasi) Israel terhadap bagian yang lebih besar dari Tepi Barat Palestina. Rencana Israel ini adalah puncak dari proposal “Kesepakatan Abad Ini” atau Deal of Century yang diusulkan Presiden AS Donald Trump Januari 2020 dan mendapatkan hujatan seluruh dunia karena isinya yang merugikan bangsa Palestina.

Terkait keberadaan Masjidi Aqsa yang masih dalam cengkraman Zionis Yahudi, sudah menjadi kewajiban sebagai tuntutan aqidah bahwa umat Islam harus menjaga dan mengembalikan kesuciannya serta merebutnya dari Zionis Israel. Dan untuk menunjukan rasa cinta kita kepada Masjidil Aqsa, hendaknya kita selalu mengingatnya, berusaha untuk mengunjunginya, bahkan siap berkorban untuk menjaganya dengan segala kemampuan yang Allah  berikan baik moril maupun materil.

Pembelaan umat Islam tidak hanya terbatas kepada muslim Palestina semata, namun pembelaan mereka juga terhadap semua umat Islam yang sedang tertindas, teraniaya dan terjajah seperti di Kashmir, India, Rohingya, Uighur, dan muslimin dimanapun berada, semua fitnah itu menjadi ujian keimanan bagi muslimin untuk menolong dan membelanya.

Sebagaimana Rasulullah  bersabda;

أَلْمُؤمِنُ لِلْمُؤمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا (رواه البخاري ومسلم)

“Seorang mukmin pada sesama mukmin itu bagaikan bangunan yang sebagian menguatkan pada bagian lainnya” (HR. Bukhari dan Muslim).

  1. Keteladan Nabi Ibrahim dalam Dakwah Kesatuan

Nabi Ibrahim adalah manusia yang menemukan Tuhan dalam arti yang sebenarnya, yaitu Tuhan Yang Satu, Allah , Tuhan seru sekalian alam, Tuhan pencipta manusia, Tuhan yang satu dengan prinsip tauhid, La Illaha Ilallah. Sesuai dengan firman Allah :

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ. (الاَنعَام: 79)

“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”. (QS. Al An’am :79).

Karena Tuhan itu satu, maka mereka adalah umat yang satu, agama yang satu, kebenaran yang tunggal, yang datang hanya dari Allah . Jika manusia berpegang teguh kepada kebenaran agama Allah itu, maka akan menjadi dasar terwujudnya kesatuan umat dalam Al Jama’ah yang tidak dapat dipecah belah oleh situasi dan kondisi apapun.

Jadi syariat berjamaah, perintah untuk menjaga persatuan umat dan menjauhi perpecahan sudah ada sejak zaman Nabi Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa Alaihimus Shalawatu wa Salam. Inilah misi syariat seluruh para Nabi dan Rasul, khususnya lima Nabi yang disebut sebagai Ulul Azmi. Misi yang sama yaitu menegakkan agama dengan kesatuan. Allah    berfirman:

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ. (الشّورَى:13)

Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS. Asy-Syura: 13)

Nabi-nabi yang utama tadi diperintah oleh Allah  untuk berjamaah dalam menegakkan agama Islam dengan tidak berpecah-belah. Perintah ini sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Hidup berjama’ah ini merupakan Manhaj Nubuwwah yang harus diikuti oleh kaum muslimin. Allah   berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ. (اَل عِمْران:103)

“Dan berpegang-eratlah kamu semuanya dengan tali (agama) Allah seraya ber-Jama’ah, dan janganlah kamu berfirqoh-firqoh. Dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS.Ali Imran 103).

Bahkan Rasulullah  memerintahkan umatnya untuk bersatu sebagai landasan perjuangan dalam menegakkan agama Allah sebagaimana sabdanya:

أَنَا أَمُرُكُمْ بِخَمْسٍ أَللهُ أَمَرَنِىْ بِهِنَّ : بِالْجَمَاعَةِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَالْهِجْرَةِ وَالْجِهَادِ فِىْ سَبِيْل ِاللهِ، فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ الْجَمَاعَةِ قِيْدَ شِبْرٍ فَقَدْخَلَعَ رِبْقَةَ الْإِسْلَامِ مِنْ عُنُقِهِ إِلَى اَنْ يَرْجِعَ وَمَنْ دَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ فَهُوَمِنْ جُثَاءِ جَهَنَّمَ، قَالُوْا يَارَسُوْل َالله ِوَاِنْ صَامَ وَصَلَّى، قَالَ وَ اِنْ صَام َوَصَلَّى وَزَعَمَ أَنَّهُ مُسْلِمٌ فَادْعُوا الْمُسْلِمِيْن َبِمَاسَمَّاهُمُ الْمُسْلِمِيْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ عِبَادَاللهِ عَزَّوَجَلَّ.(رواه أحمد)

