Khutbah Jumat : Bencana Alam Sebagai Tadzkirah

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Wartawan Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency)

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ؛ مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَاهَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ, إِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُونَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Sidang Jumat rahimakumullah

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah Tuhan alam semesta. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beserta keluarganya, sahabatnya dan umatnya hingga Yaumul Qiyamah.

Selanjutnya, marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kita kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepadanya.Takwa dalam artian, selalu berusaha menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya, mentaati-Nya dan tidak memaksiati-Nya, berdzikir kepada-Nya dan tidak melupakan-Nya, serta senantiasa mensyukuri-Nya dan tidak mengingkari-Nya.

Hadirin yang dimuliakan Allah

Bencana Gunung Semeru meletus dan mengeluarkan lahar panas diiringi hujan pasir dan debu menyapu desa-desa di bawahnya. Bencana lainnya berupa banjir besar melanda beberapa daerah hingga menenggelamkan jalanan dan rumah-rumah warga. Tanah longsor juga seringkali terjadi di daerah-daerah menutup akses jalan dan perkampungan. Ada juga yang terkena angin badai, gempa bumi, kebakaran, dan penyakit mematikan.

Ada apakah gerangan dari semua itu? Dan pelajaran apakah yang dapat diambil dari kejadian tersebut? Ada beberapa hal yang patut menjadi renungkan kita bersama.

Hal pertama, apa yang patut kita renungkan bagi orang beriman adalah bahwa semua yang menimpa manusia dan alam sekitarnya itu, tidak lepas dari ketetapan Allah, semua sudah tercatat di Lauh Mahfuz.

Sebagaimana Allah sebutkan di dalam firman-Nya:

وَعِنْدَهٗ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ اِلَّا هُوَۗ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِۗ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَّرَقَةٍ اِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمٰتِ الْاَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَّلَا يَابِسٍ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ – ٥٩

Artinya: Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS Al-An’am/6: 59).

Lalu, mengapakah bencana itu juga menimpa orang-orang yang beriman kepada Allah? Mengapa bukan orang-orang kafir saja yang ditumpas dengan bencana?  Jawabnya adalah, karena di balik setiap takdir, pastilah terdapat makna yang tersembunyi. Termasuk dalam beberapa musibah yang melanda, selalu ada hikmah di dalamnya.

Mereka yang lolos dari bencana hakikatnya masih diberi kesempatan untuk memperbaiki kualitas ketakwaan, keimanan dan hidupnya. Mereka masih sempat meminta ampunan atas segala kesalahan serta berbuat kebajikan sepanjang sisa hidupnya untuk menghapuskan dosa-dosanya.

Bencana pun menjadi lahan amal shaleh bagi bagi mereka yang berada jauh dari tempat kejadian, yakni sebagai kewajiban menolong antarsesama. Mereka dapat menolong dengan harta yang dimilikinya, memberikan makanan dan pakaian serta menjadi relawan kemanusiaan terjun ke lapangan. Doa untuk ketabahan mereka pun menjadi obat tersendiri buat mereka.

Ini merupakan ajaran Islam yang mulia, yaitu menolong sesama yang membutuhkan, bahkan menjaga alam, apalagi mereka yang tertimpa bencana.

Kaum Muslimin yang Dimuliakan Allah

Hal kedua, apa yang perlu kita tafakuri adalah bahwa adanya apa yang disebut bencana alam, ketika batu, pasir dan air erupsi tidak mampu dihadang. Air bah tak sanggup dibendung, dan sebagainya. Itu semua menunjukkan tanda kebesaran dan kekuasaan Allah Sang Maha Pencipta.

Allah menyebutkan di dalam firman-Nya:

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Artinya: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur’an itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Rabbmu menjadi saksi, atas segala sesuatau?” (QS Fushshilat/41: 53).

Pada ayat lain disebutkan:

وَكَاَيِّنْ مِّنْ اٰيَةٍ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ يَمُرُّوْنَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُوْنَ

Artinya: “Dan berapa banyak tanda-tanda (kebesaran Allah) di langit dan di bumi yang mereka lalui, namun mereka berpaling daripadanya.” (QS Yusuf/12:105).

Itulah ayat-ayat Kauniyah, yaitu ayat-ayat atau tanda-tanda kebesaran Allah dalam bentuk segala ciptaan Allah berupa alam semesta (fenomena alam) dan segala yang ada di dalamnya.

Ada juga yang disebut dengan ayat-ayat Qauliyah, yaitu ayat-ayat atau tanda-tanda kebesaran Allah yang terdapat di dalam Al-Quran.

Beda dengan pemahaman materialisme, yang hanya hanya memandang suatu kejadian dari sisi materi, fisik semata. Bahwa bencana alam hanyalah sebatas kejadian alam, tanpa ada kekuasaan Sang Maha Pencipta. Padahal justru bencana alam itu adalah tanda-tanda adanya Allah, tanda-tanda kebesaran Allah di muka bumi ini.

