Khutbah Idul Fitri 1441H: Shaum Ramadhan Memantapkan Kehidupan Berjama’ah

 

Oleh: Majelis Dakwah Pusat (MDP) Jama’ah Muslimin (Hizbullah)

اَلْحَمْدُ لِله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.

اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللَّهلُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَاللهِ: اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

فَـإِنّ  أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَـابُ اللهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرُّالْأُمُوْرِ مُحْدَثاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعُةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِى النَّارِ

اَللهُ اَكْبَرُ, اَللهُ اَكْبَرُ, وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Ramadhan datang membawa berkah dari Allah  kepada orang beriman. Bulan penuh rahmat dengan berlimpahnya pahala dan ampunan. Bulan yang hadir untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah.

Puasa menjadi kewajiban untuk ditunaikan di bulan Ramadhan. Di tengah pandemi yang saat ini kita hadapi, menjadi momentum penguatan dan perubahan kualitas diri, agar ketaqwaan dan keimanan meningkat dan agar menjadi pribadi yang lebih bersyukur, bersabar, ikhlas, jujur, amanah, dan disiplin dalam hidupnya.

Orang beriman harus lebih mampu mengendalikan keinginan dan hawa nafsu, dapat mengembangkan jiwa sosial menjadi lebih peduli, simpati dan empati terhadap sesama, mampu meningkatkan rasa persaudaraan (ukhuwah), mampu memupuk rasa kepedulian dan semangat kesetiakawanan, sehingga mempersempit bahkan menghilangkan jurang ketimpangan dan ketidakadilan sosial.

Dengan berlalunya ibadah puasa dan Ramadhan, semoga memberi pengaruh yang positif dalam kehidupan, menyatukan barisan dan shaf kaum Muslimin di manapun berada, dalam wujud kehidupan berjamaah dan berimamah.

Karakter Muslim yang Berjama’ah

Jamaah artinya mengumpulkan sesuatu dengan cara mendekatkan sebagiannya dari sebagian yang lain. Kata  جَمَعْتُ(aku mengumpulkannya), فَاجْتَمَعَ  (maka ia menjadi terkumpul). Begitu pula kata اَجْمَعْتُ كَذَا “kebanyakan diucapkan untuk sesuatu yang terkumpul yang dicapai dengan berfikir”. Kata اَاْجُمَاعُ dikatakan untuk kaum yang berbeda-beda yang berkumpul bersama. Dalam Al-Quran pengunaan kata جَمَعَ sangat banyak variannya namun menunjukan arti yang sama.

Jama’ah Muslimin adalah kumpulan orang-orang terpanggil untuk berjamaah sebagai wujud pengamalan syariat yang diperintahkan  Allah dan pernah dicontohkan oleh Rasulullah  serta para sahabatnya. Sebagaimana sabda beliau bahwa Al-Jama’ah adalah:

“Apa yang aku dan para sahabatku di atasnya” (H.R Ashab Sunan, Shahih, menurut syarat Muslim).

Apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya mereka dengar, mereka perhatikan, mereka pahami, sehingga mengantarkan mereka kepada hidayah, kepada rahmah (kasih sayang) dan kepada nikmat kesatuan berupa hidup berjama’ah dan berimamah sehingga terwujud ukhuwah (persaudaraan) dan kasih sayang.

Beruntunglah bagi siapa saja yang Allah kehendaki dapat menyempurnakan keislaman dirinya menuju pribadi yang kaffah secara personal, kemudian ia mampu mengamalkan Islam secara berjamaah dan berimamah, agar tercapai kesempurnaan Islam dalam kehidupan bermasyarakat menuju peradaban dunia yang rahmatan lil alamin.

Seorang Muslim yang berada dalam Jama’ah Muslimin, digambarkan sebagai pribadi dengan sifat yang indah, sebagaimana dalam surat Al Maidah [5] ayat 54-56;

Allah  berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (54) إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ (55) وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ (56)

Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya penolong kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendiri­kan salat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguh­nya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang(QS. Al-Maidah [5]: 54-56).

Al-Qurtubi dalam tafsirnya berkata, apa yang dijelaskan dalam ayat ini merupakan mukjizat Al-Quran kepada Nabi Muhammad, sebab Al-Quran memberitahukan tentang akan terjadinya kemurtadan di kalangan kaum muslimin, padahal waktu itu, kemurtadan mereka belum terjadi, sehingga itu termasuk perkara yang ghaib.

