Khutbah Jumat di Masjid Al-Aqsa Era Shalahuddin Al-Ayyubi

Oleh : Ali Farkhan Tsani, Wartawan MINA (Mi’raj News Agency)

الحَمْدُ ِللهِ الَّذِي أَمَرَناَ باِلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ وَالإِبْتِعاَدِ عَنِ العاَدَاتِ الجاَهِلِيَّةِ. وَالصَلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ اللهِ مُحَمَّدٌ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلهَ إِلاَّ الله ُوَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا نَبِيَّ الرَحْمَةِ وَقُدْوَةَ الأُمَّةِ لِنَيْلِ السَعَادَةِ فيِ الدُنْيَا وَالآخِرَةِ، فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوصِيْكُمْ وَإِيّاَيَ بِتَقْوَى اللهِ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin yang Allah muliakan

Marilah dengan penuh kedhaifan diri di hadapan Allah, kita selalu berusaha meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan cara mentaati-Nya dan tidak memaksiati-Nya, bersyukur kepada-Nya dan tidak mengkufuri-Nya, serta selalu mengingat-Nya dan tidak pernah melupakan-Nya.

Kita berharap usai dari majelis Khutbah Jumat ini, kita akan bertambah iman dan takwa kepada-Nya. Sehingga Allah senantiasa bersama kita karena takwa tersebut.

Sebagaimana Allah sebutkan di dalam firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan bersama mereka yang berbuat kebaikan.” (QS Al-Nahl/16: 128).

Hadirin yang berbahagia

Sebagian besar kita tentu mengenal sosok panglima Islam, pembebas Al-Aqsa, Yusuf bin Najmuddin Al-Ayyubi, atau dikenal dengan Shalahuddin Al-Ayubi.

Beliau bersama bala pasukannya, pada 27 Rajab 583 H (2 Oktober 1187 M), berhasil merebut kembali Masjidil Aqsa dan mengembalikan fungsinya sebagai masjid dengan mengumandangkan azan setelah vakum selama 88 tahun, menggantikan lonceng gereja.

Di malam Isra Mi’raj, yang masyhur disebut pada tanggal 27 Rajab, setelah Kota Yerusalem berhasil direbut, semua bersujud syukur, termasuk Shalahuddin Al-Ayyubi.

Kerinduan terhadap Al-Aqsa pun terobati. Semua ummat Islam berbondong-bondong menuju Masjid kebanggaan umat Islam tersebut untuk mempersiapkannya sebagai tempat shalat Jumat berjamaah.

Setelah azan dikumandangkan, Hakim Muhyiddin bin Zakinuddin dalam Khutbah Jumatnya menyampaikan mukadimah dengan firman Allah:

فَقُطِعَ دَابِرُ ٱلْقَوْمِ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ ۚ وَٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

Artinya: “Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”. (QS Al-An’am/6: 45).

Lalu, ia menguraikannya, “Wahai sekalian manusia, berbahagialah dengan ridha Allah yang merupakan tujuan utama. Allah telah memudahkan untuk mengembalikan Al-Aqsa dari ummat yang tersesat. Ini adalah negeri bapak kita, Ibrahim Alaihi Salam dan lokasi persinggahan Isra Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasalam, serta menjadi kiblat pertamanya kalian, ummat Islam.  Di sinilah, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasalam menunaikan shalat bersama para malaikat”.

“Beruntunglah kalian wahai para tentara. Di tangan kalian telah ditampakkan mukjizat kenabian dan tanda-tanda kemenangan Perang Badar, tekad seorang Abu Bakar, pembebasan Umar, kehebatan tentara Utsman dan kepiawaian Ali”.

“Kalian telah mengembalikan kejayaan Qodisiyah, peristiwa Yarmuk dan Khaibar untuk Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membalas jasa dan segala daya upaya yang kalian kerahkan untuk melawan musuh. Allah akan menerima darah dan pengorbanan para syuhada dan menggantinya dengan surga-Nya kelak”.

“Bersyukurlah selalu atas nikmat ini dan jaga selalu nikmat-Nya. Inilah hari pembebasan, pintu-pintu langit dibuka untuk kita. Wajah orang-orang yang teraniaya kembali cerah dan para malaikat pun bersuka-cita. Mata para Nabi dan Rasul-Nya teduh kembali. Bukankah Al-Aqsa adalah rumah para Nabi, dipuji para rasul dan keberadaannya disebut dalam empat kitab suci kalian?”.

“Pujilah Allah yang telah membimbing kalian atas apa yang tidak mampu dilakukan oleh generasi terdahulu. Dia menyatukan kalian yang tercerai-berai.”

“Sekarang, para malaikat langit akan meminta ampunan dan mendoakan yang terbaik untuk kalian. Pertahankanlah selalu anugerah ini dan jagalah selalu nikmat ini dengan ketakwaan kepada Allah. Dengan takwa itulah, seseorang akan selamat, dan barang siapa yang berpegang teguh kepada tali-Nya, Al-Quran dan As-Sunnah, maka ia akan selalu dijaga Allah”.