Hadirin yang sama-sama mengharap ridha Allah

Hal ketiga, apa yang terjadi sebagai bencana alam merupakan peringatan (tadzkirah) dari Allah untuk kita hayati agar kita kembali bertaubat dan bertakwa kepada-Nya.

Bencana alam telah mengetuk pintu hati orang-orang yang telah lalai dari beribadah kepada Sang Pencipta, atau telah tenggelam dalam kesenangan duniawi lalai ukhrawi.

Allah mengingatkan kita di dalam firman-Nya:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Artinya: Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS Ar-Ruum/30: 41).

Di dalam Tafsir Al-Quran Departemen Agama RI dijelaskan, dalam ayat ini diterangkan bahwa telah terjadi kerusakan berupa segala bentuk pelanggaran atas sistem atau hukum yang dibuat Allah. Perusakan itu bisa berupa pencemaran alam sehingga tidak layak lagi didiami, atau bahkan penghancuran alam sehingga tidak bisa lagi dimanfaatkan. Juga hancurnya flora dan fauna, dan di laut seperti rusaknya biota laut. Kerusakan alam itu terjadi akibat prilaku manusia berupa eksploitasi alam yang berlebih-lebihan tanpa memperhatkan pelestariannya.

Namun begitulah kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Sebagian akibat buruk perbuatan manusia telah diatasi Allah, di antaranya dengan menyediakan sistem dalam alam yang dapat menetralisir atau memulihkan kerusakan alam. Hal ini berarti bahwa Allah sayang kepada manusia. Seandainya Allah tidak sayang kepada manusia, dan tidak menyediakan sistem alam untuk memulihkan kerusakannya, maka pastilah manusia akan merasakan seluruh akibat perbuatan jahatnya. Seluruh alam ini akan rusak dan manusia tidak akan bisa lagi menghuni dan memanfaatkannya, sehingga mereka pun akan hancur.

Pada ayat lain disebutkan:

وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ

Artinya: “Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS Asy-Syura/42: 30).

Di dalam Tafsir Al-Quran Departemen Agama RI dijelaskan, pada ayat ini Allah menerangkan bahwa apa yang menimpa manusia di dunia berupa bencana, penyakit dan lain-lainnya adalah akibat perbuatan mereka sendiri, perbuatan maksiat yang telah dilakukannya dan dosa yang telah dikerjakannya.

Hal ini sebagaimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika bertanya kepada sahabat Ali bin Abi Thalib, sabdanya, “Maukah aku beritahukan mengenai ayat yang sangat utama dalam Al-Qur’an?” Kemudian Nabi membacakan Surat Asy-Syura ayat 30. Kemudian Nabi melanjutkan, “Wahai Ali , aku akan menjelaskan ayat ini kepadamu, musibah apa pun yang menimpa yaitu dari penyakit dan siksaan atau bencana di dunia, itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (HR Ahmad).

Di dalam sebuah hadits disebutkan:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Artinya: “Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu kelelahan atau penyakit atau kekhawatiran atau kesedihan atau gangguan, bahkan duri yang melukainya, melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Demikian juga bagi kita dan mereka yang terkena bencana, insya-Allah akan menjadi sarana penghapusan dosa-dosa, dan peningkatan derajat keimanannya kepada Allah. Selama kita beriman, bersabar danm bertawakkal kepada-Nya.

Hadirin rahimakumullah

Hal keempat atau terakhir, dengan adanya bencana adalah menjadi lahan amal shaleh bagi mereka yang berada di sekitarnya atau mereka yang mengetahuinya.

Maka, sesuai dengan ajaran Islam dan jiwa masyarakat Indonesia yang terkenal dengan gemar menolong, jika terjadi bencana di suatu daerah, akan berbondong-bondonglah masyarakat memberikan bantannya. Ada yang langsung terjun ke lapangan melakukan evakuasi dan renovasi seperti oleh para relawan kemanusiaan. Ada yang turun ke jalan-jalan menarik sumbangan, dan ada yang kirim bahan makanan siap saji dan pakaian yang diperlukan, dan sebagainya.

Tentang saling menolong terhadap korabn bencana atau musibah, Umar bin Abdul Aziz memerintahkan kepada kaum Muslimin, ketika terjadi sebuah gempa bumi di negeri Syam. Ia menyeru kepada umatnya, “Keluarlah, dan barang siapa di antara kalian yang mampu bersedekah, hendaklah dia melakukannya”.

Lalu Umar bin Abdul Aziz membacakan Surat Al-A’la ayat 14-15:

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ تَزَكّٰىۙ – وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهٖ فَصَلّٰىۗ

Artinya: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman), dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia shalat.” (QS Al-A’la/87: 14-15).

Semoga Allah melindungi kita semua dari segala macam bencana, dan semoga Allah berikan kesabaran, ketabahan dan pertolongan-Nya untuk mereka yang terkena bencana. Aamiin. (A/RS2/RS3)

أَقُوْل قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Mi’raj News Agency (MINA)