Sementara Sayyid Quthub berkata dalam tafsirnya, “Agama Allah mempunyai pengikut-pengikut dan pembela-pembela setia, tersimpan dalam ilmu Allah yang jika orang-orang sudah berpaling, maka Allah akan mendatangkan mereka. Identias kelompok pilihan itu diterangkan Allah dengan sifat-sifat yang indah, simpatik dan cemerlang”.

Berdasarkan pendapat Sayyid Quthub, akan selalu ada para pembela agama Allah di setiap zamannya. Mereka terpanggil karena iman, berkumpul dan bersatu semata-mata karena Allah , yang menurut Syaikh Ali Jabir, mereka adalah Jama’ah Muslimin, yaitu kumpulan orang-orang Islam yang bersepakat atas seorang imaam di antara mereka, untuk membela agama Allah, mengamalkan Dinul Islam sesuai contoh Rasulullah . Rasulullah Shallahu Alahi Wassalam bersabda:

لَاتَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ اُمَّتِى ظاهرين عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِيْنَ اِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ  (رواه البخاري و مسلم)

Senantiasa ada dari umatku sekelompok orang yang menegakkan kebenaran sampai datang hari kiamat”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Motif berhimpunnya kaum muslimin dalam satu Jamaah itu adalah sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad:

إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللهِ لَأُنَاسًا مَاهُمْ بِأَنْبِيَاءَ وَلَاشُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِمَكَانِهِمْ مِنَ اللهِ تَعَالَى, قَالُوْا يَارَسُوْلَ اللهِ تُخْبِرْنَا مَنْ هُمْ, قُالَ : هُمْ قُوْمٌ تَحَابُّوْا بِرَوْحِ اللهِ عَلَى غَيْرِ إِرْحَامٍ بَيْنَهُمْ وَلَاأَمْوَالٍ يتَعَاطَوْنَهَا فَوَاللهِ إِنَّ وُجُوْهَهُمْ لَنُوْرٌ وَإِنَّهُمْ عَلَى نُوْرٍ لَايَخَافُوْنَ إِذَا خَافَ النَّاسُ وَلَا يَخْزُنُوْنَ إِذَا حَزِنَ النَّاسُ وَقَرَأَ هَذِهِ الْأَيَةَ, أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَخْزُنُوْنَ. (رواه أبوداود(

“Bahwasanya dari hamba-hamba Allah, ada orang-orang yang mereka itu bukan Nabi dan bukan pula syuhada. Mereka menyerupai Nabi-Nabi dan syuhada-syuhada dalam kedudukannya di sisi Allah pada Hari Qiamat.” Para shahabat bertanya: “Ya Rasulullah, kami mohon diberitahu siapa gerangan mereka itu?” Rasulullah bersabda: “Mereka itu adalah satu kaum yang berkasih sayang karena rahmat Allah, bukan karena hubungan kekeluargaan dan bukan pula karena harta benda yang saling memberikan di antara mereka. Maka demi Allah, sesungguhnya wajah-wajah mereka itu Nur dan bahwa mereka itu di atas Nur dan tidaklah mereka gentar tatkala orang-orang merasa takut, dan tidaklah mereka bersedih hati ketika manusia bersedih hati.” Kemudian Rasulullah membaca ayat ini: “Ketahuilah, bahwa kekasih-kekasih Allah itu tidak gentar dan tidak pula mereka itu bersedih” (HR. Abu Dawud)

اَللهُ اَكْبَرُ, اَللهُ اَكْبَرُ, وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin yang sangat disayang Allah

Jama’ah Muslimin adalah Hizbullah

Pada rangkaian ayat di atas disebutkan bahwa umat Islam yang berada dalam Jama’ah Muslimin disebut Hizbullah, yang memiliki karakter sebagai berikut:

Pertama:  يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ  (Mereka dicintai Allah dan mencintai Allah)

Prof. Dr. Hamka berkata, “Makna mereka dicintai Allah dan mencintai Allah menunjukan iman mereka telah mencapai puncak yang tinggi, mereka tertarik kepada Islam karena cinta kepada Allah, bagi mereka taat tidak ada yang berat, melainkan semuanya ringan, sebab yang memerintahkan adalah kekasih mereka yaitu Allah”.