“Dan, waspadailah kehadiran setan yang akan membisikkan ke telinga kalian bahwa kemenangan ini mutlak karena hunusan pedang dan kehebatan kuda kalian di medan jihad. Padahal itu semua tidak berarti tanpa pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman:

وَمَا ٱلنَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِندِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Artinya: “Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS Al-Anfal/8: 10).

Hadirin sidang Jumat rahimakumullah

Demikian khutbah Jumat menggetarkan pertama kali usai pembebasan Al-Aqsa oleh pasukan Shalahuddin Al-Ayyubi.

Bukan hanya khutbah yang berkesan, tapi juga apa yang dilakukan dalam kepemimpinan Shalahuddin Al-Ayyubi begitu mengesankan dunia Islam dan Barat.

Apa yang dilakukan oleh Shalahuddin Al-Ayubi dan pasukannya sangat jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Pasukan Salib ketika berhasil merebut Yerusalem. Tidak seperti kebiadaban pasukan Salib, kemenangan pasukan Shalahuddin Al-Ayubi digambarkan  oleh sejarawan Inggris, Sir Steven Runciman sebagai berikut:

“Para Muslimin pemenang perang itu dikenal keluhuran dan sikap manusiawinya. Sementara pasukan Salib selama 88 tahun lamanya berenang-renang di genangan darah musuh-musuh mereka. Di bawah penaklukan pasukan Muslimin, tidak ada satupun rumah yang rusak dan dicuri perabotannya, tidak ada seorangpun yang dicederai.

Tentara bertindak di bawah instruksi Shalahuddin, mulai dari mengawal jalan-jalan dan pintu-pintu gerbang untuk mencegah kemungkinan serangan apapun yang mungkin dilakukan terhadap orang-orang Kristen. Shalahuddin mengumumkan bahwa ia akan memerdekakan semua orang yang lanjut usia, lelaki dan perempuan.

Ketika datang kaum wanita pasukan Salib yang telah menebus diri mereka sendiri, dengan air mata bercucuran, mereka bertanya tentang bagaimana nasib mereka sesudah suami dan ayahnya mati atau yang ditawan, Shalahuddin Al-Ayyubi menjawab dengan janji bahwa ia akan membebaskan semua suami mereka. Ia juga akan menyantuni semua janda dan anak yatim dengan kekayaan pribadinya.

Hadirin yang berbahagia

Demikianlah usaha dan perjuangan Shalahuddin Al-Ayubi dalam membebaskan Masjidil Aqsa dari belenggu cengkeraman non-Muslim.

Shalahuddin Al-Ayyubi memang dikenal dengan upayanya, dalam mengawali setiap gerak langkah perjuangannya dengan menjaga kebersihan hati. Niat yang lurus, ikhlas dan hanya berorientasi kepada akhirat dan ridha Allah saja.

Shalahuddin juga amat perhatian dalam menjaga ketakwaan dengan menunaikan shalat tahajud dan menghidupkan sunnah.

Ia juga dikenal sangat senang mendengar bacaan Al-Quran. Di sela-sela pertempuran, dia sering duduk mendengarkan bacaan Al-Quran yang dibaca para prajuritnya hingga ia meneteskan air mata.

Tidak kalah pentingnya adalah Shalahuddin sangat kuat dalam menjalin ukhuwah dengan seluruh kaum Muslimin, terutama yang berada dalam satu visi untuk membebaskan Masjidil Aqsa.

Setiap hari Senin dan Kamis, beliau selalu menyempatkan diri untuk mengikuti pertemuan-pertemuan terbuka yang dihadiri para fuqaha, qadhi dan ulama.

Persatuan dan kesatuan umat Islam, hidup terpimpin berjama’ah bagi aum Muslimin, merupakan kunci utama yang dilakukan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi. Itu juga menjadi kunci utama perjuangan umat Islam hingga akhir zaman, yakni hidup berjama’ah dan menjauhi perpecahan.

Sebagaimana Allah tegaskan di dalam ayat-Nya:

 وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖ وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَآءً فَاَ لَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖۤ اِخْوَا نًا ۚ

Artinya: “Dan berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali (agama) Allah seraya berjama’ah dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara….” (QS Ali ‘Imran: 103).

Pada sebuah hadits menekankan makna persatuan dan persaudaraan sesama orang beriman:

الْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ لَا يخذلهُ ولا يحقره وَلَا يُسْلِمُهُ

Artinya: “Seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya, dia tidak membiarkannya (di dalam kesusahan), tidak boleh merendahkannya, dan tidak boleh menyerahkannya (kepada musuh)”. (HR Bukhari dan Muslim).

Semoga Allah menjadikan kita sesama orang-orang beriman saling bersaudara karena Allah, dan memberikan kekuatan persatuan dan kesatuan sebagaimana diteladankan oleh panglima Islam Shalahuddin Al-Ayyubi. Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin. (A/RS2/P1)

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Mi’raj News Agency (MINA)