“Aku perintahkan kepada kamu sekalian (muslimin) lima perkara, sebagaimana ALLAH telah memerintahkanku dengan lima perkara itu: berjama’ah, mendengar, tha’at, hijrah dan berjihad fie sabilillah. Barang siapa yang keluar dari Al-Jama’ah sekedar sejengkal, maka sungguh terlepas ikatan Islam dari lehernya sampai ia kembali (taubat). Dan barangsiapa yang menyeru dengan seruan jahiliyah, maka ia termasuk golongan orang yang bertekuk lutut dalam Jahannam. “Para shahabat bertanya: “Ya Rasulallah, jika dia shaum dan shalat?” Rasulullah bersabda: “Sekalipun dia shaum dan shalat dan mengaku dirinya seorang Muslim. Maka panggillah olehmu orang orang Muslim itu dengan nama yang Allah telah berikan kepada mereka: “Al-Muslimin, Al-Mu’minin, hamba-hamba Allah ‘azza wajalla.” (HR. Ahmad dari Harits al-Asy’ari).

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah

Bahaya Perpecahan Bagi Muslimin

Sejarah mencatat sepeninggal Khulafaur Rasyidin al-Mahdiyyin, umat Islam di dunia terkotak-kotak dalam perbedaan aliran-aliran pemikiran, madzhab hingga ashabiyah antar bangsa antar wilayah. Akibatnya, muslimin dalam kondisi lemah tidak berdaya menghadapi fitnah dan serbuan musuh-musuh Allah. Allah  mengingatkan:

وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ. (الاَنفَال: 46)

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfâl: 46).

Imam al-Qurtuby menjelaskan maksud dari وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ pada ayat di atas adalah hilang kekuatanmu. Sementara Imam ath-Thabari menjelaskan maksud dari وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ adalah janganlah kamu berbeda kemudian kamu terpecah-belah yang menyebabkan kamu menjadi lemah dan gentar. Dalam peribahasa Indonesia disebutkan: “Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh”.

Sikap ukhuwah ini menjadi barometer keimanan, maka jelaslah bahwa pertikaian sesama muslimin dengan motif dan modus apapun bukanlah watak orang beriman. Jangan berfirqoh-firqoh, sebagaimana Allah  ingatkan:

وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ. (اَل عِمْران:105)

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,” (QS. Ali-Imran: 105).

Di hari Idul Adha ini marilah kita perkuat persatuan dan kesatuan umat, hindari perselisihan. Kita bangun masyarakat yang damai, saling menjaga, saling nasihat, saling peduli sesama, kare  na kita semua bersaudara. Karena orang-orang kafirpun bersatu, saling kerjasama dan tolong menolong sebagaimana firman Allah   :

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ. (الاَنفَال: 73)

“Dan orang-orang kafir itu sebagian mereka melindungi sebagian yang lain, maka jika kalian tidak berbuat begitu maka akan terjadi fitnah dimuka bumi dan kerusakan yang besar”.(QS. al-Anfal: 73).

Oleh karena itu marilah kita hindari perselisihan di tengah umat, hidup berjamaah dalam Jama’ah Muslimin (Hizbullah), sesuai solusi Rasulullah  ketika menjawab pertanyaan Hudzaifah bin Yaman tentang kondisi umat sepeninggal beliau. Beliau menjawab:

تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْwajib kalian menetapi Jama’ah Muslimin dan Imaam mereka (HR. Bukhari dan Muslim).

Dengan berjamaah kita akan mendapatkan rahmat dari Allah . Rasulullah  bersabda:

اَلْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ (رواه أحمد)

“Al-Jama’ah itu adalah rahmat dan perpecahan (perselisihan) adalah adzab”. (HR. Ahmad).

Dan dengan hidup berjama’ah akan mendapatkan jaminan surga, sebagaimana Rasulullah sebutkan:

مَنْ أَرَادَ مِنْكُمْ بُحْبُوْحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمِ الْجَمَاعَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ الْإِثْنَيْنِ أَبْعَدُ (رواه الترمذي(

“Barangsiapa dari kalian menginginkan tinggal di tengah-tengah surga, maka hendaklah berpegang teguh kepada Al-Jama’ah karena setan bersama orang-orang yang sendirian dan dia dari dua orang lebih jauh.” (H.R. At-Tirmidzi).

اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

DOA AKHIR KHUTBAH

Sebagai penutup khutbah ini marilah kita panjatkan doa kepada Allah  semoga Allah satukan hati orang-orang beriman untuk hidup berjama’ah dan berimamah serta diselamatkan dari wabah penyakit dimanapun kita berada.

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ؛ عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اللهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْن

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي فِلِسْطِيْنَ خَاصَةً وَفِي بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً.

اَللَّهُمَّ اَحْيِ الْمُسْلِمِيْنَ وَاِمَامَهُمْ فِىْ جَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ (حِزْبَ اللهِ) حَيَاةً كَامِلَةً طَيِّبَةً وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَلَبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَسُوْءٍ وَفَاحِشٍ وَمُنْكَرٍ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلَّا لِّلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالْحَمْدَ ِلله رَبِّ الْعَالمِينِ

(A/R8/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)

Comments are closed.