Sayyid Quthub berpendapat, makna “Mereka dicintai Allah dan mencintai Allah” adalah saling meridhai dan saling mencintai. Inilah yang menjadi jalinan hubungan antara mereka dan Tuhannya. Cinta itulah yang mengalir halus, ceria, bersinar dan memancar. Hubungan itu diwujudkan dengan kepatuhan dan ketaatan hamba kepada Allah.

Semoga Ramadhan yang penuh berkah ini dapat meningkatkan rasa cinta yang semakin erat, gairah ibadah yang semakin meningkat dan pengamalan sunah Rasulullah  semakin nyata. Hal itu sejalan dengan firman Allah ,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Ali Imran[3]: 31).

Dan firman Allah ,

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

 “Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah” (QS. al-Baqarah[2]: 165).

Kedua: أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ ٍ (Bersikap lemah lembut kepada sesama mukmin)

Sayyid Quthub berkata, ekspresi sikap lemah-lembut kepada sesama Muslim, yaitu sikap tidak kasar, tidak mempersulit, suka memberi kemudahan, tanggap, toleran dan kasih sayang. Itu semua bukan karena rendah dan hina, tetapi sebagai ekspresi ukhuwah persaudaraan yang nyata. Itu maknanya, jauh dari sikap individualisme atau mementingkan diri sendiri yang menjadikan seseorang bersikap suka menentang, kasar dan bahil terhadap saudaranya.

Sementara Prof. Dr. Hamka menjelaskan, sikap lemah lembut kepada sesama mukmin itu terwujud karena cinta mereka kepada Allah , mereka bersikap rendah diri, tawadhu dan tidak sombong kepada sesama mukmin, karena mereka bersaudara.

Shaum Ramadhan diharapkan mampu terus memupuk jalinan kasih sayang, memupuk rasa setiakawan, mempererat ukhuwah, dengan saling memberi dan bersedekah, mempersempit jurang pemisah dan ketidakadilan, dan diharapkan, menjadikan muslimin semakin memiliki sifat-sifat, seperti yang disabdakan Rasulullah :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِإِذَاشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُالْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى (رواه مسلم)

“Perumpamaan muk‘min dalam belas kasih dan hubungan mereka bagaikan satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh menderita, maka menjalarlah penderitaan itu ke seluruh tubuh, sehingga tidak bisa tidur dan (merasa) panas” (HR. Muslim).

لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ (رواه البخاري و مسلم)

 “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Al- Bukhari dan Muslim).

ألْمُؤمِنُ لِلْمُؤمِنِيْنَ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا (رواه البخاري و مسلم)

 “Seorang mukmin pada sesama mukmin itu bagaikan bangunan yang sebagian menguatkan pada bagian lainnya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Ketiga: أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ  (Bersikap tegas terhadap orang-orang kafir)

Prof. Dr. Hamka berkata, “Makna bersikap tegas terhadap orang kafir artinya, mereka tidak gentar terhadap orang kafir dan bersedia berkorban untuk mempertahankan agama Allah”.

Sementara Sayyid Qurtub berkata, “Terhadap orang-orang kafir, mereka bersikap tegas, keras dan merasa tinggi”, bukan berarti membanggakan diri sendiri, tetapi kebanggaan itu terhadap akidahnya yang benar, ketinggian itu terhadap syariat Islam yang ia bela, kepercayaan itu terhadap kebenaran yang ia yakini yang datang dari Allah, mereka sangat yakin dan percaya akan kemenangan terhadap agama nafsu.”

Shaum Ramadhan telah mengajarkan Muslimin untuk melakukan konsolidasi kekuatan dan potensi, untuk merapatkan barisan, berdisiplin dari menjaga agama, menegakkan syariat Islam dalam kehidupan.

Keempat: يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ  (Berjihad di jalan Allah dan tidak takut celaan).

Dalam tafsirnya Ibnu Katsir menjelaskan, ayat ini maksudnya adalah,  tidak pernah mundur dari berbuat taat, menegakkan hukum-hukum Allah dan memerangi musuh-musuh-Nya, dengan menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar. Dalam melakukan hal itu, tidak ada yang dapat menolak mereka, tidak ada yang dapat menghalangi mereka, dan tidak ada celaan seorang pencela pun yang mampu menggoyahkan pendirian mereka.

