Khutbah Iedul Adha: Hikmah Pandemi Covid-19 dan Semangat Berqurban

Oleh: A. Priyono

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِلُزُمِ الْجَمَاعَةِ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍالَّذِىْ اَرْسَلَهُ اللهُ

إِلَى جَمِيْعِ الْأُمَّةِ, وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ هُدَانِ لْأُ مًّةِ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَاللهِ: اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَـإِنّ  أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَـابُ اللهِ , وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّالْأُمُوْرِ مُحْدَثاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعُةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِى لنَّارِ

الله اكبر, الله اكبر, الله اكبر ولله الحمد

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah

Dengan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT, hari ini kita dapat merayakan Idul Adha, dinamakan pula Idul Qurban, ‘Idun Nahr, dan Idul Akbar. Hari raya yang menekankan semangat sosial dan berkorban.

Di samping menyatakan rasa syukur, juga kita sampaikan permohonan kepada Allah SWT semoga segala aktivitas ibadah ini kita meraih sasarannya, yaitu menjadi hamba yang bertaqwa. Qurban yang kita laksanakan karena Allah, bukan Allah memerlukan daging qurbannya, melainkan itikad taqwanya. Seperti disebutkan dalam Al-Qur’an:

لَنْ يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ

“Daging hewan kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu….” (al Hajj: 37)

Haji dan qurban adalah syariat untuk pensucian jiwa, membersihkan kotoran yang ada pada hati kita, sifat-sifat ananiyah atau egoisme dibersihkan melalui ibadah haji dan menyembelih qurban. Kita tebar kepedulian sosial kita kepada sesama umat manusia melalui penyebarluasan daging qurban.

Dengan visi rahmatal lil ‘alamin, Jama’ah Muslimin (Hizbullah) sebagaimana tahun sebelumnya, juga menggiatkan Global Qurban, membagikan hewan qurban ke berbagai muslimin di dunia, seperti Filipina, Myanmar, Sudan, Nigeria, Thailand dan Gaza Palestina. Karena kita bersaudara, karena kita peduli sesama muslimin dimanapun mereka berada, maka kita rekatkan tali ukhuwwah umat ini, kita berjama’ah. Demikian pula persahabatan hakiki kita jalin antar sesama muslim se dunia melalui ibadah haji.

Berkaitan dengan hari Idul Adha, setidaknya ada tiga hal penting yang dapat kita ambil pelajaran dari peristiwa Idul Adha terlebih di masa pandemi Corona-19 yang sedang kita hadapi bersama:

 

Pertama: Ketaatan hamba kepada Allah

Nabiyullah Ibrahim ‘alaihis salam beserta keluarganya tercatat dalam sejarah kemanusiaan yang diabadikan Allah dalam firman-Nya, menjadi teladan umat bagaimana beliau melakukan ketaatan mutlak kepada Allah. Salah satu wujud ketaatan beliau adalah ketika beliau melalui mimpi diperintah Allah agar menyembelih putra satu-satunya, Ismail ‘alaihis salam.  Sementara itu Nabi Ismail, sang putra, juga taat dan ikhlas menerima perintah Allah yang diterima ayahnya. Peristiwa sejarah tersebut diabadikan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ

 “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. – Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya)”.  (QS.ash-Shoffat: 102-103).

Buah dari ketaatan hamba kepada Allah dan Rasul-Nya adalah kelak dikumpulkannya mereka bersama para Nabi, para syuhada dan orang-orang shalih umumnya. Allah berfirman:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

“Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”  (QS. an_Nisa: 69).

Kedua: Kepedulian sosial

Ajaran Islam adalah ajaran kehidupan yang sangat menekankan kebersamaan hidup, saling peduli sesama manusia. Ibadah qurban di hari raya Idul Adha dalam masa pendemi corona-19 sekaligus mendorong muslimin untuk saling peduli, saling membantu,

Rasulullah bersabda:

حَدَ ثَنَا قُتَيْبَة بنُ سَعِيْدٍ حَدَ ثَنَالَيْث عَنْ عُقَيلْ عَنْ الُّزهْرِى عَنْ سَالِمٍ عَنْ اَبِيْهِ اَنَّ رَسُولُ الله ص.م:

اَلْمُسْلِمُ اَخُوْالْمُسْلِمِ لَايَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ اَخِيْهِ كَانَ اللهُ فِيْ حَاجَتِهِ وَمَنْفَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اَللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَمُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ القِيَا مَة

(روه البخري و مسلم وابودا ود والنسائ والترمذي)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id, telah menceritakan kepada kami Laits dari ‘Uqail dari Az-Zuhri dari Salim dari bapaknya bahwa Rasulullah SAW bersabda: “seorang muslim dari muslim yang lain adalah bersaudara, ia tidak boleh berbuat dzalim dan aniaya kepada saudaranya yang muslim. Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barang siapa membebaskan orang muslim dari suatu kesulitan, maka Allah akan membebaskannya dari kesulitan pada hari kiamat. Dan barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat kelak”.

