Khutbah Jumat: Hikmah Ibadah Haji (Oleh: Imaam Yakhsyallah Mansur)

 

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَ  لَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا،أَمَّا بَعْد .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Ma’asyiral Muslimin yang dimuliakan Allah

Mengawali khutbah yang singkat ini, khatib berwasiat kepada jamaah Jumat semuanya, terutama kepada diri pribadi, untuk senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah subhanahu wa taala dengan menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangannya.

Abdullah Ibnu Abbas radhiallahu anhu mengatakan, orang yang bertakwa adalah orang yang  berhati-hati dalam ucapan dan tindakan, meninggalkan dorongan hawa nafsu agar tidak mendapat murka Allah. Selanjutnya takwa itu adalah mengharapkan rahmat-Nya dengan meyakini dan melaksanakan ajaran yang diturunkanNya.

Marilah pada kesempatan ini, kita renungkan  firman Allah dalam surah Ali-Imran [3]: ayat 97 yang berbunyi;

فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ ۖ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ (ال عمران [٣] :٩٧(

Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (Q.S. Ali-Imran [3]: 97).

Ibadah haji secara syar’i hukumnya wajib. Tetapi hukum wajibnya tidak bersifat mutlak karena hanya ditujukan kepada mereka yang mampu. Mampu secara fisik, ilmu, ekonomi dan kondisi/situasi.

Para ulama membagi pengertian “mampu berhaji” menjadi dua kategori. Pertama adalah mampu melaksanakan haji dengan dirinya sendiri. Seseorang bisa disebut mampu melaksanakan ibadah haji dengan dirinya sendiri apabila memenuhi lima hal.

Pertama adalah kesehatan jasmani. Kedua, sarana transportasi yang memadai. Ketiga, aman dan terjaminnya keselamatan nyawa, harta, dan harga dirinya selama perjalanan. Keempat, perginya perempuan dengan suami, mahram, atau beberapa perempuan yang dapat dipercaya. Kelima rentang waktu yang memungkinkan untuk menempuh perjalanan haji.

Kedua adalah mampu melaksanakan haji dengan digantikan orang lain. Sebagaimana dijelaskan dari beberapa hadis diriwayakan oleh Ibnu Abbas

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ الْفَضْلِ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ خَثْعَمَ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبِى شَيْخٌ كَبِيرٌ عَلَيْهِ فَرِيضَةُ اللَّهِ فِى الْحَجِّ وَهُوَ لاَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَسْتَوِىَ عَلَى ظَهْرِ بَعِيرِهِ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « فَحُجِّى عَنْهُ ».

Seorang perempuan dari kabilah Khats’am bertanya kepada Rasulullah “Wahai Rasulullah ayahku telah wajib Haji tapi dia sudah tua renta dan tidak mampu lagi duduk di atas kendaraan apakah boleh aku melakukan ibadah haji untuknya?” Jawab Rasulullah “Ya, berhajilah untuknya” (H.R. Al-Bukhari Muslim).

Ma’asyiral Muslimin, Mu’minin Hafidzakumullah

Keutamaan Ibadah Haji

 Keutamaan ibadah haji telah dijelaskan para ulama berdasarkan Al-Quran dan hadits, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Menjadi tamu Allah.

Orang yang menjalankan ibadah haji maka akan dianggap sebagai tamu Allah. Dari sebuah hadits, Rasulullah bersabda:

Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji serta berumroh adalah tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, mereka pun memenuhi panggilan. Oleh karena itu, jika mereka meminta kepada Allah pasti akan Allah beri.” (HR. Ibnu Majah no. 2893)

2. Mendapat pahala seperti jihad.

Seorang Muslim yang sedang menjalankan ibadah haji maka ia akan mendapatkan pahala setara seperti melakukan jihad karena ibadah haji merupakan jihad terbaik menurut Allah. Hadits dari Ibunda Aisyah menurut satu riwayat hadits, Rasulullah bersabda:

Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdhal. ‘Apakah berarti kami harus berjihad?’ Tidak. ‘Jihad yang paling utama adalah haji mabrur’, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Al-Bukhari no. 1520)

3. Mendapat balasan surga.

Dari riwayat Imam Muslim, bahwa Abu Hurairah menjelaskan:

Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (Muslim no. 1349).

An Nawawi rahimahullah menambahkan untuk menjelaskan maksud hadits di atas, “Yang dimaksud, ‘tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga’, bahwasanya haji mabrur tidak cukup jika pelakunya dihapuskan sebagian kesalahannya. Bahkan ia memang pantas untuk masuk surga.” (Syarh Shahih Muslim, 9/119)

4. Allah berjanji akan menghapuskan dosanya.

Barangsiapa yang berniat dan bertekad untuk melaksanakan ibadah haji dengan ikhlas karena mengharap ridha-Nya, maka Allah akan menghapuskan dosa-dosa yang telah berlalu. Dari Abu Hurairah bahwasannya, Rasulullah bersabda:

Siapa yang berhaji ke Ka’bah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Al-Bukhari no. 1521).