Kemudian Ibnu Katsir menukil hadits dari Rasulullah:

اَلَا لَا يمْنَعَنَّ اَحَدُكُمْ رَهْبَةَ النَّاسِ اَنْ يَقُوْلَ بِحَقٍّ اِذَا رَاَهُ اَوْشَهِدَهُ فَاِنَّهُ لَايُقَرِّبُ مِنْ اَجَلٍ وَلَايُبَاعِدُ مِنْ رِزْقٍ اَنْ يَقُوْلَ بِحَقٍّ اَوْ يَذْكُرَ بِعَظِيْمٍ (رواه احمد)

“Janganlah seseorang di antara kamu terhalang menyatakan kebenaran karena takut kepada manusia jika kebenaran itu telah dilihatnya dan disaksikannya, karena tidaklah mendekatkan ajal dan tidak pula menjauhkan rizki, kalau berani menyatakan kebenaran dan berani menyebut soal yang dianggap besar (penting),” (HR. Ahmad)

Dengan shaum Ramadhan, semoga sifat-sifat seperti diuraikan di atas, dapat ditunaikan dengan maksimal dan ikhlas, karena Ramadhan melatih muslimin untuk memiliki hati dan jiwa yang tulus dan bersih, seperti halnya puasa, yang dipersembahkan hanya untuk Allah  semata dan hanya Dia yang mengetahuinya.

Shaum Ramadhan juga diharapkan mampu memperkuat sifat kesabaran, yang sangat dibutuhkan dalam perjuangan, juga sifat amanah dan disiplin, yang istiqomah sampai mati, karena perjuangan sangat membutuhkan kesungguhan dan kedisiplinan.

Kelima: إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

(Sesungguhnya penolong kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).

Di sini Allah menegaskan bahwa Hizbullah adalah orang-orang yang beriman yang menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang beriman yang melaksanakan shalat dengan khusyuk dan membayar zakat, sebagai penolong dan pemimpin (Imam). Sebagaimana yang disebutkan pada ayat sesudahnya.

وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ

Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguh­nya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang”.

Hal ini insya Allah sesuai dengan sabda Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam:

   تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ إِمَامَهُمْ

“Tetaplah engkau pada Jama’ah Muslimin dan Imam mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

اَللهُ اَكْبَرُ, اَللهُ اَكْبَرُ, وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin yang disayang Allah,

Hizbullah Pasti Menang

Allah  menunjukkan, kelompok yang akan mendapat kemenangan adalah Hizbullah (para penolong agama Allah). Imam Al Ragib Al Asfahani berkata dalam kitab Groribul Qur’an, kata حِزْبٌ bermakna جما عة فيها غلظ adalah kelompok yang memiliki arti sebuah perkumpulan yang terdiri dari banyak orang yang memiliki kekuatan. Seperti halnya kata اَحْزَبٌ yang artinya tentara perang yang memiliki kekuatan.

Al Qurtubi berkata, “hizbullah” adalah siapa yang melaksanakan ketaatan kepada Allah dan menolong Rasulnya serta orang-orang yang beriman. Sebagian ahli tafsir berkata, “Hizbullah adalah barang siapa yang menyerahkan urusannya kepada Allah, melaksanakan perintah Rasulullah, dan menjadikan kaum muslimin sebagai pemimpinnya”.

Sayyid Quthub berkata, janji kemenangan itu datang setelah menjelaskan kaidah iman, yaitu memberikan loyalitas kepada Allah, Rasul dan orang-orang mukmin.  Itulah jalan yang menyampaikan mereka kepada terwujudnya janji Allah berupa kemenangan. Kemenangan itu adalah qodar Allah yang diberlakukan lewat tangan mereka, diberikan kemenangan itu karena perhitungan aqidah, bukan karena memperhitungkan jumlah.

Demikian pula Prof. Dr. Hamka menjelaskan, bahwa yang memimpin umat Islam itu ialah Allah, sesudah itu Rasul, sesudah itu orang yang beriman yang menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya. Ujung ayat ini menegaskan bahwa partai yang akan menang ialah yang menjadikan Allah, Rasul, dan orang-orang yang beriman menjadi pemimpinnya, itulah Hizbullah.