Hadits tersebut secara memerintahkan kita untuk peka terhadap fenomena social, khususnya di masa pandemi ini. Apakah kita sudah memperhatikan orang-orang yang sedang membutuhkan pertolongan kita baik berupa makanan, minuman, dll ataukah kita termasuk orang yang terlena dengan dunianya sendiri? Amat banyak kehidupan orang lain di sekitar kita yang tidak memiliki kehidupan seberuntung kita. Kita lihat sekarang saudara-saudara kita yang ada di Palestina sana, siang-malam diblokade dan ditindas yahudi israel, harta dan kehormatan mereka dirampas habis-habisan. Mereka sedang membutuhkan bantuan kemanusiaan dari seluruh ummat Islam dunia, tak terkecuali bantuan kita ummat Islam di Indonesia. Cukuplah ayat-ayat dan hadits tersebut sebagai penggugah hati kita untuk peduli terhadap saudara-saudara kita seiman yang sedang membutuhkan bantuan kita. Kekurangan dan persoalan saudara kita dimanapun adalah peluang ibadah, amal shalih bagi saudaranya yang berkelapangan.

Teristimewa khusus pahala berqurban, Rasulullah bersabda dlm HR Ahmad:

مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ إِلَى شِرَاءِ اْلأُضْحِيّةِ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَشْرُ حَسَنَاتٍ وَ مُحِيَ عَنْهُ عَشْرُ سَيِّئَاتٍ وَ رُفِعَ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ وَ إِذَا تَكَلَّمَ فِي شِرَائِهَا كَانَ كَلَامُهُ تَسْبِيْحًا وَ إِذَا نَقَدَ ثَمَنَهَا كَانَ لَهُ بِكُلِّ دِرْهَمٍ سَبْعُمِائَةٍ حَسَنَة وَ إِذَا طَرَحَها عَلَى اْلأَرْضِ يُرِيدُ ذَبْحَهَا اسْتَغفَرَ لَهُ كُلُّ خَلْقٍ مِنْ مَوْضِعِهَا إِلَى اْلأَرْضِ السَّابِعَةِ وَ إِذاَ أَهرَقَ دَمَّهَا خَلَقَ اللهُ بِكُلِّ قطْرَةٍ مِن دَمِّهَا عَشْرَةً مِنَ الْمَلَائِكَةِ يَسْتَغْفِرُوْنَ لَهُ إلىَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa keluar dari rumahnya pergi untuk membeli hewan korban maka akan dihitung bagi orang tersebut setiap dari langkah kakinya sepuluh kebaikan, dan di hilangkan atasnya sepuluh kejelekan, dan diangkat (diberi) atasnya sepuluh derajat. Dan ketika terjadi transaksi pembelian maka setiap ucapannya dihitung sebagai tasbih, dan ketika akad pembelian berlangsung maka setiap dirham (satu rupiah) disamakan dengan tujuh puluh kebaikan, dan ketika hewan tersebut diletakkan (dibaringkan) di atas bumi untuk dipotong maka setiap makhluk yang ada di bumi sampai lapis ketujuh akan memohonkan ampun atas orang tersebut, dan ketika darah dari hewan tersebut telah dialirkan maka Allah SWT menjadikan setiap tetes dari darah tersebut sepuluh malaikat yang selalu memohonkan ampun sampai hari qiyamat”  (HR. Ahmad).

Ketiga:  Kesatuan umat

Pandemi Covid-19 membawa hikmah kebenaran syariat Islam, bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri-sendiri, melainkan saling membutuhkan sehingga perlu berjamaah.  Terlebih masalah pandemi yang menimpa seluruh wilayah dunia, pada akhirnya membuka mata umat manusia untuk saling bahu-membahu bersama mengatasinya. Sadar ataupun tidak akhirnya manusia harus menyadari bahwa kita adalah umat yang satu. Sudah saatnya umat manusia bergegas dalam kebaikan dan membangun peradaban ke depan yang lebih baik. Peradaban Islamy yang adil, sejahtera, ramah sosial dan ramah lingkungan.  Untuk itulah Allah mengajak manusia berpedoman pada hukum dan cara hidup yang haq dan obyektif dari Allah secara berjamaah.

Allah berfirman :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpegang-eratlah kamu semuanya dengan tali (agama) Allah seraya ber-Jama’ah, dan janganlah kamu berfirqoh-firqoh (tafarruq). Dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS.Ali Imran 103).