5. Menghilangkan kemiskinan.

Sebuah hadits dari Abdullah Bin Mas’ud, Rasulullah bersabda:

Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR. An Nasai no. 2631, Tirmidzi no. 810, Ahmad 1/387)

Hadits tersebut menjelaskan bahwa salah satu keutamaan menunaikan ibadah haji dapat menggugurkan kefakiran atau kemiskinan sehingga orang Muslim yang sudah melaksanakan rukun Islam yang kelima ini dijanjikan oleh Allah akan mendapat rezeki dan kehidupan yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Adapun mengenai berapa kali seseorang harus berhaji? Sahabat Anas bin Malik menuturkan, bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa salam melakukan ibadah haji hanya satu kali saja, dan melakukan ibadah umrah empat kali, semuanya dilakukan pada bulan Dzulqa’dah, kecuali umrah yang bersama ibadah haji.

Yusuf Qardhawi menjelaskan, ada tiga hal yang menyebabkan Nabi Muhammad tidak melakukan haji berulang ulang. Pertama, saat  waktu itu masih melakukan Jihad fi Sabilillah melawan kaum musyrikin. Kedua, lebih memperhatikan untuk menyantuni anak yatim dan janda akibat peperangan dengan kaum musyrikin. Bahkan Rasulullah menegaskan; menyantuni para janda dan orang miskin pahalanya seperti berjihad fi sabilillah atau seperti orang yang berpuasa di siang hari dan beribadah di malam hari. Ketiga, Nabi Muhammad lebih mengutamakan ibadah sosial daripada ibadah individual.

Ma’asyiral Muslimin, Mu’minin Hafidzakumullah

Hikmah Haji

Walaupun karena pandemi Covid-19, mayoritas umat Islam tidak dapat melaksanakan ibadah haji yang mulia ini. Namun hendaknya hikmah ibadah ini dapat terus menyinari kehidupan umat Islam saat ini.

Pada saat pelaksanaan ibadah haji di Mekah, umat Islam dari penjuru dunia, dari beraneka warna kulit, suku bangsa dan bahasa, mereka membaur dengan pakaian yang sama, dengan niat yang sama, yaitu mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mereka membawa rasa cinta yang sama, yaitu cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Keutuhan sebagai satu komunitas umat Islam ini mestinya berlanjut hingga selesai ibadah hajji ketika mereka kembali ke daerahnya masing-masing, sehingga wujud kesatuan umat tersebut bukan sebatas di saat melaksanakan ibadah haji saja.

Kesatuan umat perwujudan ummatan waahidah, adalah sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam dan para sahabat beliau, wajib kita rajut kembali karena kewajiban syariah.

Pada masa itu, kesatuan umat secara syar’i memang menjadi pakaian umat, mewarnai gerak langkah sosial-ekonomi umat yang terpimpin. Perselisihan (ikhtilaf) antar sesama umat Islam bisa diselesaikan dengan baik melalui ketaatan kepada pemimpinnya dan semangat kembali kepada tuntunan Allah Subhanahu wa ta’ala.  Allah berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا ……(ال عمران [٣] :١٠٣(

“Dan berpegang-eratlah kamu semua dengan tali (agama) Allah seraya berjama’ah, dan janganlah kamu berfirqoh-firqoh.” (QS. Ali Imran [3]103).

Ma’asyiral Muslimin, Mu’minin Hafidzakumullah

Hari ini kita saksikan perpecahan umat terulang kembali di pentas sejarah peradaban modern.  Selain disebabkan perselisihan internal akibat retaknya ukhuwwah ummat, juga rongrongan musuh-musuh Islam yang terus menghadang dan berusaha memadamkan cahaya Islam.  Populasi umat Islam 1,8 milyar di seluruh dunia saat ini tidak berdaya menghadapi gangguan dan penindasan musuh-musuh Islam, Yahudi Zionis di Palestina.

Agar umat Islam memiliki wibawa di hadapan musuh, memiliki kekuatan untuk melawan musuh dan mampu mengalahkan mereka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewanti-wanti agar umat Islam menjaga kesatuan umat, hidup berjama’ah, tidak saling berselisih dan berpecah-belah yang akan melemahkan dan menghilangkan kekuatan umat Islam, sebagaimana Firman Allah (Q.S. Al-Anfal [8]: 46).

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ (الافال [٨] :٤٦)

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Kesatuan umat di bawah seorang imaam merupakan pengamalan dan perwujudan hidup berjama’ah. Dengan berjama’ah, Muslimin akan dapat saling kuat menguatkan, saling tolong menolong dalam kebaikan, saling membantu menghadapi berbagai gangguan dan rintangan karena tidak ada satupun manusia yang mampu memenuhi hajat hidupnya sendiri, tidak ada yang mampu menciptakan perdamaian dan keadilan, tanpa dukungan dan kerjasama dengan sesama manusia.

Semoga dengan pengamalan jama’ah dalam wujud  Jama’ah Muslimin (Hizbullah) yang saat ini kita lakukan, menjadi cikal bakal persatuan umat di seluruh dunia. Dan semoga kita semua menjadi contoh bagi kaum Muslimin bahkan umat manusia di seluruh dunia, dan kita semua bersama-sama dengan kaum Muslimin yang lain akan membebaskan Masjidil Aqsa dan shalat berjamaah di dalamnya, Aamiin Ya Rabbal Alamin.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ

Khutbah II:

اَلحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًاحَقَّ حَمْدِهَ. وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَائِهِ . أَشْهَدُ اَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا مَعَاشِرَ الُمسْلِمِيْنَ إِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَذَرُوْا الفَوَاخِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ، فَقَالَ اللهُ تَعَالىَ: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

(A/R8/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)