Pada Surat Al-Mujadilah {58}: 22 Allah Subhanahu Wata’ala menyebutkan karakter Hizbullah yang lain, dengan firman-Nya.

لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوْ كَانُوٓا۟ ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَٰنَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ كَتَبَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلْإِيمَٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ حِزْبُ ٱللَّهِ ۚ أَلَآ إِنَّ حِزْبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

Artinya: “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung” (Al-Mujadilah [58]: 22).

Ketika menafsirkan ayat ini, Ahmad Musthafa Al-Maraghi menyatakan, bahwa orang yang benar-benar beriman tidak akan mencintai orang kafir, sebab barang siapa mencintai seseorang, dia tidak akan mencintai musuh orang yang dicintai itu. Yang dimaksud mencintai orang kafir ialah menasehati dan menginginkan kebaikan baginya dalam urusan agama dan dunia. Sedangkan bergaul dan berinteraksi dengan orang kafir tidak dilarang.

Kemudian Allah menegaskan bahwa orang beriman tidak sepatutnya mencintai arang kafir yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, meskipun mereka kaum keluarganya sendiri. Seperti orang tua yang harus ditaati dan dipergauli di dunia dengan baik, atau anaknya sendiri merupakan jantung hatinya atau saudara dan krabatnya yang menjadi tumpuan harapannya.

Disebut dalam sebuah hadis bahwa Rasulallah Shallahu Alaihi Wassalam bersabda:

Ya Allah janganlah Engkau berikan kepada orang yang durhaka dan ahli maksiat, karunia dan nikmat kepadaku, sehingga hatiku akan mencintainya. Kanena aku mendapati dalam apa yang Engkau wahyukan kepadaku, “Kama tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Ad-Dailami)

Selanjutnya Allah Subhanahu Wata’ala menjelaskan bahwa yang menyebabkan orang beriman tidak akan mencintai musuh Allah dan Rasul-Nya adalah keimanan yang sudah ditancapkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala kedalam hatinya dan Allah telah memperkuatnya dengan roh dari-Nya berupa ketenteraman hati dan kemantapan dalam kebenaran sehingga dia tidak lagi ingin mencintai musuh Allah dan Rasul-Nya.

Pada akhir ayat ini Allah menyebut orang yang memiliki karakter demikian ini sebagai Hizbullah dan akan mendapat beberapa kemuliaan yaitu:

Pertama. Dimasukkan ke dalam taman-taman surga yang mengalir di bawahnya gungai-sungai dan mereka tinggal di dalamnya selama-lamanya. Kedua. Allah ridho kepada mereka di dunia dan di akhirat. Dan mereka pun ridha (senang) dengan apa yang diberikan oleh Allah di dunia maupun di akhirat. Ketiga. Mendapatkan kebahagiaan dan kemenangan abadi dan azali adalah kebahagiaan di kala hidup di dunia karena kebenaran yang menang. Kebahagiaan di akhirat karena kebenaran tetap tegak walaupun dia sudah meninggal dunia, tidak ada di dunia lagi.

اَللهُ اَكْبَرُ, اَللهُ اَكْبَرُ, وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin, yang disayangi Allah

Semoga ibadah puasa Ramadhan tahun ini, mampu memantapkan umat Islam dalam wadah Jama’ah Muslimin atau Hizbullah. Dengan mengikuti pimpinan Allah, Rasul serta kaum muslimin, sehingga Allah akan memberikan janji-Nya berupa kemenangan dan kejayaan kepada umat Islam.

Doa Penutup

Akhirnya marilah kita berdoa, menundukkan kepala, memohon kepada Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim untuk kebaikan kita semua dan umat Islam di mana saja berada:

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُلِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًايُوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِىءُمَزِيْدَهُ . يَارَبَّنَالَكَ الْحَمْدُوَلَكَ الشُّكْرُكَمَايَنْبَغِى لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ . اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَامُحَمَّدٍوَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ

رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنـَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إَلَيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي فِلِسْطِيْنَ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تُحَرِّرَ الْمَسْجِدَالأَقْصَى وَأَرْضَ فِلِسْطِيْنَ وَإِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَائِرِ بِلاَدِ الإِسْلاَمِ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا لاَتُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.

رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ. وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

(A/R8/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)