Ayat tersebut berlatar belakang kasus munculnya kembali sikap jahiliyah yang penuh dendam dan permusuhan, lalu Rasulullah mengingatkan agar para sahabat kembali berdamai berjamaah. Mari kita wujudkan peradaban manusiawi yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran, kebersamaan, keadilan dan solidaritas antar bangsa.

Saatnya muslimin sedunia bersatu membela nasib muslimin di dunia yang masih tertindas, serta membebaskan Masjid Al-Aqsa sebagai salah satu warisan umat Islam dunia. Tanpa kebersamaan berjamaah, maka umat Islam lemah dan tidak mampu berbuat bagi kemaslahatan umat umumnya. Allah mengingatkan:

وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfâl: 46)

Imam Al-Qurtuby menjelaskan maksud dari “watadzhabu rîhukum” pada ayat di atas adalah, “hilang kekuatanmu”. Sementara Imam Ath-Thabarî menjelaskan maksud dari “walâ tanâza’û fatafsyalû” adalah janganlah kamu berbeda, kemudian kamu terpecahbelah yang menyebabkan kamu menjadi lemah dan gentar. Sering kita dengar peribahasa yang mengatakan: “Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh”.

Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam juga mengingatkan dengan sabdanya :

“Hendaklah kalian berjamaah dan jangan berpecah-belah, karena syetan bersama yang sendiri dari pada dengan dua orang lebih. Barangsiapa ingin masuk ke dalam surga maka hendaklah komitmen dalam jama’ah” (HR At-Tirmidzi).

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah            

Di era globalisasi adalah peluang yang Allah berikan kepada kita, agar terus membina ummatan waahidah yang semakin luas di muka bumi ini. Kemudahan ilmu dan teknologi menjadi berkah jika dimanfaatkan secara positif dalam membina kesatuan umat, untuk menegakkan syariah Islam yang kaaffah.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الأرْضِ أَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الأمُورِ

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan” (S. al-Hajj: 40-41).

Kebalikannya, jika muslimin tidak terpimpin sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya, maka kehancuranlah yang akan terjadi.  Allah berfirman:

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. “(QS. Al-Israa 17: 16).

 DOA AKHIR KHUTBAH

 Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah          

Mengakhiri khutbah ini, marilah kita memanjatkan doa kepada Allah. Memohon tetapnya iman dan Islam hingga khusnul khotimah, serta diselamatkan dari Corona-19 dan berbagai fitnah yang akan memecah-belah umat ini.

اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًا يُوَافِىْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ. يَارَبَّنَالَكَ الْحَمْدُ وَلَك الشُّكْرُ كَمَا يَنْبَغِىْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ

اللّهُم اغْفِرْلِلْمُؤْمِنِيْن وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنَهُمْ وَأَلِّف بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَاجْعَل فِي قُلُوْبِهِم الإِيْمَان وَالْحِكْمَةَ وَثَبِّتْهُم عَلَى مِلَّةِرَسُوْلِكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

وَأَوْزِعْهُمْ أَنْ يُوْفُوْابِعَهْدِكَ الَّذِي عَاهَدْتَهُمْ عَلَيْهِ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ

إِلهَ الْحَقِّ وَاجْعَلْنَامِنْهُمْ

اللّهمّ حَبِّبْ إلَيْنَاالإيمَان وَزَيِّنْه فِي قُلُوْبِنَاوَكَرِّهْ إلَيْنَاالْكُفْرَوَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ وَاجْعَلْنَامِنَ الرَّاشِدِيْنَ

فِلِسْطِيْنَ وَإِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ

 

اَللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا ، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوْبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي

فِي سَائِرِ بِلاَدِ الإِسْلاَمِ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

اللّهمّ أَعِزَّالإسْلاَم وَالمسلمين وَأَذِلّ الشِّرْكَ والمشركين وَدَمِّرْأعْدَاءَالدِّين وَاجْعَلْ دَائِرَةَالسَّوْءِعَلَيْهِم ياربَّالعالمين

اللهم عذّ بِ الكَفَرَةَالذ ين يَصُدُّوْنَ عَن سَبِيْلِكَ ويُكَذِّبُوْن رُسُلَكَ ويُقاتِلُونَ أوْلِيَاءَكَّ

اللهم فَرِّقْ جَمْعَهُم وَشَتِّت شَمْلَهُمْ وَخُذْهُم أَخْذَعَزِيْزٍمُقْتَدِرٍإنَّكَ رَبُّنَاعَلَى كل شَيْئ قَدِيْرٍيَارَبَّ العالمين

اَللَّهُمَّ اغْفِرلَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَيَانَاصِغَارًا، وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،

اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلاَءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَباَءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةَ وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةَ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ،

وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزِّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

 (A/R8/P1)